Di dalam kastil kuno tanpa cahaya nampak seorang gadis cantik dengan gaun hitam dan rambut yang terurai panjang, tengah menatap ke arah luar jendelanya. Tatapannya kosong dan wajahnya nampak murung. Dia terlihat memakai sebuah liontin berwarna merah dengan sebuah mahkota kecil yang membuatnya nampak indah. Namun, gadis itu terlihat tidak bahagia, Dia terlihat begitu sedih, tak mampu menunjukkan air matanya. Dia terduduk sambil memeluk kedua lututnya. Dia menangis meluapkan semua kesedihannya, berusaha sebisa mungkin agar tidak mengeluarkan suara. Dia terus menangis sepanjang malam, lalu tertidur tanpa sadar. Seorang wanita paruh baya masuk dan mendapatinya tertidur di lantai.
" Nona Alexa? ", teriaknya terkejut sambil berlari menghampiri.
Dia dengan cepat membawa tubuhnya ke sebuah ranjang, melihat matanya yang sembab, Wanita paruh baya itu menatap sendu ke arah gadis yang baru saja ia panggil ' Nona Alexa ', tangannya membelai rambut gadis itu. Perlahan air matanya jatuh melewati pipinya.
" Bersabarlah sedikit lagi! Jangan menangis lagi! ", ujarnya lalu pergi membiarkan gadis itu tidur.
Alexandra Adrienne, adalah seorang gadis yang menjadi satu-satunya pewaris kerajaan Vampir. Dia adalah satu-satunya keturunan yang harus meneruskan tahta dari sang Ayah. Ayahnya, Aleandra menjaga ketat dirinya agar tidak keluar dari kastil, Aleandra tahu betul bahayanya dunia di luar sana yang bisa membunuh Alexandra kapan saja. Aleandra tidak tahu bahaya apa yang mengancam keturunannya, Dia hanya khawatir kerajaannya berhenti setelah dia mati. Dia hanya ingin putrinya tetap aman sampai tiba waktunya dia menggantikan posisinya saat ini. Dia mengajarkan banyak hal kepada putrinya, tentang bagaimana cara mengendalikan pikirannya, bertarung, bahkan sesekali berburu. Namun, Aleandra tidak tahu kalau apa yang dilakukannya saat ini semakin membuat Alexa tidak bahagia, terlebih Alexa yang bahkan tidak boleh berteman dengan siapapun. Alexa merasa jenuh, dia bosan, dia merasa kosong seolah tidak ada yang mengisi hidupnya. Dia ingin sekali merasakan dunia luar, Dia ingin tahu apa saja yang ada di luar sana, mungkinkah lebih indah atau lebih menyeramkan.
Alexa terbangun, dia mengerjapkan matanya perlahan lalu bangkit dari tidurnya. Hari yang sama, hanya ada kegelapan yang mengelilingi kastilnya, matanya masih merasa lelah namun dia memaksakan dirinya untuk berjalan mendekati jendelanya. Sekilas ia melihat sebuah padang disana, dia pun berfikir untuk pergi kesana untuk sekedar menghilangkan rasa jenuhnya. Dia pun keluar lalu di hadang oleh dua penjaganya, Dia hanya perlu menunjukan matanya untuk membuat kedua penjaga itu patuh. Mereka mengikuti setiap langkah yang Alexa ambil, lalu saat Alexa melangkahkan kakinya keluar kastil, mereka mulai memperingatinya.
" Mohon maaf Nona,
" Tidak jauh, aku hanya mau ke padang, kau hanya perlu mengikuti ku kan? ", ujar Alexa menyela perkataan penjaga itu.
Namun, saat dia mulai melangkahkan kakinya lagi seseorang memanggil namanya yang sontak membuat dia berhenti.
" Nona Alexa! ", wanita paruh baya itu berlari mendekati Alexa sambil membawa sesuatu di tangannya.
" Bibi Lya? ", ujar Alexa pelan.
" Pakailah ini jika mau keluar, Ayah mu akan marah besar jika kau melupakannya! ", ujar Bibi Lya.
Alexa sedikit menekuk kakinya sambil menunduk agar Bibi Lya bisa memakaikannya. Dia bahkan terlihat anggun meski hanya melakukan itu, namun sepertinya kesedihan masih menyelimutinya. Setelah selesai, Alexa tidak mengucapkan apapun dan langsung melenggang pergi. Melupakan senyuman Bibi Lya yang baru saja dilihatnya.
" Hati-hati Nona! ", ujar Bibi Lya sedikit berteriak.
Setelah sampai di padang, kedua penjaga itu berhenti dan membiarkan Alexa berjalan yang semakin lama semakin ke tengah padang. Mereka berfikir tidak ada tempat untuk melarikan diri, jadi mereka mengawasinya dari jarak yang tidak terlalu jauh, memberikan sedikit kebebasan untuk Alexa. Sedangkan Alexa sendiri menghentikan langkahnya saat sudah sampai di tengah, dia memejamkan matanya, menghirup nafas dalam-dalam dan mencoba menjernihkan pikirannya. Namun hal lain merasuki pikirannya, sebuah ide gila muncul di kepalanya, seolah sebuah suara membisikkannya sesuatu, membangunkan hasrat terpendamnya, Alexa mulai mendengarkannya baik-baik.
" Bunuh kedua penjaga itu, minum darahnya sampai habis lalu bakar tubuhnya, setelah itu kau bisa melarikan diri! Namun, jangan lupa, banyak makhluk lain yang mencoba membunuhmu di luar sana! Pikirkan itu baik-baik sebelum mengambil tindakan! "
Suara itu terus muncul berulang-ulang, sampai Alexa tersadar dan mengingat ayahnya sejenak. Bahkan saat itu suaranya pun masih terngiang-ngiang di telinganya. Sekilas dia melihat pancaran cahaya di langit, dia tidak percaya dengan apa yang dilihatnya namun perlahan suara kegaduhan terdengar oleh telinganya. Alexa pun kembali memejamkan matanya cukup lama, lalu membuka matanya merah dan juga menunjukkan taringnya. Dia pura-pura melemas dengan berlutut untuk memancing kedua penjaganya mendekat, mereka mendekati Alexa tanpa menaruh kecurigaan apapun. Setelah Mereka masuk ke dalam perangkap Alexa, Alexa pun memblok mereka agar tidak dapat mengirim sinyal ke kastil. Mereka yang melihat Alexa yang sudah menunjukan wujud aslinya pun sadar kalau mereka dalam bahaya, sinyal bahaya pun tidak dapat dikirimkan karena Alexa memblok daerah ini. Tanpa harus mendekatinya, Alexa cukup mengarahkan telapak tangannya ke salah satu penjaganya, seolah magnet leher penjaga itu ditarik sampai berhenti di cengkeraman Alexa.
" Maaf! ", ujar Alexa sebelum akhirnya menggigit pergelangan tangan penjaga itu.
Seketika tubuhnya mengurus seolah darahnya benar-benar tersedot habis, setelah merasa tak ada setetes darah yang tersisa. Alexa pun melepaskan cengkeramannya yang membuat penjaga itu terkapar. tinggal satu orang lagi.
" Kemarilah! jangan membuatku menunjukan cara yang lebih kejam! ", ujar Alexa begitu dingin.
Namun penjaga itu malah berlutut, dia bahkan bersujud memohon ampun agar Alexa tidak membunuhnya. Namun, Alexa yang ada di hadapannya ini jauh berbeda dengan ayahnya. Dia jelas tampak sangat dingin, dengan tatapan tajam yang bahkan bisa melumpuhkan siapapun yang berani menatap matanya, seolah tak mempunyai rasa belas kasihan Alexa berjalan mendekatinya, lalu menarik kuat bajunya sampai dia mau berdiri setelah itu Alexa membuatnya menatap matanya, dengan sekejap dia tak mampu berbicara lagi.
" Seharusnya kau patuh padaku! ", ujarnya sebelum akhirnya melakukan hal yang sama pada penjaganya itu.
Setelah merasa sudah selesai, Alexa pun membakar keduanya. Hanya dengan menatapnya saja api muncul dan melahap kedua tubuh penjaga itu. Alexa menyeka mulutnya yang berlumuran darah menggunakan tangannya sebelum akhirnya bergerak cepat meninggalkan padang. Menuju ke arah cahaya yang sejak tadi menjadi pusat perhatiannya. Semakin lama Dia semakin dekat dengan cahaya itu, namun tiba-tiba Bibi Lya menghadangnya. Alexa sontak berhenti.
" Bibi Lya? ", ujar Alexa khawatir sambil menatap ke Bibi Lya.
Namun Bibi Lya memberikan sesuatu seperti sebuah parfum.
" Nona, Semprotkan ini ke tubuhmu agar para Vampir yang mencarimu tidak dapat mencium baumu, Aku akan
" Terimakasih bibi! ", ujar Alexa sambil tersenyum tipis.
" Jangan biarkan tubuhmu terpapar sinar matahari! ", ujar Bibi Lya lagi mengingatkan.
" Tentu! ", jawab Alexa lalu menghilang dari pandangan Bibi Lya.
" Berbahagialah Nona ku, temukan sesuatu yang mampu membuatmu tersenyum! ", ujar Bibi Lya lalu kembali ke kastil.
Alexa sampai di perbatasan, tidak terlihat penjaga disana. Namun, Alexa tidak sebodoh itu, dia kembali memblok wilayahnya lalu satu penjaga bertubuh besar muncul di hadapannya.
" Nona, Anda mau kemana? ", tanya penjaga itu.
" Aku mau membunuhmu! ", ujar Alexa lalu berlari.
Alexa berlari menghampiri penjaga itu lalu meraih kepalanya dan menarik ke belakang, sehingga penjaga itu mendongak cukup keras dan membuat tubuhnya terpental. Namun, kepalanya ada di tangan Alexa.
" Apa semudah itu? Tubuhmu sebesar titan namun tidak apa-apanya untukku! ", Alexa menatap tubuh penjaga itu lalu api muncul.
Dia juga mengangkat kepala penjaga itu dengan mata yang masih terbuka. Tidak ada ekspresi apapun di wajah Alexa, Dia juga membakar kepalanya. Tidak tersisa satu mayat pun yang dibiarkan utuh, semuanya dilenyapkan. Alexa melangkahkan kakinya keluar perbatasan. Sebuah udara baru dihirupnya, udara yang bercampur dengan wanginya darah manusia. Namun, tujuannya keluar dari kastil bukan untuk mengenyangkan perut,melainkan menghilangkan suasana buruk di hatinya. Alexa memakai parfum yang di berikan Bibi Lya karena siapa tahu para pengawalnya ada yang sedang berburu, setelah itu dia baru benar-benar pergi.
Alexa sampai di sebuah kota, dia berdiri diatas gedung dengan jubah yang melambai-lambai karena tertiup angin. Pemandangan kota saat malam memang benar-benar indah, Alexa cukup menikmatinya.
" Tidak sia-sia Yang Mulia mengajarkanku bertarung, Aku bisa bebas setelah ratusan tahun terkurung dalam kastil terkutuk itu! ", gumam Alexa.
Lalu sebuah Aroma mengganggu waktu santainya, Dia mencoba mengabaikan hal itu namun aromanya semakin kuat. Hal itu membuat Alexa menunjukan wujud aslinya. Tak perlu waktu lama, dia melihat seseorang sedang tertatih-tatih sambil memegang perutnya. Alexa muncul di hadapannya bersamaan dengan orang itu yang terjatuh.
" Tolong aku! ", ujarnya lirih.
Alexa menatapnya dengan tatapan tajam seperti hewan buas yang siap menerkam mangsanya.
" Seorang laki-laki? ", Alexa mendekat lalu membalik tubuh laki-laki itu.
Dia terpana melihat ketampanannya, Alexa bahkan menatapnya sampai tak berkedip. Taring dan kukunya kembali normal, namun saat menyadarkan dirinya Taring dan kukunya kembali memanjang.
" Ini salahmu, bagaimanapun juga aku lapaar! ", ujar Alexa lalu merobek kemeja laki-laki itu sampai memperlihatkan bahunya yang kekar.
Namun vampir adalah vampir, terlebih itu Alexa yang tanpa belas kasihan. Saat Alexa mengangkat kepala laki-laki itu lalu membuka mulut dan siap menggigit, laki-laki itu kembali mengeluarkan suara.
" Tolong aku, ku mohon! ", ujar lelaki itu semakin lirih.
Hal itu tentu saja membuat Alexa meragu.
" Sialan! Beraninya kau! ", sarkas Alexa.
Alexa meraih tangan laki-laki itu lalu melihat hal yang baru saja terjadi, Alexa tidak mau ikut campur dalam urusan manusia, saat ini yang dia perlukan adalah membawa laki-laki ini ke tempat tinggalnya sebelum ada yang melihatnya.
" Disana rupanya! ", ujar Alexa sebelum akhirnya menghilang membawa laki-laki itu.
Alexa menidurkan laki-laki itu di tempat tidur, lalu membuka kemeja nya yang sudah compang-camping karena sempat Alexa sobek. Banyak darah dan itu membuat Alexa tidak fokus, Alexa hampir saja menjilati darah yang keluar akibat luka tusukan itu. Namun, dengan segera Alexa menyembuhkannya dan membersihkan darahnya. Setelah selesai, Alexa melihat ke wajah laki-laki itu lagi, Dia menatapnya cukup lama. Wajah tampan dan postur tubuhnya yang sangat bagus tidak bisa mengalihkan perhatian Alexa.
" Apakah manusia selalu setampan ini saat tertidur? ", gumam Alexa.
Lalu tanpa sadar Alexa mendekatkan wajahnya, lalu mendaratkan ciuman di bibir laki-laki itu cukup lama. Sebelum akhirnya Alexa tersadar dan segera menjauh darinya.
" Apa yang aku lakukan? Apakah itu?", Ujar alexa terhenti saat mengetahui fajar hampir datang.
Alexa bingung terlebih Dia tidak bisa melarikan diri. Dia sudah sangat terlambat untuk pergi, Dia mencari tempat dimana seharusnya tidak terpapar cahaya matahari. Alexa melihat tirai dengan warna gelap, Dia pun segera menutupnya. Namun, Dia kembali berfikir bagaimana kalau laki-laki itu terbangun. Pikirannya kacau saat itu juga, suasana semakin terang namun Dia belum menemukan tempat bersembunyi. Alexa benar-benar frustasi saat ini, dia menyesali tindakannya namun tidak bisa menyalahkan laki-laki itu.
" Kemarilah! ", suara laki-laki itu.
Alexa mendengar suara itu dan langsung melirik ke arah laki-laki itu, laki-laki itu masih tertidur. Namun, lama Alexa menatapnya laki-laki itu membuka matanya dan bangun dari tidurnya.
" Kenapa masih berdiri disitu? Kemarilah! ", ujar laki-laki itu.
" Apa barusan kau menyuruhku? ", tanya Alexa.
Laki-laki itu menunjuk ke arah jendela, seakan tahu yang sedang Alexa pikirkna.
" Hari semakin terang, tirai gelap saja tidak cukup! Bersembunyilah disini! ", ujarnya.
" Apa? ", tanya Alexa terkejut saat laki-laki itu menunjuk ke tempat tidurnya.
Melihat Alexa tak bergerak sama sekali, laki-laki itu pun menghampirinya. Entah kenapa Alexa menjadi terkejut melihatnya telanjang dada, padahal sebelumnya dia baik-baik saja. Laki-laki itu meraih tangannya dan menuntunnya ke tempat tidur, dia menyuruh Alexa membaringkan tubuhnya lalu laki-laki itu menutup tubuh Alexa menggunakan selimut. Tubuhnya tertutup dari ujung kepala sampai ujung kaki. Laki-laki itu duduk di samping Alexa.
" Kau tidak takut padaku? ", tanya Alexa dari balik selimut.
" Mengapa aku harus takut padamu, Kau menyelamatkanku! ", jawab laki-laki itu sambil tersenyum.
" Kau tahu siapa aku? ", tanya Alexa lagi, aki-laki itu sempat tertawa kecil.
" Awalnya aku berfikir kalau Kau adalah gadis mesum dengan pakaian aneh, namun saat kau menunjukan taringmu, aku jadi tidak yakin! Aku bahkan tidak percaya kalau seorang vampir akan menolong manusia, ", jelas laki-laki itu.
" Siapa namamu? ", tanya Alexa lagi.
" Deon Div! Kau bisa memanggilku Div! ", ujar laki-laki bernama Div itu.
" Sekali lagi aku tanya, Kau tidak takut kepadaku? ", tanya Alexa untuk yang ke sekian kalinya.
" Apa yang aku takutkan? Aku yakin kau tidak akan membunuhku setelah kau menciumku! ", ujar Div terkekeh.
" Apa? Kau tahu tapi kau diam saja? Apa kau sengaja?! ", tanya Alexa dengan nada kesal dan menahan diri agar tidak keluar dari selimut.
" Jika aku bergerak sedikit saja, bukankah itu akan mengganggu aktivitasmu? ", ujar Div dengan nada konyol yang membuat Alexa semakin kesal,
" Manusia mesum! Aku akan membalasmu! ", ujar Alexa.
" Aku tidak semesum dirimu yang merobek kemeja ku tanpa izin! ", ucap Div semakin menjadi.
" Beraninya ka..
Ucap Alexa berhenti saat merasa seseorang tengah memeluknya. Dia terkejut namun tidak bisa memberontak.
" Diam dan tidurlah! Aku masih merasa lelah, dan terima kasih sudah menyelamatkan hidupku! ", ujar Div lalu hening.
Alexa tidak menjawab begitu juga dengan Div yang sepertinya sudah tertidur. Selama ini belum ada yang berani menjawabnya seperti Div. Namun, ada kesenangan tersendiri dalam hati Alexa karena Div membuatnya menjadi lebih banyak berbicara. Alexa tersenyum di balik selimut dan juga dalam pelukan Div.
Malam hari tiba, Alexa terbangun dan tidak mendapati Div disampingnya. Dia kembali menyemprotkan parfumnya sebelum pergi, Dia sempat keliling tempat tinggal Div namun sepertinya Div benar-benar tidak ada dirumah. Alexa kembali ke kamar dan membuka tirainya, Dia melihat bulan di langit.
" Bulan pun masih sama, hanya saja aku lebih bahagia disini, terlebih aku menemukannya! ", gumam Alexa.
Sebelum sempat dia meninggalkan tempat itu, Div muncul dari balik pintu.
" Kau mau kemana? ", tanya Div menghentikan Alexa.
" Aku harus pergi, disini bukan tempat yang tepat untukku ", ujar Alexa.
" Tidak bisakah kau tinggal sebentar lagi? ", tanya Div sambil menatap sendu.
" Haruskah? ", tanya Alexa.
" Iya, Aku masih membutuhkanmu! ", ujar Div tanpa ragu.
" Apa itu? Aku sudah menyembuhkan mu, juga menghapus rasa sakitnya! ", jawab Alexa.
Div menunjukan sekantung darah yang entah dia dapatkan darimana.
" Sebentar saja! ", pinta Div.
" Baiklah! ", ujar Alexa sambil meraih kantung darah itu.
Mereka duduk di kursi yang ada di balkon, Aleka meminum darah yang di berikan Div, bahkan Div menyaksikannya secara langsung namun Dia tak terlihat jijik pada Alexa. Alexa pun cukup heran, Dia mulai bertanya-tanya apakah manusia juga meminum darah manusia.
" Kau belum memberitahu namamu! ", ujar Div.
" Alexandra Adrienne, Aku putri sekaligus pewaris kerajaan Vampir! ", ujar Alexa yang sontak membuat Div terkejut sampai mendorong kursinya ke belakang.
" Ada apa? ", tanya Alexa.
" Tidak, lalu kenapa kau disini? Apa vampir-vampir sering berkeliaran di sekitar manusia? " tanya Div.
" Sebagian mereka bahkan berbaur dengan manusia, wujudnya sama seperi manusia namun jika hasratnya di pancing dia akan menunjukan wujud aslinya! ", jelas Alexa.
" Kau juga seperti itu? ", tanya Div.
" Kau tidak lihat seperti apa penampilanku? Aku terkurung dalam waktu yang cukup lama, ini adalah kali pertamaku masuk ke dunia manusia! Namun Aku sudah menemukannya ", Alexa menjelaskannya dengan senang hati.
" Apa itu? ", tanya Div.
" Cinta Sejatiku! Sayangnya aku harus segera pergi sebelum mereka menemukanku, itu akan sangat mengancam nyawanya! ", ujar Alexa.
Div terdiam dan tidak bertanya lagi, begitu juga dengan Alexa yang kembali fokus menghabiskan minumannya itu.
" Bisakah kau pergi besok? ", tanya Div.
Alexa membalas tatapan Div cukup lama sebelum akhirnya tersenyum.
" Tentu! ", jawab Alexa singkat.
" Aku tidak percaya kau bisa tersenyum! ", gumam Div yang membuat senyuman Alexa semakin melebar.
Pertemuan mereka yang tanpa sengaja membuat Alexa menemukan cinta sejatinya, Div. Namun, Alexa memilih untuk diam. Mengetahui sifat Vampir yang hanya jatuh cinta satu kali, membuat Alexa khawatir, terlebih cintanya adalah seorang manusia. Saat Ayahnya mengetahui ini, Div pasti akan di buru dan di bunuh untuk menghindari kekacauan untuk kaum vampir. Karena pada dasarnya, manusia dan vampir tidak boleh di persatukan. Hal itu akan melanggar hukum, Alexa akan tinggal satu malam lagi sebelum Dia meninggalkan Div untuk selamanya, Dia tidak akan kembali untuk menemui Div meski Alexa merindukannya.
" Berhentilah menatapku! ", tegur Alexa.
" Aku benar-benar penasaran, apakah vampir-vampir wanita di kastilmu secantik ini? ", tanya Div.
" Apa maksudmu? ", tanya Alexa.
" Kenapa ekspresimu begitu? Apa kau marah? ", tanya Div mencoba merayu, namun Alexa memalingkan wajahnya.
" Kau cantik! ", ujar Div tiba-tiba.
" Tidak ada yang memujiku seperti itu, karena aku terkenal sebagai Nona yang kejam tanpa rasa belas kasihan! Aku punya tatapan yang mematikan! ", Ujar Alexa lirih.
" Benar, tatapanmu, melemahkanku! ", ujar Div.
" Aku benar-benar ingin melemparkan tubuhmu! ", ujar Alexa tanpa melirik ke arah Div namun Div malah tertawa terbahak-bahak.
Alexa terdiam, lalu indra penciumannya menemukan bau amis di sekitarnya. Dengan segera Alexa menarik Div masuk, Dia dengan cepat menutup pintu dan tirainya. Lampu mati dengan sendirinya, Div yang belum sempat bertanya keburu di bungkam oleh Alexa. Alexa merapatkan tubuh Div ke tembok samping jendelanya, lalu mulai menyemprotkan parfum yang di berikan Bibi Lya. Tangan kanannya masih membungkam mulut Div, Alexa sedikit mengintip dari celah tirai, begitu juga dengan indra pendengaran dan penciumannya yang bekerja tajamnya. Setelah merasa bau amis itu menjauh dari tempatnya, Alexa pun terkejut karena wajahnya dan wajah Div sudah sangat dekat. Bahkan tidak tersisa jarak diantara mereka.
Div membalikkan posisi mereka, Alexa yang merapat dengan tembok dan Div yang mengunci celah untuk Alexa, Div menatap dalam ke arah Alexa..
" Apa yang terjadi? ", tanya Div berbisik yang sontak membuat Alexa merinding.
" Mereka mencariku, namun mereka sudah pergi! ", jawab Alexa.
Alexa mencoba pergi namun Div malah menahan tubuhnya.
" Begitukah? ", tanya Div yang sudah tidak bisa mengondisikan nada bicaranya.
Div perlahan menarik jubah yang dipakai Alexa, Alexa tidak dapat menghindar lagi terlebih Div yang semakin mendekatkan wajahnya.
***
Mereka melewati malam yang panjang. Sampai akhirnya Alexa terbangun di malam berikutnya dan lagi-lagi Div tidak ada disana. Alexa sempat berfikir tentang kejadian semalam, namun pikirannya teralihkan karena ayahnya sudah murka disana. Dia berniat menunggu Div namun, waktunya tidak akan sempat. Karena Div akan dalam bahaya jika sampai terlihat bersama dengannya. Dengan berat hati Alexa pun pergi, Dia meninggalkan sebuah cincin di meja kecil yang ada di samping tempat tidur Div. Lalu, Alexa benar-benar pergi dari sana.
Sesampainya di gerbang perbatasan, sudah ada dua penjaganya yang berjaga menggantikan si titan yang sebelumnya di bunuh Alexa. Mereka mengawal Alexa yang berjalan bagai manusia tanpa jiwa, pandangannya kosong selama perjalanan. Terlebih Alexa tidak menggunakan kekuatannya untuk sampai ke hadapan Ayahnya, melainkan terus berjalan kaki. Setibanya di Kastil, Aleandra yang tengah duduk di singgasana sontak beranjak dari duduknya saat mengetahui putri kesayangannya itu menghadapnya. Namun, tatapannya penuh amarah , Dia menyuruh salah satu pengawalnya untuk mencambuk Alexa agar mau berlutut. Alexa yang di paksa berlutut, berbalik menatap tajam ke ayahnya. Wujud aslinya kembali di tunjukkan.
" Beraninya kau!! ", ujar Aleandra penuh amarah.
" Hukum akuu! Aku tidak akan jera jika kau tidak membunuhku! ", jawab Alexa.
" Lancang! ", sarkas Aleandra.
" Bawa dia ke ruang pengabdian!! ", perintah Aleandra langsung di laksanakan oleh kedua pengawal nya.
Alexa di seret ke ruang pengabdian, tempat dimana dahulu dia di hukum karena membunuh semua pelayan dan mencoba kabur namun dirinya gagal dan berakhir disini. Menghabiskan waktu selama sepuluh tahun di ruang terkutuk untuk menebus kesalahannya. Kali ini Alexa di bawa lagi, kedua tangannya di rantai besi, begitu juga dengan kakinya. Pintunya di blok oleh Aleandra agar Alexa tidak melarikan diri.
Disisi lain, saat Alexa meninggalkan rumah Div. Div datang seperti malam sebelumnya dengan membawa satu kantung darah lagi, namun Dia mendapati kamarnya sepi, Dia mencoba mencari ke sekeliling namun, Alexa tidak ada. Dia bahkan mencoba memanggil Alexa dengan berteriak, namun Alexa tidak kembali. Hatinya hancur saat itu juga, Dia menyalahkan dirinya sendiri karena pergi tanpa memberitahu Alexa terlebih dahulu, dan kini Alexa benar-benar pergi. Div menangis sejadi-jadinya, baru kali ini dia menangisi kepergian seseorang. Dia tahu betul, dunia mereka berbeda, namun Div menyesal tidak memberitahu Alexa alasan mengapa dia menahan Alexa. Sekilas Div melihat sebuh cincin di mejanya, cincin yang dia lihat saat Alexa membungkam mulutnya.
" Kau meninggalkan ini? Apakah kau akan datang lagi? Ada yang harus ku sampaikan! ", ujar Div lirih, lalu rasa sakit di bahunya kembali terasa, sakit yang teramat sangat sampai Div menggenggam kuat cincin yang ada di tangannya.
Kembali lagi ke Alexa yang tengah menjalani hukumannya. Sudah hampir dua bulan Alexa di ruang pengabdian tanpa ada asupan untuk tubuhnya. Meskipun begitu, Alexa masih terlihat biasa saja. Lalu, Aleandra tiba-tiba datang, Alexa tersenyum di hadapannya setelah sekian lama, Aleandra hampir saja tergiur namun kembali mengingat masa hukuman Alexa.
" Tempat ini belum berubah, kau seharusnya sedikit menambah dekorasi agar putrimu ini tidak jenuh! Semakin aku jenuh, semakin kuat niatku untuk pergi dari sini! ", ujar Alexa dengan santainya.
" ALEXANDRA!! Harusnya kau sadar! Dunia luar akan membuatmu melupakan jati dirimu!! ", sarkas Aleandra dengan suara menggelegar.
" Pelankan suaramu, Ayah. Putrimu ini tidak tuli! Aku tahu apa alasanmu melarangku keluar dari kastil terkutuk ini! ", ujar Alexa sambil sedikit terkekeh.
" Jadi, kau sudah bertemu dengannya? ", tanya Aleandra.
" Menemukan siapa? Katakan dengan jelas agar aku bisa memahami perkataanmu! ", ujar Alexa lagi.
Aleandra menatap putrinya lekat, lalu berjalan mendekatinya.
" Jangan coba-coba mencaritahu! Atau aku akan murka!! ", ancam Alexa.
Namun, ancamannya tidak mempan untuk seorang Aleandra, Dia menggenggam tangan putrinya lalu melihat semua masalalu yang dilakukan putrinya saat meninggalkan kastil. Setelah melihat siapa yang di temui Putrinya, dia pun melepaskannya dan menyuruh pengawalnya memburu laki-laki itu.
" Deon Div? ", ucap Aleandra dengan tatapan penuh amarah.
" Apa yang akan kau lakukan? Jangan coba-coba menyentuhnya! ", ancam Alexa lagi, namun Aleandra berbalik dan meninggalkannya.
" Aku akan benar-benar murka jika kau berani menyentuhnya, Yang Mulia!!!!!!", Teriak Alexa penuh amarah.
Saat menyadari para pengawal itu mendekati Div, Alexa menunjukkan wujud aslinya. Kini aura merah keluar dari tubuhnya, rantai yang mengikatnya hancur begitu saja,begitu juga dengan blok yang dibuat ayahnya menghilang. Alexa pergi ke singgasana, namun ayahnya sudah tidak ada disana, begitu juga dengan pedangnya. Alexa keluar dan membunuh semua para pengawal dengan hanya menatapnya saja, dalam hitungan detik mereka semua mati di tangan Alexa. Aleandra mengajarkan sesuatu yang sangat berbahaya untuk dirinya sendiri kepada Alexa. Bahkan saat Alexa murka dia bisa menjadi lebih kuat darinya. Dia tidak mendapati Bibi Lya di kastil, Alexa sempat bertanya-tanya kemana Bibi Lya pergi. Lalu, saat Alexa sampai di gerbang perbatasan Dia melihat Biby Lia terkapar, Alexa mencoba membangunkannya namun Bibi Lya benar-benar sudah tak bernyawa. Alexa tidak terkejut saat mengetahui siapa yang membunuhnya.
" Pantaskah orang sepertimu menjadi raja? Aku akan membuatmu merasa bersalah sampai berfikir untuk mati saja, Yang Mulia. Tunggulah sebentar lagi!", ujar Alexa lalu pergi.
Disisi lain, Div sudah di kepung oleh para vampir, lalu seorang vampir bertubuh besar dengan pedang di tangannya berjalan ke arahnya. Orang itu menatap penuh amarah ke arah Div, Div yang tidak memahami situasi ini pun hanya diam namun tidak ada ketakutan dimatanya, Dia bahkan sangat berani menatap balik pria di depannya.
" Deon Div? ",
" Siapa Kau? ", tanya Div.
" Kau kah itu, yang membuat putriku menjadi sangat berani menjawabku? ", tanya Aleandra.
" Ah kau rajanya? ", jawab Div santai.
" Beraninya Kau menjawabku? ", ujar Aleandra marah.
" Setidaknya itu tidak lebih buruk dari seorang ayah yang mengurung putrinya selama ratusan tahun, Kau terlalu egois sampai melupakan kebahagiaan putrimu sendiri! ", ujar Div dengan santainya.
" Ini semua karena kau! Jika saja kau bukan takdirnya, aku akan membiarkannya bebas! ", ucap Aleandra mengungkap sedikit kebenaran.
" Maka bunuh saja aku! Jangan menyulitkan putrimu, Dia berhak bahagia! ", ujar Div semakin berani.
" Itulah tujuanku kesini, maka bersiaplah dan jangan lari! ", ujar Aleandra yang sudah siap menusukkan pedangnya ke jantung Div.
Pedang menghunus dada, menembus jantung. Namun, semua mata menatap terkejut melihat siapa yang tertusuk. Begitu juga dengan Aleandra yang membuka matanya lebar-lebar, tangannya gemetar hebat. Matanya mulai berkaca-kaca,Dia tak mampu lagi menarik pedangnya, saat mengetahui dia telah menusuk jantung putrinya. Aleandra melepaskan pedangnya.
" Alexa? ", ucap Div lirih dengan air mata yang jatuh.
Tubuh Alexa melemas, Div langsung menahan tubuh Alexa. Dia merangkul Alexa dengan pedang yang masih tertusuk di dadanya. Div menangis sejadi-jadinya saat itu.
" Cabut pedangnya, Dia beracun! ", pinta Alexa lirih.
Div pun mencabutnya, Alexa merintih kesakitan di pelukannya. Dia juga batuk darah saat itu, membuat Div semakin mengeratkan pelukannya.
" Kenapa kau melakukan hal ini? Kenapa? ", tanya Div.
" Karena aku tidak mau melihatmu mati dua kali! Setidaknya hiduplah untukku, jadilah raja! ", ujar Alexa terbata.
" Kalau begitu jangan tinggalkan aku untuk kedua kalinya! Ku mohon! Bertahanlah!! ", pinta Div sambil menangis.
" Tidak bisa sayang, pedang ayah sangat beracun, tetaplah hidup, jangan menangis hatiku sakit rasanya melihat kekasihku menangis! ", ujar Alexa sebisa mungkin.
" Tidak, jangan katakan itu! ", pinta Div lagi, Alexa batuk darah untuk yang kesekian kalinya.
" Aku mencintaimu! , Ujar Alexa sebelum akhirnya benar-benar tidak bergerak lagi.
" Tidak! Tidak Alexa! Ku mohon, biarkan aku mengatakan ini! ", Div memeluk erat tubuh Alexa.
Dadanya sesak melihat Alexa seperti ini. Tiba-tiba saja dia mengepalkan tangannya. Sesuatu yang berada di luar dugaan, siapa yang akan menyangka kalau Div adalah seorang Vampir. Dia memiliki fisik yang hampir sama seperti Alexa, Dia menidurkan Alexa di sofanya, lalu meraih pedang yang menusuk Alexa tadi. Aleandra yang sedari berlutut sambil mematung setelah melakukan kesalahan terbesar pun terkejut saat mendapati Div sudah berdiri di depannya sambil memegang pedangnya.
" Kau? ", ujar Aleandra terkejut sambil perlahan mundur.
" Kenapa? Kau terlihat terkejut, bagaimana perasaanmu setelah membunuh putrimu? Kau puas? ", tanya Div sambil terus melangkah maju.
" Kau yang membuatnya mengorbankan dirinya! ", sarkas Aleandra.
Div membuka bajunya gan menunjukkan luka bekas gigitan yang Alexa lakukan saat itu, itulah mengapa kekuatan Alexa mengalir dalam dirinya. Aleandra juga melihat sebuah cincin yang di pasangkan dalam kalung Div, cincin itu yang membuat Div tidak di ketahui oleh sesama vampir sehingga Aleandra berfikir kalau Div adalah manusia.
" Seharusnya kau tidak mengabaikan sumpahnya, kau mendengarnya namun tetap mengabaikannya. Sekarang bagaimana? Sudah ingin mati ? ", tanya Div dengan tatapan tajam.
" Enyahlah, Sialan! ", sarkas Aleandra.
" Putrimu, aku akan menjaganya! Jangan khawatir, pergilah dengan tenang! ", ujar Div.
Namun, Aleandra tiba-tiba bangkit dan merebut pedangnya, namun dia menghunuskan ke dalam dadanya sendiri.
" Bukankah ini cukup? Untuk seorang ayah yang egois? ", tanya Aleandra namun Div hanya tersenyum miring lalu kembali menghampiri Alexa.
Tatapannya berubah menjadi sedih, Dia kembali menangis melihat gadis yang menyelamatkan nyawanya dua kali kini pergi. Terlebih Dia yang belum sempat menyampaikan perasaannya pada Alexa. Perasaan yang Dia simpan dengan tekad akan menyampaikannya ketika Alexa kembali menemuinya. Namun kini, saat waktu yang di tunggunya tiba Dia malah harus kehilangannya lagi. Dia berharap entah pada siapa agar mengembalikan Alexa kepadanya, Dia terus berharap agar keajaiban terjadi padanya.
***
Hari demi hari berlalu, Div tengah berdiri di balkon apartemennya, dia masih mengingat jelas kejadian itu. Kejadian dimana rasa sesak di dada hampir membunuhnya, saat air mata tak lagi keluar, saat amarah meledak begitu hebatnya. Kejadian yang takan pernah dia lupakan sampai kapanpun. Tak lama sepasang tangan memeluk tubuhnya dari belakang.
" Kebenaran yang belum di sampaikan? Kau tidak mau menyampaikannya hari ini? "
" Benar, Aku harus menyampaikannya! ", jawab Div.
" Apa itu? "
Div menarik seseorang yang memeluknya dari belakang ke hadapannya, lalu memeluknya hangat.
" Aku mencintaimu, Alexa! ", ujar Div lirih.
Lalu tertawa kecil muncul, dari balik pelukannya.
" Kenapa kau tertawa? Kau menangis saat itu karena tidak sempat mengatakannya kepadaku? ", tanya Alexa
" Siapa yang tahu kalau takdir berpihak pada kita, Sayangg? ", ucap Div merengut.
" Kalau begitu biarkan aku melihatmu menangis! ", pinta Alexa dengan suara imutnya.
" Hey, aku hampir saja bunuh diri saat itu! ", ujar Div.
" Benarkah? ", tanya Alexa merayu.
" Ngomong-ngomong sejak kapan kau menjadi genit? ", tanya Div.
Alexa yang berniat kabur pun gagal karena Div kembali menariknya ke dalam pelukannya. Div menatap dalam Alexa, wajahnya semakin dekat sampai Dia bisa mencium aroma tubuh Alexa.
" Aku tidak akan melepaskan mu kali ini! ", ujar Div dengan suara berat.
" Benarkah? ", ucap Alexa yang masih sempat meledek Div.
Div pun langsung menggendong tubuh Alexa lalu masuk ke dalam kamarnya, mulai dari pintu dan tirai yang tertutup sendiri, bahkan sampai lampu yang mati dengan sendirinya. Mereka seolah tak perlu repot-repot mengulurkan tangan untuk melakukan sesuatu.
"When I regret something that happened to me. When someone leaves me before I can tell the truth. When regret pierced my chest, and in that moment I wished that person would return. When he really comes back, I will tell him firmly, I love you"
_Deon Div