Aku terbangun dengan perasaan yang gugup, seperti dikejar-kejar orang. Ku putuskan untuk ke kamar mandi, lalu bersiap tidur kembali. Namun aku tak bisa. Perasaan dikejar itu sungguh nyata. Hingga aku seolah tersadar bahwa ini sudah tahun 2021.
"Apa, sudah pertengahan 2021? Bukannya kemarin aku adalah anak sekolahan, yang masih aktif di sana-sini dan rajin ikut kompetisi? Lalu, kenapa sudah lewat 5 tahun begitu saja? Kenapa waktu secepat ini berlalu? Kenapa aku begini?"
Pertanyaan-pertanyaan beruntun itu mengambil kesadaranku. Berusaha mengingat-ingat 5 tahun yang kujalani ini.
Aku hanya merasa hampa. Masih terus menolak bahwa aku tidak seperti ini. Aku bukanlah orang yang seperti ini.
"Aku bukan pemalas! Aku selalu bersemangat bangun pagi! Aku tidak akan lelah hanya karena berkegiatan selama 18 jam. Tidakkkk!" Teriakku dalam keheningan pagi ini.
Lalu ku lihat dan dengar sekelilingku. Aku bertanya-tanya pada diriku sendiri.
"Kenapa mereka membiarkanku? Kenapa mama dan papa, bisa beraktivitas seperti biasa?"
Lalu aku merenung, menyandarkan tubuh ini di tembok.
"Kenapa mereka tak memedulikan aku? Hu... Hu... Hu..."
Air mataku mengalir cukup deras. Aku mengingat-ingat sebuah quote yang ada di Twitter kemarin.
'Lawan dari cinta/sayang bukanlah benci, melainkan ketidakpedulian.' Begitulah bunyi kutipan itu.
"Apa selama 5 tahun aku diam ini tidak dipedulikan ya keberadaan ku?" Hela nafasku dengan berat.
5 tahun aku suka mengurung diri. 5 tahun aku hidup dalam keraguan. 5 tahun yang selalu takut memulai. 5 tahun yang selalu terbatas. 5 tahun yang tidak punya apa-apa. Dan masih bertahan di kubangan seperti itu.
Aku bagai anak kecil yang terperangkap. Bila aku salah langkah, aku akan dimarahi. Bila aku tidak melangkah sama sekali, aku hanya dibiarkan membisu.
Bisu...
Basi...
Asu...
Aku tertinggal dari yang lainnya. Persetan dengan kata, 'semua orang punya waktunya masing-masing'. Bagaimana bila waktu itu hanya jatah yang diberikan sekali seumur hidup?
Melewati usia 17 dengan baik...
Menjalani usia 18 dengan semangat...
Melakukan segala hal di usia 19...
Menyadari usia 20 itu sudah kepala dua...
Menatap masa 21 yang menuju dewasa...
Menuju matang di usia 22...
Menjadi usia 23 yang bijaksana...
Sayangnya, hidup yang kunikmati berhenti di usia 18 menuju ke 19.
Aku memutuskan mengurung diri. Berusaha peka dengan sekelilingku. Menyadari banyak kekurangan di sana-sini. Mengambil hal yang menurutku realistis.
Tanpa pendamping, tanpa orang yang menyapa. Aku hanya berhenti.
Orang yang sedang lewat di sebelahku pun asyik jalan menikmati hidupnya.
Aku menghilangkan diri di balik hakikat eksistensi dunia. Meskipun sebelumnya, seringkali dihilangkan. Namun, entahlah. Bila dihilangkan, aku masih melawan. Sedangkan ketika menghilang, aku hanya pasrah.
Dan lagi-lagi membisu.
Perlahan-lahan basi.
Dan hanya mengutuk, asu!
Aku tak tahu, pada siapa harus bercerita. Tak tahu bagaimana caranya menerima. Tak tahu bagaimana itu harus bagaimana.
Pernah, ku coba bercerita pada orang yang sepertinya bisa dipercaya.
"Hei, aku ada masalah ini loh. Jangan cerita ke siapa-siapa, ya!"
Namun, suatu hari entah disengaja atau memang terencana, dia berkata, "Hei, geng! Dia lagi ada masalah. Tapi belum cerita kenapa."
Aku ingat di hari itu. Hari ketika aku menghentikan langkahku mendengar ucapannya. Lalu ku bertanya, "mengapa kau bercerita?"
"Ya, gak papa. Kan kamu gak bilang juga toh, masalahmu apa," katanya dengan enteng.
Aish. Asu! Bagaimana bila aku katakan masalahku sebenarnya? Apa itu caramu menyingkirkan aku? Bukankah kamu sudah punya segalanya?
Aku memutuskan untuk berjalan. Namun sayangnya, jalanku harus berhenti di usia 18 menuju 19.
Aku sadar, ada hal yang tidak dapat dipaksa untuk berjalan. Dengan semangat, keceriaan. Dunia seperti itu sudah menghilang. Hingga terkadang aku lupa, bahagia itu yang seperti apa.
Setiap hari hanya diliputi rasa takut. Kenikmatan hanya dirasa bila mendapati suasana yang sunyi. Menatap kehidupan dari atas balkon begitu terasa sejuk. Sesekali ke pantai tuk bercengkrama dengan debur laut.
Hari-hari yang sayangnya gelap. Berusaha hidup tapi tak tahu harus berbuat apa. Kadang berhenti, kadang terseok-seok.
Berada di zona bisu.
Tertinggal jadi basi.
Lagi-lagi cuma merutuk, Asu!
Lalu, terpikir.
"Apa 5 tahun ini sebuah konsekuensi itu?"
Konsekuensi dari bisu.
Konsekuensi jadi basi.
Konsekuensi ujungnya, Asu!
Akankah terus-menerus diriku berada di lingkaran bisu-basi-asu ini?
Sejenak ku membisu.
Bisu.
Sunyi.
Nyiur.
Urip!
Detak jam dinding yang memecah keheningan itu membuatku ketakutan.
Aku harap, waktu itu berhenti. Waktu semua orang berhenti. Akan ku kembalikan masa 5 tahun lalu. Akan ku putar waktu semua orang di dunia. Menarik putaran jarum jam 8 miliar manusia di bumi kembali ke 5 tahun lalu.
Aku akan memilih dan mempertahankan sikapku.
Tak lagi bisu.
Tak jadi basi.
Tak ada asu.