Ini adalah kisah ku, anak tunggal yang dibesarkan dengan kasih sayang, tinggal dirumah yang cukup besar dan mendapatkan fasilitas yang lengkap dari orang tua menjadikan ku nomor satu didalam bidang akademik dan juga seni. Aku selalu menjadi bintang dari TK karena kemahiran dalam melukis, dan selalu menjuarai semua kompetisi yang diikuti oleh sekolah ku, sehingga aku selalu menjadi anak emas Dimata para guru TK.
Tapi...apa kalian tau ??, masa masa gemilang dan indah itu langsung berubah semenjak aku masuk SD.
Kelas 1 A merupakan langit kelabu bagi diriku yang masih kecil, sebuah pertikaian yang tidak ku mengerti merubah semuanya menjadi kebawah. Apa salah ku, begitu tanyaku selama 5 tahun. Guru guru di SD ku tidak pernah sekalipun menatap diriku dengan tatapan mata yang hangat, mereka selalu menatapku dengan tatapan tajam dan juga mengandung kebencian.
Padahal jika ditanya aku adalah anak yang tau sopan santun, aku juga anak yang pintar didalam kelas itu, lalu apa alasan mereka membenciku. pertanyaan itu selalu saja berputar dikepalaku. Namun syukurlah ini belum penderitaan ku yang paling parah.
Tanggal X, bulan Juni, tahun XXXX aku naik dikelas dua, dan didalam kelas inilah aku dengan mati matian mengejar derajat gemilang ku kembali, aku mulai menaikkan nama ku dengan tangan kecil yang mulai lincah memegang pena dan pensil. Setiap malam aku belajar sampai jam 10.30 malam, dengan tekat menunjukkan kepada mereka bahwa aku layak mendapatkan cinta dari mereka yang membenciku...
Tapi...
saat penerimaan raport semester genap dan ganjil aku berhasil mendapatkan juara dua dan satu secara berturut turut, aku merasa sangat senang hingga tidak sabar memulai tahun ajaran baru karena aku ingin melihat para guruku memandang ku dengan tatapan kagum dan penuh kehangatan.
Namun disaat hari yang aku tunggu tunggu itu tiba, aku menyadari betapa bodohnya diriku yang berfikir demikian.
Sebanyak apapun aku berusaha mereka tidak akan mengakui keberadaan ku, dan parahnya semenjak aku pemegang juara satu semua temanku menjadi benci terhadap diriku. Mereka selalu mengatakan bahwa hasil yang aku dapat adalah hasil yang tidak murni, itu adalah hasil campur tangan dari orang dalam. Hatiku begitu sakit saat mendengar nya, aku selalu menangis didalam pelukan bundaku selama seminggu penuh, untungnya bundaku adalah seorang guru yang bijak dan sangat hebat dalam menghadapi seseorang yang sedang tertekan.
Didalam pelukannya itu bunda berkata, kalau pak Habibie menyerah dengan banyaknya orang orang benci kepada dirinya, makan pesawat tidak akan canggih dan keren seperti sekarang. karena itu kamu harus bangkit dan tunjukkan kepada mereka kalau inilah aku, kalian boleh caci-maki aku tapi aku akan kokoh berdiri.
Disaat itulah aku tersadar bahwa apa yang aku kejar dan aku capai harus didasari dengan alasan lain, semenjak itu aku semangkin kuat dan kebal menghadapi Billy yan dari orang orang.
selama dua tahun aku mengalami bully Yan tapi tidak ada trauma bagiku, malah itu semangkin membangkitkan semangat ku untuk menjadi yang diatas.
Dan benar saja, apa yang dikatakan bunda itu benar. Aku berhasil menjadi bintang kejora disekolah itu, aku mendapatkan nilai UN tertinggi didalam nya hingga menjadi urutan ke 12 diseluruh kabupaten, aku berhasil mengangkat nama sekolah yang membenciku itu dari peringkat 34 menjadi 12 diseluruh kabupaten.
Lalu bagaimana perasaan mereka ?.
entahlah karena sekarang aku tidak peduli, karena bagi ku semua pencapaian ini hanya untuk bundaku satu satunya saja.
~Tamat~
Pesan author:
jangan pernah lelah dalam menjalani hidup, karena Tuhan memberikan kita sebuah cobaan sesuai dengan beban yang bisa dipikul. Jika menjalani kehidupan yang melelahkan itu dengan sabar, niscaya sebuah kebahagiaan akan datang dikemudian hari. Karena sesuatu yang berharga itu lebih indah jika diambil dari bawah dan dengan susah payah.
Jadi bagi kalian yang mendapat kerikil atau jalan yang terjal didalam kehidupan... Maka bersabarlah dalam melewatinya, karena ingat tokoh utama dalam cerita pasti akan bahagia pada akhirnya.