Awal kisah di ceritakan seorang Dewi bulan yang menjalankan kisah cinta kepada seorang manusia biasa, Bramasena adalah pemudah yang sangat tampan dan pintar ayah Bramasena sendiri adalah seorang thabib hebat yang di percaya oleh kerjaan Manunggal, namun hal yang paling menyedihkan terjadi saat itu ayah Bramasena sedang mengalami sakit parah sebagai anak yang sangat sayang kepada orang tuanya Bramasena berupaya mencari obat untuk ayahnya karena ia hanya punya seorang ayah yang ia sayangi sedangkan ibu Bramasena meninggal saat melahirkan dirinya,
Bramasena mencari obat-obatan untuk ayahnya di hutan ayahnya sendiri menderita penyakit yang aneh semacam penyakit kulit yang sangat akut terkadang jika menjelang malam ayah Bramasena merasa sangat kesakitan hingga akihirnya ia tidak mampu untuk bertahan dan menghembuskan nafas terakhirnya disini lah awal ia bertemu Kirana si Dewi Bulan.
Selepas kepergian sang ayah Bramasena sangat sedih ia seperti tidak mempunyai orang yang ia sayangi lagi, setiap malam ia hanya menghabiskan waktu untuk memandangi rembulan karena menurut Bramasena sendiri rembulan mempunyai daya tarik yang indah di saat malam hari cahaya indahnya bisa menerangi gelapnya malam dan hal itu membuat hatinya merasa damai menghilangkan kesedihan yang meliputi dirinya.
Disini lah Kirana mulai penasaran dengan dirinya, hatinya bergelitik mengapa ada seseorang manusia yang sampai sebegitunya melihat indahnya bulan di setiap malam, Dewi kirana atau Dewi bulan akhirnya memutuskan untuk turun kebumi karena sangat penasaran dengan sosok Bramasena yang selalu memandangi bulan setiap malam,
Tepatnya di malam itu saat Bramasena termenung seorang diri di tengah hutan tepatnya di tepi sungai karena rumah Bramasena sendiri berada tengah hutan.
Sesampainya turun di bumi Dewi Kirana bersembunyi di antara pepohonan agar kehadirannya tidak diketahui oleh Bramasena, namun Dewi Kirana tidak hati-hati menyebabkan ia terinjak ranting pohon beracun. Mendengar suara seseorang Bramasena mencoba mencari asal suara itu.
“Siapa di sana,” ucap Bramasena yang mencari asal suara itu.
Mengetahui kehadirannya diketahui oleh Bramasena akhirnya Dewi kirana panik dan berlari tanpa tidak sadar gelang mustika yang ia kenakan terkait ranting pohon dan terjatuh, gelang itu adalah kesaktian Dewi Kirana dan juga untuk ia bisa kembali lagi ke bulan, namun karena racun yang ada di tubuhnya mulai bereaksi menyebabkan dirinya tak sadarkan diri.
Bramasena sendiri melihat seseorang yang sedang belari ia mengikuti dan betapa terkejutnya ia melihat wanita yang sangat cantik tergeletak di tengah hutan ia mulai menghampiri wanita itu dan mencoba untuk menyadarkan namun tidak ada hasilnya ia pun membawa Dewi Kirana ke rumahnya karena Bramasena tahu bahwa Kirana terkena duri beracun.
Saat di gendong ia melihat sebuah gelang yang germelap sangat indah Bramasena mengambilnya dan mengantonginya.
Sesampainya di rumah Bramasena meletakkan Dewi Kirana di atas kasurnya setelah itu Bramasena mencoba mengobati Dewi kirana dan menjaga Dewi Kirana sampai tertidur di lantai.
Keesokan paginya Dewi Kirana terbangun namun masih lemas ia melihat di tangan kananya gelang ia pakai sudah tiada, ia hanya ingat saat gelang itu tersangkut oleh ranting pohon, Dewi Kirana bergegas untuk pergi dan mencari gelang itu, namun di saat ia ingin berdiri ia pun terjatuh.
Bramasena yang saat itu sontak kaget dan terbangun,
“Maaf kau belum cukup pulih untuk pergi dari sini dan aku tidak akan mencelakankan dirimu” tutur Bramasena kepada Dewi Kirana.
“Aku ingin pergi keluar ada yang sedang aku cari,” kata Dewi Kirana.
“Bersabarlah tubuhmu masih belum kuat, biar aku saja yang mencarinya,” pinta Bramasena.
“Tidak usah” ucap Dewi Kirana karena takut gelangnya di temukan dan di salah artikan karena gelang itu mempunya kekuatan yang hebat.
“Apa kiranya sesuatu yang membuat dirimu begitu penting sampai-sampai kau tidak memperhatikan kesehatanmu?”
Dewi Kirana hanya terdiam, ia tidak berani berucap,
“Ya sudahlah kalau kau tidak ingin bicara, beristirahatlah aku akan memberikanmu obat agar kau cepat pulih, tadi malam aku menemukanmu tergeletak di tengah hutan dan terkena duri beracun jadi aku membawamu kerumahku,”
“Terimakasih atas kebaikanmu kepadaku” sahut Dewi Kirana.
“Perkenalkan namaku Bramasena wingit, sedangkan dirimu?”
“Namaku Kirana, dan aku tersesat tadi malam di hutan ini,”
“Pantas saja kau berada di tengah hutan seorang diri, tunggu sebentar aku akan mengambil obat untuk setelah kirana pulih aku akan mengantarkan dirimu,”
Hati dewi Kirana mulai ada muncul rasa simpatik kelapa Bramasena karena kebaikan Bramasena yang secara ikhlas mengurus dan mengobatinya.
Setiap hari Bramasena mengurus Dewi Kirana dengan lembut hal ini membuat hati Dewi Kirana mulai jatuh cinta kepada Bramasena dan begitu juga Bramasena yang diam-diam menaruh hati kepada Dewi Kirana saat ia bertemu pertamakali.
Setelah Dewi Kirana sembuh ia mencoba mencari gelangnya dengan Bramasena namun tak kunjung dapat dan setiap Bramasena bertanya benda apa yang ia cari Dewi Kirana tak pernah menjawabnya, akhirnya Dewi Kirana putus asa, di saat ia bersedih Bramasena selalu menghiburnya, sampai akhirnya Bramasena mengutarakan isi hatinya.
“Kirana aku mencintaimu dari pertama bertemu dengan mu apakah kau mau menjadi istriku dan hidup denganku?”
“Aku berkenan menjadi istrimu Bramasena”, ucap dewi Kirana yang tersipu malu.
“Kalau begitu besok kita pergi kekota dan melangsungkan pernikahan,”
Mendengar hal itu Dewi kirana tersenyum bahagia,
“Namun ada satu hal yang membuat hatiku tidak tenang?”
“Apa itu mas?” sahut Dewi Kirana.
“Apa yang sebenarnya kau cari jawab dengan jujur?”
“Sebenarnya aku mencari sebuah gelang yang hilang,”
Mendengar hal itu Bramasena teringat atas gelang yang ia temukan dan memberikannya kepada Kirana dan betapa terkejutnya, Brmasena saat Dewi kirana mngambil gelang itu dan menceritakan asal usul dirinya dan ia pergi untuk selamanya dengan berkata.
“Maafkan aku mas, aku akan selalu mencintaimu sampai kapanpun,” ucap Kirana yang terbang menuju bulan.
Semenjak kejadian itu Bramasena menghabiskan hari-harinya seorang diri dan memandangi bulan di malam hari sampai ia tua dan menutup mata, barulah rohnya dapat pergi ke bulan untuk bertemu Dewi Kirana atau Dewi bulan