Sebutlah sang cowok bernama Isal dan sang cewek bernama Fani. Fani mengenal Isal dari teman sekolah Fani dan Isal adalah teman dari salah satu komunitas skateboard. Tak lama mereka kenal, mereka pun menjalin hubungan yang dinama pacaran dan tepatnya tanggal 13 Mei 2014 mereka jadian. Awalnya Fani bangga memiliki Isal, karena Isal adalah typenya para cewek. Dan Fani pun yang awalnya menerima Isal karena ia tak ingin menjadi jomblo dan enggak ada perasaan apa pun ke Isal. Dengan seiring berjalannya waktu Fani pun mempunyai perasaan dengan Isal.
Fani pun luluh karena Isal tak pernah malu menjemput dan membawa Fani yang kakinya pincang karena sakit. Isal pula sering sekali mengorbankan waktunya hanya untuk ketemu dengan Fani. Tetapi ada pula sifat jelek Isal yang tak ingin dipinjamkan hpnya oleh Fani, lantaran Fani dibilang enggak percaya dengannya, Fani pun tidak pernah pinjam hpnya. Tapi Isal pun sering sekali melakukan hal konyol hingga Fani tersenyum bahagia melihatnya, dan sering pula Isal melakukan hal yang romantis secara langsung sehingga Fani pun merasa melayang-melayang di udara.
Adapula sifat jelek Isal karena Isal terlalu cuek sama Fani, jarang sekali Isal ngebm atau sms Fani, sekali bbm juga cuman nanya, “Lagi apa dan udah makan belum?” Sehingga Fani pun merasakan bete, dan Fani pun main belakang dari Isal, sering kali Fani bbm dengan cowok lain hingga pacaran pula. Ketika di hubungan mereka berjalan 10 bulan, ternyata orangtua Fani tak menyetujui hubungan mereka dan disuruh putus. Akhirnya Fani dan Isal memutuskan backstreet dari orangtua Fani, di saat itulah Isal makin jarang komunikasi dengan Fani, jarang pula mereka ketemu.
Fani pun mempunyai pacar lagi dan dikenalkan dengan orangtuanya, agar orangtua Fani percaya kalau Fani sudah mutusin Isal. Dan pada di bulan keenam lebih 2 minggu Isal mengajak ketemu di mall dan di situlah Isal memutuskan hubungan secara langsung. Isal pun berkata seperti ini, “Sudah yah kita sampai di sini aja, lagi pula orangtua kamu pun tak setuju dengan saya.” Isal mengatakan seperti itu sambil ngelus kepalanya Fani dan pegang tangan Fani. Tapi Fani tak kuat menahan sakit, sedih, Fani pun tak hiraukan di mana ia berada, Fani pun sudah mau nangis di mall dan akhirnya Isal mengajak Fani makan siang.
Ketika makan siang Isal berkata, “Kenapa makanannya enggak dimakan? enggak enak ya? coba sini suapin aku, biar ku tahu rasanya seperti apa,” Fani pun menjawab sambil nyuapin makanannya ke Isal, Fani menjawab, “Enggak apa-apa kok, cuma enggak nyangka aja hubungan kita sampai sini, kamu lupa ya sama masa lalu kita banyak kenangan yang berharga, tapi kita masih bisa ketemu kan?” Isal pun menjawab sambil merangkul Fani, dan ia berkata, “Iya aku tahu kok Fan, kita banyak kenangannya dan aku ingat semua kok, kita masih bisa ketemu, kalau kamu kangen mau ketemu gak apa-apa bilang aja, nanti kita ketemu.” Hingga mau pulang pun Fani digandeng tangannya dan sering kali dirangkul sama Isal sampai ke parkiran, hingga dimotor (di perjalanan) Fani sudah meneteskan air matanya di pundak Isal sambil meluk Isal.
Berapa bulan kemudian, akhirnya Fani pun merasa nyesal bahwa ia dulu sering menduakan Isal ketika orangtua Fani masih setuju dengan Isal. Fani pula sering kali dihampiri kenangan dengan Isal hingga Fani pun sering nangis dan kangen dengannya. Fani pun ingin rasanya balikan dengan Isal, namun itu hal yang tak mungkin baginya, jadi Fani selalu terpuruk dengan kesedihannya. Yang awalnya Fani hanya main-main dan biasa saja sama Isal tetapi ketika putus Fani merasakan sakit hati banget, semacam cewek mencintai cowoknya dengan serius. Dan selang hampir setahun mereka tidak ketemu, dengan tidak sengaja mereka ketemu dan mereka merasakan hal yang tak wajar seperti seneng, sedih, sakit, kangen, gugup gitu. Dan sampai akhirnya Fani pun menerima keadaan yang sesungguhnya tak harus Fani berlarut dalam kesedihan.
Pesan dari cerpen ini, “Jika kalian mempunyai pasangan yang cuek atau gimana pun, kalian boleh bete, kesal, tapi kalian tidak boleh menduakannya, karena penyesalan selalu datang di akhir dan manfaatkan kesempatan dengan baik sebelum kesempatan tersebut menjadi hal yang sia-sia karena kesempatan tidak akan datang untuk kedua kalinya.” Semoga bermanfaat.