***.... __The Forest Fairy__....***
Dalam damainya lautan malam,
Seakan ingin bercerita,
Tentang bulan yang menyaksikan penderitaanku,
Doaku pada pohon kecil adalah terbang dan menari di angkasa,
Hujan Yang menimpa wajahku,
Aku bersembunyi di balik air mata dan menantimu,
***
Aku bertemu peri yang cantik,
Dia tidur dengan anggun,
Di saat sinar mentari melintasi lorong-lorong dimensi waktu,
Dunia dongeng dan kenyataan saling berbagi,
Mengisahkan cerita yang tak mungkin terjadi,
.....The Forest Fairy.....
.
.
.
Gemericik air terdengar riuh di tepian sungai menimpa bebatuan. Sucinya air mengalir menyapu ombak yang tenang. Suasana sepi namun terdengar riuh. Semua tertutupi dedaunan yang lebat. Kulit yang kasar tubuh yang besar mengangkat awan ke udara. Tebing yang curam dan gunung yang tinggi. Di mana aku tersesat ke jalan yang gelap. Semua kehidupan berasal darinya dan berakhir untuknya.
Jauh di kejauhan, dalam gelapnya hutan. Di mana hanya di tumbuhi pohon-pohon yang tinggi dan besar. Terlihat seorang anak laki-laki yang bernama Kenlyc Weisz sedang menanam pohon kecil di samping pohon yang sudah terpotong habis. Menyisakan sejumlah bekas yang terlihat cukup lebar. Cahaya matahari yang terlihat malu-malu seakan bisa tersenyum dengan gagak sampai ke tanah. Ken itulah nama panggilan anak kecil ini. Dia adalah pekerja di salah satu pabrik kayu, salah satu cabang perusahaan besar yang terkenal.
Tidak hanya Ken yang bekerja di sana banyak juga anak-anak di bawah umur yang bekerja keras di sana. Mereka adalah anak-anak yang di jual kedua orang tuanya hanya demi uang dan membiarkan anaknya bekerja keras untuk majikannya. Anak-anak yang malang. Mereka harus mengorbankan masa kecilnya yang bahagia untuk bekerja keras demi sepotong roti tanpa di gaji. Bahkan mereka di perlakukan layaknya binatang peliharaan yang tak berguna. Sungguh ironis dan menyedihkan.
Banyak orang yang tahu tentang menjaga alam yang indah. Namun ada juga yang mengabaikannya. Ken adalah salah satu anak yang memiliki ketertarikan yang luar biasa dengan alam apa lagi di pegunungan yang hijau menyegarkan mata. Hutan yang di penuhi pohon-pobon misterius. Seluruh alam memiliki rahasianya masing-masing. Dia selalu menyukai tanaman seperti tanaman yang dulu dia tanam bersama kedua orang tuanya. Ken mengingat momen kebahagiaanya dengan kedua orang tuanya sebelum semuanya sirna. Kedua orang tuanya meninggal karena kecelakaan yang di sengaja. Ken di adopsi pamannya yang dengan sengaja ingin menjual Ken. Dan hasilnya sekarang ken sudah di jual dan menjadi budak yang tak berharga.
.
.
.
.
.
.
.
"Hei kau, apa yang sedang kau lakukan di sana. Cepat kerja, jangan main-main." Seru Sarrah Veyron salah satu kepala proyek di sana dengan kasar. Walaupun perempuan dia lebih kejam dari singa betina. Dia tak segan segan menghukum pegawainya dengan sangat kejam jika melakukan kesalahan.
"Baik nyonya." Jawab Ken menunduk lalu pergi menghampiri teman-temannya yang sedang bekerja memotong ranting-ranting pohon yang sudah di tebang.
.
.
.
.
.
Jam lima sore mereka kembali lagi ke beskem untuk istirahat. Semua alat-alat pemotong pohon pun juga di bawa kembali. Yang lebih kejamnya lagi pegawainya yang ilegal dibiarkan kembali ke beskem dengan jalan kaki. Kerja di sana begitu mengerikan. Pekerja bagaikan budak yang senaknya saja di perlakukan oleh majikannya. Bahkan pekerjaan tidak memandang umur, anak kecil pun dibiarkan kerja keras layaknya orang dewasa. Setiap hari kerja tanpa di bayar dan makan seadanya.
.
.
.
Hari ini malam bulan purnama yang indah. Setelah makan dan mandi di sungai Ken melihat hutan yang lebih terang dari biasanya. Dia melihat ke atas dan melihat bulan yang terhalang ranting dan dedaunan pohon besar. Sungguh indah dan menakjubkan. Ken berfikir sejenak setelah pekerjaannya selesai dia bebas tidak bekerja sama sekali kecuali jika majikanya memanggil untuk mengerjakan sesuatu. Dia lalu pergi mencari tempat yang tidak terhalang pohon sehingga memudahkannya melihat bulan yang mempesona di hiasi ribuan bintang yang bertaburan di langit malam yang dingin. Di kota tidak akan bisa menjumpai keindahan alam ini.
Dia menemukan tempat yang cocok untuk menikmati keindahan alam ini. Di atas bukit di mana dia melakukan penebangan pohon tadi. Di atas batang pohon yang baru saja dia tebang, dia bisa melihat semuanya dengan jelas. Ken membaringkan tubuhnya dan Melipat tangannya sebagai tumpuan kepalanya agar lebih terangkat. Kunang-kunang bertaburan di udara malam yang dingin menusuk tulang belulang sampai beku, namun Ken sudah terbiasa dengan dinginnya udara di hutan pegunungan. Tububnya sudah kebal. Ken Melihat keindahan angkasa. Di bawah sinar bulan dia bisa merasakan begitu luasnya angkasa dan begitu indahnya hidup bersama mereka. Dia meratapi hidupnya yang menderita. Dia selalu berdoa jika di beri keajaiban dia ingin menjadi orang baik dan hidup dengan sederhana.
Ken memiringkan kepalanya dan melihat tanaman kecil yang dia tanam tadi siang. Dia lalu memanjatkan doa lagi 'semoga si hijau kecil ini bisa menggantikan yang hilang'. Sudah berkali-kali dia berdoa walau tidak ada hasilnya tapi dia tidak pernah berhenti berdoa. Karena dia percaya harapan pasti ada dan semua akan berjalan dengan semestinya. Dia kembali lagi ke beskem dan melanjutkan tidurnya.
..
.
.
.
Keesokan harinya dia bekerja seperti biasa. Membantu menebang pohon, menarik pohonya hingga jatuh, menghilangkan ranting pohon dan menatanya untuk kayu bakar
Semua di lakukan tanpa di bayar. Dengan peluh keringat yang bercucuran di udara yang dingin baju mereka pun juga sama tipisnya dengan jaring laba-laba. Semua tak terasa yang terasa hanya rasa lelah yang menyakitkan. Dalam hati dan pikiran mereka selalu berdoa semoga saja penderitaan ini cepat berakhir.
Seperti biasa Ken selalu mencari tanaman kecil dan menanamnya di samping pohon yang sudah di tebang untuk menggantikan pohon yang sudah di tebang. Hanya Ken yang memiliki kesadaran akan rasa perduli alam. Yang lain hanya acuh dan tak acuh Tapi sialnya dia ketahuan oleh Sarrah dan dia mendapat cercaan dan makian bertubi-tubi. Tak lupa tendangan demi tendangan dia dapat bertubi-tubi. Ken masih kecil, hanya seorang anak kecil yang tak tau apa-apa bahkan untuk melawan pun tak bisa.
"Apa yang kau lakukan. Bukanya kerja malah asik bermain di sini. Cepat kerja sana. Buang-buang uangku saja. Tanaman kayak gini bakalan cepat mati walaupun kau siram setiap hari dasar bodoh. Cepat pergi sana." Bentak Sarrah dengan keras. Sarrah menginjak tanaman yang di tanam Ken dengan susah payah dan menendang Ken berkali-kali untuk memperingatkan Ken untuk berkerja kembali dan usaha yang di lakukan Ken terhadap pohon kecil itu adalah sia-sia.
Ken lalu menuruti perintah atasannya yaitu Sarrah dan berjalan menunduk dan pergi bekerja kembali. Walau dalam hati dia menangis melihat tanaman kecil yang Ken sebut sebagai pohon kecil di injak sampai rusak meski belum patah dahangnya. Dia berjanji setelah bekerja dia akan kembali lagi dan menanamnya kembali lagi walau harapan pohon kecil untuk hidup sedikit.
Ken selesai bekerja dengan keringat membanjiri seluruh tubuhnya. Dia mengabaikan ajakan teman-teman untuk beristirahat dan makan bersama. Dia lalu pergi berlari ke paling ujung di mana dia menanam pohon kecil itu. Jika dia menanamnya kembali di tempat yang sama pasti tuanya akan menginjak dan merusaknya lagi. Lalu dia berencana mencari tempat yang tepat untuk pohon kecil ini tumbuh.
Entah mengapa Ken begitu sangat menyukai pohon kecilnya itu sampai apapun dia lakukan untuk pohon kecil itu. Ken seperti memiliki harapan lebih untuk pohon kecilnya. Dia membuat sebuah lingkaran di tanah yang melingkari pohon kecil itu dan membuat ceruk di antara lubang sampai dia bisa mengangkat pohon kecil itu beserta tanah dan akarnya. Dia berjalan menyusuri ke atas bukit namun ada cahaya yang indah di sebuah bebatuan besar yang tertutupi akar-akar pohon besar. Di sana penuh dengan bunga tumbuh subur dan indah.
Di sanalah dia melihat wanita yang begitu cantik tidur dengan anggun di atas batu berlumut hijau segar itu. Seluruh gaunya berkibar memanjang ke mana-mana. Seluruh tubuhnya di penuhi perhiasan yang mewah namun lentik tidak terlalu mencorong. Tubuhnya yang ramping dan putih mulus itu sungguh langka di temui. Rambutnya yang pirang memanjang terurai dengan halus di setiap tanaman yang ada di sampingnya. Seluruh tubuhnya tertutupi tumbuhan rambat yang cantik. Tubuhnya bersinar bagaikan cahaya surga. Wajahnya begitu cantik dan langka. Tangannya yang lentik memanjang tanpa kuku itu membuat Ken tahu kalau yang di temui itu bukanlah manusia. Telinganya yang panjang penuh hiasan. Berbeda dengan manusia. Dia berfikir kalau dia sedang bertemu dengan bidadari. Entah itu bidadari atau peri sekalipun bisa bertemu dengannya adalah sebuah anugrah.
Ken melihat ke seluruh tumbuhan yang berada di dekat wanita itu, semua tumbuh dengan subur. Berarti wanita itu adalah peri hutan yang sedang menikmati tidurnya. Dia sangat cantik sekali. Ken melihat pohon kecilnya dan berpikir positif bahwa mungkin peri hutan bisa menyembuhkan pohon kecil itu dan membuatnya tumbuh subur lagi. Hanya dia yang bisa.
Melihat seorang peri yang sedang tidur bahkan dia terlalu agung untuk disentuh. Ken mengurungkan niatnya untuk mendekat. Ken tidak ingin mengganggu sang peri hutan yang tidur dengan nyenyak. Semoga Peri hutan tahu kalau pohon kecil membutuhkannya. Ken dengan pelan-pelan meletakkan pohon kecilnya di tangan lentik yang terbuka. Dengan penuh harapan Ken berharap semoga pohon kecil bisa tumbuh bersamanya. Ken pergi dengan diam-diam agar tidak menimbulkan suara yang akan mengganggu sang peri. Saat dia sudah merasa jauh dari tempat sang peri dia lalu pergi berlari dengan kencang kembali ke beskem.
.
.
.
.
.
Ken begitu gembira dan tak percaya kalau dia bisa melihat sekaligus bertemu dengan peri hutan yang cantik itu. Wajahnya merona merah mengingat betapa cantiknya peri hutan itu. Dia seakan telah tersihir dan jatuh cinta padanya. Apakah ini takdir yang seperti dongeng anak semua dapat terjadi sesuai dengan impian kita. Antara mimpi dan kenyataan, Ken masih ragu. Bagaimana semua ini seperti dongeng yang selalu diceritakan oleh ibunya sebelum tidur. Apakah Ken sudah menembus dimensi dunia peri atau hanya hayalanya saja. Ken hanya merasa beruntung bisa bertemu peri hutan yang mungkin dia tidak akan bisa bertemu dengannya lagi. Antara dunia Khayal dan nyata sudah tidak ada artinya lagi bagi Ken.
Ken terus bertanya-tanya pada dirinya sendiri apakah dia bisa bertemu dengan peri hutan lagi esok hari dan esok harinya lagi dan selamanya. Dalam tidurnya yang begitu lelap, Ken bermimpi berjalan bergandengan tangan dengan sang peri hutan yang cantik. Bagai di surga kebahagiaan itu terus mengalir dalam hati Ken. Seakan memang mereka di takdirkan bersama.
Mimpi hanyalah mimpi. Mimpi adalah bunga tidur yang artinya segala keinginan dan harapan kita yang belum tercapai di dunia nyata akan dapat di raih di dalam mimpi. Itulah arti sebuah mimpi.
.
.
.
.
Ken kembali bekerja setiap harinya seperti biasa. Namun keadaan cuaca semakin hari semakin gelap seperti akan terjadi hujan deras. Dan hujan selalu datang setiap sore hari yang mempersulit proses penebangan pohon.
Keadaan mulai kacau sang ketua terus-menerus uring-uringan karena kayu yang akan dikirim masih belum mencukupi permintaan. Sedangkan cuaca mulai tidak bersahabat. Walau dalam keadaan hujan sekalipun Ken tetap bertahan untuk bertemu peri hutan.
Setelah kunjungan yang ke empat kali dia tidak menemukan peri hutan itu di tempatnya lagi. Ken berfikir apakah dia sudah bangun dan pergi dari sini. Bagaimana dengan pohon kecilnya, apakah dia baik-baik saja. Ken berharap peri hutan dapat menjadi teman pohon kecilnya. Hati Ken mulai sedih tidak ada yang bisa menghibur hatinya selain melihat peri hutan yang cantik. Mungki bertemu denganya adalah sebuah kebetulan. Ken kembali dengan keadaan kacau, dia kembali ke dalam dirinya yang kesepian dan menderita. Hari demi hari dia jalani dengan kehampaan.
.
.
.
.
.
Seorang dukun (pawang hujan) datang. Dia di undang untuk menghalangi hujan turun di daerah penebangan pohon hutan liar itu. Karena hujan menghalangi mereka untuk bekerja. Sang dukun merapal mantra dan menari dengan aneh untuk menghalau hujan. Ken juga melihat upacara penangkal hujan itu. dia merasa kaget sampai bola matanya melebar dan mulutnya terbuka lebar. Karena merasa aneh diperhatikan oleh temanya dia lalu menutup mulutnya dan tersenyum aneh pada temannya.
Ken tersenyum bahagia bisa melihat peri hutan yang dicintainya lagi. Peri hutan itu berjalan dan berhenti di hadapan si dukun yang menari dengan aneh. Dalam hati Ken berkata mungkin peri hutan tertawa karena melihat tingkah sang dukun yang aneh walau tidak terlihat dari wajahnya yang datar tanpa ekspresi. Peri hutan lalu sekilas menatap Ken, mereka saling menatap. Kebahagiaan langsung muncul begitu saja di antara mereka berdua. Sang peri hutan berbalik pergi kembali ke hutan. Tubuhnya perlahan-lahan mulai transparan dan menghilang. Kekecewaan muncul lagi di hati Ken. Dia melihat peri hutan yang di cintai pergi. Mendung mulai bergulung pergi, sang dukun dan Sarrah tersenyum bangga karena mereka dapat mengusir hujan.
.
.
.
.
Ken beberapa kali kembali ke tempat sang peri hutan tapi dia tidak melihatnya lagi. Mungkin itu pertemuan terakhir setelah dukun itu mengusir peri hutan. Kekecewaaan, kekosongan, kesedihan, kesendirian melebur menjadi satu dan hanyut dalam nafas yang panjang. Mungkin ini memang mimpi dari negri dongeng yang singgah dalam hidup ken. Walau kecewa dia tetap menerima apapun yang telah terjadi.
Keesokkan hari, mendung datang, hanya beberapa hari mendung dan hujan pergi sekarang datang lagi. Ken merasakan sesuatu akan datang dan itu benar. Dia sekilas melihat peri hutan sembunyi di balik pohon dan sedang memegangi pohon kecil yang dia berikan waktu itu. Pohon kecil itu terlihat lebih segar dan sehat dari pertama dia memberikannya pada peri hutan. Dia tersenyum dan berfikir memang peri hutan datang untuknya. Untuk mengembalikan pohon kecil yang sudah tumbuh pada Ken.
Ken menghampiri peri hutan namun peri hutan nampak berbalik dan berjalan memunggunginya dan bersembunyi di balik pohon-pohon besar lagi seperti malu-malu menunjukan dirinya. Ken terus mengikuti arah sang peri berjalan pergi. Sang peri sesekali melihat kebelakang untuk melihat Ken yang mengikutinya.
Sang peri hutan berjalan berlenggak-lenggok di hutan dengan cantik dan anggun. Dia memang peri yang cantik walau tanpa senyum tergambar di bibirnya. Ken terus mengikuti langkah sang peri pergi ke atas bukit sekalipun. Sungai berbatu dia lalui, tebing yang curam dia lalui, bahkan jalan yang licin juga dia lalui. Semak-semak berduri tak menghalangi langkahnya.
Mendung yang sudah bergerombol menjadi gelap sudah menghilangkan sebagian cahaya matahari. Hanya cahaya peri hutan yang menerangi langkah Ken. Ken sudah tidak perduli lagi dengan teman-teman kerjanya. Yang dia inginkan hanya bertemu dengan peri hutan yang dia cintai. Setitik air mulai jatuh membasahi pucuk kepala Ken. Ken menyadari sebentar lagi pasti akan hujan karena mendung yang gelap itu mengeluarkan beribu tetesan air.
Ken berhenti dan melihat kebelakang, gelap, semua gelap, tak ada harapan untuk kembali ke tempatnya yang dulu. Dia kembali ke depan dan mengikuti peri hutan yang menunggunya. Ken berfikir kalau peri hutan ingin menunjukan sesuatu padanya, sehingga dia tetap berjalan lurus ke depan. Apapun yang terjadi peri hutan tidak akan menyakitinya karena dia sangat baik. Kalaupun dia menyakiti Ken itu wajar karena mereka merusak hutan yang indah tempat tinggal peri hutan hanya demi uang dan kekayaan.
.
.
.
.
.
Para pekerja panik karena langit mulai gelap seperti malam. Gemuruh petir meledak-ledak bagai bom waktu yang siap meledakan mereka. Angin berhembus begitu kuat yang mampu menerbangkan apapun. Sarrah menyuruh semua para pekerja untuk kembali ke beskem karena sebentar lagi akan ada badai. Sebelum berkemas ke beskem petir menyambar sebuah pohon besar sampai tumbang dan jatuh menimpa mereka. Mereka semua berlarian menghindari terjangan pohon tumbang. Beberapa orang tertimpa pohon itu. Semua keadaan kacau di sana. semua orang panik.
.
.
.
.
.
Ken yang mendengar ledakan petir itu kaget dan berhenti lalu melihat ke belakang lagi. Kemudian dia mengangkat wajahnya ke atas dan merasakan air hujan yang begitu deras membasahi wajah dan tubuhnya. Dia tetap berjalan melewati pohon-pohon yang tak berdaun. Dia melihat di ujung bukit. Melihat peri hutan telah menunggunya. Apapun yang terjadi tidak ada jalan untuk kembali lagi. Sekeras apapun Ken untuk berjalan kembali hanya ada kegelapan yang akan menghalanginya pergi. Dia sudah terlanjur mengikuti hatinya. Hanya hatinya lah yang membantunya pada cahaya peri hutan. Dia akan tetap berjalan mengikutinya.
.
.
.
.
.
Hujan deras mengguyur hutan yang sudah gundul itu. Semua panik dan berusaha menyelamatkan diri masing-masing. Petir menggelegar, angin bertiup dengan kencang, hujan tak henti-hentinya turun. Tanah mulai becek dan berlumpur. Sulit untuk berjalan dengan tegak. Semua hewan-hewan mulai berlari pergi ke bawah dengan cepat. Keadaan hutan kacau yang ada hanya keributan yang semakin pecah.
.
.
.
.....The Forest Fairy.....
.
.
.
Ken berhenti di tanah yang gersang itu. Tak ada apun yang menghalanginya untuk menikmati indahnya memandang peri hutan sepuasnya. Peri hutan ada di ujung dan menunggunya. Dia melihat pemandangan dari atas bukit yang begitu indah dan mempesona. Sepadan dengan kecantikan yang di miliki peri hutan. Peri hutan adalah perwujudan dari hutan itu sendiri. Ken menyukai Alam dia senang sekali menanam pohon dan bunga-bunga waktu kecil dengan ibunya. Dan sekarang dia benar-benar semakin mencintai alam setelah melihat semuanya dengan mata kepalanya sendiri.
Peri hutan berbalik dan menatapnya dengan wajah datarnya yang cantik dan manis. Ken berjalan mendekatinya. Mereka saling berhadapan. Peri hutan yang tinggi itu membawa pohon kecil yang bergoyang tertiup angin di kedua telapak tangannya. Ken lalu meletakan kedua tangannya di bawah tangan peri hutan. Peri hutan hanya mengedipkan mata berkali-kali seperti berkata sesuatu yang tak di mengerti Ken. Ken menyukai mata peri hutan yang tergambar sempurna. Bahkan bola matanya yang hijau besar itu nampak bercermin dengan hutan. Semuanya indah.
Peri hutan mulai menurunkan tangannya dan tubuhnya sampai terduduk sejajar dengan Ken. Posisi duduknya yang begitu pasrah membuat Ken berfikir kalau peri hutan memang benar-benar baik dan lembut. Mereka dengan kompak menurunkan pohon kecil di tanah dan menanamnya di sana bersama-sama.
Ken berdoa setelah pohon kecil itu sudah menyatu dengan alam. Dia berdoa' pohon kecil kaulah yang mempertemukan ku dengan peri hutan. Itu sebuah anugrah darimu. Semoga kau bisa menjadi pohon yang tinggi dan besar. Semoga peri hutan selalu menjagamu. Aku berharap akan kembali lagi untuk menemuimu lagi. Terimakasih atas kebahagiaan yang kau berikan.' sang peri hutan terus menatapnya sampai Ken selesai berdoa. Mereka saling menatap dan berbagi kebahagiaan. Ken tersenyum bahagia kepada peri hutan yang tak bisa berbicara itu.
.
.
.
.
.
.
Tanah dari atas mulai turun sejalur dengan air yang menghuyurnya. Semua yang ada di atas tanah mulai goyah dan jatuh terbawah arus air hujan yang mengarah ke bawah. Longsor, ya keadaan hutan yang telah ditebang liat itu mengalami longsor yang hebat. Semua orang bahkan beskem mereka tertimbun tanah. Mereka tewas dalam longsor yang melanda mereka. Semua tak tersisa rata dengan tanah.
.
.
.
.
Di atas bukit yang mulai menampakan matahari terbit dengan sinar keagunganya yang membuat siapapun yang bermimpi pergi ke dunia nyata yang melelahkan. Hujan badai telah berhenti sejak fajar datang. Kini hanya sisa-sisa kenangan pahit yang menghilang. Peri hutan dan Ken masih asyik menunggu matahari terbit dengan diam tanpa bicara merasakan indahnya pagi di atas bukit. Peri hutan menatap ke arah Ken lalu berangsur-angsur menghilang. Ken melihat kenyataan kalau dia akan terus ditinggalkan seperti itu. Ken yakin kalau peri hutan tidak pergi. Dia selalu ada di sini hidup bersama alam yang indah. Harapan bertemu denganya semoga terkabul. Ken akan kembali ke sini suatu hari nanti.
.
.
.
.
.
.
Berita tanah longsor itu telah menyebar di seluruh stasiun televisi. Banyak reporter dan tim SAR berdatangan ke arah lokasi longsor terjadi. Mereka membawa seluruh mayat yang menjadi korban longsor ke dalam mobil ambulance. Ken kembali ke tempatnya bekerja. Melihat jalan yang dia lalui bersama peri hutan mulai rusak dan menghilang di gantikan dengan tanah yang terbuka. Tanah yang becek dan berlumpur itu sulit dilalui. Ken bertemu dengan salah satu tim SAR dan dia di bawa ke mobil keamanan. Dia merasa sedih karena seluruh pekerja yang dianggap keluarganya sendiri telah pergi meninggalkannya selamanya. Ken lah yang hanya selamat dalam bencana tanah longsor itu. Perusahan yang melakukan penebangan pohon secara ilegal itu di tutup dan pemiliknya di penjara. Kemudian Ken hidup di kota bersama dengan keluarga angkatnya yang baik dan perhatian padanya. Dia hidup bahagia di sana.
.
.
.
.
.
Ken sudah lulus kuliah di bidang perhutanan. Dia sudah magang di tempat perlindungan binatang langka dan tumbuhan langka yang di lindungi pemerintah. Dia juga memiliki koleksi tumbuhan yang bermacam-macam yang menghiasi rumahnya. Ken selalu teringat dengan peri hutan yang cantik di hutan. Dia sudah berencana pergi ke tempat lamanya bekerja dulu. Walau kemungkinan kecil bisa bertemu dengan peri hutan tapi tidak ada salahnya berkunjung ke sana. Karena kenangan di sana masih melekat kuat dalam diri Ken. Walau nanti yang dia temui peri hutan yang lain itu sebuah anugrah dua kali dalam hidupnya walau yang hanya dia cintai hanya peri hutan itu seorang.
.
.
.
.
Dia berkemas untuk perjalananya. Dia melaluinya sendiri dengan perjuangannya. Walau kadang dia salah jalan karena sudah 15 tahun tidak ke sana kembali. Bahkan karena musibah tanah longsor itu menghabiskan semua jejak jalan ke sana.
Rintangan apapun dia lalui seperti tekatnya yang dahulu. Sampai usahanya memang membuahkan hasil, dia sampai di semak-semak di mana dulu dia lewat untuk menanam pohon kecil bersama peri hutan sudah hampir dekat. Keadaan masih seperti semula, puncak bukit yang kosong. Tapi ada yang berbeda. Tempat dia menanam pohon kecil di sana nampak indah bagaikan taman bunga.
Pohon kecil tumbuh besar menjulang dan rindang. Banyak burung-burung berkicau bertengger di atas dahan-dahan pohon kecil. Mereka berdendang ria khas dunia luar. Seluruh bagian akar di penuhi tanaman rambat dan bunga-bunga yang bermekaran dengan warna-warni. Mahkota bunga kadang-kadang terbang terbawa hempasan angin yang menerpa mereka sampai menari-nari dengan anggun.
Langkah kaki Ken semakin dekat dan satu persatu barang bawaannya yang berat dia lepaskan sampai bebannya hilang. Dia melewati rerumputan yang tumbuh subur sampai berbunga lebat. Ken tersenyum bahagia melihat seorang peri hutan yang cantik tidur bersandar di akar pohon kecil itu dengan damai. Ken menghampirinya dan duduk di sampingnya. Menyatukan kedua tangan yang rindu akan cinta yang datang kembali. Ken Menutup mata merasakan kenyamanan di sana bersama sang peri hutan yang dia cintai. Sekilas peri hutan membuka mata dan terlihat senyum tipis menghiasi bibirnya yang tipis dan manis, kemudian menutup matanya kembali merasakan kehangatan bersama Ken.
.
.
.
.
.
***....__The Forest Fairy__....**
Aku selalu ada di sini saat kau memanggilku,
Hanya karena segalanya berubah,
Tak berarti semua tidak pernah terjadi,
Ambilah bintang di ufuk yang gelap,
Ikuti kemanapun aku pergi,
Kau akan aman bersamaku,
Biarkan kenangan semakin kuat,
Tak perlu kata selamat tinggal,
Kita pasti akan bertemu,
***....__The Forest Fairy__....**
......... THE END.........
......... THE END.........
.........THE END.........
.
.....❤💖❤.....