Namaku Bella, malam itu semua tubuhku terasa panas, keringat membasahi wajahku. Aku bermimpi begitu menyeramkan dan aku ketakutan seperti di dunia nyata. Tapi satu hal yang membuatku bertanya-tanya, mengapa mimpi itu sering muncul dari tidurku?
"Bella ... Bella ... wanitaku, datanglah padaku, datanglah di sini bersamaku, aku mohon, tolong aku, aku sendirian bertahun-tahun menunggumu, tolong datanglah ... datanglah ...!" ucap seorang laki-laki bersuara lemah seperti orang sedang kesakitan.
"Aaaa...!" jeritku keras. Aku terbangun dari tidurku.
"Ternyata hanya mimpi, kenapa aku selalu memimpikan yang serupa?" Aku menghela nafas dan mengelap keringat di keningku cukup banyak.
Aku bangkit dari ranjang meraih handuk di lemari dan pergi ke toilet untuk membersihkan diri lalu bergegas menemui ibu di dapur.
"Ibu, apa Bella boleh bertanya sesuatu?" tanyaku ragu.
"Ya, boleh dong sayang. Mau tanya apa kamu?" ucap ibu yang sedang fokus pada masakannya.
"Bella memimpikan rumah kita yang lama itu lagi, Bu. Suara laki-laki yang memanggil nama Bella berkali-kali."
"Itu hanya kebetulan saja, sayang," bantah ibu.
"Tapi mimpi itu sudah 3 kali berturut-turut mendatangiku pekan ini. Lelaki itu seperti sedang kesakitan, dan wajahnya begitu menyeramkan, Bu. Bukankah orang-orang juga bilang bahwa rumah lama kita itu adalah rumah berhantu. Apa benar, Bu?" tanyaku yang membuat ibu semakin kesal.
"Hentikan, Bella. Jangan pernah kamu bahas lagi tentang rumah itu, mengerti?" Ibu benar-benar marah kali ini.
"Baiklah, jika ibu tidak mau mengatakannya, Bella akan mencari tahu sendiri," ucapku dengan kesal pula dan berlalu ke luar rumah.
Hari pun mulai sore, aku pergi ke rumah lama keluargaku dulu saat masih ada kakek dan nenek serta ayahku. Aku tidak tahu ada kejadian apa sehingga kami sekeluarga pindah dari rumah itu. Sekarang rumah itu kosong dan tidak ada penghuninya. Dibiarkan begitu saja. Tidak dijual, tidak dikontakkan ataupun tidak disewakan. Aku pun bertanya-tanya sedari aku masih berumur 5 tahun.
Tapi kali ini langkahku tak boleh goyah. Aku harus tahu ada apa sebenarnya di rumah itu. Konon orang-orang disekitar rumah itu bilang, bahwa ada suara erangan kemarahan seseorang di sana, dan sering ada suara pukulan-pukulan keras yang berbunyi.
Pernah suatu hari warga di sana pergi ke rumah lamaku untuk memastikan bahwa itu hanya ilusi mereka. Tetapi saat mereka memasuki rumah itu, apa yang dilihat mereka memang benar, ada suara kemarahan seorang laki-laki dan barang-barang yang ada di sana semua di lempar ke arah manapun, tetapi yang warga bingungkan adalah mereka tidak melihat satu sosok makhluk pun di sana. Maka mereka menyimpulkan bahwa itu rumah berhantu.
Aku masih melangkahkan kakiku menuju rumah itu, jaraknya lumayan jauh hanya 30 menit dari rumahku yang sekarang. Tidak lama kemudian aku telah sampai di rumah lamaku. Rumah yang besar dan berpagar melingkar di area rumah itu. Tapi rumah itu sekarang begitu buruk, halamannya yang luas ditumbuhi rerumputan yang sangat panjang. Aku pun takut memasukinya.
Dengan gemetar, aku mulai memasuki rumah itu. Jantungku seakan mau lepas, karena detak jantungku bertambah kencang. Entahlah, Akupun tidak mengerti.
"Ya Tuhan, kenapa dadaku begitu nyeri? Ada apa ini?" gumamku mengaduh sembari memegang dadaku.
Pintu rumah itu terbuka lebar, aku membelalakan mataku bulat hingga aku melangkah masuk ke rumah itu perlahan. Tetapi semakin aku memasukinya dadaku semakin nyeri.
"Siapa itu? Apa ada orang yang datang ke rumah ini lagi? Sialan...!!" umpat seseorang penghuni rumah.
"Ah, dadaku sakit sekali, kenapa ini?" Lagi-lagi aku mengaduh kesakitan.
Sosok penghuni rumah berjalan ke arah tempat di mana aku berada. Suara keras yang terdengar begitu menyeramkan bagiku. Aku ketakutan sehingga dengan cepat aku bersembunyi di dalam kamar yang entah milik siapa dulu kamar itu. Aku memasuki kolong ranjang yang sangat berdebu dan kotor.
"Tidak ada orang, tetapi kenapa pintunya terbuka?" Siapa yang datang?" ucap sosok makhluk itu.
"Tunggu ... kenapa jantungku berdetak lebih cepat? Baru kali ini jantungku seperti ini?" ucap sosok makhluk itu lagi.
"Apa jangan-jangan dia menemuiku? Ya... aku yakin. Dia ada di sini. Tapi di mana dia sekarang?" ucapnya dengan bahagia.
Sosok makhluk itu menelusuri keberadaanku lewat detak jantungnya yang semakin kencang, pertanda aku berada dekat dengannya.
"Kumohon jangan mendekat. Aku menyesal tidak menuruti kata ibu. Ternyata orang-orang itu benar bahwa ada sosok makhluk halus di rumah ini," batinku sambil menangis tanpa bersuara.
Aku semakin panik saat sosok itu membuka kamar yang aku masuki. Aku melihat ada kaki yang menapak mendekatiku. Kulitnya berwarna hitam dan berbulu lebat. Makhluk apa itu? Aku bertanya-tanya. Aku semakin takut.
Dan tiba-tiba saja makhluk itu menundukkan kepalanya di kolong ranjang tepat dihadapanku.
"Aaaa...!!" aku menjerit sekuat tenaga dan akhirnya aku pingsan.
Sosok itu begitu nenyeramkan, baru pertama kali aku melihatnya. Wajahnya berbulu hitam dan bermata besar. Apa mungkin dia si buruk rupa?
sosok buruk rupa itu menggeserkan ranjang yang besar dengan tangannya yang kuat lalu menggendongku dan menjatuhkanku di ranjang yang sudah bersih dengan perlahan.
"Bella ... aku sudah lama menunggumu. Kau tumbuh menjadi Gadis yang cantik, tidak mungkin kau mau denganku yang buruk rupa ini," ucapnya sambil menggenggam tanganku dan meraba wajahku penuh kerinduan.
Tak lama kemudian aku membuka mataku perlahan. Sosok buruk rupa itu menutupi wajahnya dengan kain dasar putih agar aku tidak pingsan lagi saat melihat wajahnya.
"Si-siapa kamu? Kenapa kamu berada di rumah ini?" ucapku gugup.
"Aku makhluk si buruk rupa penghuni pohon mangga emas. Aku sudah puluhan tahun terkurung di sana karena kutukan. Saat itu ayahmu memetik mangga emas milikku dan akhirnya aku terlepas dari kurungan itu. Aku sangat bahagia saat itu tapi ada 2 syarat lagi yang bisa membuatku terlepas dari wajah buruk rupa ini selamanya, yaitu bila aku menciummu maka wajahku akan kembali sedia kala dan yang kedua menjadikan kamu pengantinku. Tapi nasib tidak berpihak padaku, ayahmu mengingkari janjinya hingga aku terkurung di sini karena ayahmu memasang tali mantra yang melingkar di rumah ini dan aku tidak bisa kemana-mana. Jadi aku harus menunggumu hingga waktunya tiba," kata makhluk itu menjelaskan.
"Tapi aku tidak mau menikah denganmu, tolong jangan paksa aku," ucapku jujur dengan penolakan.
"Aku tahu itu, mana ada orang yang mau menikah dengan makhluk halus sepertiku," ucapnya kecewa.
Aku terdiam mendengar perkatannya, beruntung dia makhluk yang pengertian.
"Umurku memang sudah ratusan tahun, tapi wajahku tetap lelaki yang berumur sama denganmu. Apa kau mau melihat wajahku yang asli?" ucapnya padaku yang membuat aku harus mengangguk dengan terpaksa.
"Baiklah, tutup matamu dan aku harus melakukan sesuatu yang mungkin membuatmu marah, apa kau siap?" ucapnya dan lagi-lagi aku pun harus menurutinya.
Aku pun menutup mataku perlahan, tiba-tiba ada satu sentuhan lembut yang mendarat di bibirku. Makhluk itu menciumku cukup lama dan sialnya aku begitu menikmati ciuman darinya. Dasar bodoh!!
"Bukalah matamu, Bella!" pintanya.
Saat aku membuka mata, betapa terkejutnya aku bahwa makhluk buruk rupa itu berubah menjadi pria yang tampan. Aku terpesona melihatnya. Tapi tetap aku tidak mau menikah dengannya karena dia adalah makhluk yang berbeda alam denganku.
"Kau ... ke-kenapa wajahmu bisa berubah menjadi bersih?" tanyaku gugup.
"Ini lah aku sebenarnya, Bella. Aku dikutuk oleh seseorang karena aku pernah menolak perempuan sebangsaku, hingga dia menggutukku agar tidak ada yang mau denganku," ucapnya bercerita dengan lirih.
"Sekarang aku tidak ingin memaksamu untuk menjadi pengantinku. Aku hanya butuh ciuman pertama dari seorang gadis. Kau boleh pergi dari sini, Bella. Tetapi kau harus membunuhku terlebih dahulu agar aku lenyap," ucap makhluk itu lagi dan membuat aku bingung serta bertanya-tanya.
"Kenapa begitu, aku tidak ingin membunuh, karena aku bukan pembunuh," ucapku panik saat itu. Ini sungguh tidak masuk akal.
"Kamu bukan pembunuh. Kamu memang ditugaskan harus membunuh makhluk sepertiku karena jika tidak, maka aku akan selamanya dikejar-kejar bangsaku. Aku tidak ingin dikutuk lagi, jadi kau harus melenyapkanku, Bella."
"Aku tidak bisa," ucapku takut.
"Aku mohon, tusuklah aku dengan belati emas ini, belati ini selalu ada bersamaku dan hanya kau yang bisa melakukannya," makhluk itu mendesakku dan memberikan belati emas itu di tanganku dengan sentuhannya yang dingin.
"Ta-tapi aku ...," ucapku terhenti.
"Aku mohon! Terima kasih karena kau telah menemuiku, terima kasih karena kau telah tumbuh menjadi gadis yang baik, dan terima kasih untuk ciuman yang telah membuat wajahku kembali sedia kala," makhluk itu menatap lekat diriku, aku pun menjadi salah tingkah dibuatnya.
Makhluk itu mendekap tanganku dengan belati emas yang sudah berada dalam genggaman tanganku, kemudian makhluk itu menggenggam tanganku erat, di arahkannya belati emas dalam genggaman tanganku itu ke arah jantungnya.
"Aaaa...!!" Makhluk itu mengerang kesakitan.
"Se-la-mat ting-gal Be-lla," ucap makhluk itu terbata.
Makhluk itu pun lenyap hingga tak terlihat. Aku menangis terisak. Entah kenapa aku begitu merasa sedih atas kepergiannya tetapi juga aku merasa iba melihatnya.
Akhirnya terjawab sudah misteri di balik rumah lamaku yang berhantu, ternyata adalah rumah kutukan makhluk si buruk rupa.
-----END-----