Gunakan otak untuk memecahkan masalah! Buktikan, jika kau memang benar-benar cerdas, ok?
=•=•=
Miku dan Lisaa adalah sahabat lekat yang memang sudah bersahabat sejak kecil. Mereka berdua adalah siswi SMA yang memiliki hobi memecahkan misteri. Katanya sih ... mereka terinspirasi dari anime detective conan.
"Menurutmu, Shinichi itu lebih cocok dengan Haibara atau Ran?" tanya Miku kepada seseorang di sampingnya.
"Ohh ... tentu saja lebih cocok dengan Haibara. Mereka berdua terlihat sangat serasi!" balas Lisaa antusias.
Namun, sebaliknya dengan Miku. Dia malah terlihat kecewa. "Hee, apa yang membuatmu menyukai Ai? Ran jauh lebih baikk ...!"
"Tidak tidak, Ran lebih cocok dengan Eisuke Hondo, kalau Kudo jelas lebih cocok dengan Haibara." Lisaa membantah pendapat Ai. Mereka berdua bertengkar untuk menentukan siapa pasangan yang cocok untuk Kudo Shinici. Mulai lagi ...
"Toloonggggg!!"
Pada waktu yang bersamaan, Lisaa dan Miku mendengar suara teriakan seorang wanita dari suatu gang sempit. Tanpa menunggu lama, mereka langsung berlari menghampiri sumber suara.
"Nyonya ad–ARGHHHH!!" Miku berteriak kencang saat melihat seorang wanita tergeletak tak bernyawa dengan keadaan mengenaskan. Perutnya tertusuk pisau tajam dan kepalanya berlumuran darah.
"Ibu itu ... grrh ... kasus pembunuhan. Miku, aku akan menghubungi polisi, tolong pastikan jangan ada satupun orang yang menyentuh tempat ini, oke?" Perintah Lisaa sembari mengeluarkan ponselnya.
"Baik!"
Tak berselang lama, anggota kepolisian Jepang datang dengan mobil ambulans. Seorang detektif terkenal juga ikut serta dalam rombongan polisi.
"I-itu ... bu-bukankan itu Detektif Takagi?" ucap Miku dengan mata berbinar.
"Ku-kurasa itu memang dia."
Tap! Tap! Tap!
Suara langkah kaki sepatu berdecit sang detektif menambah rasa kagum dua gadis polos ini. Rasanya, seperti bertemu dengan Shinici versi dunia nyata.
"Ta-Takagi-san ...." Miku memanggil detektif itu dengan malu-malu.
Akan tetapi, bukannya menanggapi, detektif itu malah mengacuhkannya. "Apa kalian yang memberi laporan?" tanya Detektif Takagi.
"He? Eh, i-iya, Pak! Itu kami!" jawab Miku senang.
"Hmm ... pukul berapa kalian memberi laporan?" tanyanya sekali lagi.
"Eh, ano ... jam berapa, Lis?"
"Yaaa ... sekitar pukul 10.30." Lisaa melihat jam tangannya.
"Hmm ... itu berarti kalian adalah pemberi laporan yang kedua. Seorang wanita memberi laporan pada kami pada pukul 10.27. Jadi suara perempuan yang kudengar itu bukan suaramu, ya? Hhmm ... ini sangat rumit. Apa kalian bertemu dengan seseorang yang mencurigakan di sini?" Detektif Takagi mulai menginterogasi mereka. Namun, bukan sebagai tersangka, melainkan saksi.
"Tidak. Saat kami datang, ibu itu sudah tak bernyawa," ujar Lisaa memberikan jawaban. Sementara Miku masih mengagumi sang detektif.
"Hmm ... baiklah. Terima kasih. Serahkan tugas ini kepada kepolisian. Kalian pulang saja!" suruh Detektif Takagi.
Lisaa menganggukan kepalanya. "Baik, Pak! Ayo Miku!" ajak Lisaa sambil menarik tangan Miku.
"Ta-Takagi-san ...." Tetapi, Miku malah tidak bergerak dengan mata yang masih memandangi Detektif Takagi.
"Miku ... AYOO!" Karena sudah tidak tahan, Lisaa menarik tangan Miku dengan paksa.
"Eh i-iya."
Akan tetapi baru beberapa langkah mereka berjalan, seorang anggota polisi datang dan menghampiri Detektif Takagi. "Pak, kami sudah mengidentifikasi korban. Namanya adalah Nakami Yukai, dia adalah pembunuh terkenal. Ada luka bekas tusukan di perutnya dan kepala yang terluka," ucap anggota polisi itu.
"Jadi dia adalah pembunuh? Haishh...
... Hmm ... dia ditusuk dengan benda apa? Dan mana bendanya?"
"Ini, Pak!" Seraya memberikan pisau tajam berbungkus plastik, petugas polisi itu mengatakan, "Tim Forensik telah memerika pisau ini. Tak ada sidik jari selain sidik jari milik korban di pisau ini."
Detektif dengan nama lengkap Takagai Uzui itu menerima pisaunya dan lalu memerhatikan seluruh bagiannya dengan saksama. "Mungkinkah dia mengakhiri hidupnya sendiri?"
"Untuk saat ini, itulah yang dapat kami simpulkan, Pak."
"TIDAK, ITU SALAH!" sahut seorang gadis.
"Ha?"
Ternyata dia adalah Lisaa. "Ya, itu salah. Kami berdua mendengar suara teriak minta tolong sebelum akhirnya kami melihat ibu itu meninggal. Jadi, dia pasti diserang!"
"Hei, hei, kalian anak-anak SMA, jangan ikut campur–"
"Apa kalian serius?" pangkas sang detektif.
"Tentu! Kami serius!" ucap Lisaa yakin.
Setelah mendengar ucapan Lisaa, Detektif Takagi pun terdiam. "Hmm ... tapi bisa saja dia berteriak agar membuat orang lain mengira bahwa dia diserang. Maksudku, bisa saja dia ingin membuat orang yang dia benci dituduh bersalah atas kejadian ini."
"Ah, itu ...."
Tap! Tap! Tap!
Dari kejauhan, datang seorang anggota polisi lainnya. Ekspresi wajahnya panik seperti melihat sebuah hal yang menakutkan.
"Pak! Pak! Hah ... hah ... hah ...
... i-itu ... hah ... saya telah menemukan seseorang yang mencurigakan!"
"Apa?!"
"Hah?!"
Semua yang ada di sana pun langsung terkejut. Termasuk Lisaa dan juga Miku.
=•=•=
Detektif Takagi memerintahkan anggota polisi yadi untuk memanggil orang mencurigakan yang mereka maksud. Beberapa menit kemudian, orang tadi kembali bersama seorang wanita dengan baju koki.
"Pak, dia adalah orang yang mencurigakan. Karena dari tadi dia selalu membawa pisau," ucap pria itu.
"Hei, kau pikir hal itu adalah kejahatan apa? Aku adalah koki di restoran daging, wajar saja kalau aku membawa pisau. Apa yang salah, ha?" Akan tetapi, wanita tadi malah memarahi anggota kepolisian. Lisaa, Miku, dan Detektif Takagi tersenyum kecut.
"Ma-maaf, Bu. Tapi bukankah anda memiliki hubungan saudara dengan korban?"
Barulah, saat pertanyaan kedua dilontarkan, Miku, Lisaa, dan Detektif Takagi langsung berubah menjadi serius.
"Iya. Aku memang memiliki hubungan saudara dengan wanita itu. Tapi aku jarang sekali bertemu dengannya!"
"Bu, maaf. Apa ibu punya dendam dengan korban?"
"Bukankan sudah kubilang? Aku saja jarang bertemu dengannya. Tapi kenapa kalian malah mencurigaiku? Ha? Apa punya bukti?"
"Maaf, Bu. Tenanglah. Kami hanya ingin mengonfirmasi!"
"Tck, buang-buang waktu saja." Ibu itu masih marah-marah. Dia masih kekeuh kalau dia tidak membunuh korban.
Sementara itu, Miku dan Lisaa yang berada tidak jauh dari tempat itu berbisik. "Hei, apa yang harus kita lakukan?" tanya Miku.
"Umm ... bagaimana kalau kita tanya kepada Yotsuba saja? Mungkin dia bisa membantu memecahkan kasus ini."
"Baiklah."
Lisaa mengambil ponselnya untuk menanyakan jawaban kasus ini kepada Yotsuba.
Nah, yang ingin mereka tanyakan adalah, apa benar koki wanita itu adalah pelaku pembunuhan ini? Atau mungkin salah?
Jawab ya!