Di ruangan yang pengap tak ada cela sedikit pun terdapat ember berisi air dan berbagai macam bunga. Seorang ibu mengelus lembut rambut anaknya, menuangkan satu botol parfum dan formalin ke dalam ember lalu mengaduknya dengan gayung.
" Waktunya mandi sayang ....!!"
( Ucap lembut seorang ibu )
Gadis kecil itu terbujur kaku di atas meja kayu, wajahnya pucat, bau busuk mulai tercium. Tetapi ibu itu selalu memandikan anaknya dengan
campuran air parfum dan Bunga untuk mengurangi bau busuk dari jasad anaknya.
Setelah selesai ibu itu memakaikan gaun cantik berwarna merah muda, dan mengatakan bahwa sekarang adalah hari ulang tahunnya.
Wanita malang itu mulai mendekor ruangan sempit dan pengap dengan berbagai macam balon dan kertas berwarna-warni. Ia tak lupa membuatkan kue ulang tahun kesukaan anaknya.
Yang dihiasi permen coklat dan lilin angka 7 ditengahnya, ibu itu mengucapkan selamat untuk ulang tahun anaknya yang bernama seruni .
" Seruni sayang ayo tiup lilinnya nak "
( Sambil membawa kue ulang tahun ditangannya )
" tok... tok...tok..."
( suara ketukan pintu mengagetkannya )
" Nyonya .... nyonya ..."
" Ya... tunggu sebentar !!! "
Seketika itu iya langsung merapihkan ruangannya, dan menutupi jazad seruni menggunakan kain. Ibu itu langsung keluar dari ruangan persembunyiannya yang berada di bawah kamar rumah tua kuno itu.
Ibu itu secepatnya langsung menutup pintu agar tidak ada satupun orang yang tau. Iya bergegas menaiki tangga menuju ke kamarnya dan membukakan pintu. Ternyata pak joko yang memanggil dia merupakan tukang kebun yang sudah bekerja lama di rumahnya.
" Ada apa joko..."?
( Ucap ibu itu sedikit kesal )
" Maaf nyonya ada tamu "
" Tamu siapa memang...??"
" Mereka dari kota nyonya, katanya ingin menyewa penginapan selama 5 hari "
" Suruh tunggu sebentar.... nanti aku akan menemuinya "
" Baik nyonya "
Ibu itu mulai melangkah keruang tamu dengan memakai kebaya merah terlihat elegan. Walau umurnya sudah tua tapi kecantikannya masih terpancar, wanita itu mulai duduk dan mengenalkan dirinya dia adalah deajeng murti janda kaya raya yang memiliki banyak lahan perkebunan.
Rumahnya yang besar juga sering dipakai untuk penginapan.
Suami istri dengan satu anak perempuan yang usianya sekitar 5 tahun. Mereka dari kota dan mulai menyapa dengan sopan.
" Siang ibu "
" Siang ... kalian ingin menginap 5 hari "
( Ucap deajeng bertanya )
" Iya bener.. ibu kami berniat ingin liburan "
( Ucap seorang wanita berantusias )
" Tapi kalian tau kan peraturannya, tidak ada yang boleh masuk keruang tengah itu..!!!"
( Sambil menunjuk )
Suami istri itu sedikit heran karena dia tidak tau jika ada peraturan seperti itu. Dan mengiyakan apa yang di suruh oleh wanita tua itu.
Ketika mereka melihat arsitektur setiap ruangan rumah itu begitu indah, pahatannya sangat kuno dan lampu-lampu yang menghiasi begitu elegan. Anak perempuan mereka mulai bertingkah aneh, dia selalu tersenyum seperti ada yang mengajaknya bermain.
" Rindang kenapa senyum-senyum gitu...?"
" Mama rindang boleh gak main sama Kaka itu "
( Sambil menunjuk kearah lorong )
Mereka heran tidak ada siapapun di sana dan mengiyakan apa yang diinginkan anaknya mungkin hanya teman halusinasi saja, karena rindang masih kecil itu hal biasanya untuk anak seusianya batinnya.
Hari sudah mulai malam waktu menunjukkan pukul 01.00 semua orang sudah tertidur, tetapi rindang terbangun dari tidurnya ia mendengar ada yang memangilnya, rindang mengikuti suara itu dan dia berhenti di depan pintu kayu yang besar.
Rindang teringat ucapan mamahnya yang melarang masuk ruangan itu. Seketika pintu kayu mulai terbuka sedikit, dari celah itu ia melihat kaka cantik yang mengajaknya bermain tadi sore.
Kaka itu melambaikan tangan agar rindang mau masuk ke dalam rindang mulai melangkah menuju keruangan itu ketika ingin masuk tiba-tiba tangan rindang ditarik oleh seorang wanita. Dan ternyata mamahnya yang panik karena anaknya sudah tidak ada disampingnya.
Mama rindang sedikit penasaran pintu ruangan tengah itu sedikit terbuka, tapi ia teringat kata wanita tua itu untuk tidak masuk ke dalamnya. Akhirnya mereka kembali lagi ke kamarnya.
Di lorong yang gelap gadis kecil itu menatap penuh harap, penampilannya sungguh menyedihkan . Terdapat darah yang mengalir di dahinya dan kulitnya membiru kedinginan.
2 hari sudah berlalu mereka mulai bosan dan ingin pergi jalan-jalan, akhirnya mencari pak Joko si tukang kebun mungkin saja mau mengantarnya berjalan-jalan mengelilingi desa.
Ketika berjalan ke ruang tengah suami istri itu melihat kagum foto gadis kecil yang cantik terpajang besar di sana. Rambut terurai panjang memakai gaun merah muda yang indah.
Mereka menanyakan siapakah gadis cantik itu. Pak joko terdiam wajahnya penuh kecemasan seperti menyimpan sebuah rahasia. Pak Joko hanya menjawab dia adalah anak tunggal nyonya yang sekarang sudah tiada.
Namun rindang berkata bahwa ia melihat kaka cantik itu sering bermain dengannya. Hal itu sontak membuat suami istri itu heran dan tidak percaya, tetapi tubuh pak Joko bergetar penuh ketakutan dan akhirnya meminta maaf pada suami istri itu tidak bisa mengantarnya jalan-jalan karena tidak enak badan.
flashback
Setiba di rumah pak joko langsung teringat kejadian 2 tahun lalu ketika tuan Kuncoro masih hidup. Keluarga itu sangat bahagia dan saling menyayangi satu sama lain.
Hingga suatu kejadian, ketika itu tuan Kuncoro sakit keras nyonya diajeng sudah membawanya kemanapun. Segala pengobatan sudah dilakukan tetapi nyawa tuan Kuncoro tidak bisa tertolong.
Nyonya waktu itu sangat terpukul hingga tak mau makan dan mengurung diri dikamar. Nyonya kecil sebutan pak joko untuk seruni sangat kesepian diusianya yang masih muda dan tidak tau apa-apa, harus terkena dampak dari ibunya yang hilang arah.
Ketika itu seruni ingin sekali bermain dengan ibunya dia menemui ibunya yang sangat menyedihkan, badannya yang tak terurus, lesu matanya tak hentinya menangis.
Seruni bertanya dengan lembut dan ingin memeluk mamanya, dia yang belum tau jika ayahnya meninggal pun bertanya. Dimana keberadaan ayahnya saat ini, mamahnya yang marah langsung mendorong seruni sampai jatuh dan kepalannya terbentur lantai keramik. Dan ibu seruni langsung sadar dia sangat menyesal sudah mendorong anaknya.
Dibalik pintu pak joko melihat semua kejadian itu, dia sangat terkejut melihat nyonya membunuh anaknya sendiri. Setelah kejadian itu pak joko disuruh menggali tanah untuk pemakaman nyonya kecil seruni.
Tetapi dia merasa heran jasad yang terbungkus kain itu seperti bukan manusia, dan benar saja jasad nyonya seruni tidak pernah dikubur tetapi diawetkan oleh nyonya diajeng. Hal itu membuat pak Joko takut dengan tingkah laku tuannya.
Hujan deras mengguyur di malam ini suara petir membuat rindang takut dan memeluk mamanya. Namun suami itu sudah tertidur lelap dan badannya menggigil kedinginan istrinya pun langsung membangunkannya, dan suami itu bercerita bahwa ia bermimpi melihat gadis kecil yang meminta untuk mengikutinya.
Gadis itu berhenti di depan pintu kayu ruangan tengah yang tak boleh dimasuki siapapun oleh wanita tua itu.
Namun suami itu tetap masuk dan dia sangat syok dengan ruangan itu, banyak sekali sesajen dan dupa. Adapula foto-foto gadis kecil yang berada di ruangan itu, seutas rambut terikat diantara kayu-kayu kecil dan ada beberapa mantra.
Suami itu tidak tau praktik apa yang sedang dilakukan wanita tua itu, tetapi gadis itu sangat menyedihkan dia hanya menunjuk ke rambut yang terikat itu.
Istri itu langsung syok dengan mimpi yang diceritakan suaminya, mereka berdua mulai mencari strategi agar bisa menolong gadis malang itu. Di pagi hari suami istri itu berkumpul di ruang makan.
Dan menyantap makanan yang sudah tersaji oleh juru masak favorit wanita tua itu. Setelah itu mereka mencari keberadaan pak joko untuk mencari informasi lebih mendalam, tetapi pak Joko tidak mau menceritakan yang sebenarnya.
Setelah suami itu meyakinkan bahwa jiwa gadis kecil itu sangat kesakitan dan tidak tenang. Maka pak Joko mulai menceritakan semua kejadian yang terjadi di kelurga itu.
Sontak suami istri itu sangat syok dengan cerita pak joko, dan mereka membuat rencana agar jazad seruni bisa di temukan dan dikubur dengan layak.
Di sisi lain rindang sedang tertawa sendiri ia
melihat ke kaca dan mengenakan pakaian bukan miliknya. Nyonya diajeng yang melihatnya sontak marah, karena rindang lancang memakai pakaian milik anaknya.
Saat ia ingin menampar nya seketika wajah rindang berubah menjadi seruni. Wanita tua itu terus memanggil namanya dan memeluknya dengan erat.
Suami istri yang melihat anaknya sesak langsung menyadarkan wanita tua itu, bahwa dia bukan seruni tapi rindang. Tanpa ada kata-kata dia langsung bergegas pergi meninggalkan mereka.
Pada pukul jam 1 siang polisi mendapatkan laporan untuk menggeledah rumah besar itu, sontak wanita tua itu menghalangi dan tidak ingin rumahnya digeledah.
Tetapi dia tidak bisa melakukan apa-apa, polisi dengan membawa anjing pelacak memasuki setiap ruangan di dalam rumah besar itu. Ketika polisi memasuki ruang tengah itu semua orang terkejut dengan berbagai macam sesajen, dupa dan praktik perdukunan yang ada di dalamnya.
Suami itu mulai melepas rambut yang terikat di sebilah kayu, karena dari pernyataan pak Joko nyonya deajeng ingin menghidupkan anak kesayangannya dengan cara apa pun, dia mencari paranormal tetapi tidak membuahkan hasil.
Akhirnya jiwa seruni tidak tenang dan selalu kesakitan karena keterikatan itu. Sudah setengah jam mengelilingi rumah besar itu, tetapi jasad gadis kecil tidak kunjung ditemukan.
Sampai akhirnya suara anjing menggonggong keras di atas karpet yang berada dalam kamar wanita tua itu. Ketika karpet itu di buka tenyata ada ruangan kosong yang berada di dalamnya.
Polisi pun mulai mengecek dan menemukan jasad gadis malang itu di atas meja kayu di ruang bawah tanah. Jazad gadis itu pun dikubur dengan layak dan didoakan agar arwahnya tenang.
Setelah kejadian itu nyonya diajeng tidak di masukan penjara, tetapi wanita itu mendapatkan rehabilitasi di rumah sakit jiwa. Dan suami istri itu berniat pulang ke kota.
Rumah besar yang kosong menjadi sangat
menakutkan. Pak Joko pun tidak berani berlama-lama didalam, ia hanya menjaga rumah itu dari depan pos penjaga.
Hembusan angin meniupkan dedaunan di taman, wanita tua itu menatap kosong ke depan kolam. Ia melihat wajah anaknya tersenyum dan melambaikan tangan.
Lalu dengan cepat wanita itu berlari menuju ke arah anaknya, suster yang melihat dari kejauhan sangat panik karena wanita itu terjun ke kolam yang sedang dikuras. Seketika itu darah mengalir dilantai kolam yang kering dan nyonya diajeng meninggal dengan keadaan tragis.