“Kapan ya kehidupan senang dan bahagia berbalik arah kepadaku?”
Ya, itulah kalimat yang senantiasa selalu ada dan hadir di benak gadis yang senang berpakaian warna putih itu. Ketika ia duduk di teras rumahnya yang agak kusam dan kurang tatanan rapi. Di sekitarnya tumbuh pepohonan dan serangkaian pot plus bunga yang beraneka ragam warnanya. Ia memang suka dengan bunga-bunga. Terlebih bunga mawar. Dengan penuh semangat dia tempatkan bunga mawar kesayangannya di beranda rumahnya.
Gadis berkemeja putih dengan bross berbentuk bunga mawar merah itu namanya adalah Ni Made Lastri Anggreni. Panggilannya Lastri. Lastri adalah anak bungsu dari dua bersaudara. Lastri sekarang sudah duduk di bangku kuliah tepatnya di Universitas ternama yang ada di Bali yaitu Universitas Udayana (UNUD) fakultas ekonomi jurusan management akuntansi semester 4.
”Lastri, mau kemana sih kok cepat-cepat amat jalannya?” Eka berteriak ke arah Lastri yang sedang terengah-engah berjalan di pinggir jalan menuju fakultasnya. Eka adalah sahabat Lastri yang sangat mengerti sifat dan tingkah laku Lastri. Eka juga sudah tahu latar belakang dan kepribadian Lastri.
”Bentar dulu Eka, aku mau ke fakultas dulu. Tungguin di tempat biasa ya. Okay?” sambil menjawab pertanyaan Eka ia pun terus berlari menuju fakultas.
”Kamu kenapa? Sebenarnya ada apa? Tadi ngapain di fakultas?” Eka langsung ceplas-ceplos bertanya ke Lastri. Berbagai pertanyaan terlontar dari mulut Eka. Maklum Eka orangnya memang ceplas-ceplos. Itu sifat yang Lastri sukai dari sahabatnya ini.
”Tadi ditelpon sama pak Wahyu disuruh datang ke fakultas untuk tanda tangan beasiswa.” sambil memasukkan sepotong bakso ke mulutnya.
”Cie yang dapat beasiswa nih yeee...” sambung Eka lagi.
Lastri memang salah satu mahasiswi berbakat dan pintar di fakultasnya. Jadi wajar saja dia tiap semester selalu mendapatkan beasiswa. Dengan kesederhanaan yang dimiliki Lastri, tidak sedikit temennya yang suka bergaul dengannya. Dia baik, ramah, ceria, dan penurut. Tapi, kadang-kadang perempuan itu sangat keras kepala.
Lastri juga jarang marah, jengkel sih sudah keseringan. Maklum cowok-cowok di kelasnya suka jahil sama Lastri. Cowok-cowok di kelasnya maupun di jurusannya menyukai Lastri.
Tapi kenapa ya Lastri belum punya pacar?
Sekitar 4 tahun yang lalu sewaktu Lastri masih duduk di bangku SMA. Lastri mempunyai teman dekat yang juga sekelas dengan dirinya. Menurut Lastri, dia sangat baik dan pintar. Kelas 1 SMA hampir saja Lastri dikalahkan oleh temannya itu. Untungnya Lastri berhasil menduduki peringkat 2 dan dia peringkat 3.
Dimata seorang Lastri, Romi temannya itu adalah sosok yang sempurna. Melebihi yang lainnya. Lastri dan Romi berteman baik dan selalu melakukan segala hal bersama-sama. Mereka bagaikan gula dan semut. Dimana ada Lastri disitu ada Romi begitupun sebaliknya.
Suatu hari Romi mengatakan perasaannya pada Lastri jika selama ini Romi menyukai Lastri. Bak gayung bersambut ternyata Lastri juga punya perasaan yang sama ke Romi. Namun Lastri masih ragu menjalani hubungan yang serius dengan lawan jenisnya dikarenakan Lastri masih ingin fokus dengan sekolahnya.
“Apa salahnya kita coba? siapa tahu kita bisa berbagi dalam suka maupun duka. Lagian kamu juga suka kan sama aku?” ucap Romi hari itu disaat sekolahnya sedang mengadakan rapat tahunan. Otomatis tidak ada kegiatan belajar untuk beberapa jam saja.
“Okey Rom, aku akui aku kagum sama kamu, aku senang berteman sama kamu, kamu baik dan sopan. Tapi aku masih ragu sama perasaanku sendiri. Apakah dengan aku mengagumi kamu itu berarti aku suka sama kamu?”
“Baik, aku minta sedikit waktu untuk jawaban ini. Paling tidak aku bisa memastikan perasaanku ini hanya sebatas kagum apa benar-benar suka sama kamu.” Lastri mencoba meyakinkan Romi agar cowok itu tidak kecewa.
Seminggu dilalui Lastri dengan sebuah pertanyaan tentang perasaannya pada Romi. Hingga akhirnya ia bisa berpikir jernih dan mengambil keputusan yang entah bagus baginya ataukah tidak.
“Rom, aku sudah pikirkan semuanya. Aku akan mencoba berbagi denganmu baik suka maupun duka.”
Hati Romi seakan-akan terbang di awan mendengar penuturan Lastri gadis yang disayanginya sejak dulu itu.
Namun terkadang kenyataan berbalik arah dengan keinginan manusia. Termasuk Lastri dan Romi. Kenyataan yang membuat mereka berbeda dan tidak bisa bersatu. Lastri sangat menyayangi Romi, Romi pun demikian. Suatu ketika saat menjelang acara perpisahan sekolah Lastri mengirim surat kepada Romi.
"Sebelum membaca isi surat ini, aku harap bacalah dengan sebuah senyuman dan jangan salahkan takdir. Maaf sebelumnya, bukan maksudku tidak menghargaimu, bukan juga aku bermain-main dengan menulis surat ini, akan tetapi aku takut bertatap muka denganmu untuk membicarakan hal ini. To the point saja, aku maupun kamu tahu kan kalau kita tidak akan bisa bersatu? Meskipun kita teruskan hubungan ini tapi kita tidak akan pernah bisa bersama selamanya. Tidak ada yang menjamin kita bisa selamanya hidup berdampingan. Jujur, aku benci dengan cinta yang tidak bisa termiliki. Sebelum perasaanku padamu semakin besar, sebelum terlanjur hatiku terikat padamu, biarlah aku yang mengalah, pergi dari sisimu, meninggalkan kejadian perih yang akan aku hadapi nantinya. Kamu mengertikan apa maksudku? Kamu yang terindah dalam hidupku dan kamu orang pertama yang mengajariku bagaimana bisa mengerti sesama, bisa berbagi dalam suka dan duka. Aku menjauh bukan berarti aku sudah tidak sayang padamu. Aku hanya merasa tidak akan sanggup hadapi kehidupan selanjutnya bersama kamu. Aku tidak bisa bicarakan ini langsung di depanmu. Aku tidak sanggup melihat tatapan matamu yang sangat menyayangiku. Romi, ada yang bilang Tuhan itu suka tidak adil. Ada juga yang bilang takdir suka mempermainkan manusia. Suatu saat Tuhan pasti adil dan suatu saat takdir akan berusaha memperbaiki semuanya. Bener kan? Salam hangat dan sayang selalu dariku..." ***Lastri
Meskipun dengan linangan air mata dan kepedihan hati saat Romi membaca surat dari Lastri. Romi mengerti mengapa Lastri tiba-tiba mengirim surat padanya. Romi juga sadar jika Lastri tidak akan mungkin ikut dengannya lantaran keyakinan yang dimilikinya dan keluarganya terlalu dalam. Romi juga berpikir betapa sulitnya saat-saat yang akan ia lalui tanpa Lastri disisinya. Akhirnya Romi dengan kesabaran hati bisa menerima kenyataan pahit harus berpisah dengan orang yang pertama kali memikat hatinya.
Acara perpisahan pun sejam lagi diadakan, Romi berjalan menghampiri Lastri yang sedang duduk termenung disalah satu kursi undangan di halaman pekarangan sekolah. Romi menyodorkan sebuah kado berbungkus motif bunga mawar dengan pita berwarna pink sesuai dengan warna kesukaan Lastri.
“Apa ini Rom?” sambil mengambil kado tersebut Lastri pun bertanya dengan nada yang sangat lembut.
“Kado terakhirku mungkin. Kado ini tolong disimpan baik-baik, meskipun harganya tidak mahal tapi aku ngasihnya tulus dan ikhlas. Kado itu tanda sayang aku ke kamu selamanya.” Romi beranjak pergi meninggalkan Lastri yang menatapnya sendu.
Tanpa membuang waktu lebih Lastri segera membuka bingkisan dari Romi. Alangkah terkejutnya Lastri ketika melihat bross mawar itu. Indah dan diselimuti batu permata. Air mata jatuh membasahi pipi gadis itu saat membaca selembar kertas dalam bingkisan itu.
Kalau sosok itu tak lagi terjangkau, haruskan melepaskannya?
"Aku janji, bross ini akan menjadi saksi setiap perjalanan hidupku, dan akan menjadi teman berbagi saat suka maupun duka.” ucap Lastri dalam hati.
Lastri menangis tersedu-sedu dan mulai sejak itu 4 tahun dilalui Lastri tanpa pengganti Romi. Lastri pun masih sering mengingat sosok orang yang selalu menemani masa-masa Lastri duduk dibangku SMA.
Namun semenjak masuk kuliah, Lastri dan Romi kembali berkomunikasi. Mereka akrab sekali melebihi dulu. Mereka sering bertemu, jalan-jalan dan sering makan bareng. Sampai suatu ketika Romi kembali mengungkit kisah mereka 4 tahun yang lalu. Hingga Lastri kembali pada kepedihan yang mendalam.
“Aku masih sayang kamu Lastri, sampai sekarang tak seorang pun dapat menggantikan posisimu dihatiku sama seperti janjiku yang dulu.” Romi berkata sambil menatap dalam-dalam mata Lastri.
“Aku juga sebenarnya merasakan apa yang kamu rasakan, Rom. Cuma... mau dilanjutin atau tidak sama saja kita tetap tidak akan bisa bersama. Trus apa gunanya coba kita jalani hubungan yang lebih serius kalau akhirnya kita terpisahkan oleh keyakinan kita masing-masing?” ucap Lastri sambil terisak.
Memang, hal yang membuat Lastri dan Romi sulit bertahan adalah keyakinan. Mereka sebenarnya berbeda keyakinan. Lastri cuma berpikir bahwa saingan terberatnya hanya keyakinan itu. Hanya satu perkara: keyakinan! Mereka tidak pernah memperhitungkan akan datang perkara-perkara lain didalam kehidupan mereka. Mereka tidak pernah berpikir akan ada orang ketiga dalam hidupnya. Mereka tidak pernah memperhitungkan hal itu. Mereka sangat sulit untuk disatukan karena mereka juga sangat kuat dengan keyakinan mereka masing-masing. Lastri seorang Hindu dan Romi seorang ikhwan. Dengan cara apapun mereka tidak akan bisa bersatu.
Lastri sering menyuruh Romi mencari pengganti dirinya agar Romi tidak kesepian. Tapi percuma, Romi tetap saja masih sendiri dan masih tetap pada pendiriannya kalau dia akan mempertahankan Lastri. Bagaimana bisa? cara satu-satunya hanya menyatukan keyakinan namun it’s impossible.
Begitu banyak hal yang terjadi selama ini. Rasanya seperti melewati samudra besar dengan rakit kecil. Salah sedikit saja, dia bisa tertelan hidup-hidup ke dalam lautan yang bernama kehidupan. Begitu banyaknya peristiwa membuat Lastri merasa pikirannya hanyalah kecil. Begitu kecil dan sempit. Didalam panjangnya waktu, Lastri hanya bisa membuat otaknya berpikir akan satu hal. Kehilangan… Perasaan kehilangan yang begitu menusuk. Lastri takut akan hal itu.
Suatu ketika sinar matahari dengan teriknya memancar disekitar lingkungan kampus, tiba-tiba kepala Romi sakit dan akhirnya tidak sadarkan diri. Romi dilarikan ke rumah sakit terdekat di kampusnya. Laki-laki itu pun rawat inap di rumah sakit. Dengan keadaan yang semakin melemah Lastri masih terus berada disamping Romi dengan keyakinan Romi pasti sembuh.
“Rom bangun, lihat aku berada disampingmu, menemanimu dan selalu bersamamu. Janjiku telah aku penuhi akan selalu berada disampingmu melewati segala kesenangan dan kesusahan yang ada. Ayo Rom bangun. Aku mohon...” Lastri tak sanggup lagi menahan sedih yang dipendamnya. Akhirnya air matanya jatuh juga.
“Yang sabar ya Lastri. Kita doakan yang terbaik untuk Romi.” Eka pun terus berada disamping sahabatnya itu, memberikan support.
“Aku nggak tahan lihat Romi kayak gini, Ka... Rasanya hatiku remuk.” Itulah perasaan yang paling dalam dari hati sanubari seorang Lastri.
Seminggu dilalui Romi dengan keadaan koma hingga akhirnya laki-laki itu sadarkan diri. Tubuhnya yang segar kini mulai lemah, lunglai dan seperti mayat hidup. Namun demikian, dengan keadaanya yang sekarang tidak membuat Romi sesedih Lastri. Romi selalu saja tersenyum dan masih bisa bercanda. Tiap kali ada yang menjenguknya Romi selalu kelihatan lebih tegar dibandingkan dengan teman-temannya. Bahkan Romi sempat mengajak Lastri pergi ke lapangan luas malam-malam untuk melihat bintang. Katanya Romi kangen sama bintang. Siapa tahu saja sinarnya bintang bisa menentramkan hatinya.
Hingga waktu yang telah digariskan sang khalik telah tiba, Romi menghembuskan nafas terakhirnya dipangkuan Lastri disaat Romi ingin bermanja-manjaan dengan Lastri. Romi merasa lega meskipun dengan keadaan yang tidak memungkinkan Romi masih bisa bersama Lastri, masih bisa melihat Lastri tersenyum dihadapannya. Dengan itu Romi bisa pergi dengan tenang.
Sudah tidak terhitung banyaknya air mata yang keluar. Bagaimana penyesalan merobek-robek hati Lastri. Bagaimana keputusasaan menyerap semua harapannya yang tersisa. Bagaimana inginnya dia memutar ulang waktu dan membuat dirinya bisa mencegah kepergian Romi. Bagaimana perasaan kehilangan menusuk jantungnya beratus-ratus kali. Bagaimana dia mengharapkan adanya bintang jatuh yang bisa melemparnya ikut keluar angkasa, menjauh dari semua kepenatan yang ada.
Dengan langkah tak bersemangat Lastri berjalan menghampiri Romi di pembaringan terakhirnya. Lastri terjatuh kaku disamping pembaringan terakhir Romi sambil meletakkan serangkaian bunga mawar putih.
Bagai tersambar petir di siang bolong, Lastri hancur saat mengetahui penyakit kanker otak menjangkiti Romi. Lastri rapuh saat orang yang paling dicintainya pergi begitu saja. Masih tersisa rasa sakit hati yang menggerogoti hari-harinya saat harus hidup tanpa Romi.
Sebelum Lastri meninggalkan pusara Romi. Adik Romi sempat memberikan sepucuk surat yang sempat ditulis Romi sebelum kepergiaannya.
"Sekarang saatnya Tuhan adil dan takdir mulai memperbaiki semuanya, sayang. Dulu kamu pernah bilang kalau kamu benci dengan cinta yang tidah bisa memiliki kan? Aku mungkin bukan chairil anwar yang bisa menyerukan kata-kata cinta dengan lantang. Tapi saat ini, aku mencoba menjadi seorang Romi yang ingin menyatakan sayang untuk yang terakhir kalinya pada seorang gadis bernama Lastri. Selama 6 tahun ini ternyata aku terjerat cinta yang oleh kebanyakan orang disebut sebagai cinta terlarang. Cinta yang sampai mati pun nggak akan pernah bisa aku lupakan. Cinta terakhir yang selalu membuat aku merasa she’s the one. Tapi sekarang aku harus pergi. Pergi jauh… Aku harus pergi meninggalkan cinta itu. Meninggalkan semua kenangan, menghapus semua waktu dan membiarkan takdir memperbaiki semuanya. Inilah jalan terbaik buat aku dan kamu. Jangan tanya seberapa sedihnya aku. Karena aku pun nggak bisa menghitung tetes kesedihan itu. Maaf aku nggak bisa ada disampingmu lagi. Maaf aku nggak bisa menepatin janji buat selalu ada buat kamu. Maafkan aku atas semua luka dihatimu. Terima kasih atas semua cinta. Terima kasih atas semua senyum dan kesabaran. Terima kasih atas semua pengertian. Tapi, kamu nggak perlu setegar itu! Setiap mau menangis, carilah bintang dan liat bross itu. Bintang-bintang itu yang akan menjadi pengganti senyumku. Jangan lupa, dimana pun itu, ada seseorang yang sayang banget sama kamu. Satu hal yang aku minta sama kamu. Setelah ini, apa pun yang terjadi, kamu harus bahagia… ***Romi
“Romi, kamu berhasil bersamaku disaat sisa-sisa hidupmu. Sementara aku, kamu tinggalkan disini sendirian terpaku merindukanmu. Kenapa kamu tega meninggalkan aku dan harapan yang akan kita buat menjadi nyata, Rom?”
Hanya bross mawar pemberian Romi yang Lastri miliki sekarang. Dengan bross itu Lastri pun menganggap Romi masih terus memberi semangat dan motivasi buat hari-harinya.
Seandainya kenangan bisa dibekukan. Pasti akan jauh lebih baik. Kalau setiap saat ingin melihatnya, tinggal buka saja kulkas. Kenangan itu masih akan tersimpan rapi disana.
Tamat
.
.
.
Selesai membaca tolong tinggalkan jejakmu ya😊
Jika kamu suka, jadikan cerita ini favoritmu. Like, dan komen.
Baca juga novel karya ku ya
🌼 Kirana Tetaplah Disisiku
🌼 Cinta Sepotong Donat
🌼 Rasa Cinta
🌼 Kumpulan Cerita Horror
Dukungan kalian sangat berarti bagi ku.
Jangan lupa follow instagram ku @helloassyh_ untuk mendapat informasi update tentang novel ini.
Kalau kalian inbox atau DM insyaallah aku akan balas kalau nggak sibuk ya, hehehe
Terima Kasih*** 😘❤