Rasa yang dulu kupikir segalanya menjadi bukan apa-apa. Bahagia yang kutuju menjadi samar tak berupa. Hanya lelah yang menguat di sekujur tubuh. Tanpa bisa memilih arah yang benar untuk melangkah. Ataupun tersenyum sepanjang perjalanan yang panjang itu. Tidak juga dapat berteriak lantang, bahkan sekedar menghela.
Aku tertatih.
Berharap menutup mata dari monotonnya rasa. Enggan berpaling. Enggan menuju. Kehilangan keberadaan yang dulu kuakui sebagai sosok diriku. Sudah tidak ada lagi aku disini.
Semua akan baik-baik saja.
Berpegang pada kalimat tak jelas itu aku bertahan. Hingga tersadar bahwa tidak akan ada baiknya jika tetap ditempat. Sekalipun aku mengalihkan mata, tidak akan ada yang berubah. Rasa yang buruk di hatiku.
Andai kau adalah aku?
Andai aku bukanlah diriku. Cemburu terhadap hidup orang lain hingga ingin mengambilnya. Tertawa samar sembari mengucap, itu pikiran yang bodoh.
Ini adalah hidup.
Hukum kejam yang berkata bahwa hidup harus berbaur. Membuat standar berdasar kesepakatan mereka. Menilai. Menguji. Memandang sebelah mata. Berdalih. Disebut-sebut sebuah kewajaran. Sementara tidak ada minyak yang menyatu dengan air di tempat yang sama.
Pfft, egoku tertawa.
# # # #
Tamat.