Dua kali.
Aku kehilangan dirimu dua kali. Dirimu yang seharusnya datang sebagai berkah bagiku menghilang begitu saja. Betapa sayang Tuhan kepadamu. Betapa dicintainya dirimu hingga Tuhan enggan menurunkanmu ke dunia.
Kutatap ruang di balik kaca yang berisi tempat tidur – tempat tidur kecil yang tersusun rapi. Di beberapa tempat tidur itu terbaring sosok-sosok malaikat mungil yang tertidur. Aku tersenyum membayangkan. Jika dirimu terlahir, mungkin akan sekecil mereka.
Telapak tanganku menempel di kaca, “Aku bahkan belum sempat menyentuhmu.” Lirihku.
Sesak didadaku mengalirkan tangis di pipiku. Aku tidak sanggup berkata-kata. Sementara membayangkan semua begitu menyakitkan. Padahal aku sudah menandai tanggal kedatanganmu. Setiap harinya, setiap jamnya, aku mengharapkan kau tumbuh dengan baik. Kupikir aku sudah sangat menjagamu, ternyata aku masihlah belum pantas.
“Mungkin lebih baik seperti ini,” ucapku.
Aku hanya berharap kau bahagia. Jika bahagiamu berapa disana, aku akan mendoakanmu. Aku mendoakanmu.
“Anakku...”
# # #
Tamat.
Untuk mereka yang pernah kehilangan. Serta untuknya yang dicintai surga. Kudoakan kebahagia-an kalian dalam tulus.
Salam penulis,