"Laut," itulah yang ayah katakan saat memberitahu akan arti di balik namaku. Ayah bilang nama itu diberikan karena aku terlahir di tengah lautan, bahkan hingga sekarang aku tinggal di tempat yang sama. Tolong jangan bayangkan bahwa aku ini seekor ikan, karena aku hanyalah anak biasa, yang tinggal di tempat yang luar biasa.
Kepulauan Sento terletak di sebelah utara Sulawesi. Para tentara Jepang yang menemukan tempat ini pada zaman penjajahan dulu menamakannya Sento yang bermakna seribu pulau karena Kepulauan Sento ini terdiri dari kumpulan pulau-pulau kecil yang jumlahnya tidak bisa kami hitung. Namun, tiap pulaunya hanya cukup menampung satu sampai dua rumah saja. Agar para penghuni pulau bisa tetap bersosialisasi, maka dibangunlah jembatan kayu yang menjadi penghubung tiap rumah.
Banyak sekali hal yang bisa aku ceritakan, tapi sayangnya aku tidak sedang ingin menceritakan tentang tempat tinggalku, melainkan tentang sesuatu yang membuatku merasa tidak tenang. Kehidupanku yang selalu ceria dan menyenangkan kini telah berubah. Dan semuanya, bermula sejak saat itu...
Tahun lalu aku mengalami musibah saat sedang berenang seorang diri di tengah laut. Kakiku yang mendadak tidak dapat diajak bekerja sama membuatku harus merasakan betapa tersiksanya kecelakaan yang dinamakan tenggelam. Saat itu aku yakin tidak akan selamat, jika saja sebuah keajaiban tidak terjadi. Tiba-tiba aku tersadar di atas jembatan dekat rumah, seakan tidak ada apapun yang terjadi. Saat hendak pulang, aku menemukan secarik kertas di dalam kantong celana. Pada kertas tersebut tertulis, 'Lain kali berhati-hatilah. Mungkin saja keberuntunganmu tidak seperti hari ini.' Tidak ada nama pengirim yang membuatku bisa membalas surat tersebut, padahal aku sangat ingin membalasnya meski hanya untuk mengatakan terima kasih.
Satu bulan berlalu semenjak kejadian yang tidak pernah aku beritahukan kepada siapapun itu. Namun di tiap hari pikiranku tak pernah lepas dari bayangan akan siapa orang yang menolongku tempo hari. Meski sudah mencoba melupakannya, hal tersebut tidak pernah bisa aku lakukan. Hingga akhirnya aku memutuskan untuk menuliskan sebuah surat yang kemudian kuselipkan di sela kayu tempat aku tersadar waktu itu.
Satu hari, dua hari, suratku masih ada di sana. Mungkin si penolong tidak tahu aku menuliskan surat untuknya. Namun aku membiarkan kertas tersebut tetap berada di sana, sampai-sampai aku sendiri hampir melupakannya.
Kurang lebih satu bulan setelahnya, aku yang mengingat kembali tentang surat tersebut langsung menuju jembatan untuk memeriksa. Aku masih mendapati ada lipatan kertas yang tersempil di tempat yang sama. Hanya saja setelah aku memutuskan untuk mengambilnya, ternyata itu bukanlah kertasku. Si penolong ternyata membalas suratku! Aku merasa sangat senang, meski orang itu tidak pernah mau membocorkan identitasnya. Bahkan aku pernah sengaja bersembunyi untuk memata-matai siapa sebenarnya orang tersebut, hanya saja usahaku tidak pernah berhasil. Tapi aku tidak peduli, karena sejak saat itu kami menjadi sahabat baik dan mulai rutin bertukar cerita.
Suatu saat, teman-teman bermainku memergoki kegiatan rahasia tersebut. Hal buruknya, di hari itu di dalam suratnya si penolong menyatakan bahwa dia menyukaiku. Tentu saja teman-temanku yang membacanya mulai mengejekku habis-habisan. Mereka membuatku marah dan menjadi malas untuk menulis surat kembali.
Akhirnya aku memutuskan untuk berhenti bertukar surat dengan si penolong. Namun salahnya, aku menuliskan surat terakhir dengan sangat tidak sopan. 'Berhenti mengirimi aku surat! Aku tidak menyukaimu!' tulisku. Si penolong kembali membalasnya, dalam suratnya dia terdengar sangat sedih dan bertanya kenapa aku mendadak berubah. Apakah karena dia bilang bahwa dia menyukaiku? Tapi aku tidak pernah membalas suratnya, meski dia masih terus mengirimiku setiap satu bulan sekali.
Aku pikir si penolong akan mulai bosan dan menghentikan kegiatannya, tapi ternyata aku salah besar. Lama-kelamaan isi suratnya semakin membuatku risih. Dia berkata bahwa dia sangat marah kepadaku karena menghilang tanpa sebab. Bahkan dia berkata akan membalaskan kekesalannya itu dengan cara apapun. Tentu saja aku menganggap semua hanya gertakan semata agar aku mau memberikan balasan. Akan tetapi, semua yang dia katakan dalam suratnya benar-benar terjadi.
Sejak saat itu aku selalu mendapatkan kesialan, entah itu terjatuh hingga kakiku berdarah, kapalku mendadak bocor, tertimpa buah kelapa, tersayat pisau, tersengat ubur-ubur, hingga yang terparah di saat sebatang pohon menimpa rumahku kala sedang terjadi badai besar. Mungkin yang terakhir itu hanyalah gejala alam biasa, tapi setelah mendengar bahwa ayah merasa aneh kenapa badai terjadi pada musim seperti ini, perasaanku menjadi semakin tidak enak.
Kekhawatiranku bertambah semenjak surat si penolong masih tetap datang tanpa aku sendiri yang mengambilnya di tempat biasa. Kadang surat tersebut tiba-tiba ada di depan rumah, di atas perahu, di depan jendela, atau ada seseorang yang tiba-tiba mengantarkan tanpa tahu siapa pengirimnya. Tentu saja aku sangat kesal dan takut, ditambah lagi aku masih terus mengalami berbagai macam kesialan.
Tidak terasa waktu bergulir begitu cepat, aku masih dihantui oleh si penolong misterius dengan surat-surat menyeramkannya, padahal satu bulan lagi aku akan merayakan ulang tahun keempat belas. Akhirnya aku memutuskan untuk membalas surat si penolong. 'Hampir satu tahun sejak kamu menolongku. Maaf jika aku sempat membuatmu marah. Tapi, aku ingin berbaikan denganmu. Bisa kita berteman seperti dulu lagi?' tulisku.
Esoknya si penolong membalas dan berkata tidak ingin memaafkanku yang telah menyakiti hatinya. Tapi aku bersikeras ingin meminta maaf kepadanya. 'Aku mohon maafkan aku. Mungkin kamu akan tertawa jika tahu alasan kenapa aku bisa berbuat seperti waktu itu. Tolong beri tahu, apa yang bisa kulakukan agar kamu memaafkanku? Aku akan melakukannya.' Tapi kini, justru suratku lah yang tidak pernah mendapatkan balasan.
Kupikir aku sudah terlepas dari teror menyeramkan si penolong, karena hampir satu bulan aku tidak lagi mendapatkan balasan serta kesialan yang sama. Hingga tibalah hari ini, hari di mana aku mendapatkan kue ulang tahunku yang ke empat belas.
Waktu menunjukkan pukul sebelas malam. Aku berdiri di tempatku biasa menyelipkan surat pada sela kayu jembatan. Tidak ada yang kulakukan, hanya bediri, terdiam, sembari memandangi surat yang baru saja tiba tadi sore.
'Dalam surat terakhirmu kamu bertanya, apa yang bisa kamu perbuat agar aku memaafkanmu? Tapi sebelumnya, aku ingin nanti malam kamu pergi ke tempat di mana kita biasa bertukar surat. Aku akan datang, sebagai hadiah ulang tahun keempat belasmu. Dan setelah itu kamu harus ikut bersamaku, sebagai jawaban dari pertanyaan yang kamu pinta waktu itu. Selamat ulang tahun, Kai. N.B. Kuharap, ini bukan ulang tahun terakhirmu.'
Kuremas kertas di dalam genggaman. Memandangi bulan yang membulat sempurna di atas langit. Tidak ada perasaan apapun yang kurasakan saat ini, hanya kekosongan yang mengisi pikiranku. Kupejamkan mata sesaat, berpikir untuk bergegas pulang ke rumah sebelum ayah mencemaskanku. Kuhela napas dalam-dalam dan mulai melangkahkan kaki, bersamaan dengan munculnya sebuah suara yang membuat detak jantungku serasa terhenti.
"Kau mau kemana, Kai?"