Seorang pemuda bernama Leondy Alexander sedang berada di ruang meeting untuk mendiskusikan suatu hal.
"Kau yakin Bos, ingin pergi ke sana?" Leondy mendengkus. Ia heran, kenapa seluruh rekan kerjanya ini ketakutan sekali untuk memeriksa lokasi syuting mereka.
"Kenapa? Kalian takut kesana?" tanya Leondy dingin.
"Tidak. Kami tidak takut," ucap rekannya yang bernama Reynaldi Gerald.
"Kalau begitu, jangan banyak bicara. Kita pergi sekarang juga."
Perjalanan memakan waktu tiga jam untuk sampai ke lokasi yang akan digunakan para artis untuk syuting film perdana mereka. Sebelum menjalankan syuting, mereka merasa harus memastikan jika lokasi itu aman untuk digunakan. Mereka berencana untuk bermain permainan yang mampu merenggut nyawa seseorang. Leondy yang tidak percaya hantu pun ingin mencoba untuk bermain permainan berbahaya itu agar project film horror mereka berhasil tanpa hambatan apapun.
Kini, mereka berjalan menuju hutan belantara menuju rumah berhantu yang konon katanya telah merenggut banyak korban. Keempat tim Leondy mulai memeluk diri mereka sendiri karena aura hutan tersebut sangatlah kencang dan menakutkan. Sementara itu, Leondy yang menyetir tampak tenang-tenang saja seolah tidak ada apapun di sekitar mereka.
"Bos, apa kau tidak merasa jika hutan ini menyeramkan? Bulu kuduk kami berdiri sekarang." Leondy tersenyum miring mendengar ucapan Reynaldi.
"Itu karena, pikiran kalian selalu dipenuhi aura negatif. Hanya karena tempat gelap dipenuhi pohon-pohon lebat, bukan berarti hantu itu ada. Kalian tahu tidak, hantu itu sebenarnya tidak berbentuk sama sekali. Mereka akan berbentuk berdasarkan apa yang dipikirkan manusia. Kalian tidak seharusnya takut akan hal itu. Sebaiknya, kalian diam dan nikmati saja perjalanan kita hari ini." Keempat rekan kerjanya itu pun mengangguk dan berusaha menyingkirkan pikiran negatif mereka.
"Nah, kita sudah sampai sekarang. Ayo, kita turun." Leondy beserta rekannya pun turun dari mobil dan kembali ketakutan ketika melihat rumah besar nan kumuh tersebut.
"Ini tempatnya, Bos? Kenapa kumuh sekali?" Leondy berdecak kesal dan menatap malas pada Reynaldi, tangan kanannya.
"Jelas kumuh, kan tidak pernah ditempati lagi." Leondy pun memimpin jalan dan hendak masuk ke rumah kumuh tersebut.
"Bos, kenapa tempat ini seram sekali? Kita pulang saja, yuk." Leondy kehabisan kesabarannya dan berteriak di depan sahabatnya,
"Kalian takut?! Kalau begitu, pulang saja sendiri!" bentak Leondy membuat keempat rekan kerjanya itu semakin meremang. Suasana rumah yang seram di tambah teriakan Leondy membuat mereka buang air kecil di celana.
"Bos, jangan berteriak di sini. Kalau hantunya muncul, gimana?" Leondy tidak menghiraukan Reynaldi dan berjalan menuju lift, diikuti keempat rekan kerjanya.
"Dengar, kita harus memastikan permainan ini mitos demi keselamatan para aktor dan aktris kita nanti. Jika memang hantu itu benaran ada, kita akan membatalkan project ini. Paham?" Keempat rekan timnya pun mengangguk. Mereka tidak ingin menyangga dan mendapat kemarahan dari bos mereka yang galak itu.
"Kita mulai ritualnya hari ini." Leondy mengeluarkan cutter, lilin, dan kertas.
Pertama-tama, Leondy dan keempat rekan kerjanya menyalakan lilin dan meletakkan seluruh lilin itu dengan posisi melingkar. Lalu, mereka menulis nama masing-masing di kertas dan diletakkan di hadapan mereka. Setelah itu, mereka melukai pergelangan tangan mereka hingga mengeluarkan sedikit darah dan meneteskan darah mereka di atas kertas berisi nama mereka.
Aura di ruangan menjadi lebih pekat dan bahkan, Leondy mulai merasa dingin di area tengkuknya. Namun, ia mencoba untuk biasa saja demi harga dirinya. Ia tidak ingin ditertawakan oleh keempat temannya ini dan berujung dipermalukan keesokan paginya.
"Siapa kalian? Berani sekali kalian mengganggu tidur cantikku" Suara lembut nan menyeramkan itu menyapa pendengaran mereka. Seluruh lilin tiba-tiba padam, udara dingin menerpa kulit tubuh mereka.
"Bos, suara siapa itu? Bukannya dari tadi itu, cuma kita yang ada di sini?" tanya salah satu rekan Leondy yang bernama Jonathan Aprillio.
"Suara cewek lah. Memangnya suara siapa lagi?" jawab Leondy ketus.
"Hadeuh Bos, Bos. Sadarlah, hantunya sudah datang. Itu hantu beneran, Bos. Mati kita."
"Hantu? Cih, yang bener saja. Kalian pasti sedang mengkhayal. Mana hantunya?" Leondy menoleh ke kanan dan kiri untuk mencari hantu itu.
"Kutanya sekali lagi, siapa yang mengganggu tidur cantikku?!" Suara lembut itu terdengar semakin menyeramkan. Pemilik suara itu akhirnya menunjukkan wujudnya yang menyeramkan.
"AAHHH!!!!!!" Teriakan keras mengisi ketegangan di ruang tamu itu. Sedangkan Leondy nampak bingung, kenapa keempat temannya berteriak.
"Kenapa kalian berteriak? Wanita cantik seperti itu saja kalian takut. Bagaimana dengan wajah yang seram?" Keempat pemuda itu ternganga mendengar ucapan Leondy.
'Sepertinya, mata Bos sudah rabun. Seram begitu dibilang cantik,' batin keempat pemuda itu bersamaan.
"Kalian berempat, pergi sekarang juga. Aku ada perlu dengan bos kalian." Keempat pemuda itu langsung berlari ketakutan menuju lift, sementara Leondy memasang wajah bingung.
"Kenapa kau menyuruh temanku pergi, Nona?" tanya Leondy.
"Kau bertanya kenapa, tuan? Aku tidak membiarkan mereka pergi karena ketakutan, melainkan nyawa mereka ada ditanganmu sekarang." Leondy semakin bingung dengan penjelasan hantu wanita itu.
"Kau adalah orang yang tidak mempercayai keberadaan hantu, iblis dan dunia ghaib. Kurasa pengelihatanmu tidaklah sama dengan keempat temanmu itu. Jadi, permainan ini akan dimainkan olehmu sendiri." Leondy menyeringai.
"Baik, aku pasti berhasil." Leondy berujar penuh percaya diri.
"Bagus, aku suka kepercayaan dirimu. Kuharap kau mampu menyelesaikan permainan ini dengan baik. Akan kujelaskan peraturan permainan ini." Leondy mengangguk.
"Kau harus keluar dari hutan belantara ini, tanpa menggunakan kendaraan. Jika kau tidak berhasil, temanmu akan mati." Leondy mulai meneguk salivanya berat. Untuk pertama kalinya, ia merasa takut.
"Setiap kali kau salah mengambil jalan keluar, satu persatu temanmu akan mati hingga kau berhasil keluar seorang diri. Permainan ini akan berakhir, jika semua temanmu mati, atau saat kau menemukan jalan pulang ke rumah masing-masing. Kau mengerti?" Leondy mengangguk kaku membuat hantu cantik itu tertawa jahat.
"Kemana semangat dan percaya dirimu tadi, hm? Apakah itu hanya omong kosong?" Leondy menatap tajam pada hantu itu.
"Tentu saja tidak. Aku pasti akan keluar dari hutan ini tanpa menumbalkan seluruh temanku." Leondy mengepalkan tangan penuh semangat.
"Ku pegang kata-katamu. Good luck." Hantu itu menghilang dari pandangan Leondy.
"Ternyata hantu itu bukan mito. Jika begini, aku akan berpikir ulang untuk menjadikan tempat ini lokasi syuting filmku." Leondy berlari ke lift dan menekan tombol lift ke lantai dasar.
"Ingat, jangan sampai gagal Tuan." Leondy tidak menghiraukan ucapan hantu itu melainkan rasa gugup kini menyerang dirinya. Ia mulai ragu, apakah akan selamat atau tidak.
"Bos, bagaimana keadaanmu? Hantu itu tidak menyakitimu, bukan Bos?" tanya Reynaldi bertubi-tubi.
"Hoho, tenang saja. Dia tidak berani denganku. Kita harus keluar dari sini sekarang juga, karena permainan sesungguhnya baru dimulai." Keempat pemuda itu mengangguk ragu. Entah kenapa, firasat mereka tidak enak?
"Kita harus keluar dari hutan belantara ini dengan selamat tanpa menggunakan kendaraan."
"HAH?!!!!" Leondy menutup kedua telinganya.
"Waktu kalian tidak banyak Tuan-Tuan sekalian. Jika malam ini kalian tidak berhasil keluar dari sini, kalian semua akan mati." Leondy dan keempat temannya pun pergi menyusuri jalan yang mereka ketahui sebagai jalan pulang.
Namun, yang mereka temukan hanyalah jalan buntu.
"Bos, kita tidak salah mengambil jalan, kan?" Leondy meneguk ludahnya.
"Setahuku, tidak," jawab Leondy namun, nadanya terdengar ragu.
"Bos, nada bicaramu tidak terdengar meyakinkan. Apa kau mau jelaskan pada kami, peraturan dalam permainan ini?" tanya Leondy.
"AAHHHHHH!!!!" Suara teriakan membuat Leondy dan ketiga temannya menoleh ke belakang. Salah satu teman mereka menghilang. Leondy pun mulai ketakutan.
"Ingat yang kukatakan, Tuan? Setiap kali salah mengambil jalan, kau akan kehilangan satu persatu temanmu." Reynaldi dan kedua pemuda itu menatap Leondy, meminta penjelasan.
"Katakan itu tidak benar, Bos." Reynaldi menarik kerah Leondy.
"Bos!" bentak Jonathan membuat Leondy mendongak namun, tetap diam. Pegangan di kerahnya kendur dan mereka mulai ketakutan.
"Ini semua karenamu Leondy. Kau yang memaksa kami untuk ikut kemari, dan lihat apa yang terjadi?! Kita semua akan mati satu persatu karena harga diri sialanmu itu!" bentak Reynaldi.
"Reynaldi benar, Bos. Kau harus bertanggung jawab dan memastikan kami sampai ke rumah dengan selamat! Jika tidak, kau pun tidak akan selamat." Leondy mulai menahan emosinya.
"Diam!!! Memangnya kapan aku memaksa kalian, hah?!" Leondy mengeluarkan seluruh amarahnya.
"Kau bertanya kapan?! Kau mengancam kami, jika kami tidak ikut maka, kau akan memotong gaji kami!" bentak Reynaldi.
"Itu namanya memaksa?! Tolong dipahami, mengancam dan memaksa itu beda! Kaliannya saja yang hidup mementingkan uang. Makanya kalian ingin ikut denganku! Kalian juga yang memaksa untuk bekerja denganku tapi sekarang, kalian menyalahkanku! Otak kalian itu ada di mana sebenarnya, hah?! Bekerja di saluran pertelevisian, tentu harus siap dengan konsekuensinya! Jika kalian keberatan, setelah kita sampai ke rumah, siapkan surat pengunduran diri kalian padaku! Aku tidak perlu pegawai yang lemah!" Leondy langsung pergi mencari jalan keluar meninggalkan ketiga temannya itu.
"Kalian tidak ingin melanjutkan perjalanan, kawan?" tanya Pemuda yang bernama Riki Alterio.
"Untuk apa? Kita tetap akan mati meski berusaha sekalipun," ujar Reynaldi.
"Itu benar. Mari kita nikmati pemandangan seram ini dengan lapang dada. Aku tahu, hantu itu ada di sekitar sini untuk membunuh kita."
"Tolong, jangan menyerah seperti ini, Reynaldi, Jonathan. Kita harus berusaha, kita masih punya keluarga yang perlu kita hidupi. Jika tidak bisa untuk diri sendiri, kita harus berusaha demi keluarga. Agar tidak menyesal di kemudian hari. Setidaknya, kematian kita tidak akan sia-sia."
Tiba-tiba, Leondy kembali ke tempat yang sama dan bertemu lagi dengan rekannya. Ia memukul pohon di sebelahnya dan berteriak,
"SIAL!!!!" Leondy mengacak rambutnya sendiri. Ia kemudian, menatap ketiga krang di hadapannya dan menunduk.
"Aku minta maaf karena memaki kalian. Aku sadar, aku telah memaksa kalian untuk ikut denganku demi kelancaran project ini. Jika disuruh memilih, aku akan mengorbankan nyawaku sendiri dari pada kalian yang mati." Hantu itu tiba-tiba muncul di hadapan mereka.
"Kenapa suasananya menjadi drama seperti ini? Kalian tidak ingat ucapanku? Waktu kalian hanya malam ini saja. Jika waktu kalian habis maka, nyawa kalian juga habis." Hantu wanita itu menatap tajam keempat pemuda di hadapannya.
"Tubuh teman kalian itu sangat lezat. Aku tidak keberatan untuk memakan kalian sekarang juga jika tidak melarikan diri dari sini." Hantu wanita itu mengeluarkan kukunya yang tajam dan panjang. Keempat pemuda itu saling berpelukan karena ketakutan. Kemudian, Leondy berusaha menetralkan rasa takutnya.
"Kuakui, aku terlalu percaya diri akan berhasil menyelesaikan permainan ini. Kurasa, aku akan menyerah. Lagipula, waktunya sebentar lagi habis." Leondy berujar panjang lebar.
"Bos, apa yang kau katakan? Apa kau ingin kami semua mati?" tanya Reynaldi.
"Tidak. Aku akan memohon padanya untuk membiarkan kalian hidup. Aku akan membayarnya dengan nyawaku." Mendengar itu, sontak membuat ketiga pemuda itu meneteskan air mata mereka. Mereka merasa bersalah karena memaki bos mereka.
"Tidak Bos, kau tidak boleh menyia-nyiakan nyawamu. Kami minta maaf, kami telah menyalahkanmu atas hilangnya nyawa teman kami. Kami mohon, mari kita berjuang untuk keluar dari sini." Leondy tersenyum dan menggeleng.
"Percuma saja. Kita tidak akan selamat sebelum memakan lebih banyak korban. Hantu ini telah menipu kita semua. Aku pernah membaca legenda jika hantu ini mencari dua korban agar yang lain bebas dari sini. Karena aku yang memaksa kalian, aku yang akan mengorbankan nyawaku hari ini. Kalian masih punya keluarga, sedangkan aku tidak. Jadi, aku tidak masalah." Leondy tersenyum tulus pada ketiga temannya.
"Hah, membosankan sekali. Baru kali ini, ada orang yang menyerah di saat permainan belum selesai." Leondy kembali menatap hantu wanita itu. Hantu itu berubah menyeramkan di matanya sekarang. Wajahnya penuh luka bakar dan matanya hilang sebelah.
"Ini wujud aslimu, huh? Pantas saja temanku begitu ketakutan." Hantu itu mendengkus.
"Tidak usah banyak bicara. Aku memang mencari dua tumbal hari ini untuk menyelesaikan misinya. Jadi Tuan, kau ingin mengorbankan nyawamu?" Leondy mengangguk yakin.
"Sayang sekali, kau hanyalah tong kosong nyaring bunyinya." Hantu itu mendekat pada Leondy dan menyayat tubuh pemuda itu menggunakan kuku panjangnya hingga ketiga pemuda itu ketakutan dan jatuh pingsan. Sementara Leondy, kini tubuhnya sangat mengenaskan. Nyawanya melayang di tangan hantu itu dan permainan pun selesai.
"Hihihihi...." Tawa mengerikan sang hantu terdengar bergemah di hutan belantara itu.
END
Wah, cerpennya penuh drama dan gk jelas banget. Tapi, gpp deh, dari pada begadang berujung demam? Kalo ada yang mau versi revisinya, saya akan upload di kumpulan oneshot pada cerita saya nanti. Bye guys, cerita ini banyak typo, kekurangan dan lain sebagainya. Mohon bijak dalam membaca, jangan lupa komen, like, and bla, bla, bla. It's up to you. See you in another short story