Namanya Irwan, umurnya 27 tahun dan bekerja di salah satu Perusahaan swasta. Ia menghabiskan keseharian waktunya dengan bekerja, bekerja dan bekerja, oh iya dan dia juga tidak terlihat.
Hari ini, sama seperti hari sebelumnya, dan hari-hari sebelumnya. Matahari tetap terbit dari mana dia biasa terbit. Burung-burung berkicau ribut seolah ingin memberi tahu pada dunia jika hari ini sudah pagi. Para kawanan tupai pun tak mau kalah, mereka berlari dengan sangat kencang dari satu pohon ke pohon lainnya. Mulai terdengar suara kendaraan orang lalu-lalang dan para tetangga sibuk melakukan kegiatannya.
Seketika Irwan terjaga dari tidurnya, tidur yang tidak begitu nyenyak sebenarnya. Laki-laki itu merasa seperti di atas awan, mengambang dan tak tahu arah. Ia duduk sebentar di pinggiran kasur, termenung melihat ke lantai, lalu berjalan ke arah cermin.
Ia melihat sosok orang dengan rambut yang kusut, kantung mata yang hitam dengan mata yang masih memerah.
“Ya tuhan, siapa orang menyedihkan ini?” pertanyaan yang sebenarnya untuk dirinya sendiri.
Irwan memandang sekeliling kamarnya. Berantakan seperti medan perang seolah ada dua negara yang sedang merebutkan sebuah pulau. Banyak barang yang tidak pada tempatnya. Botol minuman soda yang berserakan di lantai, padahal tempat sampah hanya berjarak selangkah kaki darinya.
Meja kerja yang dipenuhi kertas-kertas, dengan lampu meja yang masih menyala. Baju kotor tertimbun seperti gunung Jayawijaya.
“Kenapa masih kotor? Bukannya kemarin aku sudah mencucinya?” ia menggaruk-garuk kepalanya yang memang gatal.
Sepatu yang tidak pada raknya dan kaus kaki yang tercecer di bawah meja kerja. Baju yang kemarin hanya dipakai sekali lalu digantung dan tidak pernah dipakai lagi. Kamarnya benar-benar seperti barak pengungsian.
Irwan membuka tirai jendela dan melihat ke arah luar. Benar saja, hari sudah sangat pagi. Matahari sudah tinggi. Burung-burung tak lagi berkicau, karena mereka sudah terbang ke segala penjuru arah mencari makan. Dan tupai yang awalnya berlari, sekarang duduk rapi menikmati pepaya yang tadi mereka curi dari kebun tetangga sebagai sarapan paginya. Irwan terpaku ke arah jalan. Masih banyak orang yang lewat, berjalan cepat seolah dikejar sesuatu yang tak kasat mata.
“Apa yang mereka lakukan? Bukannya sekarang hari Minggu? Seharusnya mereka berada di rumah, menghabiskan waktunya dengan keluarga, bukan malah berkeliaran tidak jelas seperti itu” gerutunya.
Sepertinya nyawanya sudah kembali ke badan. Ia memutuskan untuk merapikan kamarnya. Tidak ada salahnya, karena sekarang hari libur kerjanya dan ia tidak punya kegiatan lain. Tapi seketika ia bingung dari mana dirinya harus memulai.
Setelah berpikir panjang, laki-laki itu pun mulai dengan merapikan meja kerjanya. Ia menyusun kertas yang awalnya berserakan menjadi satu tumpuk dan meletakkannya ke dalam laci. Lampu meja yang awalnya menyala kini sudah mati. Lalu ia berpindah ke rak sepatu, dan mulai menyusunnya. Kaus kaki yang berceceran tadi kini sudah berada pada tempatnya. Kaleng minuman soda juga sudah berada di tempat harusnya dia berada. Kini yang tersisa tumpukan baju kotor yang baunya bisa digunakan sebagai senjata biokimia.
Irwan bingung apa yang harus ia lakukan pada gunungan baju-baju itu. Ia sangat malas jika harus mencucinya, karena sudah terlalu banyak. Akhirnya ia memasukkanya ke dalam tas dan memutuskan untuk membawanya ke tempat laundry.
Irwan mengendarai motor maticnya dengan tas penuh baju kotor yang terganjal diantara fork dan jok motornya. Irwan termaksud orang yang cinta lingkungan, biasanya ia memakai sepeda kemanapun selagi tempatnya dekat. Berhubung tempat laundrynya lumayan jauh jadi ia menggunakan motornya.
Satu tugas telah ia selesaikan. Keluar dari tempat loundry, ia memutuskan untuk menghabiskan sisa akhir pekannya dengan menonton film yang semalam ia download menggunakan wifi kantor, tapi tiba-tiba ponselnya berbunyi. Pesan dari seseorang dan layar hp menunjukkan nama Bapak Susano.
✉️Bapak Suseno : Tolong segera ke kantor, ada kerjaan yang harus diselesaikan!"
Pesan yang begitu singkat, padat dan memerintah. Seolah itu adalah vonis mati yang tidak bisa dilawan lagi. Seolah kata “tolong” adalah pemanis belaka.
“Lembur kah? Perasaan semua laporan sudah kukerjakan kemarin. Kerjaan apa lagi???" hatinya menggerutu.
Semua laporan sudah ia kerjakan. Karena ia tidak mau akhir pekannya terganggu dengan kerjaan yang masih menumpuk. Tapi sepertinya kerjaannya belum cukup banyak.
Irwan bergegas pulang ke rumah, mandi dan mengganti pakaian lalu berangkat ke kantor. Ia mengayuh sepedanya dengan sangat pelan, pelan sekali bagai slow motion dalam film. Ia berharap membutuhkan waktu seharian untuk sampai ke kantornya.
Laki-laki itu bahkan tidak peduli dengan kata “segera” yang tertera pada pesan si tukang memerintah tadi. Irwan terus mengayuh pelan sebagai tindakan pemberontakan. Tapi memang jarak antara rumah dan kantornya begitu dekat. Tidak membutuhkan waktu 15 menit, ia pun tiba di kantor.
Sepertinya bukan cuma dirinya saja yang akhir pekannya diganggu. Banyak orang yang lembur, dengan berbagai mimik muka yang mengungkapkan kekesalan karena waktu mereka yang berharga diganggu oleh si tukang memerintah tadi.
Irwan bergegas ke arah mejanya. Melewati sekumpulan orang yang sedang asik mengobrol tentang pertandingan sepak bola semalam. Mereka tidak memperhatikan Irwan. Tak ada orang yang melihat kedatangannya, sebagian sibuk dengan komputer masing-masing. Irwan melihat Nazril, orang yang berada di sebelah mejanya. Seorang pria dengan baju kaos rapi, rambut yang klimis, celana jeans dan sepatu sneakers. Dengan ekspresi muka kusut, alis yang saling bertautan, lidah yang digigit, mengungkapkan kekesalan. Pastilah dia sedang berada di pusat perbelanjaan dengan keluarganya saat si tukang memerintah tadi memanggilnya.
Irwan melihat secangkir kopi di mejanya. Ia terpaku sekian detik, karena sebelumnya ini tidak pernah terjadi, tidak ada orang yang pernah memberikan kopi padanya, karena memang kantornya tidak mempunyai office boy. Jika ingin kopi? Maka karyawan harus membuatnya sendiri.
"Apa ada orang yang iseng atau sengaja? Atau mungkin dia salah meletakkan? Dia mungkin mengira jika meja ini adalah mejanya." Irwan melihat sekelilingnya, tidak ada yang aneh. Tidak ada juga orang yang merasa kehilangan kopinya. Ia menatap cangkir kopi itu dengan pandangan menilai, seolah-olah kopi itu melakukan suatu kejahatan yang tidak bisa diampuni.
“Apa ini ada sianidanya?” batinnya dan bergidik mengingat kasus pembunuhan dengan kopi yang sempat viral. Ia tidak tahu harus diapakan kopi itu. Ia tidak menyangka perihal secangkir kopi saja bisa membuat hatinya tak karuan.
“Irwan, apa yang kau lakukan?” seseorang dengan nada memerintah tiba-tiba saja sudah berada di sampingnya.
“Eh, anu pak, ini… tidak apa-apa, apa yang bisa saya lakukan pak?” tanya Irwan tanpa sadar.
“Kau harus menyelesaikan laporan ini sekarang, besok saya harus meeting dengan para direksi, apa kau bisa melakukannya?” Pak Suseno memberikan sebuah map merah bertuliskan LAPORAN AKHIR BULAN.
“Tentu saja pak, saya akan menyelesaikannya sebelum sore ini” kata Irwan dengan nada yang dimanis-maniskan.
“Baiklah, aku percaya padamu, jika sudah selesai kamu letakkan saja di mejaku, aku harus pergi, ada undangan yang harus kuhadiri.” Pak Suseno berkata sambil berlalu.
"Dasar tua bangka egois! Dia menggangu waktu berhargaku untuk mengerjakan laporan sampah ini, sedangkan dia pergi bersenang-senang. Sial." umpat Irwan dalam hati.
“Pak, anu… hm, kopi ini? Apa bapak yang membuatnya? Atau bagaimana?" tanya Irwan tanpa sadar, kata yang lolos begitu saja tanpa peringatan dari bibirnya.
“Kopi? Kopi apa? Saya tidak mengerti apa yang kamu bicarakan. Sudah dulu, saya harus bergegas, istri dan anak saya sudah menunggu.”
Irwan menanyakannya mungkin bisa saja Pak Suseno khilaf membuatkannya kopi, karena merasa bersalah sudah mengganggu waktunya, tapi Irwan juga sadar kalau pertanyaan itu tidak berguna, karena tidak ada meja dengan kopi di sekitarnya, hanya mejanya saja, apa yang membuat dirinya istimewa, sehingga harus mendapatkan secangkir kopi misterius itu?
Irwan sudah sibuk dengan laporannya, jari-jarinya terus mengetik di keyboard komputernyabdan sesekali pandangannya tertuju pada kopi misterius itu.
Lantas pandangannya tertuju ke arah lain. Sesuatu yang lebih menarik perhatiannya dari pada kopi misterius di sampingnya. Bahkan pemandangan kali ini lebih misterius dari pada kopi itu sendiri. Sosok itu berjalan ke arahnya tapi Irwan tahu tujuannya pasti bukan ke mejanya. Wanita itu terus berjalan dengan anggun, seolah ada yang menekan tombol slow motion, dia berjalan dengan gerakan santai, lamban tapi tetap berkelas. Tiba-tiba dia berhenti tepat di depan Irwan, hati laki-laki itu mencelos. irwan mematung, tak bergerak dan kaku. Ternyata Wanita itu berdiri tepat di depan meja Irwan.
Wanita itu, namanya Ayunita Maharani. Wanita paling cantik dan berkharisma yang ada di kantor kecil yang pengap itu. Ayunita bagaikan kipas angin di tempat yang panas, bagai telaga dihamparan padang pasir. Irwan sudah lama mengagumi Ayunita. Wanita itu pintar dan berwibawa. Dan Ayunita adalah alasan mengapa Irwan betah berlama-lama di kantor dan sekarang wanita itu berada di sini, di depannya.
"Apa dia buta? Mengapa dia berhenti di mejaku?" pikir Irwan bingung.
“Maaf mas Irwan, barusan pak Suseno meneleponku, jika laporannya sudah selesai, dia meminta agar mas mengirimkannya langsung ke emailnya.”
"Tunggu! Apa ini mimpi atau memang benar-benar terjadi? Dia bicara denganku?" batin Irwan kaget. Sebelumnya ini tidak pernah terjadi. Bahkan wanita itu jarang menyapa dirinya.
"Yah, tapi sepertinya dia memang bicara denganku, soalnya tadi dia menyebut “mas tony.” Bukankah yang disebutnya tadi namaku? Dia bahkan tahu namaku." lanjut Irwan membatin.
“Maaf mas, haloooo. Kenapa malah bengong? Saya bicara dengan mas loh.” Ayunita melambaikan tangannya di depan wajah Irwan.
"Nah, lihat. Dia bicara denganku! Dia menegaskan jika dia bicara denganku." kembali Irwan membatin.
“Eh, iya mbak maaf, tadi mbak bilang apa?”
“Barusan pak Suseno nelepon saya, kalau laporannya udah selesai, dia ingin mas kirim laporannya ke email dia.”
“Oh! Begitu, iya mbak, makasih infonya.”
“Sama-sama mas”
Ayunita lalu pergi sambil sedikit tersenyum pada Irwan yang terpana.
“Maaf mas, apa saya boleh meminjam pulpennya?”
“Iya mbak Ayu, silahkan.” lalu irwan melihat ke samping dan betapa kaget dirinya karena orang yang meminjam pulpen tadi bukan Ayunita melainkan Nazril.
“Eh, maaf mas Nazril. Ini pulpennya”
Untungnya Nazril tidak peduli, dia langsung mengambil pulpen yang Irwan sodorkan dan langsung tenggelam di belakang mejanya.
“Idiot, Irwan idiot.” ia mengumpat dalam hati.
Irwan merasa haus dan teringat kembali pada kopi misterius yang saat ini atasnya sudah ditutup dengan kertas. Irwan masih belum berani meminumnya, takut nanti dirinya muncul di awal berita kriminal.
“Aku tidak akan meminummu, aku bahkan tidak tahu siapa yang membuatmu. Kau bisa saja beracun.” pikir Irwan.
Irwan berjalan ke arah dapur. mengambil gelas, dan menuangkan air ke dalamnya. Lalu meneguknya. Dari kejahuan ia melihat Ayunita sedang memperhatikan ke arahnya.
"Apa memang dia melihat ke arahku? Aku ragu. Sepertinya tidak." celetuk Irwan.
“Hei, kamu. Apa kamu bisa membawakanku segelas air?”
Irwan melihat orang yang memanggilnya dengan nada sok itu. Radit ternyata.
“Baik mas Radit, sebentar.”
Irwan lalu berjalan ke meja Radit dan memberikan air yang laki-laki itu minta.
“Makasih. Hemm, siapa namamu? Kamu baru disini? Aku tidak pernah melihatmu.” pertanyaan klasik yang tidak lagi aneh terdengar di telinga Irwan.
“Irwan mas, nama saya Irwan Syahputra. Iya saya anak baru di kantor ini.” Tanpa memperpanjang kata, irwan lalu meninggalkan pria yang lebih tua 4 tahun darinya itu.
Sebenarnya Irwan bukanlah anak baru. Ia sudah 2,5 tahun bekerja di tempat itu. Tapi memang tidak ada yang begitu mengenalnya, atau mereka memang malas mengenalnya. Bagi Irwan sama saja. Ia tidak begitu diperhatikan di sini, dan ia juga tidak suka menjadi pusat perhatian. Tidak akan ada orang yang menyapanya di koridor, atau orang yang mengajaknya jalan setelah pulang kerja. Hal seperti itu tidak pernah terjadi. Irwan bukan tipe orang yang pintar bergaul. Bukan juga tipe orang yang suka basa-basi. Ia tidak suka menghabiskan waktunya di tempat-tempat yang tidak jelas, nongkrong di cafe, dan sebagainya. Menurutnya hal Itu membuang waktu. Baginya waktunya sangat lah berharga untuk ia habiskan di tempat seperti itu. Ia lebih suka menggunakan waktunya sendiri dengan menonton film di laptop, bermain games, membaca novel dan menulis di blog pribadinya. Menurutnya itu lebih mengasyikkan. Terdengar anti sosial? Bukan. Irwan hanya seorang introvert. Ia memiliki sahabat akrab. Tapi tinggal berbeda kota dengan Irwan. Mereka sangat jarang bertemu, dan Irwan tidak menemukan teman lain di kantor itu. Bahkan ia ragu jika mereka mengingat namanya, yah kecuali pak Suseno, bosnya.
Bosnya mengingatnya juga karena orang itu sering menyuruhnya kerja lembur. Irwan yakin 100% jika Nazril yang duduk di sebelah mejanya itu juga tidak mengingat namanya. Nazril memanggil dirinya mas bukan untuk bersopan santun, tapi memang dia tidak mengingat nama Irwan. Di tempat itu, Irwan seolah seperti mengenakan jubah gaib milik Harry Potter atau seperti memiliki kekuatan Susan Strom di film Fantastic 4. Tak terlihat. Ada tapi seperti tak ada. Invisible.
Irwan lalu kembali ke mejanya. Melanjutkan kembali ketikannya. Berpacu dengan waktu, karena ia harus menyelesaikan laporan ini sebelum jam 2 siang. Bukan karena ingin mencari muka, tapi banyak film yang menantinya di rumah.
Irwan menyelesaikan laporanku pukul 14:15 WIB, telat 15 menit dari targetnya. Tapi ia tak mempersoalkannya. Masih banyak waktu yang tersisa untuknya menonton film di rumah. Setelah ia mengirimkan laporan ke email pak Suseno. Lantas ia bergegas untuk pulang, dan dilihatnya Nazril juga sudah tidak berada di mejanya. Irwan mengambil pulpennya yang tadi dipinjam Nazril.
“Sungguh tidak tahu etika meminjam. Orang itu bahkan tidak mengembalikan ke meja ku.” ketus Irwan.
Irwan berjalan ke luar kantornya. Mencari sepedanya yang tadi terparkir dekat pohon jati tempat biasa ia parkir, karena kantornya tidak menyediakan parkir untuk sepeda.
“Mas Irwan!” teriak seseorang memanggilnya dari kejahuan.
Irwan menoleh ke belakang, dan melihat Ayunita berjalan ke arahnya. Irwan kebingungan.
"Ada apa lagi? Aku sudah mengemailkan laporanku sesuai yang diinstruksikannya."
Ayunita mendekat. Lagi lagi seperti ada yang menekan tombol Slow Motion. Wanita itu terus melangkah dan berhenti di depan Irwan.
“Ada apa mbak? Apa ada masalah? Saya sudah email laporan tadi ama pak Suseno!”
“Hemm.... Bukan itu mas. Saya cuma mau ngomong sama mas sebentar. Boleh?”
"Boleh? Tentu saja boleh! Jangankan cuma sebentar, berjam-jam pun aku akan sanggup meladeninya." Irwan tertawa senang dalam hati.
“Tentu saja mbak, ada apaya?” Irwan mencoba menyembunyikan kesenangannya, agar tidak terlihat jelas.
“Eh, anu.. kop.. kopi tadi, saya lihat mas Irwan nggak meminumnya. Mas nggak suka kopi ya?” Baru kali ini Irwan melihat Ayunita tersipu malu.
“Kopi? Kopi yang di meja saya tadi? I-itu mbak yang bikin?” tanya Irwan. Hatinya seperti meneriaki kebodohannya, menyia-yiakan hasil mahakarya.
“Iya mas... Tadi saya mendengar pak Suseno akan memanggil mas untuk kerja lembur, dan menyelesaikan laporan bulanan. Jadi saya ingin ngebuatin mas kopi sebagai penyemangat, karena saya tahu pasti mas sangat kesal dipanggil untuk kerja lembur.”
Akhirnya, semua pertanyaan Irwan terjawab sudah. Ternyata wanita di hadapannya, wanita yang dari awal ia masuk kerja sudah ia kagumi, wanita pintar nan berkelas itu, ternyata dialah dalang dari pembuat kopi misterius tadi. Seolah Detektif Conan baru saja menyelesaikan kasus misteri. Irwan senang bukan kepalang.
“Wah, maaf ya mbak. Sebenarnya saya suka kopi, tapi tadi sayan nggak berani minumnya, saya pikir itu…"
“Beracun?” timpalnya Ayunita sambil tersenyum.
“Sebenarnya bukan seperti itu. Saya cuma kaget aja, sebelumnya nggak pernah kan, ada yang ngebuatin kopi di kantor, tapi kok tiba-tiba hari ini ada.” Irwan mengusap-usap tengkuknya.
“Iya sih, sebenarnya saya mau bilang ke mas kalau kopi itu dari saya, cuma saya malu aja.”
“Wah, kalau aja tadi saya tahu kopi itu dari mbak, pasti sudah saya minum, maaf ya mbak.”
Sekarang Irwan sangat susah untuk menyembunyikan kegirangannya, apa yang tadi bergejolak di dalam perutnya, kini sudah melompat keluar.
“Iya. Nggak apa-apa mas Irwan, lain kali diminum ya kopinya.”
Entah perasaannya saja atau memang wajah Ayunita memerah.
“Emang mbak masih mau buatin saya kopi?” kata Irwan sambil sedikit menggoda.
“Why not?” ucap Ayunita mantap dan tajam.
“Abis dari sini, mbak mau ke mana lagi?”
“Nggak tahu sih, nggak ada rencana.”
“Gimana kalau mbak ikut saya? Kita nonton? Ada film baru. Tadi saya lihat di internet, itu pun kalau mbak mau.” ajak Irwan sambil sedikit berharap.
“Boleh. Tapi ada syaratnya.”
“Apa?” Irwan mengernyitkan dahi.
“Jangan manggil mbak donk. Kita kan seumuran.” pinta Ayunita sambil tersenyum.
“Kalau gitu, jangan manggil mas juga dong.” Sekarang ekspresi kebahagian Irwan tergambar dengan jelas di wajahnya.
Irwan laki-laki yang lumayan tampan, hanya kaca mata minus yang ia kenakan menenggelamkan pesonanya.
Dalam hati Irwan bersorak sorai. Ia ibarat mendapat durian runtuh dan di atas pohon durian itu terdapat emas yang tidak tahu dari mana asalnya. Yang awalnya ia ingin menghabiskan sisa akhir pekannya dengan menonton film di rumah, kini berubah menjadi menonton film di bioskop, dengan Ayunita, wanita berkelas di sampingnya.
Irwan tidak tahu apa yang membuatnya tertarik pada dirinya. Yang ia tahu orang-orang di kantor selama ini tidak pernah menganggap keberadaannya, tapi wanita itu, dia bahkan mengingat namanya, dan membuatkan dirinya kopi. Apapun alasannya, hanya wanita itu dan Tuhan yang tahu. Yang jelas, Irwan sangat senang dan ia harusnya bersujud berterima kasih pada pak Suseno, bosnya. Karena sudah memanggilnya untuk kerja lembur, dan mempertemukan mereka berdua.
Pak Susano yang awalnya ia anggap sebagai tukang perintah, setan egois, kini berubah menjadi cupid penyatu dirinya dan Ayunita. Dirinya sekarang tidak lagi memanggilnya Ayunita, mbak dan sesuai janji, Ayunita juga tidak lagi memanggilnya mas, melainkan Irwan.
Tamat
.
.
.
Selesai membaca tolong tinggalkan jejakmu ya😊
Jika kamu suka, jadikan cerita ini favoritmu. Like, dan komen.
Baca juga novel karya ku ya
🌼 Kirana Tetaplah Disisiku
🌼 Cinta Sepotong Donat
🌼 Rasa Cinta
🌼 Kumpulan Cerita Horror
Dukungan kalian sangat berarti bagi ku.
Jangan lupa follow instagram ku @helloassyh_ untuk mendapat informasi update tentang novel ini.
Kalau kalian inbox atau DM insyaallah aku akan balas kalau nggak sibuk ya, hehehe
Terima Kasih*** 😘❤