Welcome!!
Warning 18+
Apa yang suka dari Via? Tentu saja karena dia cantik, sexy dan gampang buat diajak bercinta.
Kamu cinta sama Via? Haha, ya enggak lah.
"Gue udah punya tunangan dan itu berarti sebentar lagi kita bakalan nikah. Buat sekedar cinta sama Via itu mustahil, gue cuma butuh tubuh dia doang"
.
..
...
Mau kenalan nggak sama gue? Mau dong, masa nggak mau kenalan sama cowok setampan gue.
Kenalin gue Abriyan Prayoga, kalian bisa manggil gue Briyan. Tapi banyak cewek-cewek yang manggil gue si brengsek, jangan tanya kok bisa? Karena gue sendiri juga nggak tau kenapa mereka manggil gue dengan sebutan itu.
Gue punya kelebihan yaitu Tuhan ciptakan dengan segala kesempurnaan, dan gue akuin gue bersyukur atas yang Tuhan berikan. Gue udah mempesona sejak bayi sampai tetangga-tetangga pada iri, jangan-jangan Mak kalian kalo lihat gue juga iri.
Bokap gue seorang pengusaha kaya, nyokap gue juga seorang pengacara kondang. Jadi jangan heran kalo penampilan gue lebih mencolok ketimbang temen-temen gue.
Waktu SMA, orang tua ngirim gue keluar negeri, disana gue tinggal sendiri. Bokap nyediain apartemen mewah, mobil dan ditransfer uang bulanan dengan jumlah yang banyak. Meskipun jauh dari mereka tapi mereka sangat peduli sama gue, hampir tiap hari mereka minta video call, dan jujur gue muak untuk itu. Ya karena gue nggak bisa bebas.
Jangan ditanya tentang pergaulan gue, karena gue disana jadi berandal dan itu diluar sepengetahuan orang tua. Gue suka mabuk-mabukan, pergi ke klub malam dan suka nunggangin anak orang. Absurd sekali epribadi.
Kenalan cewek gue banyak, mulai dari anak pengusaha, artis sampai model papan atas. Ngedapetin mereka itu mudah, nggak perlu dengan kata cinta, perasaan atau apalah itu, cukup kasih mereka cek dengan nominal yang mereka inginkan maka setelah itu mereka dengan suka rela naik keatas ranjang. Tapi, diantara semua tubuh yang udah pernah gue jamah, cuma satu yang bikin candu, yaitu tubuh indah Via. Cewek perawan yang nggak sengaja gue tolong pas ke rampokan.
Gue nggak percaya dengan adanya cinta, bagi gue hidup ini hanya sekali. Pergunakan itu untuk bersenang-senang, jika gue bisa membeli setiap perempuan yang gue mau jadi buat apa gue jatuh cinta. Tapi itu kata gue dulu sebelum kenal Via, sampai pada akhirnya gue sadar dia segalanya buat gue, sepenuhnya hati gue udah berlabuh pada gadis itu. Ini bukan sekedar candu, bukan, bukan hanya tubuh gue yang butuh tubuh dia. Tapi hati gue juga butuh hati dia.
.
..
...
Gue Briyan, malam ini gue baru pulang dari tongkrongan. Mengendarai mobil pelan, di antara lampu-lampu jalan. Gw ngeliat ada cewek sedang dihadang perampok, gue berusaha buat tidak peduli, karena memang itu sifat gue, selain bejat gue juga nggak punya perasaan. Tapi nggak tau kenapa lihat cewek itu sendirian dengan keadaan jalan yang sepi otak gue berinisiatif buat bantuin, dan selanjutnya yang gue lakuin adalah memarkirkan mobil di tepi jalan.
Setelah aksi tonjok menonjok dan gue pemenangnya, kedua rampok itu lari tunggang langgang. Gue berbalik badan melihat keadaan gadis itu yang sepertinya masih ketakutan "Are you oke?" dan hanya dibalas anggukan.
Dilihat-lihat dari wajah nya, gue ngerasa kita yang berasal dari negara yang sama. "Lo bisa bahasa Indonesia?" dan masih dibalas dengan anggukan.
Gue tau dia masih ketakutan, terlihat dari tubuhnya yang bergetar hebat apalagi posisi gadis itu tengah berjongkok. Mengulurkan tangan, bermaksud buat bantuin dia berdiri dan dia menerima uluran tangan itu. Gue tarik, dan memang berat badannya lumayan, padahal kalo dilihat tubuhnya sangat ramping.
"Lo udah baik-baik aja, nggak usah takut. Mereka udah pergi"
"Terimakasih" dia berujar dengan menyibakkan rambut yang menutupi wajah. Dan sumpah demi apapun, gadis itu benar-benar cantik, dan gue akuin ini pertama kalinya gue lihat cewek sesempurna itu.
Gue beri dia tumpangan, ini pertama kalinya gue ngizinin seorang cewek duduk di jok mobil kesayangan gue. Anggap aja dia sepesial!
Gue bertanya, dan dia menceritakan tentang bayak hal. Nyokap nya sakit dan dia butuh biaya, dia yang awalnya disini hanya menerima nyokap nya berobat, berubah menjadi pekerjaan di toko bunga. Katanya sih selain buat nyokap nya berobat uang itu dia pergunakan untuk kelangsungan hidup sehari-hari. Gue prihatin.
Gue emang bejat, mungkin itu alasan banyak cewek manggil gue dengan sebutan bejat. Gue tawarin dia buat jadi pemuas nafsu gue dengan iming-iming nominal yang sangat tinggi, ekspresi awalnya dia marah dan sepertinya sangat ngebenci gue bahkan dia minta buat turun ditengah jalan padahal alamat yang ia tuju masih sangat jauh. Gue cegah dia, gue bilang ini demi ibu lo! Ragu-ragu dia jawab iya.
Gue ajak dia ke apartemen gue, ketika pintu itu terbuka buru-buru gue tarik tangannya buat masuk kedalam, gue nggak sabar buat ngucapin hidangan malam ini.
Dia gugup, pandangannya hanya menunduk, berkeringat padahal ruangan ini ber-AC.
"Gue takut" ucapnya gugup.
"Gue nggak maksa, kalo Lo nggak mau ya nggak papa. Udah gue bilang, gue orangnya nggak suka kalo ada keterpaksaan nantinya. Yang gue cari kenikmatan"
Dia kembali menunduk, sumpah demi apapun gue akuin sekali lagi kalo gue bejat.
"Gue mau, tapi Lo harus pelan-pelan" meremas tangannya sendiri "ini yang pertama buat gue"
Tersenyum menyeringai, gue tau itu yang pertama. Udah kelihatan kok dari penampilannya yang terlihat anak baik-baik, dan gue bilang kalo gue bakalan lembut.
Setelahnya, Briyan mendekatkan wajahnya ke wajah via, ia satukan bibir nya dengan bibir berwarna merah Cherry itu. Ia melumat pelan, ia dengan telaten mengajari Via dengan perlahan. Setelah Via bisa menyeimbangi lidah Briyan, laki-laki itu pun menuntut lebih. Lumatan itu berubah menjadi serangan buas, tangannya menjalar kemana-mana, meremas dua gundukan daging.
Gadis itu merasakan sensasi yang luar biasa, ada getaran-getaran aneh yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Mencengkeram erat baju Briyan, lalu mendesah nikmat.
"Panggil nama gue"
Dan setelahnya malam penjebolan itu pun dimulai.
.
..
...
Cek harga? Ya setiap minggu Briyan akan bertanya tentang nominal yang Via minta, namun gadis itu hanya menjawab "masih sama"
Setiap Briyan pulang kuliah, ia akan menjemput Via ke rumah sakit dimana ibunya dirawat, memang setelah kejadian itu Via tak lagi kerja ditoko buka. Merasa sudah ada yang menanggung biaya hidupnya.
Mereka tinggal di apartemen yang sama, tidur di ranjang yang sama. Briyan tak lagi jajan diluar, karena dia sudah memiliki Via yang jauh dari kata sempurna. Mereka melakukan aktivitas itu tidak mengenal waktu dan tempat dimana gairah mereka tersulut disitulah mereka akan melakukan aktivitas bercinta.
.
..
...
"Bri, telpon dari siapa?" tanya Via.
"Dari bokap, nyuruh gue pulang"
Gadis itu mengangguk-angguk, "Kenapa tiba-tiba? Biasanya nggak pernah" yah karena memang selama tiga bulan dirinya tinggal di apartemen yang sama dengan laki-laki yang menghidupi nya itu, orang tua Briyan tidak pernah menyuruh Briyan pulang. "Lo udah lama ya nggak pulang?"
"Gue emang jarang pulang kalo nggak penting-penting banget" mengambil koper.
"Dan ini penting banget? Jadi Lo mau pulang?"
"Nggak penting buat gue, tapi penting buat bokap. Gue mau bertunangan sama anak rekan kerja bokap"
Setelahnya, raut wajah Via berubah. Tidak dipungkiri kalo dirinya tidak terpesona dengan Briyan, dia suka, dan mungkin saat ini bisa diartikan sebagai rasa cinta. Tapi dia sadar Briyan hanya membutuhkan tubuhnya.
"Oh"
"Lo kenapa kok pucet gitu? Lo sakit?" tanyanya khawatir.
"Nggak papa kok, gue cuma pengen nyari udara segar"
.
..
...
Percakapan itu seakan yang terakhir karena setelah nya Via selalu menghindar, gadis itu masih mau untuk diajak berhubungan badan, tapi tidak untuk diajak bicara. Briyan tak habis pikir, apa dirinya berbuat salah? Apa dirinya tanpa sadar berbuat kasar ketika penyatuan? Berulang kali dia berusaha menanyakan, tapi Via hanya menjawab "Kamu tidak punya salah, aku yang salah"
Waktu ia du bandara, Via mengatakan "Semoga bahagia" dan Briyan tidak mengerti, padahal Via tahu dia dijodohkan. Apa gadis itu cemburu? Briyan menyangkal. Hubungan kita cuma sebatas saling membutuhkan!
Tapi kenyataan lain gue terima, saat tiba-tiba ada pesan mauk dari Via. Gadis itu mengucapkan rasa terimakasih nya untuk gue, dan memutuskan untuk menjauh dari hidup gue. Ia berharap setelahnya kita tidak lagi dipertemukan. Satu kenyataan yang bikin gue mengganjal, Via mengungkapkan perasaannya sama gue. Jadi gadis itu selama ini memiliki rasa sama gue? Padahal udah gue tegaskan kita hanya sebatas saling membutuhkan.
Tiba dihari pertunangan gue, gue udah ketemu sama calon gue. Dia nggak kalah cantik dari Via, tapi entah kenapa bagi gue nggak ada yang bisa ngegantiin cewek itu, bayang-bayang dia menghantui gue. Padahal dia udah ngeblog semua alat komunikasi nya sama gue, dan gue baru menyadari kalo gue juga cinta sama dia.
Malam ini gue membuat malu orang tua gue, dimana yang harusnya menjadi kebahagiaan untuk semua orang ada didalam ruangan itu. Gue bilang, gue nggak bisa nerusin pertunangan ini, karena gue udah punya orang yang gue cintai. Gue lihat raut wajah tunangan gue kecewa, orang tuanya juga mental gue penuh kekecewaan terlebih lagi orang tua gue.
Untuk pertama kalinya bokap nonjok wajah ganteng gue, bokap bilang gue mempermalukan dirinya di depan rekan bisnis. Mama juga kecewa, harusnya ini bisa diomongin baik-baik sebelum acara.
Gue nggak peduli, yang gue pedulikan saat ini adalah balik keluar negeri buat nemuin Via. Papa ngelarang, beliau mengancam akan mencabut semua fasilitas gue. Ya itu konsekuensi karena udah membuat papa hilang muka, tapi gue nggak peduli.
Besoknya gue cari tiket dengan keberangkatan pagi, sesampainya disana gue kelimpungan nyari gadis itu. Ya, Via pergi. Bahkan ibunya juga dibawa pergi, gue kelimpungan, nggak tau harus kemana lagi.
Tapi jangan panggil gue Briyan kalo gue kehilangan akal, gue akan mengerahkan semua anak buah papa buat nyari Via, dengan atau tanpa ijin papa.
Gue harap Lo disana masih dengan rasa yang sama Vi! Gue Abriyan Prayoga yang sepenuhnya sudah melabuhkan hati gue ke elo!