'Hantu itu tidak ada, yang ada hanyalah bayangan dari ketakutan yang tergambar di pikiran mu. Hantu itu hanyalah sebuah teori yang tidak memiliki bukti sama sekali.'
Begitulah ucapan Nasya yang selalu ia ucapkan setiap saat. Seorang gadis yang lahir dari keluarga petualang yang tak percaya dengan keberadaan makhluk tak kasat mata, itulah Nasya.
"Jangan main main, Nasya! Ini kita lagi di tengah hutan! Kamu mau dihantui mereka?!" Bu Yuliandra sedari tadi sudah mewanti wanti Nasya dan dua siswi lainnya untuk tidak menantang 'mereka' yang tinggal lebih dulu di sini.
"Astaga, bu! Ini sudah abad ke dua puluh satu, suatu saat nanti hutan ini bakal ditebang buat keperluan lahan. Ibu pikir makhluk makhluk itu bakal tinggal di apartemen pencakar langit? Enggak kan!"
"Kalau kamu nggak percaya nggak papa. Yang penting kamu hargai dan hormati mereka yang sudah menempati tempat ini duluan sebelum kamu." Valencia teman Nasya ikut menasehati temannya. Sepertinya Nasya tidak jera untuk bermain main dengan makhluk tak kasat mata, Valencia kira Nasya akan jera sesaat setelah tersesat di Gunung Lawu tiga bulan yang lalu.
"Untuk apa aku menghormati makhluk yang tidak bisa ku lihat dan raba? Ada ada saja." Nasya memutar matanya malas dan melenggos pergi menuju sebuah air terjun untuk mengambil sepanci air untuk dimasak bersama mie instan.
"Valencia, Fransiska. Kalian awasi Nasya, jangan sampai dia terbawa lagi ke dunia lain seperti di Lawu kemarin."
"Siap bu!" Bu Yuliandra pergi menuju kawasan perkemahan kembali, masih ada puluhan anak yang harus ia awasi. Toh jarak antara perkemahan dan air terjun itu tidak sampai 100 meter.
Nasya mendekati Fransiska dan memberikan panci berisi air itu untuk dimasak di tenda mereka bertiga. Fransiska melirik kearah Valencia, yang ditatap hanya mengangguk.
"Kalian pergi saja duluan, aku masih ingin berfoto foto di air terjun ini." Nasya tersenyum.
"Meninggalkan mu di tengah tempat seperti ini sama saja seperti meninggalkan maling di dalam rumah! Silahkan berfoto foto dan aku akan menunggu di sini, aku akan menunggu selama apapun yang kau mau!"
Fransiska sendiri sudah pergi membawa panci itu dari tadi, biarkan kedua orang itu bertengkar selama Fransiska akan memasak untuk makan malam.
Ya, hari sudah menjelang senja. Sandyakala menjadi latar bagi burung burung yang pulang ke sangkarnya. Bulan dan bintang sudah bersiap siap untuk menampakkan dirinya dan menggantikan peran sang surya untuk menerangi malam yang gelap.
Nasya menghela napas panjang, rupanya temannya yang satu ini sangat susah untuk di bujuk. Tahu tadi ia menyerahkan si panci kepada Valencia, lebih mudah untuk membujuk Fransiska daripada Valencia.
Rintik hujan turun tiba tiba, Valencia yang hanya membawa beberapa potong baju langsung berlari menuju area perkemahan tanpa memperdulikan Nasya yang masih berdiri di tengah tengah hujan yang kian lama kian deras. ia tersenyum di balik hujan.
Bukannya berlari menyusul Valencia, Nasya malah berbalik dan berjalan menuju air terjun. Ia terjun ke dalam air terjun itu dan berjalan pelan menuju aliran deras air terjun.
"Gerbang yang ini harus ditutup sesegera mungkin." Ia menghilang di balik aliran deras air terjun.
*****
Pemandangan Danau Ratapan bukanlah hal yang baru bagi Nasya, danau yang sangat luas itu memantulkan cahaya hitam gelap. Tapi entah mengapa setiap Nasya ke sini ia bukannya takut malah mengagumi danau itu.
Kenapa di namakan Danau Ratapan? Entahlah, Nasya sendiri bukanlah orang asli sini. Ia hanyalah anak manusia biasa yang sering bermain main ke dunia lain.
"Danau kelima di ramalan klan K," lirih Nasya. Ia melirik ke arah kanannya, ada sebuah hal yang mengalihkan perhatiannya dari Danau Ratapan.
Sebuah gubuk reyot yang bahkan hampir rubuh berdiri di tepi Danau Ratapan. Siapa orang yang membangun sebuah gubuk di tepi danau? Beberapa waktu yang lalu rumah itu sama sekali tidak ada.
"Rumah di tepi Danau Ratapan? bagaimana bisa hal itu diizinkan?" batin Nasya heran. Dia mendekat kearah rumah itu dengan hati hati, mengendap ngendap layaknya seorang pencuri.
Tok.. Tok.. Tok..
Nasya mengetuk pintu itu sebanyak tiga kali, ia penasaran dengan orang yang lebih memilih tinggal di tepi Danau Ratapan daripada tinggal di pemukiman penduduk.
Seorang nenek renta dengan gaun putih yang lusuh membukakan pintu. Alis Nasya mengkerut, bukankah Raja dari wilayah ini memberikan tunjungan kepada seluruh rakyatnya? Bagaimana bisa seorang nenek tua renta tidak bisa membeli sebuah gaun putih yang harganya tidak lebih dari 3 koin perak?
"Bolehkah aku meminta segelas air? Aku tersesat di sini." Nasya sedikit berbohong, sengaja agar dapat melihat dalam dari gubuk reyot milik si nenek tua.
"Silahkan masuk, anak muda. Kau terlihat kedinginan." Nasya masuk setelah dipinta untuk masuk oleh sang tuan rumah. Kondisi di dalam sama reyot nya dengan kondisi di luar. Menyedihkan rasanya.
Nasya mengedarkan pandangannya.
"Apa yang telah adipati kerajaan ini lakukan? Apa dia mengorupsi tunjangan yang Raja berikan ke rakyatnya? Apa jangan jangan memang sang Raja tidak becus!" batinnya.
Nenek tua itu memberikan segelas air ke Nasya, Nasya mengangguk dan mengucapkan terima kasih.
"Silahkan duduk, anak muda. Maafkan gubuk nenek ini yang tidak lebih mahal dari baju mu, nenek akan meninggalkan mu ke belakang sebentar. Anggap saja rumah sendiri." Nenek tua itu tersenyum dan berjalan perlahan ke arah belakang, punggungnya sudah bungkuk dan jalannya tertatih-tatih.
"Tunggu, apa nenek tua itu masih memerlukan air? Bukankah dia hidup di negeri vampir?" Nasya memandangi segelas air itu, ada yang salah sekarang.
"Apa dia penyusup dari kerajaan lain untuk mendapatkan mangsa di wilayah kerajaan ini?" batin Nasya, ia menaruh gelas itu perlahan dan mengintip sang nenek tua di belakang.
Tidak lagi terlihat nenek tua di sana, yang ada hanyalah seorang gadis dengan rambut panjang berwarna perak yang mengenakan gaun merah darah.
Suara teriakan terdengar, padahal ia tidak merasa akan berteriak. Itu berarti ada orang lain di belakang Nasya. Gadis dengan pakaian khas wangsa kaya raya itu berbalik dan mendapati seorang manusia setengah serigala yang entah sejak kapan berada di belakang Nasya. Gadis itu bingung, di depan ada si merah dan di belakang ada si serigala. Kemana ia harus lari?
Gadis bergaun merah tadi berjalan menuju Nasya dan memandangi gadis serigala yang berada di belakang Nasya.
"Ini mangsa ku, Winter! Dia yang telah masuk ke dalam perangkap ku!"
"Apa kau bercanda Tinuviel? Dia mangsa ku!"
Tinuviel atau si gadis merah tadi menarik Nasya dan mengajak nya keluar ke tepi Danau Ratapan dari pintu belakang. Winter mengejar dan pada akhirnya terjadilah perkelahian antara kedua makhluk yang berbeda ras itu.
Pertempuran yang dimenangkan oleh vampir berusia 3 ribu tahun itu berlangsung lama sampai pada akhirnya Winter mati di tangan Tinuviel.
Sebuah pisau sudah disiapkan oleh Tinuviel sedari tadi, bukan untuk Winter tapi untuk Nasya! Nasya mundur perlahan, jangan sampai ia tercebur ke dalam Danau Ratapan. Keluar dari kandang singa namun masuk kandang ular.
"Aku seharusnya menjadikan mu mangsa ku! Tapi ku rasa darah Winter lebih nikmat daripada dirimu! Jadi, selamat tinggal!" Tinuviel menusuk Nasya dan menenggelamkannya ke Danau Ratapan.
Danau yang sedari tadi berwarna gelap seketika berubah menjadi berwarna hijau layaknya Batu Zamrud. Mangata membuat Danau Ratapan menjadi lebih indah.
Tanpa Tinuviel sadari ada seseorang di belakang yang sedari tadi memerhatikan dari jauh. Sebuah panah melesat ke Tinuviel, panah yang terbuat dari emas itu berhasil mematikan seorang vampir yang hidup selama 3 ribu tahun.
"Gadis itu adalah penyebab Danau Ratapan berubah warna menjadi hijau layaknya batu zamrud yang disinari oleh cahaya sang surya..."
-TAMAT-
*****
Catatan Kaki:
Sandyakala: Gurat merah di langit senja.
*****
Siapa tahu ada yang bingung sama arti Sandyakala 😁
Cerita ini gabungan antara Fantasi dan Horror, semoga dapat feel horror nya ya. Terima kasih banyak 🙏🏻