Raka dan teman-temannya pergi berkemah dihutan, seperti bulan lalu. Tapi kali ini ada yang berbeda, seorang gadis cantik ikut bergabung dengan mereka.
Putri namanya, cantik sesuai dengan namanya. Sebagai cowok aku cukup tertarik padanya. Sikapnya yang ramah dan cepat akrab pada siapa saja membuatnya jadi pusat perhatian. Banyak saingan untuk merebut perhatiannya.
Setibanya di hutan aku menawarkannya untuk membawa tas ranselnya, tapi dia menolak, katanya :"Aku bisa kok, lagi pula kau juga pasti lelah."
Gagal lagi...
Ketua kelompok membagi tugas ada yang membuat tenda ada yang mengumpulkan ranting dan ada yang mempersiapkan makanan. Kebetulan Putri kebagian tugas menyiapkan makanan. Dan setelah tiba waktu makan semua memuji masakan Putri. Cewek-cewek yang ada pun menjadi iri.
Malam pun tiba. Bulan bersinar terang dan malam itu bulan purnama.
Sebelum tidur mereka mengisi waktu dengan bernyanyi. Raka memetik gitar dengan piawai. Seperti sebuah konser kecil malam itu terasa sangat meriah. Ditambah ada jagung bakar sebagai cemilan.
Dan akhirnya satu persatu masuk ke tenda karena mengantuk dan akhirnya semua tertidur.
Tapi tidak dengan Putri, dia keluar dari tenda sendirian. Entah kenapa Raka merasa gelisah saat tidur dan terbangun. Karena merasa gerah di dalam tenda ia pun keluar dan melihat Putri.
Raka mulanya berpikir mungkin Putri buang air kecil sehingga dia segan menegurnya. Tapi sudah lama Putri belum kembali ketendanya. Raka iseng mencari Putri siapa tau dia kesasar pikirnya.
Tak lama Raka melihat Putri, kali ini dia pun memanggilnya, namun anehnya Putri tidak mendengarnya.
Raka terus mengikuti dan sampai akhirnya melihat Putri menuju sebuah Rumah Kuno.
"Ada rumah di tengah hutan? Kok Putri bisa tau?" Pikir Raka dan masih mengikuti dari belakang.
Tak lama kemudian Putri keluar dari rumah itu dan menuju perkemahan. Raka yang menyaksikan hal itu memilih merahasiakan apa yang dia lihat. Raka juga tidak mencoba untuk mencari tau apa yang ada di dalam rumah itu.
Pagi pun tiba kepanikan terjadi ada satu orang yang hilang pagi itu. Teman-teman mencari namun tidak seorang pun menemukannya. Entah kenapa terlintas ingatan tentang rumah yang Raka lihat tadi malam. Tapi Raka ragu, mungkin dia salah lihat pikirnya.
Saat beberapa orang mencari dan sebagian lagi melapor ke pos penjaga maka sebagian lagi tetap di tempat berkemah menunggu dan mempersiapkan makanan.
Putri dan yang lainnya mempersiapkan masakan. Raka mengamati gerak-gerik Putri, tidak ada yang mencurigakan.
Karena yang hilang belum ketemu akhirnya ketua kelompok memilih menghentikan kegiatan. Dan Putri dan yang lain memasak makanan untuk pagi itu . Tenda yang baru berdiri satu hari itu terpaksa dibongkar dan peralatan disusun kembali. Makanan masak dan mereka mengisi perut sambil menunggu temannya kembali.
Setelah selesai makan Raka menyusun peralatannya dan melihat Putri serta beberapa anggota cewek pergi ke suatu arah. Mulanya Raka tidak memikirkan apa pun namun saat kembali salah satu dari mereka tidak kembali.
Aneh yang lain bersikap biasa saja seolah tidak ada yang kurang. Bahkan kemudian saat hendak pulang tidak ada yang merasa sudah ke hilangan satu orang lagi.
Raka mencari dan kemudian mengatakan kalau salah satu dari mereka belum kembali. Ketua kelompok bingung lalu bertanya siapa yang terakhir bersamanya. Namun Putri dan yang lainnya tidak ada yang mengaku.
"Hei... tadi dia bersama kalian." Ucap Raka.
Tapi mereka kompak bilang tidak. Raka bersikeras dengan ucapannya dan terjadi ribut. Hasilnya tidak ada yang percaya pada Raka. Perjalanan pulang dilanjutkan.
Raka berjalan di depan sambil berjalan pikirannya terus teringat pada rumah yang ia lihat. Mungkin itu bukan ilusi pikirnya. Tapi apa hubungannya.
Tanpa sengaja Raka menoleh kebelakang, matanya beradu pandang dengan mata Putri. Lalu Raka buang muka saat Putri bersikap cuek dan berbicara pada Ketua.
Lalu entah kenapa rasa curiganya semakin membesar dan ia ingin mengatakan sesuatu pada Ketua, namun saat menoleh kebelakang Ketua sudah tidak ada.
"Hei dimana Ketua kita?" Tanya Raka.
Yang lain ikut melihat ternyata Ketua tidak ada bersama mereka. Mereka pun memanggil namanya namun tidak ada jawaban. Kini mereka tinggal 8 orang
Salah satu dari mereka mengatakan untuk menunggu beberapa menit lagi siapa tau Ketua buang air dan malu untuk menyahut.
Namun hampir lewat siang hari Ketua tidak muncul juga. Bahkan kini terasa lapar. Putri dengan wajah malaikat mengatakan untuk membuat makanan sambil menunggu Ketua.
Sambil menunggu makanan matang sebagian pergi ke suatu arah. Raka mengikutinya dan memanggilnya.
"Hei kau mau kemana?"
Yang ditanya menoleh dan membuat isyarat kalau hendak buang hajat. Raka pun kembali ke teman-temannya. Raka menghitung jumlah temannya. Ternyata berkurang satu. Dia mencoba mengingat-ingat siapa yang tidak ada dan tidak ada satu pun mengetahuinya. Kini mereka tinggal bertujuh.
Mereka mulai panik dan bingung salah satu dari mereka mulai menangis. Putri mencoba menghibur. Namun anak itu semakin histeris dan berlari. Raka mengejarnya, karena bisa saja dia akan nyasar. Raka berhasil menangkapnya dan menenangkannya. Teman-teman datang menghampiri Raka namun jumlah mereka berkurang lagi. Kini mereka tinggal berenam.
Raka menyuruh mereka diam disitu dan mencari temannya yang buang hajat tadi dan untungnya dia kembali dengan selamat. Tapi saat kembali ke teman-temannya jumlah mereka berkurang lagi. Kini mereka tinggal lima.
Ini aneh pikir Raka semua menghilang satu persatu.
Raka melihat yang tertinggal hanya Putri dan lisa anak cewek yang tersisa dan Ciko serta Bian anak cowok yang ada.
"Putri katakan padaku apa yang kau lakukan tadi malam?" Tanya Raka spontan pada Putri.
Putri dan yang lainnya kaget.
"Hei Raka dari tadi pagi kau buat ulah ya."
"Atau jangan-jangan kau yang membuat mereka hilang lalu mencari kambing hitam."
Semua menatap Raka dengan kesal. Lalu beberapa saat kemudian mereka berhenti berjalan. Penunjuk arah yang seharusnya ada tidak terlihat.
"Apa mungkin kita kesasar?"
"Coba aku lihat peta."
Lisa tiba-tiba kebelet ingin buang air dan Putri juga saat mereka hendak pergi Raka melarang jika hanya mereka pergi berdua.
BRUAKKKK
Raka dapat mangga muda di pipinya setelah kepalan tangan Ciko mendarat di pipinya.
"Dasar mesum, bisa-bisanya..." ucap Ciko terhenti.
"Kalian pergilah tapi jangan lama-lama dan jangan jauh-jauh. Aku pastikan cowok brengsek ini tidak akan mengintip kalian."
Lisa dan Putri pergi tapi saat kembali Lisa hanya seorang diri.
"Dimana Putri?"
"Tadi dia duluan."
"Apa katamu?"
Mereka pun mencari Putri namun mereka tidak menemukannya. Ciko kesal pada lisa dan menuduh lisa melakukan sesuatu.
"Jangan-jangan kalian berdua sekongkol membuat kekacauan dalam acara kemah ini." Ujar Ciko.
"Mulai sekarang cari jalan masing-masing. Bian kau ikut siapa? Aku akan mencari Putri dan yang lain."
"Aku ikut denganmu." ucap Bian pada Ciko.
Lisa dan Raka tinggal berdua. Lisa menangis. Raka akhirnya berpikir untuk membuktikan sesuatu.
"Kau pulang sendiru atau ikut denganku."
"Aku takut pulang sendirian." Ucap Lisa menangis
Raka berjalan ke arah perkemahan mereka tadi malam.
"Ada apa kenapa kita kembali?"
"Aku harus membuktikan sesuatu."
"Apa itu?"
"Rumah."
"Rumah apa?"
Raka tidak membuang waktu kini dia mempercepat langkahnya. Lisa harus mengimbanginya dengan sedikit berlari dan dia pun kelelahan. Jarak mereka sudah jauh untuk kembali.
Akhirnya mereka tiba di lokasi kemah. Raka mencoba mengingat arah yang Putri tuju kemarin.
Lisa masih kelelahan tidak sanggup untuk berjalan lagi. Akhirnya Raka menunggu Lisa memulihkan staminanya sambil menceritakan semua yang ia lihat.
Lisa sangat terkejut.
Hari sudah sore Raka mengajak Lisa menyelidiki rumah tersebut. Dengan ingatannya Raka berhasil menemukan rumah yang dia lihat di malam bulan purnama itu. Sebuah rumah kuno.
Matahari terbenam perlahan-lahan Raka dan Lisa mengintip dari balik pohon. Melihat situasi. Tidak ada aktifitas yang terlihat disana. Setelah merasa aman mereka pun mencoba untuk masuk.
Saat masuk Lisa bernyanyi lagu anak ayam turun 10.
"Apa yang kau lakukan?"Tanya Raka dan kemudian menoleh ke belakang.
BRUKKKK
Sebuah benda tumpul menghantam kepalannya.
Saat sadar dia melihat teman-temannya diikat pada sebuah tiang dalam keadaan mulut di tutup.
Lisa mulai bernyanyi lagi lagu anak ayam turun 10.
Setiap ia bernyanyi satu per satu dia memutuskan nadi dari teman-temannya. Darah segar mengalir.
Semua mencoba melepaskan diri termasuk Putri tapi semua gagal dan harus tewas bersimbah darah. Raka menyesal telah mencurigai Putri.
Sebelum melanjutkan nyanyiannya Lisa menceritakan kalau Putri yang di lihat Raka adalah Lisa yang menyamar. Malam hari dengan menggunakan hode Putri, Lisa pergi ke Rumah Kuno. Rumah tempat ia mempersiapkan sesuatu yaitu ritual panjang umur.
"Kau tau kenapa anak ayam terus berkotek, padahal setiap berkotek anak ayam mati satu?" Tanya Lisa.
"Pertanyaan gila macam apa itu?" Pikir Raka.
Ingin rasanya menjawab tapi mulutnya di plaster.
"Kau tidak tau? Jawabannya adalah agar induk ayam berumur panjang hahahahaha...!!!" Tawa Lisa.
"Kau mau tau kenapa aku lakukan ini?"
SRAKKK
Lisa membuka sebuah kain putih yang menutupi sesuatu. Sebuah tengkorak.
"Dia pria pujaanku, dan yang di sebelahnya tengkorakku, dengan mengorbankan darah dari lima perempuan dan lima laki-laki kami akan hidup kembali. Jasad yang kupinjam ini juga akan jadi tumbal."
SRRRATTT
Raka pun memuncratkan darah dari nadinya dan saat kesadarannya mulai menghilang ia melihat Lisa mengores dirinya sendiri.
Darah dari ke sepuluh orang yang ada di situ pun mengalis ke satu tempat membasahi sepasang tulang-belulang dan akhirnya dua insan terbangun dari tulang belulang itu.
KRRRIIIINNNGGG
Nada dering berbunyi Raka terbangun dari mimpi.
"Untunglah itu semua cuma mimpi." Ujarnya lega setelah bangun.
Lalu bergegas mempersiapkan diri karena hari ini dia ada janji akan berkemah di hutan dengan sembilan teman. Tapi ternyata ada satu orang baru yang ikut bergabung dengan mereka.
"Haiii perkenalkan,,, namaku Putri..."
Dia tersenyum manis sekali.
*TAMAT*