PLAKK!
Satu tamparan mendarat tepat di pipi mulus raja kegelapan itu. Pupil matanya melebar dan dia melirik siapa yang baru saja berani menampar nya.
"Beraninya kamu menyentuh tubuh gadis yang baru saja kamu temui,"
Ia melihat tuan putri yang masih gemetaran di depannya itu. Tanpa mengatakan sepatah katapun dia mengelus pelan rambut gadis cantik itu dan tersenyum padanya.
Kemudian dia berjalan meninggalkan kamar.
"Ah-! Jika butuh bantuin panggil saja Rei," ucapnya sebelum menutup pelan pintu kamar.
Rui sempat tidak percaya apa yang baru saja dia lihat. Kenapa?
"Kenapa dia memperlakukan ku begitu?" ia hampir menangis.
Langkah kaki terdengar memasuki kamar. Wajahnya yang terkena cahaya lilin perlahan terlihat. Sosok pria dewasa dengan kacamata yang tertengger manis di wajahnya.
"Si-siapa kau?"
Rui yang masih terlihat waspada itu masih belum bisa mempercayai siapapun.
"Anda bisa memanggil saya Rei. Saya akan menyiapkan semua yang anda perlukan mulai sekarang," ucapnya sopan namun dengan nada tidak terlalu bersahabat.
"Kenapa kalian menerima ku di sini? Bu-bukankah kalian akan membunuh siapa saja yang berani mengganggu kalian?"
Ia gemetaran tidak karuan. Namun masih penasaran dengan apa yang baru saja terjadi.
"Anda pasangan Yang Mulia. Memangnya ada alasan lain? Ngomong-ngomong soal membunuh, kami ini bukan monster. Kami hanya meminum darah manusia seminggu sekali untuk memperpanjang umur,"
Jawaban darinya membuat tuan putri sedikit kebingungan. Pasalnya, orang-orang selalu mengatakan hal buruk tentang penyihir vampir di negeri ini.
"Be-begitu ya. Maaf telah mengatakan hal buruk tentang kalian dan menampar tuan mu," ia sedikit menunduk dan menyesali perbuatannya.
"Itu urusan anda dengan Yang Mulia. Jadi apa yang bisa saya bantu?"
"Ah-! Siapkan air mandiku dan beberapa baju ganti. Aku akan melakukan yang lain sendiri," pipinya sedikit memerah karena bajunya diganti tanpa sepengetahuan dirinya.
"Baiklah. Setelah selesai anda harus turun untuk makan siang," ia panik undur diri.
"Eh! Sekarang sudah siang?"
"Di sini tidak ada perbedaan malam atau siang karena langit selalu gelap. Bangsa vampir seperti kami tidak bisa berjalan terlalu lama di bawah sinar matahari," ia menjawab kemudian keluar dari kamar.
"Se-sepertinya aku pergi ke dunia lain,"
Rui segera membersihkan tubuhnya. Entah kenapa luka gigitan di lehernya tidak hilang dan rasa sakitnya semakin lama semakin terasa. Gaun yang disiapkan adalah gaun tidak berenda. Hanya gaun santai biasa yang tidak terlalu mengembang. Kain yang digunakan namun sangat bagus, bahkan lebih bagus dari butik di kerajaan.
'Jangan-jangan ini dibuat dari kulit manusia?'
"Oh ya, Rei! Bisa bantu tata rambutku?"
•••
"Tuan putri tidak turun ya?" Kana yang sedang bergelayut pada kakak nya itu tiba-tiba bertanya di tengah suasana hening.
Mereka kecuali Rei berkumpul di ruang tengah yang memiliki beberapa sofa panjang. Tidak tahu apa yang mereka kerjakan namun setiap orang memiliki hal yang harus diurus.
"Hoy, berhenti menyentuhku!" Haru menyingkirkan adiknya yang sedari tadi mengganggu nya membaca.
"Kakak, kau kejam sekali~"
"Tunggu saja. Dia akan turun dengan Rei," Shiyu yang tengah duduk di sofa seraya memegang beberapa kertas.
"Ngomong-ngomong Yang Mulia. Dari mana anda mendapatkan lebam di pipi itu?"
Pertanyaan Tada membuat pupil mata tuannya itu melirik. Ia tidak bereaksi, hanya tersenyum kecil kemudian memasang wajah masam.
"Entahlah. Aku baru saja mendapat tamparan cinta dari seorang gadis yang sangat cantik,"
Jawaban nya membuat Kana dan yang lain tidak bisa menahan diri untuk tertawa.
"Sepertinya mulutmu jadi gila karena hidup terlalu lama. Kau harus segera memutuskan kapan untuk mati," sinis Haru dan membuat suasana menjadi mencekam.
Tuan putri turun bersama Rei dan sambutan hangat ia dapatkan. Pandangannya pada orang-orang tersebut perlahan pun berubah.
Rei menuntun nya menuju ruang makan. Di dalam ruangan tersebut terdapat satu meja panjang dengan enam kursi yang mengelilingi nya. Hanya ada satu piring yang terisi dengan segelas susu yang tergeletak manis di sebelahnya.
"Apa kalian tidak makan bersama?" pertanyaan kecil keluar dari mulut tuan putri setelah dipersilahkan duduk oleh Rei.
"Ah-! Kami tidak perlu makan seperti manusia," jawabannya membuat tuan putri sadar dan membodohi dirinya sendiri.
'Akh! Seharusnya aku tidak usah bertanya!"
"A-aku minta maaf,"
"Anda harus makan yang banyak. Tidak perlu minta maaf. Kalau begitu saya permisi,"
Rei pergi meninggalkan nya sendirian begitu saja. Ia melihat sepiring steak di depannya.
"Jangan-jangan dia memberi ku makanan agar bisa meminum darahku lagi? Tanpa aku sadari aku tinggal di dekat monster,"
"Aku penasaran dengan isi kepala tuan putri yang manis ini?"
Seseorang menghampirinya dan sekarang sudah duduk di sebelah tuan putri.
"GYAAAA!!!"
Kana sudah duduk di sana seraya cengar cengir. Wajahnya selalu terlihat riang sampai sampai mencurigakan.
"Kenapa tuan putri selalu menganggap kami seperti itu? Hati ku jadi sakit," ucap Kana seraya merintih sedih.
"So-soalnya kalian kan vampir. Pasti akan meminum darahku juga kan? Bahkan orang yang bernama Shiyu itu melakukan nya," tegasnya dan membuat Kana melongo sebentar.
"Sepertinya anda salah paham," jawabnya melunak.
"Salah paham??"
"Bagaimana kalau saya bilang cinta sejati? Vampir penyihir seperti kami itu bisa mengikat satu orang sampai akhir hayat kami. Keren kan? Apa gigitan Yang Mulia masih berbekas?" tanya Kana dan membuat Rui sadar lukanya tidak hilang dan meninggalkan bekas luka yang agak menonjol.
"Benar, ini sedikit menonjol dan sakit,"
"Ahaha, tentu saja. Itu adalah tanda dari Yang Mulia, bisa di artikan. Anda adalah pasangannya seumur hidup,"
"He? HEEEE!!??? YANG BENAR SAJA??! KA-KAMU JANGAN BERCANDA YA?!!" ia benar-benar tidak percaya. Kana hanya tertawa dan meninggalkan tuan putri sendirian lagi. Dia tidak berselera makan.
Angin berhembus dan menerbangkan tirai dan membuat pemandangan luar terlihat. Aroma bunga membuatnya penasaran karena tidak mungkin ada tanaman yang tumbuh di daerah seperti ini.
Tap.....tap.....tap....tap..
Langkah kecilnya perlahan mendekati jendela yang tepat di samping meja makan tersebut. Tangannya perlahan membuka jendela dan di balik jendela tersebut ada sebuah kota kecil yang sangat subur tepat di kaki kastil. Kota tersebut sangat jauh berbeda dengan pemandangan kastil yang selalu gelap. Disana sangat subur dengan bangunan bangunan kecil yang sangat rapi.
Seakan seperti negeri dongeng yang tidak diketahui dunia luar.
"Waahh! Ini bukan ilusi kan?! Ini bahkan lebih indah ada kerajaan matahari,"
Matanya terkagum kagum melihat kota yang berada di tengah kegelapan itu. Hanya di kota tersebut cahaya matahari bersinar terang.
Tuan putri itu sedikit berjinjit untuk melihat keindahan tersebut sampai ia tidak menyadari kakinya licin dan hampir jatuh dari jendela.
"Hampir saja. Tuan putri ini benar-benar tidak bisa diam, ya?"
Seseorang dengan suara manis itu memeluk tuan putri dari belakang agar tidak terjatuh. Rambutnya yang keunguan itu menyentuh pipi tuan putri.
'Matanya cantik sekali'
"Apa yang kamu lihat?"
Shiyu menurunkan tuan putri dari pelukannya. Ia tersenyum dan merapikan rambut tuan putri yang berantakan terkena angin.
'Pipiku jadi panas'
"Anu, kenapa disini ada kota seindah itu? Padahal orang-orang sering bilang disini hanya ada kegelapan," tanyanya dan membuat lelaki itu berpikir sebentar.
"Bagaimana jika tuan putri lihat langsung kesana? Jika kamu ingin tinggal disini, hilangkan pikiran orang-orang yang kalut padamu. Padahal wajahmu manis begini," jawabnya lembut dan langsung menggandeng Rui menuju cermin besar yang tiba-tiba muncul di depan mereka.
"Tutup matamu sebentar. Ini tidak akan lama," keduanya masuk bersamaan ke dalam cermin tersebut dan langsung berada di tengah-tengah kota yang tadi tuan putri lihat. Banyak sekali orang-orang yang sedang lalu lalang di sana.
Rui membuka matanya dan melihat suasana kota yang sama damainya dengan kerajaan yang selama ini ia tinggali.
"SALAM KEPADA YANG MULIA!"
Satu persatu orang yang lewat memberi salam dengan ramah. Rasanya semua ini hanya mimpi karena cerita yang beredar tidak sedamai ini.
'Apa mereka tidak menunjukkan sisinya yang lain pada masyarakat?'
"Ayo, kamu bilang ingin melihat lihat bukan?" Shiyu menggandeng tangan tuan putri dan mulai berjalan menuju alun-alun kota. Di sana banyak sekali toko toko dan pedagang yang penuh di sisi sisi air mancur.
Mereka berdua menghampiri satu persatu pedagang untuk melihat lihat. Bermain-main dengan berbagai mainan dan membeli permen kapas serta sate yang dijual disana. Semakin lama semakin dekat mereka berdua. Tertawa bersama dan mengobrol sepanjang jalan.
Langit sore mulai terlihat. Mereka berdua kembali pada titik awal yaitu air mancur di alun-alun. Kelap kelip lampu mulai terlihat. Seorang anak kecil dengan sekeranjang bunga Lily putih menghampiri mereka berdua.
"Nona dan Tuan, apa anda bisa membantu anak kecil ini dengan membeli setangkai bunga indah ini?"
Ia menyodorkan setangkai bunga itu.
"Ambil ini," sekantung koin emas Shiyu berikan untuk anak kecil tersebut. Ia tampak kebingungan menatap uang di tangannya.
"Tu-tuan, saya tidak bisa menerima uang sebanyak ini," ucapnya terbata-bata. Shiyu hanya tersenyum.
'Senyuman yang membuat ku sedikit janggal'
"Ah-! Itu untukmu, manis. Berikan satu tangkai saja padaku," ucap tuan putri seraya menggenggam tangan mungkin anak tersebut. Cahaya mulai mengitari gadis itu. Ia mencoba memberi berkat.
"Kamu tidak boleh memakai berkat dewamu!"
Bersamaan dengan ucapan Shiyu. Cahaya tadi menghilang dan menyisakan rasa sakit yang menusuk jantung Rui seperti ada ribuan jarum menancap di sana.
"Aaaaa!!" dia lekas menunduk kesakitan seraya memegangi dada nya yang rasanya sangat sakit. Shiyu tidak menanyakan lagi bagaimana keadaannya, ia langsung menggendong tuan putri itu dan membuka portal menuju kastilnya.
Portal membuat mereka langsung berada di depan pintu kastil. Sihir nya tidak terlalu akurat karena dia bukan penyihir asli.
Drap...drap....drap....drap...
Shiyu bergegas lari menuju lantai dua kastilnya yang sangat besar. Tuan putri begitu kesakitan dan membuatnya tidak tahan.
"Rei, cepat panggil Haru ke kamarku!" suruh nya ketika melewati Rei yang sedang mengelap jendela di tangga menuju lantai dua.
BRAKKK!!!
Pintu kamarnya ia buka dan membaringkan tubuh Rui di atas ranjang. Keringat membanjiri tubuhnya dan napas nya terengah-engah menahan rasa sakit di jantungnya.
Drap...drap...drap...
"Yang Mulia! Apa yang terjadi dengan tuan putri?!" Kana yang tiba-tiba masuk membuat Shiyu mengernyitkan keningnya. Di belakang Kana ada Rei yang membawa Haru.
"Kana! Sudah aku bilang jangan masuk ke kamarku seenaknya. Aku hanya memanggil Haru kemari!" teriaknya dingin dan membuat Kana merinding.
"Dinginnya. Baiklah aku keluar," Kana keluar dan Haru masuk ke dalam.
"Apa yang anda perlukan?" tanya nya sopan namun seakan malas meladeni tuannya itu.
Shiyu langsung menyuruh Haru meredakan rasa sakit tuan putri dengan sihirnya. Memang sihir Haru adalah penyembuhan walaupun tidak terlalu kuat tetapi cukup untuk meredakan rasa sakit.
Semuanya tenang dan sepertinya tuan putri jatuh pingsan. Dia tidak kesakitan lagi namun wajahnya sangat pucat.
"Biarkan dia sendiri untuk beberapa saat. Berkat dewanya menolak ikatan dari anda. Lebih baik anda...,"
Beberapa percakapan masih terdengar oleh Rui. Ia tidak tahu kenapa dia sampai seperti itu. Tapi itu adalah rasa sakit yang tidak pernah ia lupakan.
Tengah malam tiba. Penyihir vampir tidak pernah tidur. Mereka sedang bersantai di ruang baca kecuali Rei yang entah kemana.
"Ini semua membosankan~ Seharusnya berikan hal yang lebih menarik," Kana berguling-guling di depan kakak nya yang sedang membaca buku.
"Tch! Menyingkirkan kau bedebah!"
Drap...drap...drap...
"Yang Mulia!" Rei tiba-tiba datang seraya berlari, "Tuan putri bangun dan dia kembali kesakitan," lanjutnya dan membuat Shiyu meninggalkan pekerjaan bergegas berlari menuju kamarnya.
"Jangan ada yang berani mengikutiku!!" suruhnya seraya berlari dan membuat semua orang di sana mematung.
BRAKK!!
Pintu terbuka dan memperlihatkan Rui yang duduk kesakitan seraya memegangi dadanya yang sangat sakit. Shiyu langsung menghampirinya dan memeluk erat tubuh tuan putri itu.
"Ini sakit sekali! Sa-saya tidak pernah merasakan sakit seperti ini sebelumnya. Saya mohon bunuh saja saya! Rasanya seperti ada yang mengiris jantung ini," tangisannya pecah dan membuat Shiyu tertegun. Ia memeluk nya erat erat.
"Tidak apa. Tahan lah sebentar lagi. Akan ku hilangkan sebagian rasa sakit itu,"
Delapan lingkaran sihir berwarna merah muda terang mengelilingi mereka. Cahayanya sangat terang sampai sampai bisa menerangi seisi kastil.
'Sihir yang bisa membunuh siapapun yang menggunakan nya'
"Gah!" Shiyu memuntahkan darah segar dari mulutnya. Rui yang ada diperlukan nya lemas dan tertidur. Sihir tadi lenyap dan menghilangkan rasa sakitnya. Efek nya langsung terasa pada tubuh Shiyu.
Tuan putri ia baringkan di atas ranjang lagi. Selimut ia tarik seraya gemetaran. Tubuhnya mulai melemah.
Dia berjalan terhuyung-huyung menuju pintu. Di balik pintu ada Rei yang nampaknya berlari dengan tergesa-gesa.
"Ada apa?" tanya Shiyu seraya mengelap darah yang ada di sekitar bibirnya.
"Yang Mulia, pasukan kerajaan matahari mengepung kastil kita,"
"Ha?!"