Malam kembali merajai bumi, dibelaham bumi dinegara Indonesia, ada satu desa yang tengah dirundung rasa takut, takut jika malam telah tiba.
Kabut malam kembali merajai malam ini, membuat malam sunyi semakin terasa mencekam. ..
"Huuuuuhhhhhh...huuuhhhh....Hiksss...Hikssss" kembali suara tangia seorang wanita terdengar diarea bukit yang terhalang oleh hutan didesa itu.
"Entah siapa yang membuatnya menangis seperti itu" ungkap Malik, salah satu peronda malam itu.
"Sudah beberapa malam kampung kita ini seperti tak berpeng huni setiap malamnya sepi" sambung pria yang menutupi tubunya dengan kain sarung, meringgkuk seraya menutup telinganya dengan tangan.
"Iya itu semua karna suara tangia wanita itu, kampung kita ini jadi terlihat menyeramkan jika malam tiba" timpal pria bertubuh gempal disamping Malik.
Ya memang sudah hampir satu minggu lamanya suara tangis itu menghantui kampung Malik, entah apa penyebab wanita itu sesedih itu menangis disetiap malamnya.
Malam kian larut setiap berpindahnya jarum jam, semakin mendekati dini hari tangis itu semakin menyayat relung hati, hingga pada akhirnya tangis itu hilang bersama kokok ayam dan sang surya yang menyongsong pagi.
Seandainya bukan karna tugas sudah pasti Malik tak pernah ingin keluar malam lagi, semenjak tangisan misterius wanita itu, semenjak itu pula kampung Mekar Sari seperti mati dan tak berpenghuni setiap malamnya.
Kalau biasanya setelah acara pengajian anak - anak dikampung Mekar Sari bermain, hingga pertengahan malam akan bermain diluar sekedar untuk meramaikan suasana malam yang sunyi, ditemani cahaya sang rembulan, anak - anak yang didampingi para orang tua itu asik bermain.
Tapi saat ini jangankan untuk bermain, setelah suara bedug ditabuh berselang dengan azan magrib yang dikumandangkan dari surau, semua penduduk langsung merapatkan pintu rumahnya.
***
"Huuuuu... huuuuuu... Hikssss ... Hiksss" kembali para peronda itu mendengar suara tangisan seorang wanita sibukit itu.
Ini sudah malam kedua puluhnya, entah mengapa wanita itu tak merasakan lelah dalam tangisnya itu, dan entah sampai kapan malam sedih ini akan berakhir dikampung mereka.
Jika bukan karna takut adanya orang - orang yang menyalah gunakan kesempatan, tak maulah para petonda itu berjaga dimalam - malam mencekam mereka itu.
Entah kapan tangis itu akan berhenti, sepertinya siwanita merasakan sayata yang perih semasa ia hidup, walau demikian wanita itu tak pernah menunjukan wujudnya dikampung ini. Tapi tetap saja tangisnya membuat bulu kuduk semua warga dikampung ini meremang disetiap malamnya.
"Memang sekarang kampung kita aman, tak pernah lagi disatroni maling, tapi kalau gini ceritanya sama - sama mencekam bedanya ini karna sineng itu yang ga mau berhenti nangis" ucap si Ujang, salah satu puda kampung yang terkenal dengan gaya yang nyeleneh.
"Katanya mau diajak bicara, tapi ko kaya takut gitu kamu teh jang" ucap pak Rt.
"Hehehe, engga deh pak rete, makin didengerin makin nyesek denger tangisnya, dan makin merinding ini tubuh Ujang" jawab si Ujang
Semua yang ada dipos ronda itu menggeleng saja melihat dan mendengar tingkah si Ujang, tangis itu makin menghiasi malam yang semakin larut, kampung itu seperti mendapatkan lagu pengantar tidur, sayangnya bukan membuat warga merasa nyenyak untuk tidur dan merengkuh mimpi indah.
Ini malah membuat para warga merengkuh mimpi buruk karna rasa mencekam yang ditimbulkan suara tangis itu, ada satu pemuda yang setiap malam merasa kasihan mendengar tangis pilu siwanita.
"Sebenarnya dia menyesal, akhhhh bisa tidak kau hentikan tangis itu" ucap Malik merasa kasian dengan suara tangia setiap malamnya.
Ya pemuda itu adalah Malik, suara tangis itu saat ini bukan lagi membuat hati Malik meremang karna rasa seram dan takut, tapi berdesir karna rasa sakit kasihan.
Akhirnya malam itu Malik memutuskan untuk mendengarkan cerita sigadis misterius itu, yang selalu menumpahkan tangisnya dibukit ditengah hutan.
Krieeettttt....
"Rek kamana Lik? ( Mau kemana Lik?)" tanya Emak Laila.
"Ka luar mak (keluar mak)" jawab Malik
"Rek naon ceng kaluar?, heteu sieun kitu?, emangna teu kakuping kitu eta sineng kerceurik (mau apa ceng keluar?, engga takut gitu?, emang ga kedenger gitu sieneng lagi nangis" ucap emak Laila sambil merinding, ya wanita itu kini memiliki panggilan dari warganya yaitu 'sieneng'.
"Cuman sebentar mak" jawab Malik.
"Nya ntos kumaha Malik bae (ya udah gimana Malik aja)" ucap emak Laila.
***
Malik keluar dari rumahnya berjalan menuju arah pos ronda, karna pos ronda letaknya dipersimpangan antara jalan kampung dan jalan yang mau kehutan serta kejalan besar.
"Heeh Lik, Rek kamana sia? (Heeh Lik, mau kemana kamu?)" tanya si Ujang sedikit berteriak, karna ucapan si Ujang semua peronda melihat kearah si Ujang melihat.
Terlihat oleh mereka si Malik, salah satu pemuda dikampungnya yang bisa dibilang pangerannya Mekar Sari, banyak yang menyukainya bukan hanya karna wajahnya yang bisa dibilang tampan tapi kesopanannya juga.
"Mau kesini sebentar" jawab Malik menghentikan langkahnya.
"Mau apa? itukan jalan ke hutan Lik" tanya pak Wakid.
"Bentar doang pak Wakid mastiin doang" jawab Malik.
"Lik, entong nengan perkara sia, awas bisi teu bisa balik ( Lik, jangan cari perkara kamu, awas ga bisa pulang)" peringat si Ujang.
"Enya Lik, mening jig uih, karunya kana emak Laila atu Lik (Iya Lik, mending pulang, kasian sama emak Laila)" ucap pak Rt.
"Cuman bentar doang pak Rete" ucap Malik sambil berlalu terus berjalan, menjajaki kakinya lewat jalan setapak yang mengarah ke hutan.
"Aih si Malik, daugel ( nakal)" ucap pak Rt yang diangguki para peronda lainnya.
***
Malik benar - benar penasaran siapa sih wanita misterius itu yang setiap malam menangis tanpa henti, sampe membuat relung hati si Malik ini ikut merasa sakit hati.
Malik hanya ingin bertanya kenapa dia mengis seperti itu setiap malam, dan kalau bisa Malik ingin dia berhenti karna kasian para warga kampungnya selalu merasa takut mendengar tangisnya.
Jalan semakin sulit untuk dilalui Malik, karna selepas asar hingga magrib tadi huja, jadi jalan yang rusak itu licin dan becek, peneranganpun sudah mulai tak nampak, karna lampu listrik sudah tak ada lagi disepanjang jalan, karna Malik sudah memasuki area hutan.
Sesekali Malik menyabetkan golok ditangannya, untuk menebas ranting ataupun daun liar yang menghalangi jalannya, jalan setapak yang biasanya dilewati warga sudah menghilang sekitar 5 menit yang lalu.
Malik semakin kedalam hutan menuju satu tempat bukit, bukit yang belum pernah terjamah manusia itu, entah karna katanya banya binatang buas, atau karna banyak penghuninya atau mungkin karna jalannya yang terjal. Entah yang mana yang benar hingga bukit itu belum pernah terjamah manusia.
Padalah bukit itu tidak terlalu tinggi untuk dijajaki, Malik semakin mendengar dengan jelas suara tangia yang menyayat hati itu, "Ohhhh ... Hentikanlah tangis itu" pintanya sambil menutup tinganya, Malik tak tahan mendengarnya, rasanya hatinya sakit dan diapun ingin mrnangis saat mendengarnya.
Jika para warga tengah bergelung dalam selimut dikamar masing - masing karna tak ingin mendengar suara tangis wanita itu, dan ingin secepatnya pagi datang, lantas mengapa Malik begitu berani untuk menemui wanita itu langsung.
Sepertinya serigsla yang biasa mengaungpun takut dengan kehadiran sosok itu hingga tak pernah lagi terdengar aumannya.
"Tolong hentika tangisan anda non!" Pinta Malik setelah pemuda itu sampai diatas bukit, dan memilat wanita itu tengah menghadap kearah kampungnya.
Si wanita terperanjat kaget mendengar ucapan itu, sudah dua puluh hari dirinya dibukit ini, dan baru kali ini ada yang berbicara dengan dirinya.
"K...au.. bisa melihat ku?" bukannya mengiyakan permintaan Malik, gadis itu malah bertanya.
"Tentu saja" jawab Malik, ternyata cantik juga wanita dihadapannya ini, walau wajahnya pucat, dan sepertinya dia masih muda bisa dikatakan sangat muda malah.
"Kau yakin kau bisa melihat ku?" Tanya gadis itu meminta keyakinan.
"Benar nona" jawab Malik meyakinkan. Gadis aneh fikir malik.
"Kenapa kau menangis?" tanya Malik kembali sambil memperpendek jarak antar dirinya dan gadis itu.
Gadis itu tak menjawab dia malah kembali berbalik, dan melanjutkan memandang perkampungan Malik dan kembali menangis.
Malik ikut duduk disamping gadis itu, sejurus kemudian bulu kuduknya meremang, Malik sadar sangat sadar jika yang saat ini duduk disampingnya bukanlah manusia, takut sudah pasti, tapi rasa penasarannya mengalahkan semuanya termasuk rasa takut yang masih tersisa.
"Kau mau bercerita kenapa kau menangis?" tanya Malik, tak ada jawaban hanya suara tangis itu semakin kencang.
"Ayolah nona, hentikan tangis itu, rasanya sakit mendengar mu menangis setiap malam apa kau tidak cape?" tanya Malik.
"Tidak!!!" Bentak gadis itu marah, sangat marah hingga membuat matanya yang putih memerah, saking marahnya, kuku panjangnya semakin bertambah panjang mencengram rerumputan bukut itu.
"Kau tak tahu apapun" bentak gadis itu kembali.
"Saya memang tidak tau, sama seperti warga dikampu itu juga tidak tau apapun" jawab Malik menunjuk kearah kampungnya yang saat ini sedang dipandang oleh mata gadis berambut sebahu itu.
"Tapi karna tangisan nona, tangisan nona sudah membuat para warga kampung tak nyaman, mereka merasa resah dan takut" jelas Malik membuat gadis itu seketika menghentikan isaknya.
Yang awalnya gadis itu ingin kembali menumpahkan tangisnya, mendengar kalimat dari Malik, tiba - tiba saja ia merasa tak ingin menangis, gadis itu merasa bersalah karna ulahnya orang - orang yang tak tahu menahu akan masalahnya jadi terganggu.
"Maaf tapi kau kesepian disini" jawab sigadis
"Tapi bukan itu yang membuat mu menangiskan?" tanya Malik yang dijawab anggukab oleh gadis itu.
"Mau cerita?" tawar Malik.
"Aku tidak tinggal disini, aku tinggal diIbu kota, tapi entah kenapa satu malam aku terbangun sudah berada disini" jawabnya memulai bercerita.
"Kenapa bisa seperti itu?" tanya Malik.
"Entah aku sendiri tidak tahu" ucapnya sambil menggelengkan kepalanya.
"Kau tidak mencari jalan keluar?" tanya Malik.
"Sudah tapi selalu saja gagal" ungkap gadis itu.
"Tidak tanya jalan?" kembali malik bertanya.
"Sudah kucoba"
"Hasilnya?" Tanya Malik
"Setelah 5 hari aku disini ternyata aku baru sadar jika aku ada tanpa raga, aku hanya sebuah roh yang bergentayangan, mereka yang ku tanyai tak menjawab pertanyaan ku--"
"Apa mereka takut?" tanya Malik memotong ucapan gadis itu.
"Sayangnya tidak, mereka bukannya takut tapi mereka memang tak mendengar dan melihat ku" jelas gadis itu.
"Kenapa tidak coba saat malam saja" saran Malik
"Sudah ku coba, tapi jika malam tuba aku tak bisa kemanapun, bukit ini seperti magnet mempel padaku dan tak mau lepas" jelas gadis itu.
"Itu sebabnya kau menangis seperti ini setiap malam" terang Malik.
"Iya, aku ingin pulang tapi tak tauhu cara untuk pulang, aku juga kesepian" jawab gadis itu.
Tak terasa suara kokok ayam sudah terdengar, sinar sang surya pun sudah menyembirat dilangit cakrawala, obrolan itu terhenti begitu saja, saat Malik tak lagi bisa melihat gadis itu.
Sejujurnya ini aneh, tapi Malik tak ambil pusing, dia melangkah dari sana untuk kembali pulang kerumah, rasa kantuk menghinggapi dirinya.
Dan setelah malam itu Malik selalu pergi kebukit itu hanya sekedar untuk bertukar cerita dengan Imelda, gadis berparas cantik dengan muka pucatnya, cukup cantik untuk seorang arwah penasaran sepertinya.
Bisa dikatakan ini aneh dan diluar nalar tapi mau bagai mana lagi, Malik sendiripun merasa senang atas apa yang dilakukannya, walau masih terdengar tangisan - tangisan itu tapi hanya sesaat setelah Malik datang, gadis yang mengaku namanya Imelda ini menghentikan tangisnya.
Sepertinya tangis itu menjadi tanda pemanggil untuk Malik agar segera menemuinya, berbeda dengan malam ini tangis Imelda seakan mencekik leher para warganya termasuk Malik sendiri, tangis itu semakin pilu dari - hari yang lalu, entah karna apa gadis itu menangis seperti itu.
"Ada apa Imel?" tanya Malik setelah dirinya sampai dibukit itu lantas duduk disamping gadis cantik pucatnya.
Imelda hanya menoleh, lantas kembali melihat pemandangan dengan suara tangis semakin melengking.
"Hentikan Imel!! Kau ini kenapa?" pinta Malik bertanya.
"Aku tau kenapa aku seperti ini" ucap Imelda
"Apa?" tanya malik.
"Kondisi ku kritis Lik, ternyata aku sakit, dan malam itu aku unfall, orang tuaku membawa ku kerumah sakit dan aku baru tahu kondisi ku kalau aku kritis" jelas Imelda.
"Kau tau dari mana?" tanya Malik.
"Tadi pagi selepas kita berbicara, aku bisa menemukan cara untuk pulang setelah tau ternyata kondisi ku seperti itu.. Huhuhuhuuuuuu" jawab Imelda.
"Sabarlah Mel kau pasti sembuh"
"Bagai mana kalau aku mati, itu artinya aku tidak akan bisa bertemu dengan orang tuaku, aku akan pergi selamanya" ucap Imelda.
Setelah pembicaraan malam itu Malik tak pernah lagi bertemu dengan Imelda, bukan karna dirinya tak lagi kebukit, tapi Imelda yang menghilang tanpa jejak, dan suara tangis yang setiap malam menyelimuti kampunya hilang, bersama dengan hilangnya Imelda.
Dan Malikpun tak lagi bertrmu dengan Imelda sampai saat ini, padahal malam itu Malik ingin mengutarakan perasaannya walau terdengar sangat tak masuk akal tapi itu yang dirasakannya.
Tapi ya sudahlah mungkin kisah Malik dan Imelda hanya sampai sani.