Perlarian ku terhenti di depan hutan belantara,akibat kejaran sekelompok perampok.
Hutan yang di penuhi semak belukar dan pohon tua besar yang mampu membuat bulu kudu merinding, jika tidak dalam keadaan terjebak.
Juntaian akar pohon yang ku rasa uda ratusan tahun,menambah aura mistis.
"Ahhh. ...Bodoh amat dech, dari pada di bunuh perampok, mendingan mati ketakutan. Mana makin malam. " gerutu ku berlari menelusuri hutan yang makin di masuki, makin seram dan mulai lembab tekanan atmosfernya.
Jedukk... Kepala ku terbentur sesuatu yang ngak tampak karna tertutup kabut extra tebal.
Aw... Teriak ku sambil ku ulur tangan memeriksa benda apa yang ku tabrak tadi.
Ku raba benda di depan, terasa seperti sebuah pintu.
Ckrekk.... Ngikkk... Bunyi pintu yang kurasa telah lama tersembunyi oleh kabut, dan mungkin akibat atmosfer rendah, pintu berbunyi begitu nyaring.
"Mmm.... Sebuah rumah toh. Tapi kok ada rumah di ujung hutan belantara gini?." tanya ku mengendap ngendap masuk,melihat ada sebuah piano tua dekat pintu masuk.
"Permisi.... Ada orang ngak" panggil ku, mana tau ada penunggu jadi jadian kayak film horor.
Ku telusuri rumah tua penuh sarang laba laba, debu, sampah dari daun dan akar pohon tua yang merambat di lantai rumah.
Aku pun naik anak tangga, sambil komat kamit pamitan sama jin, hantu penunggu "Mbah, atok, aku orang baik. Aku permisi sembunyi ya." ucap ku menemukan sebuah kamar tidak tertutup rapat.
Dari celah celah itu, aku melihat sebuah peti kaca di tutupi akar pohon hutan yang seakan melindungi peti kaca tersebut.
"Aduh... Ada mayat !!.Tapi kok masih utuh. Jika di sesuaikan dari zaman, pria tampan ini sejajar umur alm. kakek buyut ku." ucap ku, meski takut tapi ku nekat lihat wajah mayat pria yang tampan itu.
Ku kelilingi peti kaca itu, tanpa sengaja aku menyentuh sebuah tombol yang membuka peti kaca.
"Wadidaww... Orang zaman dulu uda ngerti teknologi." takut ku jadi kagum.
Agar tidak terlalu mengusik tidur si mayat pria tampan, aku pun berbalik.
Tapi eh tetapi. Tiba tiba tangan ku serasa ada yang narik. Sontak aku pun menjerit histeris, karna tidak ada orang hidup selain diri ku.
"SETAN....!!! " pekik ku tanpa berani noleh, karena mayat lah yang nahan tangan ku.
Aku pun pingsan tak sadar kan diri.
Hari sudah mencapai titik bulan purnama bersinar terang. Aku pun terbangun sadar berada dalam peti kaca, sementara mayat pria itu hilang entah kemana.
Tap... tap... Suara langkah kaki memasuki kamar yang aku berada.
Rasa takut dan gemetar, di tambah kamar itu hanya di sinari redup bulan purnama, karna berada di hutan. Membuat diri ku ngompol tanpa sengaja dalam peti kaca.
"Sudah sadar?. " tanya lembut mayat pria tampan menghampiri diri ku yang basah karena ngompol.
"Han-Hantu... " teriak ku menutup mata dengan dua tangan ku.
"Aku bukan hantu. Aku sama seperti mu, tapi terkena kutukan entah sudah berapa lama.,makanya aku seperti yang kau bilang. " sahut mayat pria tampan sambil melihat penampilan ku yang beda dengan zaman nya.
"Jadi anda bukan hantu?." tanya ku meyakinkan perkataan nya.
"Iya. Aku ini seorang pangeran, Dan ini adalah mansion, dimana biasa aku mencari ketenangan." jelas mantan pangeran pada ku.
Dalam benak ku, ku pikir hanya ada dogeng "Putri tidur" tapi ada juga "Pangeran tidur" ,yang tertidur akibat kutukan dan untung nya tidak perlu di bangunkan dengan sebuah ciuman.
Sepanjang malam kami bercerita tentang perbedaan zaman, dan alasan aku kenapa bisa masuk rumah tua hantu di ujung hutan belantara.
Bau ompol pun makin nyengat, wajah ku memerah malu, dan di maklumin pria itu.
Esok pagi, aku dan dia pun keluar dari hutan belantara, karena hanya ia yang tau arah jalan keluar dari rumah tua hantu di hutan menuju ujung hutan satu nya lagi.
Dan aku pun tinggal bersamanya, di mana ujung hutan pria itu membawaku .