Di siang hari yang panas, Daniel baru pulang kuliah. Sampai di rumah, dia langsung merebahkan diri di sofa ruang tengah. Sofa warna navy kesayangannya. Di situ tempat favoritnya untuk menghilangkan penat. Jendela yang berada tepat di samping sofa itu selalu menghembuskan semilir angin, hingga Daniel betah berlama-lama duduk di sana.
Beberapa menit Daniel duduk di sofa, dia mendengar suara dentingan piano. Daniel menengok ke jendela. Dari jendela itu bisa terlihat jendela rumah sebelah. Rumah Daniel dengan rumah sebelahnya dibatasi oleh taman kecil. Dari jendela rumah sebelah itu, Daniel melihat seseorang memainkan piano.
Seorang gadis muda berkacamata sedang memainkan pianonya dengan serius. Dia menunduk tanpa menoleh sedikitpun. Tampaknya dia sangat menikmati sentuhan jemarinya dengan tuts piano. Daniel terus memperhatikan, meski dia tak mengerti lagu apa yang sedang dimainkan.
“Dani, kamu lagi lihat apa nak?” tanya Mama.
“Eh, Mama…. Itu, ada cewek lagi main piano di rumah sebelah. Siapa sih, ma?”
“Oh itu… Mama belum cerita. Itu tetangga baru kita. Cewolek itu namanya Rossa, nama ayahnya Pak Santoso. Mereka baru pindah kemarin. Nanti kalau ada waktu, kamu main ke rumah Rossa ya.”
“Ouwh... Besok-besok aja deh, ma. Entar sore Daniel mau ke lapangan ada latihan basket.”
“Eh, Dan. Rossa itu cakep loh. Mana sopan, lembut, jago main piano lagi. Buruan kenalan. Siapa tahu kalian cocok?”
“Mama apaan sih?” Daniel segera beranjak menuju kamar. Mama tersenyum melihat tingkah putra semata wayangnya itu.
Malam hari, Daniel baru pulang dari latihannya. Hari ini sepupu Daniel, Jeffry datang berkunjung ke rumah Daniel. Mereka berdua duduk di sofa ruang tengah sambil main game online. Suara alunan piano kembali terdengar. Carla melongok ke jendela. Terlihat Rossa memainkan piano dari balik jendela rumahnya.
“Siapa yang main piano di rumah sebelah? tuh ceweknya cantik banget” Jeffry memandang Rossa dengan kagum.
“Ah, lebay lu! Belum juga kenal, udah muji-muji,” sanggah Daniel.
“Emangnya dia siapa, Dan?”
“Namanya Rossa. Dia tetangga baru. Baru pindah kemarin kata nyokap. ”
“Rosaa….. Wah, namanya cantik secantik orangnya. Hehe."
“Apaan sih lu, Jef ! Cewek aneh gitu. Seharian kerjaannya main piano melulu kayak nggak ada kerjaan lain.”
“Ya, mungkin profesinya emang pianis kali. Asyik banget permainan pianonya. Coba dengerin deh.”
“Halah, kita mahasiswa ekonomi tahu apa soal piano? Udah, main game yang benar.” Daniel dan Jefri kembali fokus pada game mereka.
Keesokan paginya, Daniel akan berangkat kuliah. Karena takut terlambat, dia tergesa-gesa keluar dari kamar. Dengan membawa setumpuk buku, dia berjalan keluar rumah. Baru sampai di depan pagar rumah, tiba-tiba...
BRAAKKK…!!!!!
Daniel menabrak seseorang.
“Aduuuh...” Rossa memegangi lengannya. Dia melihat sosok yang menabraknya, ternyata Daniel!
“Ehm, maaf….,” buru-buru Rossa meminta maaf. Gadis itu berjongkok memunguti toples-toples yang jatuh dari pegangannya. Daniel segera mengambil tasnya yang jatuh. Rossa terlihat canggung dan tidak berani menatap Daniel.
“Kalau jalan hati-hati dong!” Daniel melihat ke arah Rossa. Tapi orang yang menabraknya itu sudah pergi entah kemana. Daniel melihat sekeliling untuk mencari-cari Rossa, tapi tidak ada. Kemana dia?? Daniel merasa sangat kesal.
Sampai di kampus
“Hei bro, pagi-pagi muka lu udah bete aja?” tanya Jefri heran melihat sikap sepupunya.
“Tuh cewek nyebelin banget! Udah pakai kacamata, masih juga nabrak! Mana nabrak langsung hilang.”
“Siapa yang nabrak lu?”
“Lu inget cewek tetangga baru gue? si Rossa.”
“Lu ditabrak sama Rossa? gue juga pengen dong.”
“Yang bener aja lu??!! Udah gue bilang, tuh cewek emang aneh!”
“Marah-marah melulu lu sama si Rossa. Dia tuh cakep, tahu! Kalo gitu, Rossa buat gue aja gimana?”
“Ambil! Silahkan!”
“Okay, Nanti sore gue mau ke rumahnya,” Jefri tersenyum sumringah. Daniel semakin kesal pada Rossa.
Satu minggu kemudian.
Dua hari ini, tidak terdengar suara piano Rossa. Daniel merasa heran. Rumah tetangganya itu sepi. Tidak pernah terlihat Rossa memainkan piano. Jefri pun sudah tak pernah bercerita tentang cewek aneh itu. ‘Nggak ada urusannya sama gue,’ begitu pikir Daniel. Hingga kemudian Mamanya bercerita bahwa Rossa sedang sakit tifus. Dia sedang dirawat di rumah sakit. Mama mengajak Daniel menjenguk Rossa. Tapi Daniel ingin mengajak Jefri juga. Daniel pun menelepon Jefri.
“Halo, Dan. Ada apa?” suara Jeffry setelah mengangkat panggilan Daniel.
“Jef, si mata emapt lagi sakit tuh! Dia di rumah sakit. Lu nggak jenguk dia?”
“Rossa sakit apa?”
“Kata mama, dia kena tifus. Nanti Mama mau jenguk dia. Lu mau ikut juga nggak?”
“Nggak, Dan. Lu aja yang jenguk dia."
“Tumben banget lu nolak Jef? Kenapa? Bukannya lu nge-fans wama si Rossa?”
“Sorry. Gue hari ini mau jalan sama Adel,” Jefri menutup telepon. Daniel heran pada sikap sepupunya itu yang seakan menjauhi Rossa dan mendadak dekat dengan Adel.
Sejak Rossa sakit, Daniel merasa bersalah. Selama Rossa menjadi tetangganya, Daniel selalu kesal dan benci. Dia belum pernah berkunjung, bahkan Rossa sakit pun dia belum menjenguk. Daniel segan jika datang sendiri tanpa teman.
Beberapa hari kemudian, Rossa sudah pulang dari rumah sakit. Kebetulan juga, Jefri akhirnya mengajak Daniel menjenguk Rossa. Di suatu sore yang cerah, Daniel dan Jefri pergi ke rumah Rossa.
Di rumah Rossa.
“Hei, Ros…. Sorry, aku nggak bilang sebelumnya ke kamu kalau aku ngajak Danuel,” ucap Jefri.
“Oh, it’s okey,” jawab Rossa
”Silakan duduk.”
“Udah sembuh kah, Ros?” Daniel memberanikan diri bertanya.
“Ya, udah baikan. Tapi belum sembuh total,” ucap Rossa
“Terlalu rajin latihan piano, sampai telat makan.” sambung Rossa. Daniel, Rossa dan Jefri mulai bercakap-cakap. Ini pertama kalinya Daniel memperhatikan Rosaa dari dekat. Rosaa masih terlihat pucat.
“Oh ya, Daniel. Sebenarnya gue punya maksud lain ngajak lu kemari.” ucap Jefri.
“Apa maksudnya, Jef?” tanya Daniel.
“Gue mau bilang. Sebenarnya, Rossa suka sama lu, Dan. Dia punya foto-foto lu,” Jefri menghampiri sebuah laci di ruang tamu Rossa. Dia mengeluarkan beberapa lembar foto dan meletakkannya di meja. Rossa dan Daniel sangat terkejut.
“Jefri, apa-apaan lu?” bentak Daniel. Rossa hanya membisu dengan wajah pucat pasi.
“Lihat foto-foto ini, Dan! Ini bukti kalau Rossa suka sama lu. Sebagai saudara, gue dukung hubungan kalian berdua. Silakan kalian mengenal lebih dekat. Gue pamit dulu. Bye,” Jefri tersenyum lalu pergi meninggalkan rumah Daniel dan Rossa.
“Tunggu! Aku nggak ngerti. Apa maksud semua ini? Tolong jelasin, Ros!” pinta Daniel.
“Maaf, Daniel… Aku diam-diam suka motret kamu...” kata Rossa sambil menunduk.
Daniel memperhatikan foto-foto itu. Semua objek foto itu adalah dirinya. Gambar-gambar Daniel saat di teras rumah, Daniel lagi main basket di halaman sebelah rumah, dan di depan pagar rumah. Semua foto itu apik dan alami. Daniel terdiam sejenak. Tak percaya Rossa bisa mengambil foto sebagus itu.
“Apa maumu, Ros? Buat apa kamu ngelakuin semua ini?” Daniel tak mengerti.
“Aku cuma ingin dekat denganmu, Dan... Rasanya senang bisa memperhatikan kamu.”
“Tapi bukan begini caranya, Ros! Kamu tuh aneh! Aku nggak mau kamu menguntitku lagi dengan foto-foto seperti ini. Aku pamit dulu!” Daniel beranjak pergi. Rossa hanya terdiam.
Beberapa hari kemudian.
Jegri telah bercerita pada Daniel. Saat Jefri berkunjung ke rumah Rosaa, dia menemukan foto-foto Daniel di meja. Bahkan Rossa pun mengatakan, dia menyukai Daniel. Namun Rossa tipe orang yang tak pandai bergaul sehingga sulit mendekati Daniel. Itulah yang menjadi alasan Jefri untuk mengajak Daniel ke rumah Rossa. Jefri pun mengatakan semuanya agar Daniel tahu perasaan Rossa.
Sejak kejadian di rumah Rossa, Daniel semakin merasa bersalah. Apalagi dia mengatakan Rossa itu aneh. Daniel semakin khawatir karena tak mendengar suara piano Rossa lagi. Apa sakitnya semakin parah? Daniel gelisah tak menentu.
Hingga pada suatu sore, Daniel mendengar alunan piano Rossa. Daniel melihat ke jendela rumah sebelah. Ada Rossa sedang bermain piano! Daniel segera berlari menuju rumah Rossa. Daniel memasuki ruang tamu dan melihat Rossa di depan piano.
“Rossa…!!” Daniel memanggil Rossa. Gadis berkacamata itu menghentikan permainan pianonya. Dia menoleh pada Daniel.
“Daniel? Hei, Ada apa?” Rossa terkejut sekaligus senang.
“Ros, kamu kemana aja? Kemarin nggak kedengeran main piano. Kamu masih sakit?”
“Eh nggak kok... Tenang aja aku udah sehat. Kemarin aku ke tempat grup orchestra. Aku baru gabung jadi pianis di sana. Jadi, akan mulai sibuk dengan jadwal tampil,” Rossa menjelaskan dengan semangat.
“Syukur deh kalau gitu,” ucap Daniel lega.
“Ros, kamu jangan telat-telat makan lagi. Udah mulai kerja, harus jaga kesehatan.”
“Iya… Makasih perhatian kamu, Dan.” Rossa mengangguk.
“Rossa, maaf. Selama ini aku terlalu cuek sama kamu. Harusnya, aku lebih ramah sama tetangga baruku dan bisa mengerti sifatmu.” sesal Daniel.
“Ah nggak apa-apa kok. Santai aja. Dan, aku seneng kita bisa kenal dekat,” ucap Rossa sambil tersenyum. Baru kali ini Daniel melihat Rossa tersenyum manis. Begitu tulus dan hangat. Daniel terpesona.
“Silakan dilanjut main pianonya,” Daniel tersadar dan salah tingkah.
“Gimana kalo kamu ikut temenin aku main piano?” Rossa mempersilakan Daniel duduk bersamanya. Daniel lalu duduk di samping Rossa.
“Harus kuakui, Ros. Kamu emang jago main piano. Sejak kamu pindah kesini, aku kagum dengan permainan pianomu. Tiap hari, aku terbiasa dengar suara pianomu. Tanpa alunan piano kamu, sepi banget rasanya.” Daniel memberanikan jujur.
“Aku nggak pandai bicara atau berkata-kata. Hanya dengan piano, aku ungkapkan isi hatiku,” ucap Rossa lalu mulai memainkan pianonya. Suara lembut piano mengisi relung hati Daniel.
“Rossa, aku ingin temani kamu main piano. Selalu...” Daniel bergumam dalam hati. Daniel dan Rossa tersenyum bersama. Bersemilah cinta diantara mereka berdua melalui dentingan piano.
Tamat
.
.
.
Selesai membaca tolong tinggalkan jejakmu ya😊
Jika kamu suka, jadikan cerita ini favoritmu. Like, dan komen.
Baca juga novel karya ku ya
🌼 Kirana Tetaplah Disisiku
🌼 Cinta Sepotong Donat
🌼 Rasa Cinta
🌼 Kumpulan Cerita Horror
Dukungan kalian sangat berarti bagi ku.
Jangan lupa follow instagram ku @helloassyh_ untuk mendapat informasi update tentang novel ini.
Kalau kalian inbox atau DM insyaallah aku akan balas kalau nggak sibuk ya, hehehe
Terima Kasih*** 😘❤