Pagi yang cerah dimana pada saat itu aku pertama masuk kuliah setelah beberapa hari melewati pahitnya di ospek. Pagi ini aku berangkat sendirian menggunakan motor di saat perjalanan menuju kampus tiba-tiba dari belakang aku diserempet motor yang hendak menyalipku.
BRUK!!!
Aku terjatuh, saat aku jatuh detak jantungku tak karuan entah itu akibat terkejut karena diserempet hingga jatuh atau karena pengendara motor yang menyerempetku tadi hendak membantuku untuk berdiri.
“Sepertinya aku pernah melihatnya, bukankah dia Damian, apakah dia Damian?” tanyaku dalam hati.
Damian adalah mantanku bisa dibilang ia cinta pertamaku waktu kelas 11. Tapi kita berdua hanya berpacaran 2 bulan saja. Kita putus karena jarak yang memisahkan kita. Satu bulan sudah aku berpacaran dengannya dan pada saat itu dia berpesan kepadaku jika ia harus mengikuti perintah kedua orangtuanya, yang mengharuskan Damian dan kedua orangtuanya pindah ke luar kota.
Dan aku hanya bisa menerima kenyataan yang pahit, aku tidak ingin dia pergi, dia segalanya bagiku dan selama ia pindah kita menjalin komunikasi melalui whatsapp tapi lama kelamaan Damian menghilang, aku merasa kalau dia sudah tidak menganggapku lagi.
Dan akhirnya sebulan sesudah ia pindah aku mengakhiri hubunganku dengannya. Itulah ceritaku dulu dengannya. Kini dia nampak berbeda 99%, dia tampak lebih ganteng, keren, dan terlihat jauh lebih rapi.
“Apa ada yang sakit?” laki-laki itu bertanya padaku. Suaranya mirip sekali dengan suara Damian aku masih ingat betul suaranya. Tapi jika dia Damian, kenapa dia tidak mengenalku? Apakah dia berpura-pura tidak mengenalku? Dan aku pun menjawabnya pertanyaannya.
“Ya sakitlah orang udah diserempet jatuh lagi dan parahnya ketiban motor!!” jawabku kesal. Tanpa panjang lebar aku menancap gas meninggalkan laki-laki itu.
Sesampainya aku di kampus aku mencari-cari kelasku, selesai aku mendapatkan kelasku aku langsung duduk di kursi dan mengingat kejadian tadi, lama kelamaan lukaku semakin perih ku putuskan untuk membeli obat merah di apotik dekat kampus.
Untung saja apotik dekat kampus dan tepat depan lobi kampus. Jadi tak butuh lama untuk berjalan. Aku seorang laki-laki melangkah ke arah apotik. Perkiraanku dia adalah senior ku, setelah ku lihat baik-baik
“Astaga pria itu bukankah yang tadi menyerempetku dan sangat mirip dengan Damian?” ucapku dengan suara pelan.
Dan betapa malunya diriku kepergok sedang menatapnya. Tak ku sangka ternyata kita satu kampus, dia menghampiriku lalu berkata,
“Hei, ternyata kamu kuliah disini juga dan aku tahu kamu ke sini beli obat merah kan?” ia lalu menyodorkan obat merah itu kepadaku. Tanpa menjawabnya aku langsung mengambil obat merah itu lalu berbalik dan kembali menuju kampus.
“Elisa,” dia memanggil namaku, di situ aku sangat yakin bahwa dia memang Damian. Aku menghentikan langkah kakiku dan berbalik ke arahnya dan menatapnya begitu pun dengannya.
“Apa kamu sudah lupa sama aku?” tanyanya.
“Da-Damian...” Suaraku lirih.
“Sudah ku duga, ka.u pasti mengenaliku dan tidak akan pernah melupakanku. Aku merindukanmu, Eli. Aku kecewa saat kamu putusin aku. Saat kita putus sampai saat detik ini belum ada yang bisa menggantikanmu di hatiku,” ujarnya.
“Sejujurnya aku juga tidak berpacaran lagi setelah kita putus,” ucapku.
"Elisa, ayo masuk kelas dosen udah datang tuh!" teriak Arul teman ku yang membuat aku dan Damian mengakhiri perbincangan kami. Kami berdua berpisah karena kami beda fakultas.
Ku rasa cintaku yang dulu untuk Damian bersemi kembali. setiap pagi dia selalu menyapaku, dan selalu menyemangatiku. Hal kecil seperti itu saja sudah sangat senang bagiku, apalagi dia selalu memberi senyum manisnya untukku.
Dan tibalah saat pergantian semester teman-temanku khawatir dengan IP begitu juga denganku. Aku senang sekali bisa mendapatkan IP yang memuaskan, sangat lega bagiku. Setelah aku mengetahui IP ku segera menuju tempat parkiran dan langsung pergi jalan-jalan dengan Bian dan Rara. Saat sampai di parkiran aku tidak melihat motorku sudah ku cari-cari tapi tidak ada di situ aku sangat panik. Aku mencoba untuk bertanya kepada pak satpam yang yang berjaga di tempat parkiran itu.
“Pak lihat motor saya matic saya yang berwarna hitam nggak pak?” kataku dengan wajah panik.
“Oh iya, iya tadi saya lihat, motor kamu dibawa sama Bian ke arah sana, lewat belakang parkiran,” jawab pak satpam.
“Oh, begitu ya pak makasih atas informasinya.”
Aku berjalan dengan cepat sambil berpikir untuk apa Bian membawa motorku ke sana, dan aku baru ingat jika kunci motorku juga masih dibawa Bian sejak ia pergi meminjam motorku, tapi aku masih bingung untuk apa motorku dibawa ke belakang kampus, apalagi di sana banyak orang maklum di belakang ada taman untuk nongkrong-nongkrong. Hampir sampai aku di belakang kampus tampak sangat sepi sama sekali tidak ada orang. Ya sudah, beruntung jika tidak ada yang melihatku. Aku berjalan menuju motorku yang berada disana.
Saat aku sampai di parkjran taman teman-teman jurusan ku masuk ke taman, mereka semua berjalan menuju ke arahku dan mereka membawa balon huruf mereka semua berjejer rapi di dekatku.
Aku sangat bingung,
“Ada apa ini sebenarnya?” aku bertanya tetapi teman-temanku tidak ada yang menjawabnya.
Lalu dari belakang ada yang menepuk pundakku aku langsung berbalik ke belakang ternyata itu Damian ia seperti membawa sesuatu di tangannya yang ia sembunyikan di balik badannya. Aku bertanya kepada Damian.
“Ada apa ini?”
“Lihatlah teman-temanmu,” jawab Damian. Aku langsung melihat teman-temanku, satu persatu balon huruf itu tersusun menjadi sebuah kalimat. Aku sangat terkejut membacanya, ‘Love U Elisa'. Aku menatap mata Damian dan ia berlutut kepadaku sambil menyodorkan bunga mawar yang indah.
“Maukah kamu jadi pacarku?” ucapnya dengan suara yang begitu keras. Di situ aku ingin berteriak sekencang-kencangnya, ingin melompat setinggi tingginya dan serasa melayang seperti layang-layang yang terbang ditiup angin. Teman-temanku serempak bersorak.
“Terima! Terima!,”
Karena benih-benih cintaku telah tumbuh kembali akhirnya dengan senyum tipis dan tak kuasa menahan air mata terharu.
“Iya, aku mau.” jawabku lalu mengambil bunga yang ada di tangan Damian. Laki-laki itu tersenyum lebar.
“Aku tidak ingin meninggalkanmu lagi, aku akan selalu bersamamu di saat suka maupun duka, I love you.” ucapnya.
"I love you too.” balasku bahagia.
Cinta pertamaku kini telah bersamaku lagi dan dialah yang singgah di hatiku lagi.
Tamat
.
.
.
Selesai membaca tolong tinggalkan jejakmu ya😊
Jika kamu suka, jadikan cerita ini favoritmu. Like, dan komen.
Baca juga novel karya ku ya
🌼 Kirana Tetaplah Disisiku
🌼 Cinta Sepotong Donat
🌼 Rasa Cinta
🌼 Kumpulan Cerita Horror
Dukungan kalian sangat berarti bagi ku.
Jangan lupa follow instagram ku @helloassyh_ untuk mendapat informasi update tentang novel ini.
Kalau kalian inbox atau DM insyaallah aku akan balas kalau nggak sibuk ya, hehehe
Terima Kasih*** 😘❤