Apa yang kamu harapkan dariku? Aku menyebalkan. Tapi, kenapa kamu masih saja mengejarku? Merayuku? Baik hati padaku? Tak cukupkah semua usaha yang aku lakukan agar kamu sangat membenciku? Agar kamu menyesal melakukan semua hal itu padaku? Dan agar kamu pergi lalu mengutukku karena tak berperasaan? Tak cukupkah?
Aku membencimu. Sungguh. Tapi apa yang kamu lakukan saat aku berkata seperti itu? Kamu malah tersenyum dan berkata “Aku tidak percaya.”
Aku tak ingin kamu berkata begitu. Aku ingin kamu mempercayai perkataanku. Apakah kamu tahu kenapa? Aku membencimu. Karena kamu telah membuatku jatuh cinta dan menjadi makhluk paling cengeng di dunia! Aku membencimu. Tak seharusnya aku mencintaimu.
Aku rasa sekarang kamu sudah tau alasanku melakukan semua itu. Karena aku tak ingin menyakiti hatimu lebih dari ini. Maafkan aku.
*****
Indira bersyukur, akhirnya pekerjaannya sudah selesai. Sudah setengah tahun ini perempuan itu bekerja di perusahaan terkenal di Jakarta Pusat. Ia pun membereskan barang-barangnya dan siap untuk pulang. Indira melirik jam tangannya, sudah pukul 22:30. Hari ini ia pulang lebih malam dari biasanya, dikarenakan pekerjaan yang menumpuk.
“Mau aku antar pulang?” tanya Raska sedikit mengagetkan Indira yang sedari tadi melamun menunggu taksi yang masih beroperasi.
“Tidak.”
“Kenapa?” tanya Raska lagi.
“Aku bisa pulang sendiri.”
“Hei, tidak baik seorang perempuan pulang ke rumah sendirian. Apalagi ini sudah malam. Tidak apa-apa, aku antar saja.” bujuk Raska. Indira malah pergi menjauh dan memberhentikan taksi, lalu masuk ke dalam taksi tersebut tanpa basa-basi pada Raska. Raska melongo.
Dalam hati, Indira sangat bersyukur taksi ini datang tepat pada waktunya. Ia tidak mau kalau harus terpaksa diantar oleh Raska. Sebenarnya Raska adalah teman SMAnya. Indira dan Raska pernah satu kelas ketika kelas dua belas. Indira akui, Raska orang yang baik, meskipun ia tidak pernah berkomunikasi secara pribadi dengannya. Ia tahu dari orang-orang terdekat Raska yang bercerita pada Indira. Lebih tepatnya dari Nayla, sahabat Indira yang menyukai Raska.
Entah alasan apa yang membuat Indira menjaga jarak dengan Raska, bahkan dengan laki-laki yang lain juga. Indira merasa kalau ia tak perlu berinteraksi dengan laki-laki manapun. Bahkan Nayla, sahabatnya tidak tau alasan Indira kenapa ia melakukan semua itu. Indira pun melangkah menuju rumah kost di ujung jalan, yang tak lain adalah tempat tinggalnya.
Sejak kecil Indira adalah anak yatim piatu. Ia tinggal bersama kakek dan neneknya. Hingga kemudian ia tumbuh menjadi gadis mandiri dan memilih ngekost ketimbang tinggal bersama kakek neneknya. Ia tidak mau terus menyusahkan mereka. Ketika sudah didepan pintu kostnya, tiba-tiba ponsel Indira berbunyi tanda ada telepon masuk. Nomornya dirahasiakan. Indira pun menjawab telepon tersebut sebelum masuk kedalam dalam kost.
“Halo?” sapa Indira.
“Lihat kebelakang.” ucap suara disebrang sana. Indira pun menoleh kebelakang. Dan, oh! Betapa terkejutnya ia mendapati Raska berdiri disebrang jalan sambil tersenyum dan melambaikan tangan kepadanya.
“Sekarang aku tenang kalau sudah melihatmu sampai ditempat kost. Aku mengkhawatirkanmu.” kata Raska masih dalam telepon. Indira melongo dibuatnya. Indira pun mematikan telepon dan bergegas masuk kedalam kost dan meninggalkan Raska yang masih berdiri disebrang jalan.
Raska berbaring ditempat tidurnya. Entah kenapa ia tidak bisa berhenti memikirkan Indira. Mungkinkah ia jatuh cinta? Iya, Raska jatuh cinta pada Indira. Indira yang dua tahun lalu ia kenal. Meskipun tidak berkenalan secara langsung. Raska tak pernah tau asal-usul gadis tersebut. Ia hanya tau nama lengkapnya, Indira Hapsari. Selebihnya ia tak tahu.
Demi perasaan cintanya itu kepada Indira, ia rela bekerja sebagai Office Boy disebuah perusahaan dimana tempat Indira bekerja. Padahal orang tua Raska kaya, ayahnya meminta Raska memimpin perusahaan miliknya. Tapi, Raska menolak dan lebih memilih bekerja sebagai OB.
Seperti yang sudah ia duga, semua yang ia lakukan pasti sia-sia seperti dulu. Ketika masih sekolah, Raska mengikuti ekskul badminton agar terus bisa melihat Indira yang waktu itu memang ekskul badminton, tapi seminggu kemudian Indira berhenti dari ekskulnya. Juga banyak hal yang lainnya. Dan sekarang? Indira tak pernah bertegur sapa dengan Raska kalau saja Raska tidak menegurnya duluan, itupun tak pernah ada jawaban. Ia sering bertemu dengan Indira, tapi Indira seolah-olah tak mengenali Raska. Raska sangat kecewa. Ia ingin menyerah, tapi tekadnya sudah bulat. Sesulit apapun, ia akan membuat Indira jatuh cinta padanya.
Satu minggu kemudian…
Indira mendesah pelan. Lagi-lagi ia mendapat pesan dari Raska diponselnya. Isinya tetap sama. Mengajak makan siang bersama. Tapi, kali ini ada sedikit tambahan yang sukses membuat Indira bingung.
✉️RASKA: Makan siang yuk? Kalo masih nggak mau, aku nggak akan berhenti chat kamu.
Itu berarti ponsel Indira akan penuh dengan pesan dari Raska yang isinya sama; mengajak makan siang. Tentu ia merasa risih. Indira tak habis pikir, kenapa Raska tak pernah berhenti mengganggunya. Dengan terpaksa, ia pun membalas pesan Raska.
✉️ INDIRA : Dimana?
Raska sangat senang, akhirnya Indira membalas pesan darinya. Ia pun mengajak Indira makan di warung pinggir jalan tak jauh dari tempat kerjanya. Raska sudah menunggu Indira di warung tersebut. Tak lama kemudian, orang yang ia tunggu-tunggu akhirnya datang juga.
“Hai.” Sapa Raska sambil tersenyum. Indira tak menjawab, ia langsung duduk dan memesan makanan. Raska pun ikut memesan makanan.
Ketika makanan sudah dihidangkan, mereka berdua pun makan tanpa ada satu patah kata pun yang keluar dari mulut Indira.
“Kamu ini, kenapa diam saja?” tanya Raska setelah selesai makan. Indira tak menjawab, ia langsung berdiri dan siap pergi. Tapi Raska menahan tangan Indira, membuat Indira menatap mata Raska.
“Aku sudah menerima ajakanmu makan siang, jadi kamu tak perlu mengirim pesan lagi.” Kata Indira to the point.
Raska melongo. Begitu sulitkah membuat hati Indira luluh? Tapi, kenapa? Indira yang pendiam itu dengan mudahnya meluluhkan hati Raska. Akhirnya Raska melepaskan genggamannya. Ia pun menunduk sedih ketika Indira berlalu pergi meninggalkannya.
“Sepertinya kamu sedang tidak enak badan. Wajahmu pucat sekali. Kamu yakin tidak mau pulang bersamaku?” Kata Nayla. Jujur, ia khawatir melihat Indira sahabatnya itu. Wajah Indira seperti sedang menahan rasa sakit. Sudah beberapa hari ini Indira lembur, pasti ia sangat lelah.
“Aku tidak apa-apa, Nay. Kamu pulang saja duluan. Pekerjaanku masih banyak.” Jawab Indira diakhiri senyum. Nayla menatap jam tangannya. Sudah jam 8 malam, ia harus cepat pulang karena ia sudah ada janji dengan seseorang. Akhirnya Nayla memutuskan untuk pulang.
Pukul 22.00
Indira merasa sedikit pusing, ia pun menunda untuk menyelesaikan pekerjaannya. Indira memilih untuk pulang.
“Indi, aku ingin bicara denganmu.” Mendadak Raska datang dan menarik tangan Indira.
“Kamu ini kenapa?” tanya Indira bingung.
“Kamu yang kenapa? Kenapa kamu selalu menjauhi aku? Apa salahku?” tanya Raska. Indira diam, mata bulatnya menatap Raska. Raska sudah tidak bisa membendung perasaannya terhadap Indira. Maka dari itu ia memutuskan untuk mengungkapkannya sepulang Indira menyelesaikan pekerjaannya. Meskipun sepertinya Raska tahu jawaban yang akan diberikan Indira kepadanya.
“Aku mencintaimu.” lirih Raska. Indira semakin diam.
“A-aku mencintaimu. Sudah lama aku memendam perasaanku ini. Kumohon, jangan menyiksaku seperti ini. Aku sudah cukup bodoh dengan segala hal yang aku lakukan untukmu.”
Indira menelan ludah. Entah kenapa mulutnya terasa kaku. Ia hanya mampu diam terpaku menatap mata Raska. Raska mengacak-acak rambutnya frustasi.
“Aku membencimu.” Mendadak Indira angkat bicara. Raska melongo. Kemudian ia tersenyum pedih.
“Aku tidak percaya.”
“Aku membencimu, Raska.” Indira mengulangi perkataannya. Mata Raska basah. Ia menggeleng.
“Aku tidak percaya.”
Indira kembali diam. Matanya mulai basah. Ia memegang kepalanya sendiri dan mendadak jatuh tak sadarkan diri.
Nayla mengusap-usap rambut Indira yang terbaring lemah di ruang inap. Mata Indira masih saja terpejam. Mendadak jemari tangannya bergerak-gerak.
“Indi, ini aku Nayla.” panggil Nayla lembut. Pengelihatan Indira masih buram, ia melihat sekeliling sampai akhirnya pengelihatannya kembali normal.
“Aku ada dimana, Nay?” tanya Indira parau.
“Kamu di rumah sakit. Kemarin malam kamu jatuh pingsan. Untung saja ada Raska yang membawamu ke rumah sakit ini.” Kata Nayla menjelaskan.
“Raska?” Nayla mengangguk sambil tersenyum.
“Iya, Raska. Dia bilang padaku, bahwa dia amat mencintaimu. Aku sangat terharu mendengarnya.”
“Tapi kan…,”
“Sssttt, aku nggak apa-apa. Lagipula aku hanya mengagumi dia saja. Sebenarnya, aku sudah tahu kalau Raska mulai menyukaimu waktu SMA dulu. Tapi aku nggak menyerah. Aku ini bodoh sekali. Harusnya aku sadar kalau aku nggak pantas untuknya.” ucap Nayla sambil memukul kepalanya sendiri. Lalu Nayla tertawa pelan membuat Indira tersenyum.
“Maaf...”
“Kamu ini bodoh sekali. Harusnya aku yang minta maaf. Eh, kamu tahu nggak? Kemarin ada kejadian lucu loh,” Nayla banyak bercerita kepada Indira. Mau tak mau membuat Indira sakit perut menahan tawa.
Setelah kepergian Nayla, entah kenapa hati kecil Indira bertanya-tanya dimana Raska sekarang?
Tiba-tiba ponsel Indira yang terletak di meja berbunyi tanda ada chat baru yang masuk.
✉️RASKA: Cepat sembuh ya. Aku mncintaimu.
Mendadak dada Indira terasa sesak. Entah alasan apa yang membuat Indira menangis terisak seusai membaca pesan dari Raska.
Raska diam memandang bulan. Sesekali ia mendesah pelan. Perasaannya teramat kacau. Ia tak hentinya berpikir, kenapa semua ini terjadi pada hidupnya? Terlebih lagi hidup Indira? Kenapa? Raska mengacak rambutnya sendiri. Tak terasa, selama berbulan-bulan ini ia menjadi makhluk yang cengeng.
"Tuhan, tolong jelaskan padaku. Kenapa semua ini terjadi?" lirih Raska dalam hati.
Satu minggu kemudian…
“Indira berhenti bekerja?” tanya Raska tak percaya. Nayla mengangguk.
“Iya. Aku tidak tahu alasannya. Mungkin karena ia butuh waktu lama untuk beristirahat.” Kata Nayla. Raska menunduk. Sekali lagi, Indira melakukan ini kepadanya.
“Ya sudah.” kata Raska lalu hendak pergi kalau saja Nayla tidak menahan tangannya.
“Ada apa?”
“Hmmm…, Indira menitipkan surat ini untukmu. Aku tidak membacanya. Sungguh.” Kata Nayla sambil meletakkan surat beramplop merah di tangan Raska. Raska menerima surat itu.
“Terima kasih.”
“Iya.” Jawab Nayla diakhiri senyum.
Malamnya…
Seperti biasa, Raska diam menatap bulan. Ia tetap tak menemukan jawaban atas ribuan pertanyaan yang berkecamuk dalam benaknya. Mendadak ponselnya berbunyi, ia mengacuhkannya sejenak. Paling-paling dari Ibunya yang ngotot meminta Raska untuk melanjutkan study nya di luar negeri. Tak lama kemudian ia membuka pesan tersebut. Betapa terkejutnya ia setelah membaca pesan yang ternyata dari Indira.
✉️INDIRA : Kumohon, hanya untuk malam ini saja. Datanglah ke tempat kostku.
Raska langsung pergi menuju tempat kost Indira. Ia tak peduli meski sudah hampir pukul dua belas malam. Meski ia tak mengerti kenapa Indira mendadak memohonnya untuk datang. Dan meski kini hujan telah mengguyur kota, ia tetap pergi.
Tanpa aba-aba, Raska masuk ke dalam dan betapa kagetnya ia menemukan Indira tengah terkulai tak berdaya di lantai. Raska langsung memeluk Indira dalam pangkuannya. Mulut dan hidung gadis itu mengeluarkan darah.
“Ras.. Ka... Maafin aku ya...” ucap Indira tercekat. Napasnya putus-putus. Mata Raska mulai basah lagi.
“Kamu nggak punya salah apapun. Aku yang harusnya minta maaf karena telah membiarkanmu menderita sendirian.” Telunjuk Indira menekan bibir Raska isyarat untuk berhenti bicara.
“Aku juga mencintaimu.” ucap Indira akhirnya. Raska tersenyum meski matanya terus berlinangan air. Indira pun ikut tersenyum. Mata Indira terpejam perlahan.
“Indiraaaa!!!” jerit Raska histeris sambil menangis.
Delapan hari yang lalu, di sebuah rumah sakit
“Kanker otak?” tanya Raska. Dokter tersebut mengangguk.
“Iya, Indira menderita kanker otak. Dan sepertinya penyakit itu sudah ia derita beberapa tahun yang lalu.”
“Lalu bagaimana dokter? Apakah ada harapan untuk sembuh?” tanya Raska. Dokter tersebut mengusap dagunya, membuat Raska cemas menunggu jawaban atas pertanyaannya.
“Hanya mukjizat dari Tuhan yang bisa membuatnya sembuh.” Raska terduduk lemas.
"Tuhan, tolong jelaskan padaku. Kenapa semua ini terjadi?"
Tamat
.
.
.
Selesai membaca tolong tinggalkan jejakmu ya😊
Jika kamu suka, jadikan cerita ini favoritmu. Like, dan komen.
Baca juga novel karya ku ya
🌼 Kirana Tetaplah Disisiku
🌼 Cinta Sepotong Donat
🌼 Rasa Cinta
🌼 Kumpulan Cerita Horror
Dukungan kalian sangat berarti bagi ku.
Jangan lupa follow instagram ku @helloassyh_ untuk mendapat informasi update tentang novel ini.
Kalau kalian inbox atau DM insyaallah aku akan balas kalau nggak sibuk ya, hehehe
Terima Kasih*** 😘❤