Elvirani Amanda, seorang wanita cantik, ramah, berprestasi dan disukai banyak orang. Namun tak ada yang tahu bahwa ia memiliki keterbelakangan mental hingga terjebak dalam takdir cintanya yang tragis.
•
•
•
"Hay Leo!" ucapku kepada teman laki-lakiku.
Upsss ... sepertinya bukan sekedar teman saja, tapi dia adalah "My Boyfriend". Yupss ... sudah hampir dua tahun kami berpacaran. Kini usiaku menginjak 17 tahun begitu juga dengan dia, yang berarti kami masih bersekolah. Tepatnya di SMA Pelita. Namaku Elvirani Amanda, panggil saja El. Pacarku bernama Leonardo Alfiansyah, panggil saja Leo.
Bukan coklat, sebuket bunga, atau puisi. Aku sangat ingat sekali saat dia mengungkapkan cinta padaku dan ini kali pertamanya seseorang mengungkapkan perasaannya dengan cara yang benar-benar berbeda. Hal konyol yang tak pernah dilakukan seorang pria kepada pasangannya. Dia unik dan aku menyukainya. Saat itu aku sedang duduk di bangku taman sekolah. Tepatnya saat itu kami baru menduduki kelas 2 SMA.
Saat di kelas 1 SMA, ia adalah teman sebangkuku dan aku sangat malas melihatnya apalagi jika bicara padanya, sungguh menyebalkan. Bagaimana tidak? tak pernah sehari pun dia tidak membuatku naik darah. Sungguh pria yang sangat menyebalkan. Walaupun kami sering berkelahi layaknya anak TK yang berebut mainan, kami tetap berteman baik dan menjadi dekat.
"El ... kau dimana bocah," teriaknya yang berpura-pura tidak melihatku yang duduk di bangku taman.
Kupikir dia bodoh atau buta sampai tidak melihatku yang sedang duduk di bangku taman tak jauh dari perpustakaan. Aku dan Leo sering sekali duduk di sana saat jam istirahat karena di sana nyaman dan sejuk. Ini adalah salah satu spot favorit kami di sekolah. Aku hanya diam dan menggerutu kesal. Ia pun melanjutkan aksinya.
“Kamu dimana? Aku tak melihatmu El! Apa kau berubah menjadi makhluk tak kasat mata? pftt," teriaknya lagi sambil menahan tawa. Aku hanya diam melihat tingkah anehnya itu. Ketika ia mendekat ke arahku dan masih berpura-pura tidak melihatku, mataku menatapnya sinis dengan raut wajah yang semakin kesal.
"Wah wahh ... ada yang ngambek nih,” ledeknya, "Hey pohon, lihatlah ada yang sedang marah padaku!" ucapnya sambil mendongakkan kepalanya ke arah pohon yang memayungi kami.
"Dasar pria aneh!" gumamku.
Aku hanya diam dengan wajah datarku. Leo duduk di sebelahku dan menatapku. Aku bisa merasakan itu, sehingga membuatku risih. Tiba-tiba tangannya mendekati wajahku dan ia menyingkap helaian rambutku ke belakang telinga. Dengan wajahnya yang semakin dekat membuatku tersipu dan aku memalingkan wajahku. Dia berbisik di telingaku “kenapa dengan wajahmu? Kau malu?”.
Yang benar saja, saat itu entah mengapa aku salah tingkah terhadap perlakuannya yang seperti itu. Napas nya benar-benar terasa di telingaku sehingga membuatku geli. Tak ingin merasa lebih malu, aku segera beranjak dari bangku.
"Tidak! siapa yang malu? Biasa aja tuh!" ucapku ketus.
Di posisiku yang sudah bangkit dari bangku itu, aku melangkahkan kakiku untuk pergi. Namun belum satu langkah pun, telapak tangan yang kekar dan hangat itu menggenggam tanganku yang mungil. Siapa lagi jika bukan Leo!
"Mau kemana? ... disini saja. aku ingin memberimu sesuatu,” ucapnya yang masih menggenggam tanganku.
Aku pun duduk kembali di bangku itu. "Apa? cepatlah!" ucapku tanpa melihat ke arahnya. "Lihatlah kemari dan pejamkan matamu sebentar!" pintanya.
Aku pun mengikutinya. Aku bingung sekali apa yang ingin dia berikan padaku. Tak lama kemudian, ia memintaku membuka mata perlahan. Lalu aku menurutinya. "apa ini?" tanyaku bingung.
"Apa kau tak lihat? ini sudah jelas daun,” ucapnya sambil memegang dua helai daun, dengan daun yang masih berwarna hijau di tangan kanannya dan daun yang sudah berwarna coklat dan kering di tangan kirinya. "Lalu untuk apa daun ini?" tanyaku semakin bingung.
Ia memintaku untuk memilih antara kedua daun itu. Aku semakin dibuat bingung olehnya. Kutatap dua daun itu secara bergantian. Aku mengira dia akan memberikan sesuatu yang istimewa, entah itu bunga atau coklat. Tetapi yang dia bawa dua daun yang entah maksudnya apa.
"El ... dengarkan aku dulu!” ucapnya serius, “jika kau pilih hijau maka kau adalah daun dan aku pohonnya. Kau akan terus tumbuh dirantingku dan kita akan tumbuh bersama,” ucapnya lalu tersenyum, “jika kau pilih coklat maka kau adalah daun yang akan pergi meninggalkan pohonnya.”
Aku terdiam sejenak. Mencerna kata-katanya itu. Entah mengapa jemariku ingin sekali menggapai daun hijau itu. Pada akhirnya aku memilih yang hijau. Dia tak menyangka jika aku akan memilih itu. Ia pun bertanya untuk memastikan. Aku serius dengan pilihanku, karena aku mulai nyaman di sampingnya Dia terlihat bahagia sekali dan aku yakin cintanya tulus walau kata orang pacaran masa SMA itu hanya cinta monyet.
"Berjanjilah untuk tetap bersamaku," ucapnya sambil menggenggam tanganku.
Aku hanya mengangguk dan menyematkan senyumku. Sejak hari itu kami resmi menjadi sepasang kekasih. Setiap harinya selalu ada sepenggal kisah tentang aku dan dia. Tentang Pohon dan daun hijaunya.
Aku tak pernah berpikir bisa sejauh ini, yang awalnya hanya teman sebangku dan sekarang kami menjalin hubungan kekasih. Yang awalnya aku sangat jengkel terhadap sifatnya, kini aku menyukai setiap hal darinya.
Akhir-akhir ini kami sering belajar bersama di sebuah taman tak jauh dari tempat tinggalku, Taman Melati. Sore ini, tepatnya jam 3 kami sudah membuat janji untuk bertemu di sana. Aku sangat hafal sekali kebiasaan Leo, mulai dari sering telat makan, bangun telat, sampai-sampai bertemu denganku juga telat. Entah apa alasan yang sebenarnya, dia seperti menyembunyikan sesuatu dariku. “Apa dia selingkuh?” pikirku.
Suasana pulang sekolah yang riuh seperti biasanya, jalan yang ramai kendaraan dan pejalan kaki. Beginilah jika tinggal di kota yang cukup besar, bisa dibilang sebagai pusat aktivitas penghuni kota ini.
***
“Hay sayang, sini!” teriaknya.
Aku yang baru saja tiba di taman melati, disambut olehnya. Tak biasanya Leo datang lebih dulu dariku. Saat tiba di tempat Leo berada, aku melirik jam ditanganku, “Tumben banget ... “ ucapku.
“hahaha ... Tumben kenapa?” tanyanya.
“Nggak telat!” ucapku menekan setiap kata.
“Hari ini spesial,” ucapnya sambil menatapku dan tersenyum.
“Aku janji bakal bikin kamu bahagia sebisa aku sayang ... “ lirihnya dalam hati.
Sore itu kami menghabiskan waktu belajar bersama sambil menikmati es krim bang Asep langgananku yang biasanya mangkal di taman melati. Coklat dan vanila favorit kami. Seperti biasanya taman ini ramai pengunjung. Banyak anak-anak yang sedang bermain di sana, tak sedikit pula wanita paruh baya yang tak lain adalah orang tua dari anak-anak itu sedang berbincang-bincang sesekali memperhatikan anaknya.
Setelah menghabiskan sore yang menyenangkan, Leo mengantarkanku pulang dengan motornya. Angin sore menerpa wajahku yang tengah merekah senyum, begitu pun dengan Leo. Aku bahagia sekali bisa menghabiskan waktu bersamanya, berdua.
***
“El ... Kau kenapa? Kok lesu sih,” tanya Rara teman sekelasku.
Aku yang sedari tadi melamun hanya diam dan bingung, “eh ... ng-nggak kok, I'm okey”
“Kau ... Masih memikirkannya?” tanya Rara lagi.
Aku menatap Rara dengan pikiranku yang masih setia memutar kenangan-kenangan itu. Kenangan saat aku bersamanya. Aku tersenyum pahit. Di hari ini, hari kelulusan SMA yang seharusnya aku dan dia bersama-sama merayakannya, tetapi semuanya berubah karena aku. Entah apa yang terjadi pada diriku. Aku merasa sudah sembuh, tapi apa yang terjadi? Aku mengulangi kesalahan yang sama.
Sejak kecil aku mempunyai keterbelakangan mental yang cukup serius. Tak ada yang tahu tentang keadaanku sekalipun orang tuaku. Aku mungkin terlihat baik-baik saja di luar, orang-orang bilang aku adalah anak yang baik, ramah, pintar, cantik, dan semua hal baik ada dalam diriku. Aku siswi berprestasi di sekolah dan semua orang melihat itu. Namun mereka tidak pernah tau tentang rasa sakitku. Aku tak pernah tahu ini semakin parah sejak kapan. Dulu aku masih bisa mengendalikannya, tapi ketika aku melihat orang yang sangat aku cintai menderita aku tak tega.
Hingga suatu ketika ibuku, seorang wanita di dunia ini yang paling aku sayangi dan cintai mendapatkan hal yang tidak baik dari ayahku. Dia disiksa oleh ayahku meskipun itu hanya hal yang sepele, ayahku tak memberi ampun pada ibu. Aku yang setiap malam mendengar tangisan ibuku, aku sudah tak sanggup lagi. Hal gila terjadi di luar kendaliku.
“Aku lelah ... aku muak dengan ini semua! arghhhhhhhhhh ...” teriakku sambil menancapkan sebuah pisau tepat dijantung ayahku.
Aku membunuh ayahku tepat di depan ibuku. Saat itu aku melihat ibuku yang ketakutan dan ia terus menangis. Aku menghampiri ibuku dengan pisau di tanganku.
“Aku benci melihat ibu menangis! arghhhhhhh ...” teriakku dan menancapkan pisau itu.
Ruangan itu seketika hening, tak ada lagi tangisan yang kudengar. Aku merasa lega. Namun saat aku tersadar rasa sakit yang begitu dalam menyerang dadaku hingga sesak.
“A-apa yang aku lakukan ... A-aku su-sudah membunuh mereka ... El apa yang kau lakukan!!! Ibu ... Ayah, maaf, ma-maafkan El ....” Aku menangis dan menyesal dengan apa yang aku lakukan. Semuanya di luar kendaliku.
Sejak saat itu aku tinggal sendiri. Setelah aku lulus SMP, beberapa bulan aku tak pernah keluar dari rumah. Lebih dari dua kali aku berniat untuk mengakhiri hidupku, tapi tak pernah berhasil. Mungkin Tuhan belum mengizinkanku untuk meninggalkan dunia, tuhan masih memberiku kesempatan untuk memulai semuanya dengan yang baru. Aku berusaha meyakinkan diriku untuk melihat keluar. Sudah lama aku tak menghirup udara segar. Hanya ada sesak dan isak yang menaungi diriku selama ini. Pertama kali aku melangkah keluar dari rumah, saat itu aku bertemu seorang pria yang sangat menjengkelkan di supermarket.
“Permisi ...” ucapku dingin.
Pria itu tak menggubrisku. Aku terus memintanya untuk minggir, karena ia menghalangi barang yang ingin kuambil. Sungguh sial, di hari yang kunantikan terbebas dari rantai dan rasa sakit itu, mengapa harus bertemu orang seperti dia. Dengan santainya dia mengatakan “apa sih, berisik!”, lalu pergi begitu saja.
“Dasar aneh!” gerutuku.
Setelah dari supermarket aku pun pulang ke rumah. Kini aku merasa diriku semakin membaik dan aku memutuskan untuk melanjutkan sekolahku ke jenjang SMA. Awal masuk sekolah aku bertemu lagi dengan sosok pria yang kutemui di supermarket waktu itu. Aku tak menyangka dia menjadi teman sebangkuku. Ternyata sifatnya memang sangat menjengkelkan. Namun entah mengapa aku nyaman bersamanya hingga kami memiliki status pacaran.
Kebiasaannya yaitu suka terlambat saat ada janji bersamaku dan sering slow respon membalas chat dariku. Yang paling aku ingat saat di taman melati pertama kalinya ia tepat waktu. Aku merasa aneh dengannya, seperti ada yang di sembunyikan. Di hari berikutnya aku mendapat kabar bahwa Leo pacarku, dirawat di rumah sakit. Aku sangat syok mendengar kabar itu dan aku bergegas ke rumah sakit.
Setiba di rumah sakit, aku menuju resepsionis dan bertanya ruangan pasien atas nama Leonardo Alfiansyah. Setelah mendapatkannya, aku segera menuju ke ruangannya. Saat aku tiba di depan pintu tiba-tiba dokter keluar dari ruangannya.
“ Dokter, bagaimana keadaan pasien yang ada di dalam?” tanyaku khawatir.
“Emm ... Maaf, mbak siapanya pasien ya?” tanya dokter.
“S-saya pacarnya dok ... Dokter, tolong kasih tau saya Leo kenapa dok? Dia sakit apa?”
“Mbak bisa ikut saya ke ruangan, mari”
Di ruangannya, dokter memberitahu semua tentang penyakit yang diderita Leo selama ini. Ternyata Leo mengidap kanker yang sekarang sudah di stadium akhir dan kini sudah menyerang ke otak. Bagaikan disambar petir di siang bolong, aku yang tidak tahu tentang penyakitnya selama ini dan betapa Leo menderita menahan rasa sakitnya sendiri.
Aku terkulai lemas dan menangis. Saat melihat wajahnya yang pucat pasi itu aku tak sanggup melihatnya seperti itu. Kugenggam erat tangannya dan sungguh air mataku tak terbendung lagi.
“Sayang, hey ... Bangun ya. Kenapa kamu gak kasih tau aku kalo kamu sakit? Kenapa kamu ngerasain semuanya sendirian sayang ... Aku selalu ada di samping kamu sayang, kenapa kamu gak mau berbagi rasa sakit ini ke aku!” ucapku sambil menangis.
“S-sayang, aku gak kenapa-kenapa kok ... Kamu jangan khawatir ya, aku akan berusaha buat kamu bahagia disisa waktuku sayang ... “ ucap Leo lirih dengan napas yang tersengal-sengal.
“gak kenapa-kenapa kamu bilang, haa ... Kamu harus bertahan ya sayang, jangan tinggalin aku,” ucapku masih menangis.
“Maaf aku belum bisa kasih kebahagiaan ke kamu sayang ... Maaf aku sering bikin kamu marah karna aku gak nepatin janji,” ucapnya lirih hampir tak terdengar.
Aku hanya menangis mendengar setiap perkataannya dengan suaranya yang lirih.
“Ahhh ... sa ... Sakitttt ... Sayang .... Sakit,” ucapnya makin lirih dengan napas yang tersengal-sengal.
Aku sangat tidak tega melihatnya menderita. Malam itu aku melepaskan semua alat bantu yang menempel ditubuhnya.
Aku membawa Leo keluar dari rumah sakit tanpa sepengetahuan siapa pun.
“sayang kamu harus bertahan ya ... Sedikit lagi,” ucapku dengan isak tangis.
Aku membawa Leo ke kostannya. Ia tinggal sendiri, dan yang aku tahu orang tuanya sudah tiada. Dia hanya mempunyai om dan tantenya dikampung halamannya. Sesampai di kostan aku membaringkan Leo di kasurnya. Karena tidak ada alat bantu kondisi Leo semakin memburuk. Yang aku lakukan saat ini benar-benar di luar kendaliku. Aku merasa sesak melihatnya menderita terbaring lemah di rumah sakit itu.
“El ... Sayang, maaf aku tidak bisa bertahan lagi, aku sangat mencintaimu ...” ucap Leo lirih dan menghembuskan nafas terakhirnya.
Di satu sisi aku merasa lega karena dia bisa tenang beristirahat di sana tanpa merasakan sakit seperti tadi. Namun di sisi lain aku juga merasa bersalah untuk yang kedua kalinya nyawa orang yang sangat aku cintai hilang di tanganku.
***
“El ... Ayo yang lain sudah menunggu,” teriak Rara yang sudah berkumpul bersama teman-teman lainnya untuk foto bersama.
“Eh ... Huftt,” aku menghela napas, “iya sebentar!” Jawabku dengan nada agak teriak.
“Aku ingin hidup yang normal, Tuhan tolong jangan hadirkan lagi rasa sakit itu. Aku tak ingin terulang untuk yang ke sekian kalinya. Semua yang tidak aku inginkan, mengapa harus terjadi? Kuharap aku tak akan menyakiti orang yang kucintai, maafkan aku ibu, ayah dan Leo ... Aku sangat mencintai kalian,” batinku.
Perjalanan yang sangat panjang, rumit, dan tragis. Aku tak pernah meminta hidupku berjalan seperti ini, tetapi Tuhan lebih tahu apa yang harus aku hadapi dan jalani. Semua pasti ada hikmahnya. Terima kasih untuk orang yang pernah membuatku bangkit dari rasa sakit. Pohonku sudah tiada, maka daunnya akan ikut gugur. Sampai aku menemukan pohon yang akan kutumbuhi daun, tapi kali ini aku harap pohon dan daunnya akan bertahan lama.
~TAMAT~
kita tak pernah tau apa yang akan terjadi pada takdir cinta kita, jangan biarkan kau melakukan hal yang akan membuatmu menyesal... berlalu lah dari hal yg mengurung mu dalam rasa sakit. kita tak bisa melawan takdir tapi jangan pernah menyerah untuk menjadi lebih baik...
___________________________________________________
Halo guyss thanks udah mampir dan baca, nantikan terus ya cerpen selanajutnya😁
SALAM MANIS DARI AUTHOR
@RaSgta