Di penghujung malam
Bintang yang indah jarang terlihat di langit malam perkotaan. Dikarenakan langit malam dikota sudah terlalu tercemar oleh polusi cahaya. Cahaya lampu neon dijalanan, dan cahaya dari lampu-lampu di pemukiman serta gedung-gedung pencakar langit membuat kesulitan besar bagi bintang angkasa mengambil eksistensi penghuni dibawah naungannya. Dan untuk alasan ini jugalah makanya kebanyakan observatorium dibangun di pedesaan jauh dipuncak bukit, sehingga sangat sulit untuk menjangkaunya.
Dengan begitu, maka Alya harus puas hanya melihat taburan bintang seperti taburan pasir dihalaman rumahnya--langka. Karena memang diyakini halaman rumahnya adalah tempat paling bersih sejagat.
Gadis dengan hoodie marun oversize itu berjalan di trotoar seraya merentangkan kedua lengannya ke samping badan. Ia seperti anak kecil yang tengah meniti dengan hati-hati.
Sementara disetiap ruas jalan, tidak ada lagi ditemui kendaraan. Jalanan beraspal itu kosong hanya diisi kesunyian. Sesekali jangkrik bersuara mengejek seorang Alya. Menertawakan bagaimana gadis itu dengan angkuh berlagak ingin menikmati langit malam penuh bintang---walau bintang dilangit sana sangat langka dan redup seperti senter kehabisan batrai.
Langkah Alya terhenti. Dengan bantuan lampu jalanan ia melirik arloji di pergelangan tangan kanan. Mendadak dia takjub sendiri. Sudah lewat tengah malam dan ia sebagai anak perawan masih saja keluyuran.
Oke. Alya akui, sebenarnya ia tersesat. Hanya saja gengsinya terlalu tinggi bahkan sekedar mengakui pada diri sendiri. Dia hanya tidak mau saja mengakui ucapan Adnan--sang kakak--yang selalu ia abaikan saat lelaki itu mewanti-wanti Alya agar tidak lupa jalan pulang. Bukannya apa-apa, tapi Alya dari masih Al-'Alaq sampai berkembang menjadi embrio hingga akhirnya terlahir kemuka bumi lalu tumbuh dewasa sampai seperti sekarang---tinggal di kota ini. Lalu bagaimana mungkin ia bisa tersesat di tanah kelahirannya sendiri? Bagaimana menjajah daerah orang lain kalau didaerah sendiri saja masih asing?
Dan ternyata se ajaib itulah hidup seorang Kellynna Alya. Padahal tanpa ia sadar juga banyak orang diluar sana yang senasib dengannya. Namun Alya malah merutuki diri sebagai orang terbodoh sepanjang masa. Sudah seperti kasih ibu saja, bodohnya tidak terkira.
Kalau ditanya tentang takut, tentu saja Alya akan menjawab 'tidak'. Walau kakinya sudah gemetaran tidak sanggup berjalan di kesendirian. Sebesar itulah egonya. Satu hal yang kata orang rumah adalah satu-satunya kelebihan Alya selain tampilan fisiknya yang lumayan.
Sudahlah tersesat, tidak ada ponsel, kehabisan uang, sendirian dan jalanan lengang. Oke, fix. Alya agak takut. Masih dengan menekan kuat egonya sampai ke dasar hatinya, tapi hanya secuil yang mampu ia akui.
Kaki Alya berhenti melangkah kala didapatinya sosok lain selain dirinya yang mengisi kekosongan malam. Entah itu makhluk yang sejenis dengan dirinya ataukah berbeda. Tapi, melihat dari tampilan luarnya Alya berhipotesa bahwa sosok itu adalah manusia. Walau ia masih meragukannya.
Apakah sosok itu manusia yang tengah mengadakan sesajen untuk penghuni lampu jalanan yang disandarinya ataukah sosok itu sendiri yang merupakan makhluk ghaib yang bernaung dilampu jalanan itu? Paling mentok tebakan Alya jatuh pada kata 'psikopat'. Ohoo~~apakah malam ini akan bergenre horor dan thriller? Kalau horor komedi yang benar saja! Tidak ada sisi lucunya sama sekali.
Detik waktu seakan melambat, gerakan Alya bagai terkena efek slow motion ketika ia memutuskan berjalan mendekat. Mulanya dari fokus pada sosok yang berdiri bersandar dengan tangan bersedekap di depan dada, hingga kemudian dengan natural kakinya mengubah arah dan berjalan melewati si sosok serba hitam--sudah seperti penganut ajaran sesat.
Walau begitu ia tetap saja berakhir berdiri disamping sosok itu yang akhirnya Alya ketahui berjenis kelamin laki-laki, tapi tidak tau apakah tulen apa tidak. Bisa saja tampilan maskulinnya itu hanya luaran dalamnya mungkin lebih feminim. Oke, Alya memang suka berperang dengan otak absurdnya itu. Tak heran pemikiran rancu dengan mudah membombardir isi kepalanya.
Terlepas dari hal itu, matanya menilik ke samping pada lelaki yang terus menunduk sedari tadi dengan kedua tangan dimasukkan kedalam saku hoodie. Dia tidak sedang menyembunyikan pistol, pisau, silet, gergaji, basoka atau yang lainnya kan? Fix, Alya itu sangat parnoan.
Sepertinya si lelaki terusik dengan kehadiran Alya didekatnya. Terlihat dari dia yang ateng seperti semedi, kemudian menoleh mengangkat kepala. Dan tampaklah kebesaran Tuhan disana. Sepasang manik central heterochromia dengan perpaduan amber, green dan silver berkilau sayu. Berbingkai alis putih berhias bulu mata lebat nan lentik bewarna senada.
Alya memang mengagumi seseorang dari matanya. Baginya, jika dari mata sudah sempurna maka bagian lain akan sama tinggi nilai estetikanya. Spekulasi itu kini terbukti benar. Dengan lelaki itu sebagai percontohan. Matanya sudah mendapat nilai 100% dari Alya. Dan lekuk wajah lainnya pun mengikut untuk meraih predikat sempurna. Seakan wajah itu dipahat sangat hati-hati dan teliti, penuh konsentrasi tinggi sehingga menghasilkan karya seni dengan label hight quality.
Jika dilihat-lihat, sekarang ini Alya seolah sedang menatap keindahan tokoh Arexis didepan matanya. Dimana Arexis merupakan nama kaum penguasa didunia fantasi yang pernah ia baca. Dalam cerita itu penulis sangat mengagung-agungkan kaum Arexis paling utama dari segi fisiknya. Arexis bisa dibilang adalah sumber keindahan dalam alam fiksi itu.
Dan sekarang Alya paham akan keindahan yang hanya pernah ia baca itu. Keindahan nyata dalam bentuk manusia. Ternyata seperti ini ya indahnya alam fiksi?
Jikalau Kings dalam cerita Themis milik ConanFa menilai Aria sebagai nanas, maka Alya menilai lekaki ini sebagai lopseed racun dingin mematikan paling langka yang menggerogoti tubuh Xiao Yun di drama Legend of Fei. Hawa dingin dari auranya, tatapan matanya dilengkapi kulit pucatnya membuat ia bagai racun yang membuat Alya menggigil. Semoga saja ia tidak akan mati karena ini.
Semakin kesini malam semakin beranjak pagi. Suhu udara disekitar pun semakin turun. Dan Alya rasa ia salah berspekulasi ia kedinginan karena tatapan itu. Nyatanya suhu sekarang ini cukup untuk membuatnya akan mati beku. Ia melirik dengan ekor mata, diam-diam mendecih dalam hati. Beruntung sekali lelaki di sampingnya itu, sudahlah pakai hoodie tebal yang terlihat hangat juga memakai celana panjang berbahan cukup tebal. Sementara Alya hanya bagaian atas saja yang mampu membuat ia hangat, sementara bawahannya ia hanya menggunakan rok pendek sebatas lutut. Jadilah bagian kakinya yang terekspos harus terima dibelai hawa dingin malam yang genit.
Yang terjadi selanjutnya Alya hanya fokus pada diri sendiri. Menatap langit ia menemui bintang bersinar lebih cantik dari sebelumnya. Walau tidak seindah dari gambar yang pernah dilihatnya tapi tetap saja itu cukup cantik.
Di penghujung malam ini, Alya terpekur memandang angkasa. Ia jauh dari rumah, ia tersesat, tapi tidak terlintas pikiran untuk mencari jalan pulang. Ini bukan menjadi hal yang baru, karena sudah tak terhitung lagi kalinya ia bernasib begini. Dan setiap kali ia tersesat bahkan belum pulang sampai subuh sekalipun, yang terlintas dibenak Alya bukan rumahnya. Tapi hanya kekosongan. Yang ia tuju ditengah kebingungan dalam ketersesatan adalah kehampaan. Karena itu sulit bagi Alya menemukan jalan pulang, karena bukan tempat itulah yang memanggilnya untuk datang. Kehampaan panjang tak berujung ini, itu yang menggiring dia dalam ilusi. Dimana semua terasa semu, dan jalan yang itu tuju seakan buntu.
Bukannya rumah tidak menyenangkan bagi Alya. Tapi ia sendiri juga tidak tau alasannya. Padahal banyak orang yang pasti tengah khawatir dan menantinya dirumah sana. Tapi masih saja itu tidak menggerakan hati Alya untuk cemas akan jarak jauh yang ditempuhnya.
Alya hanya merasa dirinya berada dalam fase mencari jati diri. Fase remaja yang mengharuskannya perlahan menginjak dewasa. Hal yang sangat Alya benci, karena semakin ia bertambah dewasa setiap waktu semakin ia tau berbagai jenis hal baru. Ia benci segala hal baru dalam hidupnya. Terutama kenangan lama yang indah terganti momen dengan kepingan kenangan baru berikutnya. Alya benci situasi dimana ia harus beradaptasi dengan segala apa yang telah terjadi dan yang akan terjadi. Alya tidak menyukai kata kemarin dan hari esok. Karena dia hanya ingin berhenti di 'hari ini', karena kemarin dan esok itu sudah bagai delusi sulit untuknya meyakini.
Dipenghujung malam, dua insan berbeda gender itu larut dalam pusaran memori yang mereka rangkai sendiri. Masing-masingnya diam, tapi hati mereka menyuarakan berbagai keheranan. Tentang bagaimana siang dan malam bisa berbeda, tentang kenapa matahari menjadi pusat tatasurya, tentang bimasakti yang hanya setitik kecil dalam luasnya semesta, tentang jagat raya yang tidak berhingga, bahkan juga tentang hal di luar nalar dimana logika manusia berusaha menyamai ke tidak terbatasan alam semesta.
27/6/2021
A Story by delyure