Aku masih awal belasan tahun. Baru duduk dibangku SMP. Sedang bandel-bandelnya dan selalu penasaran akan sesuatu. Bisa dibilang memasuki masa puber. Pencarian jatidiri, minat dan bakat.
“Tapi bukan ini yang kumau,”
Kugenggam erat kapak di tangan kananku. Menyeretnya perlahan sembari mengusap air mata yang deras mengalir menggunakan lengan bajuku. Langkah berat yang harus kupaksakan sangatlah menyiksa.
Tak.Tak.Tak.
Ceklek. Klik.Klik.
Suara langkah kaki bergerak cepat tak jauh di depanku. Disusul suara pintu yang ditutup dan dikunci dari dalam. Itu adalah tanda tempat yang harus kudatangi. Untuk menemukan seseorang didalamnya. Untuk menyambung hidupku.
“Maaf... maaf...”
Bahkan bila kata maaf itu ku ucapkan seribu kali pun rasaya belum cukup. Aku berhenti di depan pintu. Menggunakan kapakku untuk menghancurkan kenopnya. Setelah beberapa pukulan pintu itu baru bisa dibuka.
Kreeekkk.
Suara derit pintu yang menganggu adalah tanda bagi siapapun yang ada didalam sana untuk segera lari. Minimal sembunyi. Kutoleh kiri kanan, lalu bawah. Jejak sepatu di atas lantai berdebu mengarah pada sebuah tempat tidur. Di kolong tempat tidur itu seseorang tengah bersembunyi. Menahan napasnya walau kurasa itu percuma.
Aku mendekat. Berdiri di sisi tempat tidur. Berpura-pura tidak tahu. “Maaf,” Bisikku sebelum mengayunkan kapak ke bawah sana. Suara jeritan terdengar, lalu hening. Dari kolong tempat tidur mengalir warna merah yang menjadi genangan.
Pemandangan yang kulihat seharian ini.
Masih kuingat saat pertama rasa penasaran membawaku dan teman-temanku memasuki sebuah rumah tua yang kami temukan di hutan belakang sekolah. Rumah yang disinyalir sebagai rumah berhantu. Berisi arwah korban-korban pembunuhan dan pembunuhnya. Rumah yang di pintu masuknya tergantung papan peringatan, namun malah kami lepaskan.
Rumah yang kami masuki dengan percaya diri itu, kini menjadi tempat yang mengunci kami. Tempat yang memaksa kami mengambil peran dari sebuah kotak undian di ruang depan.
Tanpa pikir panjang, kami yang masih belia ini menganggap bahwa undian itu merupakan tantangan. Pikiran yang percaya bahwa semua hanyalah permainan semata, untuk menakut-nakuti orang-orang yang masuk.
Aku sambil tertawa-tawa mengambil undian itu. Peran yang tertulis disana adalah pembunuh. Sebuah lelucon yang lambat laun tidak terasa lucu lagi. Dari kepura-puraan, menjadi peringatan, lalu keseriusan.
Awalnya kami memainkannya dengan senang hati, sampai salah satu dari kami ditemukan mati. Semua orang menatap takut padaku sebab peranku dalam undian adalah pembunuh. Meskipun sudah kujelaskan bahwa bukan aku pelakunya. Mereka tetap tidak percaya. Lalu satu persatu dari mereka mulai lari dan sembunyi. Sementara aku berjalan terisak mencari mereka.
“JANGAN MENDEKAT!” teriak temanku yang lain memperingatiku.
“Maaf...” ucapku tak mengindahkan peringatannya. “Aku... aku hanya ingin keluar dari sini...” pintaku memohon melalui sorot mata.
Kami semua ingin keluar dari situasi ini. Hanya saja berdasarkan jalannya permainan, hanya pemenang yang boleh keluar. Jika melanggar peraturan itu, maka kami semua akan mati. Peraturan yang tertulis di balik kotak undian memiliki dua poin utama. Pertama, peran korban harus bersembunyi dari peran pembunuh sampai batas waktu yang ditentukan. Kedua, peran pembunuh harus menemukan peran korban sampai batas waktu yang ditentukan. Batas waktu nya adalah sampai pagi hari pukul 06.00.
Terdengar seperti lelucon yang dibuat oleh anak-anak kan. Itulah kenapa awalnya kami memainkannya sembari bercanda. Sampai poin peraturan ketiga tertulis di tubuh teman kami yang tergeletak mengenaskan.
Poin ketiga adalah hanya salah satu dari kedua peran yang dapat keluar dari rumah ini. Bila sampai batas waktu yang ditentukan habis dan setiap peran gagal memerankan bagiannya, semua pemilik peran akan mati.
Dimulailah permainan berdarah sesungguhnya. Antara 5 peran korban dan 1 peran pembunuh. Awalnya aku tetap menolak dan mencoba keluar dari rumah ini, namun tidak ada jalan kami kembali. Kami terperangkap. Lalu tanpa sepengetahuanku, kelima peran korban yang adalah teman-temanku itu mulai merencanakan untuk mencelakaiku. Memaksaku untuk menyerang mereka lebih dulu.
Crashhhh!
Bunyi semburan sesuatu yang keluar saat ku ayunkan kapakku. Cipratan-cipratan merah mengenai tubuhku. Akhirnya, ini yang terakhir.
Kulepas kapak dari genggamanku. Gontai berjalan ke ruang depan. Sejenak aku ragu apakah pintu itu akan benar-benar terbuka. Beberapa saat aku hanya berdiri di depannya. Memegang kenopnya tanpa memutarnya. Aku menoleh ke belakang, pada sebuah jam dinding di atas kotak undian. Pukul 05.55.
Lima menit lagi. Selama lima menit itulah aku memikirkan semuanya. Permintaan maaf untuk teman-temanku. Permintaan maaf untuk keluarga mereka. permintaan maaf untuk diriku sendiri. Lalu, lima menit yang sangat lama itu akhirnya berlalu.
Klek.
Kuputar kenopnya, kubuka pintu yang semula terkunci itu. Silau cahaya menusuk mataku. Kualihkan pandang, sedikit menyipit. Udara yang segar ini tidak bercampur bau anyir. Aku menangis.
“Akhirnya, aku keluar....”
Aku berhasil keluar dari rumah tua ini. Aku berhasil selamat dari permainan berdarah itu. Aku... hiks hiks...
“Hei, kau akan masuk atau tidak?” tanya sebuah suara mengagetkanku.
Kurasakan pundakku ditepuk dari belakang, “Apa kau membatu saking ketakutannya?” suara yang lain menimpali.
“Ayolah, jangan ganggu dia. Akan repot kalau dia sampai ngompol di celana.” Satu suara lagi.
Aku merinding. Ragu-ragu kubalik badan. Terbelalak melihat siapa saja yang ada dibelakangku. Mereka berlima, teman-temanku yang masuk ke rumah tua bersamaku. Teman-teman yang ku kalahkan dengan tanganku sendiri. Lututku merasa lemas, badanku bergetar.
“Kau baik-baik saja?” tanya mereka khawatir. “Wajahmu pucat sekali bro,”
“Kalian hidup?” tanyaku gugup.
“Pfft, kau tidur berdiri?” tanya mereka lagi. “Hahahahha....”
Salah satu dari mereka menggeserku kesamping, lalu maju ke depan pintu. Hendak membuka pintu rumah tua itu. Aku merasakan dejavu. Saat derit kenop pintu itu terdengar di telingaku, aku berteriak.
“JANGAN!”
# # # #
TAMAT.
@indahrashie