"Meskipun tanpa raga, aku ingin tetap bersamamu. Suki da!"
.............................................................
Namaku Yotsuba Hashimoto, usiaku tujuh belas tahun. Aku tinggal seorang diri di sebuah perumahan yang sederhana. Aku pergi merantau untuk melanjutkan pendidikan ku, saat ini aku sudah kelas dua SMA.
Meskipun aku tinggal seorang diri, tapi aku tak pernah merasa kesepian. Aku.. hehe.. aku mempunyai seorang pacar. Namanya Ryo Natsukawa. Dia laki-laki berumur delapan belas tahun. Dia itu good attitude, good looking, dan juga good rekening. Banyak perempuan yang mengincar nya, tapi dia tetap memilihku. Dia menerima ku apa adanya. Dia selalu pengertian padaku, dia setia, meskipun terkadang dia sedikit manja. Ya begitulah..
.....................................................................................
Saat ini, hari Minggu, tanggal 20 September 2020, disini sedang musim gugur. Dan hari ini adalah hari ulang tahunku. Ryo mengajakku jalan-jalan ke taman.
"Hah, sudah dua puluh enam kali kita kesini selama kita berpacaran." Ujar Ryo sambil menggandeng tangan kananku. Memang sudah hampir enam bulan kami mempunyai hubungan spesial.
"Kankeinai (tak apa), saat bersamamu saja, aku sudah sangat senang, Ryo-kun." Ucapku sambil tersenyum.
"Yotsuba-chan, kau tunggu disini dulu ya. Aku akan pergi sebentar," kata Ryo memintaku untuk duduk di kursi taman.
"Mau kemana?" Tanyaku.
"Kesana, jangan khawatir, ini tak akan lama," ucap Ryo sambil menepuk pundak ku, sebelum akhirnya di berjalan cepat meninggalkan aku.
Aku pun duduk di kursi taman tersebut, sambil menunggu nya. Tidak lama kemudian, sekitar lima menit..
"Hai, Yotsuba-chan." Sapa Ryo setelah dia kembali dengan membawa dua bungkusan.
"Kau sudah kembali,"
"Iya.. aku membelikan ini untukmu." Ucap Ryo sambil menunjukkan sebungkus permen kapas, kemudian memberikan nya padaku.
"Waah, permen kapas. Arigatou, Ryo-kun." Ucapku sambil menerima pemberiannya.
"Sama-sama. Oh iya, maaf aku hanya bisa memberi ini saat hari ulang tahunmu, uang jajanku dipotong karena nilaiku menurun."
"Haha, tidak apa. Lagipula aku kan tidak meminta apa-apa padamu." Jawabku sambil membuka kemasan permen kapas yang berupa plastik transparan.
"Hmm, sudah lama aku tidak makan permen kapas, rasanya manis dan enak." Ucapku setelah merasakan permen kapas yang meleleh di mulut.
"Iya, semanis cinta kita."
"Hihihi, kau sudah bisa bucin ya."
................................................................
"Wah, sekarang sudah mulai sore. Yotsuba-chan, bagaimana kalau kita kesana? Sebentar lagi lampu kelip-kelip nya akan dinyalakan." Ajak Ryo. Sekarang memang sudah jam setengah enam sore, langit berwarna biru bergradasi oranye menghiasi kota, tak lupa dengan awan-awan tipis nya juga.
"Yosh, pasti bagus sekali." Ucapku senang. Pada akhirnya, kami berdua pergi ke taman yang letaknya di seberang jalan.
Kami berdua sudah berdiri di trotoar, menunggu lampu penyebrangan berganti warna menjadi hijau.
"Ayo, Ryo-kun." Ajakku ketika lampu hijau sudah menyala, sambil menarik-narik tangannya, kadang-kadang tingkah ku juga bisa kekanak-kanakan.
"Iya, ayo." Ryo menyetujui ku, dia menggandeng tanganku, meskipun aku sedikit berada di depannya. Kami sudah berada di zebra cross, jalanan tidak begitu ramai, tapi tiba-tiba..
"Yotsuba-chan, AWAS!!!" Kata Ryo mengejutkanku, seketika dia mendorongku ketika ada mobil ugal-ugalan yang melintas dengan kecepatan tinggi, mobil itu juga telah melanggar peraturan lalu lintas.
Aku baru tersadar ketika merasakan tubuhku yang bersentuhan dengan aspal, dan aku juga berada dalam dekapan seseorang. Ryo telah menyelamatkan aku, tapi..
"RYO-KUN!" Ucapku terkejut setelah melihat Ryo yang tak sadarkan diri, darahnya mengucur dari kepalanya yang membentur trotoar dengan lumayan keras. Aku panik, syok, dan juga takut saat ini.
Orang-orang yang kebetulan lewat, menghampiri kami. Mereka juga membantuku untuk membawa Ryo ke rumah sakit terdekat.
..................................................
Sekarang sudah jam delapan malam. Aku sedang menunggu kabar tentang Ryo. Aku menunggu sambil duduk di kursi tunggu di depan ruangannya. Aku sangat takut jika sampai terjadi hal-hal buruk kepadanya.
Krieeett!
Pintu ruangan IGD telah terbuka. Ada tiga orang yang baru saja keluar dari ruangan itu. Mereka adalah orang tua dan adiknya Ryo.
"Sumimasen, tuan bagaimana keadaan Ryo?" Tanyaku pada ayahnya Ryo.
"Dia sudah sadar sekarang," jawabnya. Aku senang mendengarnya. Kemudian, aku berucap lagi.
"Sumimasen, seharusnya aku tidak melibatkan Ryo-" aku meminta maaf sambil menundukkan badanku.
"Ini bukan salahmu Yotsuba-chan," ucap ibunya Ryo.
"Tapi.. karena aku, Ryo jadi-"
"Sudah, jangan terlalu dipikirkan. Kau kan salah satu orang yang dia sayangi, sudah sewajarnya dia melindungi mu." Lanjutnya sambil memintaku untuk menegakkan tubuhku.
"Jadi, bolehkah aku melihat keadaannya?" Ucapku meminta izin. Orang tuanya Ryo mengangguk.
"Arigatou Gozaimashita." Aku berterimakasih. Setelah itu, mereka berpamitan untuk pulang. Tapi, samar-samar aku masih bisa mendengar pembicaraan mereka.
"Ibu, dia tadi siapa?" Tanya seorang anak laki-laki berusia sekitar 10 tahun.
"Itu sahabatnya kak Ryo. Kalau Taka sudah besar, nanti pasti punya." jawab ibunya Ryo pada Taka yang merupakan adiknya. Sengaja tidak memberi tau, bahwa Yotsuba (aku) adalah pacarnya. Karena.. anak dibawah umur belum seharusnya tau tentang hal itu (sama kayak yang bikin cerita ini misalnya).
........................................................
Saat ini, aku sudah memasuki ruangan tempat Ryo.
"Yotsuba-chan.." panggilnya dengan suara seraknya. Tampak, dia terbaring di atas ranjang pasien dengan kepala yang diperban. Tangan kanannya sepertinya juga terluka.
"Ryo-kun, bagaimana keadaan mu?" Tanyaku sambil berjalan mendekat ke arahnya.
"Lebih baik, arigatou.." dia mengangguk, kemudian berterima kasih padaku.
"Tidak, seharusnya aku yang berterima kasih. Arigatou Gozhaimasu karena telah menyelamatkan aku, dan Gomenasai karena gara-gara aku.. kau jadi seperti ini." Ucapku sambil menundukkan badanku.
"Ini, bukan salahmu Yotsuba-chan." Ucapnya. Aku pun berdiri seperti semula.
"Kau tidak bersalah. Sepertinya, sopir mobil yang ugal-ugalan itu, dia mabuk parah." Ucap Ryo memprediksi.
"Bagaimana kau tau?"
"Hanya prediksi. Kalau seumpama rem nya tidak berfungsi.. pasti dia akan terus memencet bel klakson.. dia tidak akan menginjak pedal gas nya. Dan mobil itu.. sepertinya.. juga sudah beberapa kali menyerempet atau bahkan.. menabrak kendaraan lain." Ujar Ryo menjelaskan kejadian supaya lebih masuk akal.
"Yotsuba-chan.." panggilnya.
"Iya?"
"Aku harap kau tidak membenciku."
"Kenapa aku harus membenci mu?"
"Entahlah. Mungkin aku merasa kalau ada bagian dalam diriku yang tidak bisa dipulihkan." Ucapnya dengan suara berat. Entah mengapa, mataku menjadi berkaca-kaca.
"Tidak.. aku, tidak akan pernah membencimu, Ryo-kun," ucapku penuh penekanan. Dia tersenyum tipis.
"Yotsuba-chan, hug me." Ucap Ryo, dia memintaku untuk memeluknya. Aku pun memeluknya. Dia balas memeluk ku, meskipun hanya dengan satu tangan. Aku merasakan kehangatan dan kedamaian di saat itu. Air mataku mulai mengalir di pipiku.
"Anata, kau tidak boleh menangis. Aku tidak ingin melihat mu menangis." Kata Ryo sambil mengelus rambutku. Aku pun berusaha untuk menahan tangisku.
"Kau, harus rajin belajar ya, jangan malas. Dan kau tidak boleh sampai telah makan, jangan sampai sakit." Ujar Ryo.
"Iya, tapi.. kenapa-" ucapan ku terpotong.
"Tidak apa, aku tidak ingin kau sampai sakit. Tolong seperti ini.. sampai sebentar lagi." Ujarnya, supaya aku tidak melepaskan pelukan ku dulu.
"Yotsuba-chan, aku ingin tidur sekarang. Mata ne.."
Aku merasakan ada yang berbeda. Pelukannya mengendur, dia tak lagi bersuara. Suhu tubuhnya menurun drastis, dan yang paling membuat ku terkejut, aku tak lagi merasakan detak jantungnya.
"Ryo-kun? RYO-KUN! Jangan tinggalkan aku.. hiks.. Natsukawa Ryo!" Aku menangis, setelah menyadari bahwa dia telah pergi untuk selamanya.
..........................................................
Jam sebelas malam, aku sudah berada di rumah. Aku pulang, karena besok aku harus sekolah. Aku tengah berbaring, sambil memikirkan saat-saat terakhir ku bersama nya.
Sebenarnya, lukanya itu lebih dari kata 'parah'. Dia mengalami benturan keras di bagian kepala, yang merupakan tempatnya syaraf pusat. Dia mengalami pendarahan pada organ otak.
......................................................
Setelah kepergiannya, aku sering memimpikannya, bahkan selama lima hari berturut-turut setelah kejadian itu.
Mimpi pertama, hari Senin.
Aku bermimpi sedang mengerjakan tugas matematika di perpustakaan kota. Aku sangat bingung, bagaimana cara menyelesaikan soal rumit ini? Kemudian aku bertemu dengannya.
"Yotsuba-chan, sedang apa?" Sapa nya, aku pun berbalik ke arahnya.
"Aku sedang mengerjakan tugas matematika. Emm, bisa bantu aku?" Aku meminta bantuannya, soalnya kan dia lebih senior daripada aku. Dia kakak kelasku.
"Ooh, ini. Mudah saja. Kau tinggal pindah saja bilangan yang ini ke ruas kiri, kemudian di jumlah itu tiga bilangan desimal, jangan lupa kelompokkan variabel nya."
"Pindah ruas? Bilangan desimal? Variabel? Haaaa aku tidak mengerti."
"Haha, tenang saja. Aku akan membantumu."
Setelah bermimpi itu, aku terbangun tepat jam empat pagi. Aku juga ingat bahwa aku masih punya tugas matematika yang akan dikumpulkan nanti. Aku pun langsung mengerjakan tugas ku.
Mimpi kedua, hari Selasa. Mimpi yang sangat aneh, aku tak ingin menceritakannya.
Mimpi ketiga, hari Rabu.
Aku bermimpi sedang belajar bersama nya di taman kota. Dia fokus pada kegiatannya sendiri, dan aku juga melakukan hal yang sama. Tiba-tiba, aku mendengar suara kucing. Aku pun mencari sumber suara itu tanpa memberi tau Ryo terlebih dahulu. Setelah ketemu, ternyata kucing itu terjebak di atas dahan pohon setinggi tiga meter. Aku memutuskan untuk naik dan menyelamatkan kucing itu. Aku benar-benar ceroboh, ternyata tiga meter itu tinggi sekali menurutku. Apalagi, aku sedikit fobia ketinggian.
Aku duduk di dahan pohon itu sambil mengelus kucing yang tadi terjebak. Kemudian...
"Hey, Yotsuba-chan! Apa yang kau lakukan disana?!" ucap Ryo dari bawah.
"Aku menyelamatkan kucing ini." jawabku.
"Turunlah, disitu berbahaya!"
"A.. a.. aku tidak berani turun." ucapku sedikit ketakutan.
"Tidak apa-apa, aku berjanji akan menangkap mu. Ayo!" ucap Ryo sambil mengulurkan kedua tangannya ke atas.
Aku pun mengumpulkan keberanian untuk turun, saat aku hendak turun, tanpa aku sadari, aku menginjak bagian pohon yang ditumbuhi lumut. Bagian itu lumayan licin, dan membuat ku terpeleset. Aku pikir aku akan jatuh, tapi Ryo menangkap ku. Saat itu, dia menggendong ku ala bridal style. Dan aku berhasil menyelamatkan kucing itu.
Mimpi keempat, hari Kamis.
Aku baru saja melihat Ryo dan tim nya bertanding bola basket dengan tim dari sekolah lain. Ryo dan tim nya, mereka selalu unggul. Sekolah kami menang lagi untuk yang ke sembilan kalinya dalam tiga tahun terakhir ini.
Saat ini, aku sedang bersama Ryo, duduk di kursi panjang di taman belakang.
"Omedetou untuk kemenangan kalian." ucapku memberi kata selamat.
"Arigatou, aku mungkin tidak akan bersemangat seperti ini jika kau tidak mendukung ku." balasnya, aku hanya tersenyum tipis.
Setelah itu, dia membuka botol minum yang sedari tadi dia pegang. Kemudian meneguk air mineral yang masih tersisa. Ketika itu, aku melihat tonjolan di lehernya bergerak naik-turun. Merasa dirinya diperhatikan, Ryo menghentikan kegiatannya.
"Apa? Kau suka?" ucapnya tiba-tiba yang membuat wajahku memerah menahan malu.
"B.. bu.. bukan itu maksudku. Aku tidak sengaja melihatnya." jawabku asal, aku merasakan wajahku memanas karena menahan malu.
"Hmm, aku tau kok maksudmu yang sebenarnya."
"Memangnya apa?"
"Rahasia, lain kali akan ku jawab. Haah.. aku lelah. Boleh aku bersandar?"
"Te.. tentu." setelah aku menjawab, kemudian dia menyandarkan kepalanya di pundak ku.
Hal ini berlangsung cukup lama, dia tak berkata apapun sejak itu. Aku pun melihatnya, dan ternyata.. dia telah tertidur. Setelah itu, aku merubah posisi nya, sekarang dia tertidur di pangkuan ku. Dia bahkan terlihat tampan meskipun sedang tertidur. Aku mengelap keringat di wajahnya yang belum sempat mengering menggunakan sapu tangan. Saat itu, aku tak sengaja melihat bekas luka di atas alisnya yang sebelah kiri.
Mimpi kelima, hari Jum'at.
Malam ini, aku masih saja memimpikan Ryo-kun. Aku bermimpi sedang berada di area yang akan digunakan untuk berperang. Disana aku bersama Ryo, Taka (adiknya Ryo), dan Arisa (sahabatku saat SD). Entah bagaimana kami bisa berada di sini. Tiba-tiba.. DOR! JEB!
"ARGH!!" Teriak Ryo sambil memegangi lutut kanannya yang mengeluarkan darah akibat terkena peluru tembakan.
"RYO-KUN!" Ucapku sambil menghampiri nya.
"Kakak!" Teriak Taka, dia juga menghampiri Ryo.
"Kalian pergilah! Tak lama lagi perangnya akan segera dimulai!" Kata Ryo meminta kami untuk pergi meninggalkannya sendirian.
"Tidak, kau harus ikut!" Bantah ku.
"Jika aku ikut dalam keadaaan seperti ini, aku hanya akan menjadi beban bagi kalian." Ujar Ryo sambil menunduk.
"Kakak harus ikut dengan kami," kini, Taka juga membantah ucapan kakaknya.
"Tidak, sudah terlambat.. Tinggalkan aku sendiri! Kalian harus menyelamatkan diri kalian!" Lagi-lagi, Ryo meminta kami untuk meninggalkan nya dalam keadaan seperti itu. Ditambah, kami juga mulai dihujani anak panah.
"Ayo kak!" Ucap Taka sambil menarik tangan kiri ku. Aku tak ingin meninggalkannya.
"RYO! Natsukawa RYO!"
..........................................................
Tiba-tiba, aku terbangun sudah dalam keadaan menangis. Mimpiku kali ini cukup membuatku takut, aku tidak ingin kehilangan orang yang aku sayangi lagi. Setelah itu, aku memutuskan untuk mengunjungi makam nya sepulang sekolah nanti.
...........................................................
Singkat cerita, kali ini aku sudah pulang dari mengunjungi makam nya. Dalam perjalanan pulang, aku merasakan ada yang menggandeng tangan kananku. Tapi setelah aku lihat, tidak ada apa-apa.
Awan mendung mulai terlihat. Air mulai turun dari langit. Aku pun segera berlari mencari tempat untuk berteduh. Aku berteduh di teras sebuah toko yang sudah tutup. Saat itu, aku merasa kedinginan. Di saat itu juga, aku merasa ada yang memelukku dengan erat, membuatku tak merasa sedingin tadi.
Sejak kepergian nya, hari-hari ku menjadi sepi. Akhir-akhir ini aku sering melamun. Sore hari setelah aku mengunjunginya..
"Yotsuba-chan.." suara seseorang terdengar sayup-sayup. Aku pun melihat sekeliling.
"Aku ada disini.." suara itu lagi, sepertinya dari arah kananku. Aku pun menoleh.
"R.. Ryo-kun?" Ucapku tak percaya.
"Haha, iya ini aku."
"K.. kau, masih hidup?" Aku melebarkan mataku untuk melihat ini hanya ilusi atau nyata.
"Tidak, aku sudah mati. Sekarang aku bukan manusia lagi." Balasnya. Aku sedikit kecewa mendengar nya.
"Tapi, kau jangan sedih. Aku akan menemanimu selama tujuh hari sebelum aku benar-benar pergi. Bagaimana, kau setuju?" Tanya nya.
"Hmm, aku sangat setuju. Tapi, Ryo-kun, kenapa aku bisa melihatmu?" Aku mengangguk, lalu bertanya.
"Karena kau orang yang spesial. Hanya Tuhan, kau, dan adikku yang bisa melihatku. Bisa dibilang, aku sudah tidak punya raga. Tapi, meskipun tanpa raga, aku ingin tetap bersamamu. Suku da." Ucapnya, kemudian memelukku dengan erat. Aku balas memeluknya. Meskipun tidak terlihat, dia masih bisa dipegang.
"A.. aku juga menyukaimu, Ryo-kun.." ujar ku, mataku berkaca-kaca.
"Anata, kau tidak boleh menangis. Jangan khawatir, aku akan tetap bersamamu selama tujuh hari. Kita akan menikmati saat-saat sebelum kita benar-benar berpisah." Ucapnya untuk menenangkan aku.
"Jadi.. kau akan tinggal bersamaku disini kan?" Tanyaku.
"Iya," jawab Ryo singkat.
"Baiklah, tapi kau tidak boleh berbuat macam-macam padaku, dan kau tidak boleh mengikuti ku ke kamar mandi." Aku memberi peraturan.
"Hmm, baiklah-baiklah. Meskipun aku berbuat macam-macam padamu, tidak akan terjadi apa-apa padamu, kau lupa, aku kan bukan manusia lagi?"
"Tetap saja tidak boleh!" Ucapku dengan meninggikan nada bicaraku.
"Oke-oke, kau tidak perlu berteriak, atau orang lain akan curiga, dan menyangka kalau kau sudah menjadi crazy girl." Kata Ryo, seketika aku menutup mulutku sendiri.
.............................................................
Keesokan harinya adalah hari Sabtu. Sekolah sedang libur, karena disini sekolahnya hanya hari Senin sampai Jum'at, tapi full day school.
Sekarang jam sembilan pagi, aku masih rebahan sambil memeluk guling dengan erat sembari menahan rasa sakit.
"Kau kenapa?" Tanya Ryo.
"Perutku.. sakit.." ucapku pelan.
"Apa kau belum makan? Apa maag mu kambuh?" Tanya Ryo mulai terlihat panik.
"Tidak.. aku kan perempuan, setiap bulan pasti datang.." aku menjelaskan secara singkat.
"Apa rasanya sesakit itu?" Tanya Ryo lagi. Dia memang sangat penasaran.
"Lumayan sakit, perutku terasa kaku." Balasku.
"Hmm, andaikan rasa sakit itu bisa ditransfer ya. Aku pasti akan membantumu mengatasinya, jadi kau tidak terlalu sakit." Ucap Ryo berusaha menghibur ku sambil menggenggam tangan ku, tapi dari raut wajahnya, dia terlihat serius.
"Tapi sayangnya, itu tidak bisa."
...............................................................
Seminggu telah berakhir, aku dan Ryo-kun menghabiskan banyak waktu bersama. Kami berdua melihat festival kembang api yang di adakan setiap akhir musim gugur.
Selain itu, dia juga sering membantuku dalam memahami materi sekolah dan juga membantuku mengerjakan PR.
Saat aku sedang tidur, dia selalu memelukku supaya aku merasa aman dan nyaman. Di tujuh hari tersebut, aku kembali ceria. Tapi hari ini, tepat pukul enam sore..
"Ryo-kun, apa kau benar-benar akan pergi?" Tanyaku.
"Iya,"
"Apa kau akan kembali lagi?" Pertanyaan kedua dariku.
"Tidak, maaf Yotsuba-chan, aku harus pergi." ucapnya, kemudian perlahan-lahan dia mulai menghilang dari bagian bawah (kaki).
Mendengar kalimat itu, mataku seketika langsung berkaca-kaca. Satu Minggu ini terasa begitu cepat.
"Sudah kubilang jangan menangis," ujarnya sambil menyeka air mataku yang mulai menetes di pipiku.
"Tapi.. aku, hiks.. tidak akan bisa bertemu dengan mu lagi.."
"Tidak apa-apa, jika kau benar-benar mencintai ku, aku pasti akan selalu kau ingat." dia memegang kedua pundak ku. Kini, setengah bagian tubuhnya telah menghilang. Aku mencoba menggenggam tangan nya.
"Iya.. aku.. tidak akan melupakan mu."
"Jangan lupakan semua kenangan indah kita, Sayonara.." kalimat terakhirnya sebelum benar-benar menghilang.
"Ryo-kun? RYO-KUN?! Arigatou Gozhaimasu untuk semua yang telah kau lakukan untukku.. Hiks.. hiks.. RYO NATSUKAWA!!" aku berteriak ketika aku akan benar-benar menggenggam tangan. Ketika itu, dia langsung menghilang tanpa jejak.
~Tamat~
....................................................................................
Note :
- Cerita ini hanya fiksi, jangan di anggep serius ya. Hanya untuk bersenang-senang, ambil baiknya, buang buruknya.
- Nama tokoh terinspirasi dari anime.
- Aku tidak bermaksud untuk pamer keuwuan, pokoknya hanya fiksi.
- Pakai latar belakang Jepang.
- Cover dari pinterest
Jangan lupa mampir ke novelku juga^^
Salam dari Author (≧▽≦)