Dea terbangun dari tidurnya oleh sinar matahari yang menembus tirai-tirai kamarnya. Ia meregangkan tubuh sejenak, lalu melangkah ke kamar mandi. Akhir – akhir ini kuliahnya ketat menjelang sidang. Semalam pun ia bertengkar dengan pacarnya, Adam karena Adam merasa Dea sibuk dengan dunianya sendiri dan jarang menggubrisnya meski berstatus ‘pacar’. Mereka sudah cukup lama pacaran, sudah menginjak 3 tahun dan kemarin adalah Anniversary tahun ketiga mereka.
Dea cukup kesal dengan pertengkaran semalam. Maka itu, ia sedikit mengurungkan niat untuk bertemu Adam hari ini. Sebenarnya, semalam Adam tiba-tiba mengirimkan pesan pada Dea.
Adam : Kamu sudah malas pacaran sama aku? Kamu lebih memilih teman-teman mu dari pada aku?
Amarah Dea pun tersulut. Belum apa-apa Adam sudah menuduhnya macam-macam. Padahal baru kemarin mereka bersenang-senang merayakan Anniversary. Kini, Dea mulai muak dengan tingkah Adam yang selalu saja membuat ia terkekang. Gadis itu pernah berpikir untuk memtuskan hubungan dengan Adam.
Dea keluar dari kamar mandi dan melihat ponselnya bergetar di atas meja. Ada pesan masuk dari Adam. Ia menaikkan sebelah alisnya.
"Hari ini tingkahnya beda lagi? Bagus!" batinnya Dea. Ia penasaran ingin tahu apa yang akan dilakukan Adam saat bertemu dengannya.
"Syukur deh kalo nanti Adam minta putus." gumam Dea sambil tersenyum.
Adam melamun sambil menyetir mobilnya, menyusuri jalan menuju taman tempat ia akan bertemu dengan Dea. Laki-laki itu melirik kado yang dibungkus kertas warna Merah marun. Hadiah itu adalah hadiah untuk Anniversary ketiga tahunnya. Adam gundah, hatinya tak tenang. Ia beberapa kali menghela nafas panjang. Adam merasa bersalah pada gadisnya itu. Ia terlalu egois dan posesif. Ia takut Dea akan membencinya dan akan meminta putus. Ia takut... Adam sangat mencintai Dea. Dihidupnya, Dea bukan hanya seorang kekasih, tapi ia juga seorang sahabat Adam. Dea lah yang membuat hidup Adam berarti, bahkan saat-saat Adam harus operasi untuk mengangkat kanker diotaknya. Adam tak ingin kehilangan Dea. Ia ingin bersama Dea sampai akhir hayatnya.
Adam yang terhanyut dalam lamunannya, saat ia memotong jalan yang sepi, tidak menyadari sebuah truk melaju kencang menuju ke arahnya. Supir truk gelagapan, rem yang ia injak tidak berfungsi dan truk masih melaju kencang.
BRAK!
Adam tidak sempat menghindar, membanting stir. Mobil sedan warna hitam itu dihantam truk itu hingga terpental dan terguling. Kepalanya membentur setir dengan keras dan tubuhnya tergencet bodi mobil yang ringsek. Cairan merah mengalir dari hidung dan telinga Adam. Kado yang ia bawa juga ikut rusak berlumuran darah. Seketika kerumunan orang telah mengerumuni mobil dan Adam yang tergeletak didalam mobilnya dengan mengenaskan.
Dea berdecak melihat jam yang melingkar ditangannya. Sudah tiga puluh menit ia menunggu, tapi Adam tak kunjung datang. Dea mengambil ponsel dari tasnya dan menghubungi Adam. Lama tak dijawab lalu Dea memutuskan panggilan dan membuat panggilan baru lagi. Kali ini diangkat.
“Halo Adam, kok lama banget sih? aku udah bete nih nungguin kamu tiga puluh menit disini. Udahlah, kalau kamu masih lama aku jalan-jalan sama temen-temen ku aja!" ketus Dea.
“Iya... Maaf... Tunggu 5 menit lagi aku sampai...“ jawab sebuah suara dari seberang sana.
“Oke, cepetan!" Dea langsung memutuskan pembicaraan.
Mata Dea menangkap sosok seorang laki-laki tampan dihadapannya yang mengenakan pakaian serba putih.
“Hai." sapa laki-laki yang mengenakan kaos putih, celana putih dan membawa kado ditangannnya yang dibungkus kertas putih itu.
“Kamu yang ngajak aku ketemuan, tapi kamu yang telat. Gimana sih?” ketus Dea sambil menatap tajam laki-laki dihadapannya.
“Maaf... Tadi ada urusan sedikit. Ini kado. Happy Anniversary.“ Laki-laki itu menyodorkan kadonya. Dea pun tersenyum simpul. Ada yang aneh. Laki-laki dihadapannya memang tersenyum seperti biasanya tapi pandangan matanya kosong. Ia juga tak banyak bicara.
“Kamu kenapa? kok lemes banget?" tanya Dea heran.
“Aku nggak apa-apa." laki-laki itu tersenyum.
Mereka berjalan mengitari taman. Dea berada di belakang Adam.
"Sekarang apa yang mau kamu mau dari aku?" tanya laki-laki itu masih memunggungi Dea.
“Maksud kamu?” Dea mengernyitkan dahi.
“Apa yang kamu inginkan dari ku? atau kamu mau minta sesuatu dari aku?" laki-laki itu kini memperlihatkan wajahnya yang pucat pasi dan air mukanya kosong.
“Kenapa tiba-tiba nanya gitu sih?"
“Jawab aja!!” suara laki-laki dihadapannya meninggi membuat Dea kebingungan. Dea melangkah lebih dekat padanya tapi ia menjauh.
“Diam di tempatmu!" perintah laki-laki itu kemudian ia menghela nafas dan tersenyum.
“Jawab aja. Kamu mau apa? misalnya kamu mau ngerayain Annive kita dimana? apapun akan aku lakuin." tatapannya lekat pada sepasang bola mata Dea. Sebuah pertanyaan yang mencekat.
"Aku bisa meminta untuk putus saat ini" pikir Dea, namun hati kecil Dea lagi-lagi menahan keinginannya.
“Aku nggak mau minta apa-apa. Kadonya bagus kok.”
“Jujur! Itu bukan keinginan kamu. Aku tau itu ." Dea menelan ludah dan masih terpaku menatap laki-laki itu. Suasana hening.
“Aku minta kita putus.” ucap Dea tegas sambil mengalihkan pandangan. Laki-laki itu tercengang atas perkataan Dea. Laki-laki itu melangkah mundur perlahan, ia tersenyum tapi air mata menetes. Dea mencoba untuk mendekatinya perlahan.
“Berhenti!” bentakan kembali keluar dari mulut laki-laki itu.
“Adam... Aku minta maaf, tapi tolong ngertiin aku... Ini semua ada alasannya." Laki-laki itu tak mengubris. Ia berbalik badan dan berjalan lurus. Berjalan mendekati jalan raya. Dea tertinggal dibelakang, entah kenapa laju jalan laki-laki itu begitu cepat.
BRAAK!
Sebuah mobil lewat dengan kecepatan tinggi di jalan raya tepat ketika seorang laki-laki berada di tengah jalan itu.
“Adaam !!!” seru Dea dari seberang dengan histeris. Kejadian yang sangat singkat. Ketika mobil itu berlalu, dilihatnya pemandangan yang sangat tidak masuk akal. Dea terperangah tak percaya atas apa yang dilihatnya.
Laki-laki itu masih berdiri disana. Utuh. Ia berbalik badan dan tersenyum. Kakinya tak terlihat. Lambat laun sebagian tubuhnya kini tembus pandang dan menghilang.
Dea mematung kebingungan. Ia berlari mendekati laki-laki itu ketika wujudnya nyaris hilang.
WOOOSHH!
sebuah mobil melaju dengan kencang melewatinya. Sekarang bayangan itu tak terlihat lagi. Dia hilang. Senyap.
“Adam?” tanya Dea tanpa ada jawaban dari siapapun. Ia sangat shock setelah apa yang ia lihat.
Dea membuka pintu rumah dengan berat hati. Ia memikirkan kejadian tadi. Berulang kali ia menelpon Adam, tapi tak ada jawaban.
"Tadi itu apa ? mungkinkah tadi itu hantu?" tanya Dea pada dirinya sendiri. Ia terlihat seperti orang linglung. Ia masuk ke rumah dan duduk di sofa dengan gurat wajah penuh kecemasan dan ketakutan. Berkali-kali ia menelpon Adam, tapi usaha itu tak membuahkan hasil.
Seseorang bertubuh tinggi dan cantik menuruni anak tangga dengan wajah sesal. Sela, kakak Dea.
“Tabah ya Dik...” ucap Sela memeluk Dea.
“Maksudnya kak?" Dea mengerutkan dahi.
“Loh kamu?" Sela menjadi ikut bingung tapi sedetik kemudian Sela menemui pokok masalahnya.
“Apa sih kak?” perasaan Dea tambah campur aduk. Sela menghela nafas panjang dan memasang wajah prihatin.
“Kakak ngomong apa sih?!” Dea mulai kesal.
“Cek whatsapp mu!” Sela berlalu meninggalkan Dea. Kembali dengan gurat kecemasan Dea menuju ke kamar untuk mengetahui apa yang terjadi
ia duduk di tempat tidurnya yang besar. Ia memegang ponselnya, bersiap untuk mendengar kenyataan pahit lagi.
"Tuhan, apa yang kali ini kau akan tunjukkan padaku?" doanya dalam hati lalu ia membuka layar ponselnya dan melihat whatsappnya. Banyak panggilan masuk dari Doni. Lalu Dea melihat ada pesan suara dari Doni.
“Halo Dea." terdengar suara yang tak asing. Doni , teman dekat sekaligus tetangga Adam. Dea memucat dikasurnya.
“Dea, sori gue harap lu bisa denger ini. De, gue tahu pasti lu nggak bakal nerima kenyataan. Gue juga terpukul. Dea lu yang ikhlas ya. Innalillahi wainaliroji’un. Adam tadi pagi kecelakaan. Dia udah pulang ke sisi-Nya, De. Semoga Adam mendapat tempat yang terindah disana. Aamiin. Hari ini juga Adam dimakamkan. Gue harap lu dateng untuk penghromatan terakhirnya, De. Sore ini jam 3"
Nafas Dea memburu. Ia benar – benar tak percaya dengan kabar tersebut. Emosinya meledak. Ia meremas telepon yang ia gengggam kuat-kuat. Sedetik kemudian, seisi kamar porak poranda. Ia menangis sejadi-jadinya. Adam orang yang telah bersamanya selama 3 tahun, kini harus pergi begitu saja tanpa berpamitan dengannya. Ia kesal, sedih, menyesal dan sangat amat terpukul.
"Bagaimana ini bisa terjadi? kenapa Adam bisa pergi secepat ini?" setelah beberapa lama Dea berhenti menangis dan duduk bersandar di kaki-kaki kasur. Ia mau tak mau harus menerima kenyataan pahit ini. Ia harus menerima kalau Adam sudah tiada. Kenyataan bahwa yang tadi menemuinya adalah roh Adam yang mengisyaratkan kepergiannya. Tak ada lagi senyum menawan dari laki-laki itu, tak ada lagi pelukan hangat, tak ada lagi elusan di kepala Dea, tak ada lagi yang perhatian padanya. Tak ada lagi yang akan marah-marah ketika Dea cuek, tak ada lagi yang akan melarangnya ini dan itu, tak akan ada lagi yang akan berkata “aku sayang kamu, Dea." Gadis itu menyesal atas tawaran permintaan Adam tadi. andaikan... waktu bisa diulang lagi. Mungkin ia akan meminta Adam tetap disini, menemaninya selamanya. Ia ingin teurs berada di dekat Adam. Kalau ia tahu akan secepat ini dia nggak akan bertengkar dengan Adam. Bahkan sebisa mungkin ia akan lebih perhatian pada Adam. Ia baru menyadari selama ini ia salah pada Adam. Ia terlalu sibuk dengan kuliah dan teman-temannya sampai sering mengabaikan Adam yang tetap bertahan disisinya yang selalu seenaknya. Adam yang selalu sabar dengam sifat kekanak-kanakan Dea.
Seusai mandi Dea mengenakan dress hitamnya. Ia ingin melihat Adam untuk terakhir kalinya. Matanya yang masih sembab mencari-cari sesuatu. Seingatnya, Adam memberikan kado Anniversary untuknya dan ia meletakannya di atas meja tapi sekarang kado itu tak dapat ditemukan. Ia lalu menyalakan mobil untuk menuju rumah Adam.
Di depan pintu gerbang rumah Adam Firmansyah. Banyak orang berpakaian hitam lalu lalang serta bunga karangan bertuliskan
“turut berduka cita” dengan foto Adam yang sedang tersenyum. Aura kesedihan dan kehilangan begitu terpancar dari rumah itu. Sebagian besar pelayat menangis tersedu-sedu karena merasa amat kehilangan. Adam adalah sosok yang humble dan menyenangkan. Rekan kantor, teman-teman kuliah dan teman semasa SMA semua ikut melayat. Doni sudah berdiri di depan pintu menunggu kedatangan Dea. Laki-laki itu menghampiri Dea
“Ayo... lu udah di tunggu...” ucap Doni sambil tersenyum paksa. Dea berjalan memasuki rumah, menerobos kerumunan orang-orang kerabat dari keluarga Adam. Ia melihat kedua orangtua Adam menangis disamping jenazah almarhum. Dea mendekati orangtua Adam.
“Om... Tante...." tegur Dea seraya mencium tangan kedua orang itu. Mereka tersenyum ketika melihat Dea pasrah.
“Dea... kita sama-sama tabah ya, nak.” ucap tante Widya , mama Adam.
“Iya, tante... Adam pasti ada di tempat yang paling indah di sisi-Nya...” balas Dea lirih.
Dea terpaku pada jenazah laki-laki dihadapannya. Laki-laki yang begitu dicintainya. Wajah laki-laki itu masih tampan seperti biasa meski ada luka lebam dan jahitan. Ia terlihat begitu tenang seperti orang yang tertidur lelap dan garis wajah laki-laki itu membentuk sebuah senyuman dibibirnya. Sangat tampan untuk ukuran orang yang kini telah tiada. Inilah saat terakhir Dea dapat melihat kekasihnya itu. Tante Widya mengambil sesuatu dari dalam laci.
"Dea, Adam mau kamu nerima ini... Ini kado Anniversary yang ketiga tahun buat kamu."ucap Tante Widya.
“Ia menyodorkan kotak kecil masih utuh dengan bungkus bersimbah noda darah kering dan bentuk yang rusak. Dea menintikkan airmatanya.
Sampai di tempat pemakaman Adam. Di perjalanan Dea ikut masuk ke dalam mobil Ambulance dan menitipkan mobil di rumah Rio. Ia ingin terus bersama Adam selagi bisa. Pemandangan pahit dan begitu pedih ketika sang kekasih dimasukkan keliang lahat. Tangis Dea pecah. Airmatanya tumpah tapi ia mencoba untuk tetap tegar. Meski masih ada perasaan tak rela ketika lubang itu ditutup dan diapasangi nisan. Dea masih ingin bersama Adam. Begitu banyak penyesalan dalam hati gadis itu. Lalu, seorang ustadz memimpin doa untuk almarhum.
Semua orang termasuk Dea membaca doa dengan khusyuk. Setelah beberapa waktu, bubarlah orang-orang yang ikut pemakaman Adam itu. Dea masih duduk disamping makam Adam. Ia masih mengucapkan rentetan ayat-ayat suci. Ia sudah sedikit tenang dan ikhlas. Ia sangat berterimakasih kepada Tuhan karena telah membuat Adam mengisi relung hatinya meski dalam waktu yang cukup singkat. Ia bersyukur sempat memiliki Adam, bersyukur sempat melihat senyumannya, merasakan hangat belaiannya, mendengar tawanya.
"Selamat jalan sayang... Aku sayang kamu, Adam..." Dea menghapus airmatanya. Dea tersenyum lalu pergi.
Tamat
.
.
.
Selesai membaca tolong tinggalkan jejakmu ya😊
Jika kamu suka, jadikan cerita ini favoritmu. Like, dan komen.
Baca juga novel karya ku ya
🌼 Kirana Tetaplah Disisiku
🌼 Cinta Sepotong Donat
🌼 Rasa Cinta
🌼 Kumpulan Cerita Horror
Dukungan kalian sangat berarti bagi ku.
Jangan lupa follow instagram ku @helloassyh_ untuk mendapat informasi update tentang novel ini.
Kalau kalian inbox atau DM insyaallah aku akan balas kalau nggak sibuk ya, hehehe
Terima Kasih*** 😘❤