Duduk lesehan di serambi, sendiri, sesekali kepala ini menengadah, senggang kunikmati datangnya garis-garis jelaga, yang perlahan berarak menutupi angkasa raya, yang tak sampai hitungan jam kian menggurita, gelap pun tiba. Masih di sini, berkawan rintik gerimis yang luruh seperempat jam setelah azan berkumandang, berkawan gitar bolong pemberian bapak, hadiah ulangtahunku yang kedua belas, kupetik berlambat-lambat, selayaknya orang yang sedang berbisik-bisik, senandung lagu-lagu pop di tahun 80an kunyanyikan lirih, silih berganti. Kala nada dari lagu Ayah-nya Rinto Harahap terpetik tanpa sengaja, setitik air mataku jatuh luruh.
"Menjadi orang sukses itu ada caranya?"
"Cara?"
"Iya. Cara!"
"Caranya bagaimana, Pak?"
"Kamu mau sukses di bidang apa dulu?"
"Kita harus milih?"
"Lah iya?"
"Kita gak bisa sukses di segala bidang, Pak?"
"Mana ada orang yang sukses di segala bidang."
"Seperti Bill Gates ya, Pak."
"Iya. Steve Jobs. Mark Zuckerberg. J. K. Rowling."
"Caranya gimana, Pak?"
"Iya, selain kamu harus punya mimpi yang besar, kamu juga harus punya, umpamanya ini kamu ingin jadi ilmuwan hebat seperti Albert Einstein, iya kamu harus punya rasa ingin tahu yang besar, tentang segala sesuatu. Terus kalau kamu ingin jadi pengusaha yang kaya raya seperti Warren Buffett, iya kamu harus punya rasa lapar yang besar."
"Kalau lapar gimana bisa kerja, Pak?"
"Iya, jangan kerja, kalau kerja kapan kayanya."
"Lah kalau nggak kerja dari mana duitnya?"
"Duitnya dari Bank."
"Dari Bank? Emang bank mau kasih begitu aja, terus ngapain kita capek-capek nabung."
"Lah yang nyuruh kamu nabung itu siapa?"
"Emak! Katanya, jangan boros, uang jajannya ditabung buat beli baju lebaran nanti, gitu."
"Lah daripada kamu tabung lebih baik kamu belikan jajanan."
"Beli jajanan?"
"Iya beli jajanan, beli yang banyak."
"Kenyang dong, perut sekecil ini mana sanggup makan jajanan yang banyak-banyak."
"Lah iya jangan dimakan sendiri toh yo, tapi dijual."
"Jajanannya dijual?"
"Iya ke orang-orang."
"Kalau laku dapat duit dong,"
"Lah iya,"
"Terus ditabung?"
"Lah dibeliin jajanan lagi,"
"Tambah banyak dong,"
"Lah iya dijual lagi."
"Duitnya jadi makin tambah banyak lagi dong."
"Lah iya."
"Bisa segede gunung dong, Pak?"
"Lah gunungnya bisa kamu beli,"
"Gunung bisa dibeli pakai duit jajanan?"
"Bisa! Masak nggak!?"
"Wow!"
"Itu namanya kamu jadi orang sukses."
"Karena bisa beli gunung?"
"Lah iya gunung itu kan mahal."