Raka" teriak seorang wanita muda itu. kepada anak kecil yang dia sebut Raka. anak itu berlari kesana kemari membuat ibunya kesal. Hari sudah semakin senja, langit mulai berubah warna dari jingga ke hitam. "Raka, jangan lari ini sudah mulai gelap" teriak ibunya ketika tidak bisa menangkap Raka yang sambil tertawa cekikikan karena bahagia. "nak, ayo pulang dulu" ucap ibunya yang dibalas anggukan dan langsung berlari menghampiri Ibunya.
"dek, adikmu kapan kemari sama teman-temannya"tanya Aryo kepada istrinya Lastri. "Besok mas, rencananya mau nginap 5 hari di sini" jawab Lastri sambil menyuapi Raka yang sedang makan. "udah kasih tau kan jangan datang lewat dari jam 5 sore?" tanya Aryo lagi. "sudah mas, saya kasih tau"
Besoknya Tania dan dua orang temannya pergi dengan mobil ke desa itu tapi perjalanan mereka terhenti karena ban mobil mereka bocor kempes Tania dan kedua temannya turun dan melihat ke ban mobil
"ya kok kempes"ucap Lara.
"gimana ya kita gantinya jarang banget ada yang lewat sini. aku telepon Mbak aku ya mungkin mas bisa bantu kita". Tania mengambil ponselnya dan mencari nomor mbak Lastri. iya memberitahu kepada Lastri bawa mobil mereka tidak bisa jalan karena ban yang bocor dan memberitahu kalau mereka ada di jalan yang hampir mendekati desa yang sekelilingnya ada banyak pohon dan juga ada jalan kecil untuk naik ke bukit yang bertuliskan bukit Raya. setelah mendengar itu Lastri memberitahu kepada suaminya Kalau ada masalah dengan mobil yang digunakan adiknya.
"Mas, kendaraan mereka Tania nggak bisa jalan karena ban mobilnya bocor" ucap Lastri pada suaminya. "mereka posisinya dimana?" tanya Aryo.
"itu dijalan dekat ke bukit"
"ya udah ah mas ke sana soalnya kan ini udah jam 3 kalau ke sorean nanti kenapa-kenapa sama Mereka" jawab Aryo yang langsung pergi dengan motornya.
"Tan, aku kebelet pipis nih gimana dong" rengek Andini sambil berjongkok. "Din, disini gak ada toilet, kamu mau di semak-semak?" tanya Tania. "kebelet banget ya? gak bisa tahan sampai di desa?" sambung Lara.
"panggilan alam nih, mana bisa tahan" sahut Andini.
"ya udah ke masuk hutan sana tapi jangan jauh-jauh" jawab Tania. "aku sendirian nih?, temanin"pinta Andini yang langsung menarik tangan Tania.
mereka berjalan masuk sedikit ke dalam hutan yang dipenuhi pohon-pohon yang tinggi itu. "disini aja" ucap Andini yang langsung berjongkok. Tania memalingkan badannya menatap ke arah pepohonan yang daunnya bergoyang-goyang karena angin. "yuk, udah selesai" ajak Andini pada Tania.
Setelah menunggu beberapa jam mereka akhirnya bertemu dengan Mas Aryo yang langsung membantu mereka menggantikan ban yang bocor. waktu berlalu begitu cepat jam menunjukkan pukul setengah lima sore.
"kalian cepat berangkat mas di belakang" ucap Aryo. Tania dan teman-temannya langsung berangkat. sesampainya di desa menyusuri jalan mereka tidak melihat satupun orang yang ada diluar dan semua pintu rumah sudah tertutup. Ada perasaan aneh menyelimuti hati mereka.
Lastri langsung menyambut mereka di depan pintu dan menyuruh mereka masuk. "kalian masuk aja barang-barang biar mas mu yang ambil" Ucap Lastri. Lastri menyuruh mereka duduk dan menikmati segelas teh yang baru selesai dia buat ditambah sepiring pisang goreng.
"Kak, tadi pas datang kok aku gak ada lihat warga sekitar, mereka kemana?" tanya Tania. "oh semua warga disini sudah pada dirumah gak berani keluar nanti kalau sudah jam 7 malam baru berani beraktivitas lagi diluar" jawab Lastri. "kenapa?" sambung Andini yang penasaran. "karena disini jalan dua dunia. satu Minggu dalam sebulan jalan dunia lain itu terbuka. jam 5 sampai jam 7 itu waktu mereka melintasi jalan ini" sahut Lastri
"kalian sudah boleh ke kamar itu kalau mau istirahat" sambil menunjuk kamar yang saling berdampingan.
Keesokan paginya Tania, Lara dan Andini memutuskan untuk pergi ke bukit di dekat desa itu yang di sebut bukit Sunyi dengan dibekali nasihat dari Lastri tentang larangan di bukit. langkah demi langkah mereka mendaki bukit yang sekelilingnya berjejer pepohonan menjulang tinggi. Mereka sudah berjalan cukup jauh dan hampir mendekati bukit dari ujung mata sekilas Andini melihat sosok seseorang diantara pepohonan sehingga dia menoleh memastikan apakah ada orang disana tapi tidak ada satupun orang.
"wow, indahnya" teriak Lara sesampainya dipuncak bukit. pemandangan yang membuat mereka kagum yang tak pernah bisa ditemukan di kota. Tania duduk di bebatuan dan merogoh air dari tasnya. Ia baru merasakan rasa haus setelah perjalan ke puncak bukit. mereka berfoto bergantian dan mengambil selfie mereka bertiga.
"astaga, aku lupa" Tania memegang kepalanya. "kenapa?" tanya Andini dan Lara bersamaan. "kata mbak jangan foto bertiga" jawab Tania kebingungan.
"emangnya kenapa?" Tanya Lara penasaran.
"aku enggak tau, mbak enggak bilang" sahut Tania.
"paling cuma mitos, gak usah dipikirkan" Jawab Andini.
mereka turun dari bukit dan pergi menuju danau yang mereka lihat di perjalanan ketika mereka mau naik ke bukit. disana terdapat jembatan yang menjorok ke danau mereka berjalan menyusuri jembatan dan duduk disana sambil menaruh kakinya ke dalam air.
mereka tertawa sambil bermain air. mata Andini sekali lagi sekilas melihat sosok orang yang lewat begitu cepat yang membuat dia merasa takut. Andini mengeluarkan kakinya dari air mengajak Tania dan Lara untuk pulang.
"sudah mainnya, ayo pulangkan kata mbak Lastri gak boleh sampai sore" ajak Andini tanpa memberitahu rasa takutnya karena tidak mau diejek kedua temannya itu.
Perasaan cemas Andini tidak hilang dari pikirannya walau sudah berada di rumah, ia masih penasaran sosok apa yang dia lihat tadi saat di bukit.
"kamu kenapa sih Din?" tanya Tania yang melihat Andini melamun sambil menyisir rambutnya. "gak kok, biasa aja" jawabnya singkat.
hari mulai malam Andini tertidur setelah pulang dari bukit. Ia melirik jam di dinding yang menunjukan jam 6 sore. Andini keluar kamar dan melihat tidak ada orang dirumah. ia melihat dari keluar jendela dan tidak melihat siapa pun diluar rumah. Andini memutuskan keluar rumah berharap menemukan Tania dan Lara walau dia tau bahwa tidak boleh keluar sebelum jam 7 malam.
ia menyusuri jalan dan mendengar suara keramaian dan sorak-sorai tepuk tangan dari ujung jalan. Andini penasaran dan bingung, Ia berjalan ke sana dan menemukan ada banyak orang yang sedang menikmati tarian. seseorang berlenggak lenggok sambil menyusuri jalan di sertai warga mengikuti dibelakang. Andini mengikuti warga desa berharap bertemu Tania dan Lara.
Di lain sisi Tania kaget dan bingung karena melihat Andini tidak ada dikamar dan rumah terbuka. "mbak, Andini gak ada" teriak Tania. mereka berlari dari dapur dan menghentikan makan malamnya. "mas, gimana ini?" tanya Lastri kepada suaminya. "kita gak bisa keluar ini masih waktu para mahkluk lain lewat" jawab mas Aryo. " mas, emang kenapa kalau keluar jam segini" tanya Tania.
"gak boleh keluar nanti bisa hilang dan susah buat ditemukan" sahut Aryo menghentikan Tania dan Lara yang mau keluar rumah. "terus Andini gimana mas?" Tania panik dan ketakutan apa yang terjadi dengan Andini diluar sana.
"nanti kita minta sesepuh desa buat menerawang dia dimana" Aryo berusah nenangin mereka.
waktu berlalu mereka bergegas keluar rumah dan berlari kerumah sesepuh desa disitu. setiba disana Aryo menjelaskan kejadiannya pada kakek Darto.
"tolongin kek cari teman kami" ucap Tania. kakek Darto membunyikan sebuah tongkat bambu berulangkali "taktaktaktak" para warga sekitar berkumpul di dekat rumah kakek Darto.
Kakek Darto menjelaskan bahwa ada seorang anak gadis yang hilang karena keluar desa dan menyuruh para pria desa dewasa untuk mencarinya di berbagai tempat bahkan dihutan. semua orang pergi mengikuti perintah Kakek Darto.
Kakek Darto menyuruh Aryo dan yang lainnya masuk ke rumah. Kakek Darto meminta Aryo menyiapkan pisau, beras, telur ayam kampung, kopi hitam dan sebagainya. setelah selesai Kakek Darto duduk dan melipat kakinya melakukan ritual pemanggilan arwah. sambil menabur beras Kakek Darto akan menjadi perantara makhluk lain. Aryo bertanya pada Makhluk itu dimana seorang anak gadis yang hilang.
Makhluk itu jawab "kalian bertiga sudah salah hantu bukit suka dengan teman kalian dan kalian sudah berfoto bertiga dia tertarik pada gadis itu" jawabnya.
"dia dimana sekarang?" tanya Tania.
"masih hidup, tapi gak ada yang bisa lihat gadis itu" jawabnya
"di dalam danau" sambungnya lagi
"bisa kamu tolong dia?" tanya Aryo
"aku gak bisa, tapi kalian bisa minta tolong buaya" Kakek Darto menabur beras dan berganti lagi Kakek Darto menggelepar dilantai seperti seekor buaya dan kemudia berdiri.
"kalian ada apa panggil kami?" tanyanya.
"bisakah kamu tolong seorang gadis yang diculik hantu Hutan" tanya Aryo. "bisa bisa tapi aku minta satu ekor Ayam sekarang biar aku bawa ke alam ku" Jawabnya. Aryo keluar dari rumah dan berlari ke rumah mengambil satu ayam di kandang miliknya dan menyembelih ayam itu.
Makhluk itu memegang ayam dengan kedua tanggannya sambil memejam kan matanya. setelah itu dia menabur beras dan berganti dengan makhluk lain.
"Kalian pergi ke danau gadis itu sudah di tolong si buaya" ucap makhluk terakhir sebelum kakek Darto tersadar mereka dan warga yang ada di sekitar sana pergi ke dekat Danau dan menemukan Andini mengapung diair yang tidar sadarkan. Beberapa orang berenang menariknya keluar dari air.
Andini bernafas dengan lemah. mereka menggotongnya ke mobil dan malam itu juga Tania membawa Andini ke Rumah sakit setelah keluar dari desa bersama dengan Mbak Lastri dan Mas Aryo.
Andini akhirnya terselamatkan dan mulai membaik keesokan harinya Andini menceritakan kalau kejadian yang dialaminya dan juga pertemuannya dengan seorang pria tampan yang katanya sudah jatuh cinta kepada Andini di bukit kemarin. Andini masih ketakutan ternyata dia telah disukai makhluk lain dan ditolong oleh Makhluk penghuni tanah desa. setelah itu mereka bersiap untuk pulang ke kota asalnya dan berpamitan pada Aryo dan Lastri. banyak hal yang mereka pelajari untuk menghormati makhluk yang tidak terlihat juga.
tamat
wah cerpen pertama ku nih
teman teman kalian percaya gak ada penghuni tak kasat mata di suatu daerah? kalau aku sih percaya. karena cerita ini terinspirasi dari kejadian kakak ku waktu kecil yang pernah di tolong penghuni tak kasat mata di daerah kami. mungkin udah lama sekitar tahun 2000an.
cerita dikit ya boleh kan heheheh
cerita diatas tetap fiksi ya GK sungguhan
ceritanya gak sama kaya kejadian Andini yang tenggelam dan ditolong "penghuni tanah desa".
kalau kakak ku cuma tenggelam karena jatuh dari rumah apung di sungai setelah gak ditemukan jadi minta tolong sama si buaya (makhluk itu).
kita gak bisa lihat mereka tapi bisa manggil mereka buat masuk ke tubuh orang yang mau jadi perantara. awalnya aku gak percaya sama hal begini ku pikir bohong.
aku udah dua kali liat orang jadi perantara dan kagetnya si "buaya ini" aku tau namanya tapi aku gak mau kasih tau. dia selalu cari cucunya "kakak aku yang udah dia tolong" aku kaget soalnya dia tau ada cucunya disitu. kan dia dipanggil bukan cuma disitu karena wilayah daerah luas.
sejak itu aku percaya sih ada penghuni teman nenek moyang dulu di tanah ini.
yang aku tau sih mereka ada 7 orang ada cewek muda, si buaya sisanya aku gak kenal jadi mereka gantian masuk ke tubuh perantara. mereka mintanya aneh aneh, ada yang minta kopi item, rokok jaman dulu yang perlu digulung gitu. sikapnya juga beragam ada yang pendiam cuma jawab kalau ditanya, ada yang kesana kemari jalan terus.
udah gitu aja kalau sama punya cerita bagi di komentar ya