Sesak rasanya jika tidak pernah mengungkapkan perasaan cinta pada seseorang. Yah, aku tahu cinta ini tidak wajar. Tapi aku mencintai Devano sahabatku. Setiap kali ada didekatnya, hatiku selalu berdegup kencang. Apa ini? apakah aku sudah mulai gila? bisa mencintai sesama gender.
"Rian, aku ikut mandi dikamar mandi kamu yah!" sahut Devano, saat kami selesai bermain PS.
"iya pake aja!" jawabku santai.
setelah beberapa menit, diapun keluar hanya berbalut handuk putih yang melingkar dari pusar sampai lututnya. Bagian dadanya yang bidang, dan perutnya yang kuat, membuatku tak tahan melihat hal itu. Aku menelan ludah beberapa kali sampai Devano selesai memakai pakaiannya.
"Aku pulang dulu ya! aku harus menemui seseorang!"
yah, dan aku tahu orang itu adalah Reina, gadis yang dia cintai, namun cintanya bertepuk sebelah tangan karna gadis itu sudah menolaknya berulang kali.
"untuk apa menemui dia? bukannya dia tidak mencintaimu?" tanyaku sinis.
"aku tetap tidak akan menyerah!" ucapnya lalu melenggang pergi.
Setelah beberapa saat kepergiannya, aku segera memakai jaket hitamku, memakai topi hitam, dan masker hitam yang menutupi sebagian wajahku. Yah, aku berniat untuk mengikuti kemana Devano pergi. Ternyata dia pergi ketoko bunga, membeli setangkai mawar, lalu pergi ke tepi sungai. Dimana disana sudah ada Reina yang tengah duduk diatas ayunan.
Terlihat wajah Devano yang tersenyum dan hendak menghampiri Reina. Namun tiba tiba Seorang pria asing datang dan disambut hangat oleh Reina.
"sayang! kenapa kau tidak mengabariku kalau mau datang kesini?" tanyanya sambil memeluk pria itu
dapat kulihat, Devano kembali melangkah mundur, menjatuhkan bunganya dan pergi berlari. Pasti dia sangat kecewa dan merasa sakit melihat orang yang dicintainya bahagia bersama orang lain.
saat itu juga, aku mengikutinya. Pria itu terisak ditengah lapangan berumput hijau muda itu.
"Dev!" panggilku langsung menghampirinya.
"jangan melihatku! aku pria yang payah!" serunya masih terisak.
dalam kesempatan itu, aku mencoba mendekatinya, dan dengan perlahan mengusap air matanya. "jangan menangis, hatiku terasa sakit saat melihatmu menangis!"
Devano mengerutkan alisnya dan menatapku seperti minta penjelasan. "kamu kenapa?" tanyanya.
Aku tertunduk, dan setelah itu memberanikan diri untuk menatapnya. "aku tidak tahu sejak kapan, dan aku tidak tahu apa yang terjadi, aku mencintaimu Dev!" kataku membuat Devano langsung menjauhkan diri dariku.
"apa kau tidak waras? aku ini laki laki!" sanggahnya.
"aku tahu!"
"tidak, kenapa duniamu jadi kacau begitu?" ucapnya langsung melenggang pergi.
Aku tak berniat mengikutinya dan memberinya penjelasan. Biarkan saja, mungkin untuk saat ini Devano butuh waktu menenangkan fikirannya.
Hari haripun berlalu, aku selalu memperhatikan Devano dari jauh, bahkan setelah ungkapan rasa cintaku padanya, dia jadi semakin menjaga jarak denganku. Aku tahu aku memang tidak waras.
Sore ini, aku datang menemuinya. ternyata dia sedang berdiam diri dikamarnya. "Dev, aku ingin bicara padamu!" ucapku
"bicara apa? soal ketidakwarasanmu itu?"
"Dev dengarkan aku dulu!"
"sudahlah, aku ini pria normal! cari saja pria lain, dan untuk persahabatan kita, kurasa cukup disini saja!"
BRUK!
aku memeluknya dari belakang. "jangan katakan itu Dev, sungguh aku tersiksa dengan perasaan ini!"
Hening! Pria itu tubuhnya menjadi kaku saat kupeluk.
"aku mencintaimu sejak lama!"
Dia masih tak menyahut, aku segera membalikan tubuhnya agar menghadap kearahku, aku kembali memeluknya, menciumnya, dan melepas hasratku yang sudah lama terpendam dihati ini. Namun pria itu hanya diam seperti batu. Tapi dari wajahnya, dia tampak menikmatinya. Apakah ini hal yang pertama dia rasakan?
"Rian..." ucapnya lirih
"apa?"
"menyingkir dari hadapanku!"
DEGH!
Aku segera menyingkir dari hadapannya dan duduk diranjang.
"Apa kau merasa puas?" tanyanya dengan suara yang bergetar.
Hening!
Aku tak menjawab.
"Aku tidak mencintaimu dan pergilah! Jangan ganggu aku lagi dan jangan pernah lagi menyeretku dalam duniamu yang kacau itu, yang tadi itu cukup yang pertama dan terakhir!"
Degh!
Rasa sakit ini benar benar tak bisa kupertahankan lagi, dengan hati kecewa, Aku segera pergi meninggalkannya. Aku tidak tahu apa yang terjadi padaku, bahkan saat pernah kucoba mencintai seorang wanita, aku tetap tak bisa mencintainya. Aku sama sekali tidak tertarik pada wanita manapun. Dan tidak ada pria lain yang kucintai, Hanya Devano yang membuatku begitu gila selama ini.
Perlahan lahan, Aku mulai menyibukan diri untuk tidak mengingat ketidakwarasanku itu, Setelah pulang sekolah, aku bekerja sambilan disebuah toko dan pulang larut malam. Semua itu kulakukan sebulan tanpa henti.
Malam ini, aku baru saja pulang. Namun yang tak diduga terjadi, Devano sudah berdiri di ambang pintu rumahku
"RIAN!" teriak Devano
"ada apa Dev?!" tanyaku begitu kaget saat dia berlari dan memelukku dengan erat.
"aku mencintaimu...." ucapnya lirih.
"hah?" tanyaku tidak mengerti.
"Aku mencintaimu Rian.." ulangnga.
Aku terkekeh dan mengelus rambutnya, mencium wangi shampo yang menempel dirambut Pria itu. "ada apa ini?" tanyaku tak bisa menahan rasa senang.
"aku tidak menyadarinya, selama ini kaulah yang selalu ada untukku, kaulah yang memberiku semua perhatian, dan kaulah satu satunya yang kupunya..." ucapnya begitu terengah engah, dia terlihat mengerahkan segenap tenaganya untuk mengungkapkarn perasaan dihatinya itu. "maafkan aku, Aku sudah menyakitimu Rian..."
Aku tersenyum, kembali memeluknya erat. "jadi, kita pacaran?" senyumku
"hem!" dia mengangguk dan mempererat pelukannya.
"kau tidak keberatan? kita sama sama lelaki!" kataku mengingatkan.
"itu tidak penting, Cinta bisa singgah dalam hati siapa saja"
"bagaimana kalau orang orang memandang rendah kita?!"
"Aku tidak peduli!" tegasnya
Lagi lagi aku terkekeh, lalu melepas pelukannya dan memangku dagu pria itu. "aku mencintaimu..." aku mulai mendekatkan wajahku dan menempelkan bibirku dibibir kecilnya.
Aku tidak tahu apa yang dia rasakan, yang dapat kudengar adalah deru nafas dan detak jantungnya yang berdegup kencang. Membuatku semakin bergairah untuk mencumbunya.
-----------