RANTAUAN
Ada sebuah pepata mengatakan, Enak dilihat tak enak dirasakan..
Begitulah kata - kata yang pas untuk Seorang Perantau. Hanya bagian yang dirasa senang nya saja di perlihat kan ke orang-orang atau pun keluarga tapi yang tidak di rasa senang pasti di sembunyikan dengan sebaik - baik nya.. supaya keluarga terutama orang tua tidak khawatir bahwa di sini sebenarnya kami Kesulitan, Kesusahan, Sering menangis dan masih banyak lagi rasa penderitaan - penderitaan yang lainya..
Kami merantau bukan karna kemauan kami sendiri tapi kami merantau karna kami tidak punya pilihan apalagi kalo sudah memiliki keluarga sendiri, Kami harus selalu memutar - mutar otak dan kondisi tubuh harus selalu siap dalam keadaan apapun supaya bisa bertahan hidup di tempat yang ASING.
Hidup Dirantauan itu Sulit, Sangat Sulit Apalagi jika tidak punya dukungan Dari siapapun. Tapi Sesulit apapun itu, kami selalu bisa bertahan dalam kondisi apapun, karna kembali lagi kami tidak punya pilihan lain..
Kami pasti pernah mengalami dan merasakan dimana titik Terendah di tempat yang ASING.
Harus beradaptasi dengan lingkungan yang baru,
Harus mengenal orang yang baru,
Harus menjalin hubungan di mulai dari awal lagi,
Seolah - olah kami terlahir kembali di tempat yang Asing.
Orang yang GAK merantau gak akan pernah ngerasain gimana rasanya tiap bulan Harus mikirin bayar kontrakan
listrik, gas, air ( Rasanya anak yang harus jadi prioritas utama pun di nomor dua kan )
Gak akan Pernah ngerasain Makan Mie Instan Karna gak kebeli sama beras. ( Karna mie instan itu lebih murah dari pada beras)
Dan yang paling Berat itu pada saat Tahap awal merantau.
Aku masih ingat dengan jelas saat pertama kali suami ku membawahku ke tempat yang ASING Ini, Dan yang lebih mengerikannya Adalah ketika kami baru saja sampai disini, suamiku mendapat pesan dari teman yang mengajak nya bekerja disini bahwa dia sudah tidak di pekerjakan lagi, bisa di bayangkan bagaimana rasanya jadi aku saat itu, baru saja tiba di tempat baru, suami jadi pengangguran, tapi suamiku tidak putus asa, dia pergi dari pagi jam 4 subuh sudah keluar pulang jam 11 malam dan hanya membawah uang 35rbu dan 1 nasi bungkus, akupun tidak pernah mengeluh, aku memanfaatkan sosial media untuk mencari pekerjaan untuk suami ku, aku cari di laman - laman lowongan pekerjaan apapun itu, sampai dulu aku pernah berfikir untuk menyerah saja dan ingin pergi bekerja di luar negeri, tapi suamiku menghalangi, setiap malam aku merayu untuk bisa di izin kan pergi, tapi jawabannya tetap tidak. Ada 1 malam saat suamiku sholat subuh, dia menangis dalam doa nya, aku tidak tau apa yang dia minta tapi rasanya saat itu hati ku yang tau..
Besok nya dia pergi seperti biasanya dan pulang lebih cepat dari biasanya dengan lusu, akupun bertanya kenapa,? Dia diam, mencium keningku lalu masuk dan mandi. Setelah mandi kami duduk² di teras kami banyak bercerita tentang masa depan yang kami impikan nanti nya, dan kembali lagi aku ingin minta izin untuk pergi merantau ke luar negeri, Dia diam sejenak, lalu dia Berkata "Pergilah, Tapi Ingat 1 hal, 1 langkah kaki mu pergi meninggalkanku kesana maka aku akan pergi seribu langkah menjauh dari mu..
Mendengar itu aku langsung tertawa keras😂😂
Setelah melihat aku berenti tertawa dia memegang tangan ku dan berkata, "Tolong bertahanlah sebentar lagi, ini tidak akan lama, kita memang harus di hadapkan dengan ujian seperti ini dan kita harus bisa melewati ini bersama, Aku akan berusaha lebih dan lebih lagi, jadi tolong bertahanya sebentar lagi."
Aku hanya mengangguk mendengar itu dan benar saja saat melihat hp ada yang memberikan lowongan pekerjaan, gajinya memang tidak seberapa tapi sudah lebih dari cukup untuk memenuhi kebutuhan kami saat itu.
Kehidupan kami berjalan dengan sederhana, sampai pada bulan ke 6 dia bekerja disana dan di berhentikan karna alasan pengurangan karyawan, dan suami ku juga cuma pekerja buru harian bukan karyawan tetap, dan menganggur lagi..
Dan saat itu benar - benar sudah tidak ada lagi harapan untuk tetap menetap disini tapi suami ku masih bersikeras untuk bertahan, dan akhirnya pilihan terakhir dia mengajak kami untuk menemui salah 1 keluarganya di sini dan minta tolong untuk di beri tumpangan untuk sementara waktu,, kami pun numpang tinggal di situ, dalam keadaan suamiku pengangguran, Dan Awal mulanya aku belajar bisnis Online, walaupun masih sepi tapi syukurlah masih bisa untuk beli makan sehari - hari dari Bisnis online itu, tapi mungkin karna itu bukan rumah sendiri jadi pemilik rumah pun mulai Risih karna Sering Berdatangan paket pesanan dari costumer. Pernah sekali saat itu memang lagi ketemu banyak pembeli jadi aku sering keluar rumah untuk mengantar pesanan, dan pada saat itu aku keluar rumah dengan buru - buru karna ada pelanggan yang sudah menunggu di depan dan minta cepat diantar, aku tidak sempat berpamitan dan langsung pergi saja, dan pada saat pulang aku langsung mendapat kata - kata yang sangatlah tidak enak di dengar.
"Kau tidak punya malu yah, main keluar - saja saja tanpa pamit, kau anggap apa kami disini,?? kata nya dengan ketus
Aku hanya tersenyum kecil dan berkata
"Iya maaf, lain kali aku akan pamit".. Aku naik ke atas masuk kamar, memeluk anak ku, sebenarnya aku ingin sekali menangis saat itu, tapi aku tidak bisa menangis didepan suamiku hanya dengan alasan ini.. Aku menahannya,, semakin hari tuan rumah semakin menunjukan ketidaksukaannya padaku. Dan pada akhirnyapun aku menyuruh suamiku untuk pergi merantau lah ketempat lain. Dan kami akan menunggu kembali.. kebetulan pada saat itu ada yang menawari nya pekerjaan di kota lain, dan aku pun menyuruhnya, dia pergi ke kota itu,Aku dan anakku kembali lagi ke kampung halaman.. 2 mingguan tidak ada kabar karna suamiku tidak punya hp saat itu. Sampai akhir nya dapat kabar darinya dan ternyata dia ditipu, sampai ktpnya pun di tahan oleh si penipu.. pada saat seharusnya mereka dapat gaji pertama setelah 2 minggu bekerja orang yang mengambilkan sekaligus orang yang membawah mereka kesana melarikan diri, kabur membawah gaji semua karyawan beserta juga data - data mereka, dan yang tertipu juga banyak ada sekitar 20 orang lebih. Aku menangis Semalaman mendengar itu, dan lagi aku merayu suami ku untuk di izinkan pergi bekerja ke luar negeri, lalu dia menjawab dengan lesunya " Apakah memang sudah tidak ada pilihan lainkah? Ku mohon bertahanlah sebentar lagi, jika kau pergi untuk apa aku mati - matian bertahan disini, tunggulah sebentar lagi sayang, fikirkan anak kita, bagaimana hidupnya jika dia harus jauh dari kedua orang tuanya yang masih hidup?..
Aku tau dia menangis saat mengatakan itu, tapi dia tidak ingin aku tau..
Hanya saja aku tetap bersikeras untuk bekerja karna pada saat itu benar² sudah tidak ada lagi tabungan apapun di tangan, anakku butuh susu, anakku butuh jajan, pempers, mpasi asinya, dan masih banyak lagi keperluan anak usia 2 tahun. Pada Akhirnya suamiku mengizinkan aku bekerja di kota yang tidak terlalu jauh dari tempat tinggal anak ku.
Aku dapat pekerjaan dari teman sekolah ku yang tinggal disana, dan langsung bekerja saat itu juga.. hari - hari aku lewati dan mengosongkan fikiran negatif di dalam otak ku saat itu,, benar - benar otak kusut😁 belum lama itu akhirnya urusan suamiku selesai dan dia dpat pekerjaan baru. Keadaan kami membaik lagi, dan suamiku langsung menyuruhku untuk berhenti bekerja, tapi aku masih ingin bekerja, setelah 3 bulan bekerja aku berhenti dan kembali lagi membawah anakku Ketempat suami ku, merantau lagi, sesampainya kami di sini, suamiku di keluarkan lagi dari pekerjaanya saat itu dengan dengan alasan yang sama Rasanya kembali lagi ke titik Awal di mana semua penderitaan itu bermulah kami seperti di permainkan oleh waktu, dan setelah 1 minggu suami ku menganggur dia dapat kabar dari salah 1 temannya bahwa di gudang tempat dia bekerja dulu sedang membutuhkan karyawan buru harian, dia langsung pergi kesana dan bekerja lagi disana,
Terus bekerja di sana awalnya kebutuhan kami cukup dengan gajinya bekerja disitu, tapi lama kelamaan, kebutuhan kami semakin bertambah, karna harga pasar juga naik - naik, jadi yang awalnya tadi cukup menjadi kurang, dan yang lebih menyedihkannya lagi di tahun itu, adik perempuan ku meninggal, di saat keadaan kami benar² berada di masa sulitnya, di tambahkan pula kesulitan lainnya.
Singkat cerita karna merasa tidak mampu lagi bayar kontrakan di situ dan akhirnya kami mencari kontrakan yang lebih kecil dan murah tentunya.. saat masuk ke kontrakan yang kecil itu suamiku berkata " Ini hanya untuk sementara yah,, Insya Allah secepatnya kita pindah ke tempat yang lebih nyaman. Kata suami ku,
Aku hanya mengangguk, belum lama pindah ke kontrakan baru suami ku di keluar kan lagi dari pekerjaannya nya karna alasan yang sama lagi, pengurangan karyawan,, aku bingung, dan bahkan aku sampai berkata pada suami ku " Apa kita pisah saja dulu, kau carilah pekerjaan yang memadai dulu dan aku juga akan mencari pekerjaan lain juga, karna sepertinya hidup kita terus berputar dan berulang lagi ketitik yang sama..mendengar aku berkata seperti itu suamiku diam sejenak, dan berkata "Sebentar lagi, bertahanlah sebentar lagi, jika tahun ini kondisi kita masih tetap seperti ini, aku kan menuruti apapun katamu. Dia berkata begitu.
Besoknya langsung ada temannya yang mengajak dia bekerja di gudang lainnya. Tapi gajinya lebih kecil dari gudang sebelumnya. 2 minggu dia bekerja disana, ada salah 1 temannya yang menawari pekerjaan dengan gaji yang lebih besar dari gajinya saat itu namun pekerjaannya juga sulit dan tentunya juga keras, tanpa Fikir panjang dia langsung menerima nya dan pada akhirnya sampailah ke kepekerjaan dia yang sekarang,, dengan gaji yang Alhmdullah sudah lebih dari cukup bagi kami yang hanya berkeinginan supaya tidak lapar di tempat ASING.. 2 minggu bekerja disini dia langsung mengajak kami pindah ke kontrakan yang lebih nyaman untuk kami..
Dan sampai sekarang walaupun belum ada apa² nya, Tapi kami sudah sangat bahagia dengan keadaan yang sekarang,,
Dan setiap hari nya Suamiku selalu mengingatkan ku Untuk tetap selalu bersyukur dengan apapun yang ALLAH kasih ke kita, karna pada dasarnya itu untuk menguatkan kita..
Saat Mudik pertama kali banyak yang bilang, sudah 3 tahun lebih kamu merantau tapi belum ada hasil apa²,, TOLONG JANGAN LIHAT HASILNYA, TAPI NILAI LAH PROSESNYA..
Kami baru 3 tahun di rantauan ketika sudah menikah, dan kota ini pun baru pertama kali kami menetap disini, walaupun memang dari masih remaja kami sudah terbiasa merantau, tapi keadaan Saat remaja dan sudah menikah itu sangat jauh..
Orang² yang sudah punya RUMAH SENDIRI DI RANTAUAN, PUNYA KENDARAAN SENDIRI DI RANTAUAN, PUNYA USAHA SENDIRI DI RANTAUAN.. COBA TANYAKAN PADA MEREKA, SUDAH BERAPA LAMA MEREKA DISINI Jawabanya sudah pasti minimal hampir 10 TAHUN, Kalau dalam 10 tahun mereka sudah punya RUMAH SENDIRI DIRANTAUAN ITU BERARTI ADA KELUARGA YANG MENDUKUNGNYA, ATAU JABATAN PEKERJAANNYA DENGAN GAJI YANG TINGGI, JANGAN Bandingankan dengan kami yang hanya punya modal MENTAL dan beharap dalam 3 tahun mempunyai rumah sendiri di rantauan,, NGEHALU IYA...
Segala sesuatu itu memiliki PROSESnya masing - masing, dan cara melewatinyapun berbeda - beda, tapi yang terpenting itu ADA KEINGINAN dan KEYAKINAN Untuk bisa keluar dari TITIK SURAM ITU.
KAMI DI RANTAUAN INI SULIT, SUSAH Harus bertahan dengan keadaan apapun, dengan kondisi apapun, mencari Rezeki sedikit demi sedikit supaya tidak di rendahkan..
DIRENDAHKAN, DIHINAH, DI USIR OLEH Orang - orang terdekat itu kami sudah merasakan semuanya, dan Sekarang Kami sedang berusaha mempertahankan keadaan yang SEDERHANA INI Saja karna kami tidak mau kembali lagi ke TITIK SURAM ITU.