Lita berjalan menapaki lorong gang yang gelap tanpa cahaya. Rintik hujan masih berjatuhan menemani langkahnya yang semakin melemah. Dingin, sepi dan pengap. Sampah menggunung di kanan dan kiri jalan yang ia lalui. Aroma busuk menyengat hidungnya dan sukses membuatnya merasa mual hingga ingin memuntahkan isi perutnya.
Lita mempercepat langkah kakinya. Sejurus kemudian ia pun keluar dari gang menjijikan di kota itu. Diliriknya jam berwarna hitam yang melingkar dipergelangan tangannya. Pukul 23:30 WIB. Rupanya sudah larut malam dan suasana di jalan itu pun entah mengapa tidak seperti biasanya. Sepi dan lengang. Hanya ada beberapa kendaraan yang melintas membuat suasana jalan sedikit tidak menakutkan. Rintik hujan yang manja semakin menderu bumi. Angin malam serasa membekukan tulang-tulang. Lita yang kedinginan menggosok-gosokkan kedua telapak tangannya berusaha menghangatkan diri.
Sudah ada 25 menit Lita menunggu taksi di trotoar, namun belum juga menunjukkan hasil. Untuk mengurangi waktu, ia pun memutuskan untuk berjalan dan berharap ada taksi di depan sana.
TRING TRING TRING
Terdengar suara dari ponsel didalam tasnya. Ponselnya menderit tak henti-hentinya. Sedikit kesal ia membuka resleting tasnya, mengeluarkan ponsel dan membaca pesan itu.
✉️AFANDI : “Kamu dimana, sayang?”
Lita tidak berselera membalas pesan tersebut, hanya memasukkan ponselnya kembali ke dalam tas. Selang beberapa saat ponsel Lita kembali menderit. Masih pesan dari Afandi. Entah mengapa, air matanya jatuh menetes. Dirinya sadar sudah tidak mungkin lagi ia menghubungi laki-laki itu lagi. Sama saja ia akan menyakiti perasaan sahabat baiknya, Mona.
Biarlah dirinya yang mengalah, asal Afandi bahagia. Lagi pula, Mona memang lebih pantas untuknya.
"Tuhan, aku tidak bisa melihat sahabatku hatinya terluka, aku ingin membahagiakan dia di saat ia sedang mengalami kepedihan karena kehilangan kedua orang tuanya. Mona, aku merelakan Afandi untukmu. Semoga kalian berdua bahagia..." runtuh Lita dalam hati.
Di kamar. Lita duduk menatap jendela kaca yang mulai berembun. Menikmati secangkir kopi cappucino dengan hati tercabik. Air mata mengalir berderai melengkapi deritanya. Jujur, dirinya belum bisa menerima semua kenyataan. Apa yang terjadi seperti mimpi buruk. Teringat Mona yang datang padanya sambil menangis dan berbicara kalau dia sangat mencintai Afandi dan ingin memilikinya. Bagai disambar petir di siang bolong. Betapa hancur hati dan remuk jantung Lita saat itu.
"Ta, aku mencintai Afandi. Hanya dia yang mengerti aku saat ini. Apa menurutmu itu wajar? Aku butuh nasehatmu. Aku sangat mencintainya." ucap Maya lirih, mengadukan semua keluh kesahnya pada Lita. Sontak Lita juga menangis. Gadis itu bersedih karena Mona tidak atau mungkin belum tahu, kalau Lita dan Afandi sebenarnya sudah berpacaran dari empat bulan yang lalu. Dan rencananya, akhir tahun ini mereka akan membicarakan hubungan mereka pada kedua orang tua mereka masing-masing.
"Ya Tuhan lalu aku harus bagaimana? Berbicara jujur pada Mona dan melihatnya kembali masuk rumah sakit. Atau mendiamkan semuanya, lalu aku yang akan sakit?" batin Lita.
Kepala Lita terasa pusing. Kembali diseruputnya kopi panas ditangannya. Tatapan gadis itu mengawang menatap langit yang gelap. Lampu mercury di seberang jalan jelas menunjukkan riangnya titik-titik gerimis hujan yang turun dari langit. Suasana syahdu terasa hambar. Hatinya pilu.
Lita melihat lampu kamarnya meredup dan gelap. Entah darimana asalnya. Tercium bau amis seketika memenuhi ruangan kamar. Rintihan dan tangisan terdengar sesekali membahana di kamar Lita. Sontak gadis itu terperanjat. Ia ketakutan. Lita keluar kamar mencari ayah dan ibu serta adiknya, Farhan. Tapi, mereka semua tidak ada.
"Kemana perginya mereka? Bukankah ketika aku pulang papa yang membukakan pintu? Dan cappucino panas ini buatan mama? Farhan tadi meminjam buku kuliahku? Terus mereka semua pada kemana? Kok aneh banget."
KRING KRING KRING.
Telpon di ruang tamu berdering. Lita melangkah mendekati berharap ayah atau ibu atau mungkin Farhan yang menelpon. Lita mengangkat gagang telpon.
“Halo, Selamat malam.” sapa Lita.
Hening
“Halo, ini dengan siapa ya?”
Hening
“Haloooo ” kedua alis Lita pun menyatu.
Tidak mendapat jawaban. Lita meletakkan gagang telpon.
"Aneh. Siapa yang malam-malam begini iseng ngerjain orang." sungutnya kesal.
Lita melangkah hendak kembali ke dalam kamarnya. Melanjutkan meratapi nasibnya.
KRING KRING KRING.
Telpon di ruang tamu berdering untuk yang kedua kalinya. Lita mengurungkan niatnya ke kamar. Di angkatnya telpon sialan itu.
“Halo, ini siapa?” tanya Lita mencoba bersabar. Tapi orang seberang sana yang entah siapa masih diam membisu.
“Maaf, ini dengan siapa? Dan ada perlu apa?” tanya Lita lagi.
Hening
“Ini kalian ya?Papa, mama, Farhan udah dong jangan iseng." pikir Lita telpon itu adalah ayah, ibu dan Farhan yang mengerjainya.
Namun tidak ada jawaban hanya suara deru angin di sebuah ruangan.
“Sumpah deh kalian nggak lucu. Aku nggak takut. Terusin aja ganggu, sampai kalian puas." Lita menutup telpon dan melangkah ke dalam kamar. Lita berbaring di atas kasurnya. Ia memejamkan matanya. Dan entah sejak kapan, lehernya rasanya sakit. Nyeri sekali. Saat ia pegang, ada darah di tangannya.
"Astaga! Kenapa dengan leherku?" pekiknya histeris dan kebingungan.
Lita mengambil kotak P3K di ruang tamu. Dioleskanya obat merah dan minyak angin ke leher yang ia duga di gigit serangga Setelah itu ia istirahat di depan TV. Berbaring menunggu keluarnya datang. Lita masih positif thinking. Mungkin papa, mama dan adiknya keluar tanpa pamitan padanya.
KRIIIIIIIIING !!!
Telpon di ruang tamu berdering lagi. Lita terbangun mendengar suara telpon itu tapi ia tidak memperdulikannya. Ia yakin bahwa keluarganya yang mengerjainya. Dirinya benar-benar tidak mau di ganggu saat ini. Dirasakannya lehernya semakin sakit.
KRIIIIIIIIING !!!
“Dih! Awas aja kalau itu memang mereka!" Lita mendekati telpon itu.
“Halooo, ini dengan siapa? Kenapa dari tadi nggak bicara? Haloooo?” tanya Lita geram. Suasana di seberang sana, diam dan hening. Tidak ada yang menyahut. Lita menggelengkan kepala.
“Maaf ya, kalau nggak mau bicara jangan telpon. Mengganggu!”
PRAAAK!
Lita menghempaskan gagang telpon itu, lalu kembali berbaring diatas sofa.
KRIIIIIIIIING !!!
Lita melirik sesaat. Kemudian memejamkan mata. Tidak peduli.
KRIIIIIIIIING !!!
Telinga Lita seolah melebar mendengar suara itu. Lagi-lagi ia tidak peduli.
KRIIIIIIIIING !!!
Suara telpon itu terdengar memaksa. Mata Lita terpejam tapi telinganya seakan di rajam. Telinganya berdenging dan sakit, seolah merobek gendang telinga.
“Halo! Eh, kalau mau telpon ya bicara, jangan kayak gini. Ada perlu apa? Dan mau bicara dengan siapa? Jangan diam aja. Setan!” umpat Lita kalap. Gadis itu lepas kendali. Emosinya menderu bercampur luka di hati. Di saat hatinya kecewa, seakan ada orang yang ingin menambah luka. Sayup terdengar suara lirih di seberang sana. Perlahan suara itu semakin jelas terdengar. Lita terperanjat. Diamati baik-baik suara itu. Suara seorang wanita menangis dengan rintihan penuh penyesalan.
"Si-siapa ini?"
“Halooo…? ini siapa? ke-kenapa menangis?” ucap Lita lirih.
“To... looonnng….”
“Tolong? Tolong apa?” meski tidak tahu siapa orang itu. Lita mencoba berempati atau sekedar berbasa-basi.
“Aku menyesal…” isak pemilik suara.
“Menyesal? Kenapa? Apa yang udah kamu lakuin?”
“To... loooong. Saaakiiiiiit…”
Mendengar suara itu, Lita seketika terkesiap seolah turut merasakan kepedihan yang wanita itu alami. Dia sangat menderita sekali sepertinya. Tapi kenapa dia? Siapa? Di mana? semua pertanyaan memenuhi kepala Lita.
“Maaf, ini sudah malam. Aku tidak bisa keluar, jadi, aku tidak bisa membantumu."
“Aku ada di kamarmu. Sekarang!”
PRAAANG !
Lita terkejut mendengar suara gaduh di kamarnya. Segera ia berlari kelantai 2. Dengan hati-hati dan perlahan ia membuka pintu kamarnya. Dari balik pintu, sebelumnya ia mendengar suara wanita menjerit kesakitan. Hati Lita berdegup kencang. Nadinya seakan putus. Darah seakan mengalir deras.
KREEEK...
Pintu kamar pun terbuka.
“Astaga!” Lita menjerit. Di hadapannya ada seorang gadis tengah kejang-kejang menahan sakit karena lehernya tergantung di atas plapon kamar. Darah bercecer dimana-mana. Bau amis menyengat. Dari tangan kiri gadis itu ia melihat pergelangan tangan gadis itu nyaris terputus. Dan yang lebih membuat Lita terkejut adalah wanita itu adalah dirinya sendiri.
Tamat
.
.
.
Selesai membaca tolong tinggalkan jejakmu ya😊
Jika kamu suka, jadikan cerita ini favoritmu. Like, dan komen.
Baca juga novel karya ku ya
🌼 Kirana Tetaplah Disisiku
🌼 Cinta Sepotong Donat
🌼 Rasa Cinta
🌼 Kumpulan Cerita Horror
Dukungan kalian sangat berarti bagi ku.
Jangan lupa follow instagram ku @helloassyh_ untuk mendapat informasi update tentang novel ini.
Kalau kalian inbox atau DM insyaallah aku akan balas kalau nggak sibuk ya, hehehe
Terima Kasih*** 😘❤