18/05/2021
Judul: Setelah Kamu Pergi
Desc :
Gelap. Semua jalan yang ku tuju gelap, terhalang bayangmu.
Hilang. Semua kuasaku hilang, terhapus perih elegi sendumu.
Aku berharap untuk esok. Tapi, asa ku dihancurkan kemarin. Lalu apa yang aku tuju di hari ini?
Apa yang harus kulakukan ketika langit bergayut mendung pekat menghitam?
Apa lagi yang bisa ku perbuat setelah kamu pergi? Merenggut berjuta asa dan mimpi.
🌫🌫🌫🌫🌫
#1.[Desember pembawa luka]
Menjelang akhir tahun, cuaca kerap kali digelayuti mendung. Mentari hangat kini jarang terlihat. Yang sering tampak hanyalah pemandangan suram di atas langit beserta jatuhnya jutaan tetesan air bening dari angkasa. Keringat pun jadi jarang keluar karena penurunan suhu, dan tak urung membuat sebagian besar orang memilih membungkus diri seperti kepompong.
Pagi ini pun dunia masih terlihat sama suramnya seperti yang sudah-sudah. Hawa dingin dan lembab menyeruak masuk melalui salah satu jendela yang terbuka di kamar Gara. Lelaki itu tengah terpekur duduk di kusen jendela seraya memangku sebuah gitar. Jemarinya bergerak di atas senar memainkan nada sendu mengiringi ratapan hujan. Beberapa kali mulutnya terbuka seakan ingin bicara, namun urung dan hanya berakhir pada keterdiaman tak berujung.
Bila diamati, akan tampak bahwa matanya menghitung setiap tetes hujan di luar sana. Sangat tekun dan teliti, seteliti dia menghitung hari dimana semua kekosongan ini diawali.
"Tiga... ratus... enam puluh... empat." ujarnya sangat pelan seperti bisikan. Seiring dengan tangannya menyerah untuk terus memetik senar gitar. Ia meletakkan benda itu sembarangan, lalu beralih memeluk lutut, menenggelamkan wajahnya disana.
Angin dingin bertiup pelan seumpama nada tanpa suara. Berhembus membelai-belai permukaan tubuh Gara yang meringkuk di kesendiriannya. Membuat ia meremang merasakan dinginnya hujan di bulan Desember. Sedingin hatinya yang telah kebas, tak mampu lagi merasa. Sedingin harinya, beku tak lagi bewarna. Sedingin hidup yang telah begitu hampa.
Sementara itu, jika ditilik lebih dalam lagi, akan tampak ruangan sederhana bernuansa putih minimalis yang rapi seperti biasanya. Terdapat sebuah ranjang yang terletak berhadapan dengan pintu masuk. Di sisi kiri ruangan tampak tersusun berjejer sebuah lemari kayu besar berisi pakaian serta sebuah keranjang yang penuh oleh pakaian kotor. Lalu yang paling ujung adalah pintu menuju ke kamar mandi. Sedang di sisi kanan terdapat jendela tempat dimana Gara tengah duduk meringkuk saat ini. Di dekatnya tersusun rapi perabotan seperti sofa, meja dan lemari kecil yang di atasnya ditaruh sebuah televisi.
Tata letak yang sudah permanen dan tidak pernah berubah sedari awal kedatangan Gara. Bahkan warna putih susu itu masih sama melekat di dindingnya. Berpadu dengan furnitur yang sama putihnya. Memberi kesan terang dan lapang yang menyejukkan mata.
Gara memang nyaman stuck di zona yang sama. Ia tidak suka berganti suasana. Tapi, susana hidupnya malah berganti seenaknya. Sedari awal memang sudah hampa, lalu sejumput warna menggores kanvas kosong di hatinya. Warna-warna indah bermunculan. Hingga akhirnya timbul kegelapan sampai kanvas itu tampak kelabu sendu. Seperti awal dimana ia selalu merasa hampa, sekarang pun sama. Sama-sama kehampaan tapi mengapa kali ini justru terasa lebih menyakitkan?
Gara menganggkat wajah dengan raut sekusut rambutnya. Surai hitam legam itu tampak berantakan dengan panjang yang sudah melewati telinga. Mata hazelnya tampak memerah dengan kantung hitam di bawah lingkar matanya. Bibir tipisnya memucat kering seakan sudah sekian lama tidak terjamah air.
Mengenaskan.
Itulah yang tampak pada diri Gara kini. Ia begitu menyedihkan dengan mata sayu sarat akan kepedihan. Dia tidak lagi sama. Seakan sosoknya bertransformasi menjadi alien paling asing dimuka bumi. Dan itu telah terjadi selama 364 hari lamanya....
Hari setelah kamu pergi....
Gara kembali bernostalgia pada kenangan Desember tahun lalu. Desember pembawa luka dimana dirinya ditimpa dengan kehilangan untuk kesekian kalinya.
Gara masih ingat jelas ketika Kila berlari menghampirinya waktu itu. Pertama kalinya gadis itu berinisiatif untuk mendatangi Gara lebih dulu. Saat itu yang Gara tahu hanya kata 'bahagia' melingkupi segenap hatinya kala melihat senyum berbinar Kila. Gadis itu berseru senang dengan memamerkan nilai raportnya.
Ranking 10!
Bukan juara kelas, tapi bahagia Kila saat itu bahkan melebihi Gara yang mendapat peringkat tertinggi di seluruh angkatan. Gadis itu berceloteh ria sesudahnya, seperti biasa dia masih saja cerewet.
Masih terasa sampai kini oleh Gara, hangatnya tangan Kila dalam genggamannya. Aroma baby soft yang memenangkan, selalu berhasil membuat ia kecanduan.
Tapi, sekarang kemana Gara harus menuntaskan rasa candunya? Kemana ia harus melepas rindunya? Kemana lagi dia cari tangan hangat untuk ia genggam dengan nyaman?
Gara seperti berdiri di sabana yang luas. Ia tidak tau arah dan tujuan. Tidak ada tempat untuk pulang. Tidak ada tujuan untuk berjuang. Hingga hanya terdiam mematung dalam kelam yang remang.
Kenyataan yang pelik telah mengubah sepenuhnya seorang Anggara Dirga. Dia yang dulunya memiliki cita-cita tinggi bahkan kini takut untuk sekedar bermimpi. Lelaki yang dulunya penuh ambisi, kini tidak lagi memiliki arti.
Bagi Gara, semua harapnya telah musnah. Segala arahnya telah punah. Putaran waktunya berhenti dan membuat ia terkurung sepi, menyendiri dalam sunyi. Detik-detik yang dulunya selalu ia nanti seolah tak lagi memiliki arti.
Tidak ada lagi yang Gara harapkan, tidak ada lagi yang ia nanti untuk esok hari. Ia hanya terpaku pada hari dimana luka mekar dengan angkuhnya. Ia terkurung di lorong panjang tak berujung tanpa setitik pun penerang.
Gelap. Segala apa yang Gara tuju terlihat gelap, membuat ia takut melangkah barang satu jengkal saja. Sampai hanya berakhir menyedihkan, meringkuk dalam kabut kelam kegamangan. Ia merasa gamang akan serangan tiba-tiba yang dapat menghantamnya kapan saja.
Bayangan dimana Kila menangis memanggil namanya selalu membuat Gara bimbang. Benarkah gadis itu kini telah tiada? Jelas-jelas saat itu Gara yang terluka. Gara yang merasakan sakitnya, tapi kenapa yang pergi justru Kila? Tidaklah Tuhan begitu kejam padanya?
Gara mengusap kasar sudut matanya yang mulai berair. Ia menghela nafas gusar, merasa asing dengan dirinya sendiri. Kemudian memilih bangkit, tapi lagi-lagi ia terpaku. Menatap tumpukan map di atas lantai. Berbagai tawaran beasiswa di dalam dan luar negeri, sama sekali tidak membuat Gara tertarik untuk keluar dari area sendunya. Semua hal itu justru membuatnya merasa diejek habis-habisan. Seolah mengingatkan dirinya yang tak lagi punya harapan dan tujuan.
Telah berbulan-bulan berlalu setalah masa kelulusannya. Tapi Gara masih saja bergeming di tempat yang sama. Teman-temannya mungkin sudah melanjutkan hidup, mengejar mimpi yang melambung tinggi.
Entahlah, sudah lama juga sejak Gara memutus komunikasi dengan mereka dan memilih menyendiri di apartemen pemberian ayahnya. Selama disini, Gara mengurus semua seorang diri. Bersih-bersih, memasak, mencuci dan kadang ia keluar untuk berbelanja kebutuhan harian. Lalu sisa harinya hanya akan dihabiskan dalam keterasingan. Membaca tumpukan novel, menonton, bermalas-malasan, mengikuti segala kebiasaan Kila. Hidup monoton tanpa perubahan seperti yang Kila suka, itulah yang tengah Gara jalani. Sebagai cara tersendiri baginya untuk mendapatkan kehadiran Kila kembali dalam hidupnya.
Namun, seperti kaca pecah yang disatukan kembali. Walau merekat tentu tidak lagi seutuh yang sebelumnya. Seperti itu juga yang Gara alami. Walau sekeras apapun ia berjuang mati-matian mengembalikan bahagia pada tempatnya, pada akhirnya semua jauh berbeda.
Semua yang tidak akan pernah lagi sama.
18/05/2021