Jam 8 pagi, pelajaran pertama telah di mulai, pelajaran Bahasa indonesia. semua siswa fokus memeperhatikan guru yang sedang berbicara.
Aku pun mencoba untuk tidak menghiraukan ganguan sekecil apapun, tetapi tetap saja selalu gagal.
Selama gadis itu masih duduk di belakang ku, mungkin akan mustahil bagiku untuk diam.
Gadis itu bernama Suny dia gadis cantik dan pintar, bahkan bisa di kategorikan gadis terpopuler no 1 di kelas tidak bahkan lebih dari itu no 1 di sekolah.
Walaupun seperti itu, entah karena dendam apa dia seperti sangat membeciku, setiap hari menjahili ku tidak ada hentinya.
"Andi berdirilah dan bacakan puisimu dengan keras!"
"Siap,Bu"
Aku rasa untuk sekarang Suny tidak akan menjahiliku.
Aku berdiri dengan tegap dan penuh percaya diri.
Menarik napas dan mencoba untuk tenang.
"silakan," ucap Bu guru.
"Judul puisi Matahari yang indah, Suny...,indah nya dirimu membuat aku terkencing-kencing di celana, diri mu ya...."
Sial apa ini?
Apa yang aku baca sontak membuat satu kelas tertawa.
Sejak kapan dia menukar kertas ku?
Uhk sial aku lengah...
Terdengar dari belakang suara menahan tawa.
"Diam semua! Andi puisi macam apa itu?" tanya Guru.
"Ma'af Bu guru Aku salah baca."
"Tolong jangan bercanda,"ucap Bu Guru.
"Ma'af...."
Sial wanita sialan awas kau.
"Duduk lah untuk sekarang tidak apa!"ucap Bu Guru.
Aku lempar pandangan kebelakang, dengan kesal aku berkata,"Kali ini kamu menang, tetapi lihat saja aku akan membalasmu."
"Aku tunggu!" ucap Suny sambil tersenyum.
Sial melihat senyum itu membuat aku kesal, walaupun memang wajahnya sedikit imut.
Aku tidak boleh terkecoh!! Dia adalah Iblis musuhmu ingat itu Andi.
...yang pasti aku harus berhati-hati.
Nama ku Andi kelas 3 Sma 30 Bandung.
Aku anak Sma tetapi beberapa minggu lagi masa SMA ku akan berakhir.
Itu bukan sesuatu yang harus di tangisi, bagiku itu sesuatu yang harus disyukuri, karena jiwa dan raga ku akan segera bebas, tetapi bukan berarti aku akan mati, kalau bukan karena gadis sialan itu masa SMA ku akan penuh keindahan, tetapi sialnya aku malah bertemu dengannya.
"Ting-tong-ting-tong." suara bel istirahat telah berbunyi.
Waktu istirahat tiba, ini waktu yang tepat untuk aku mencari ketenangan.
Tunggu dahulu aku harus mengecek gadis jahanam itu.
Oh iya dia tadi langsung berlari keluar aku rasa dia kelaparan, tetapi aku tetap harus behati-hati bisa saja dia melakukan kejahilan seperti waktu itu.
Menjahili ku dengan menulis dikertas dan menempelkannya di pungguku.
Suny menulis "Siapa membutuhkan pertolongan ku, aku siap kapan saja telepon di no ini!" dan sialnya dia memasukan no hpku.
Dari pagi sampai malam banyak sekali yang menelepon ku, paling banyak adalah para gadis curhat tentang pasangannya, memang nya siapa aku ini, tempat curhat? Hah!!
Sialan memang Suny, malu rasanya mengingatnya, tetapi ya sudahlah lagi pula sekarang dia sudah pergi.
Aku bisa istirahat dengan tenang.
Saat aku hendak melangkah keluar tiba-tiba Suny menghadangku lalu berkata,"Stop!"
"Ada apa?"
Aku mencium sesuatu yang busuk.
"Jika kamu ingin keluar, kamu harus memenangkan permainan ini." ucap Suny sambil memperlihatkan dadu.
Jika di perhatikan dadu itu terbuat dari penghapus yang di potong.
Tunggu dahulu penghapus?
"Suny apa ini terbuat dari penghapus?"
"Benar."
"Sayang sekali jika penghapus di buat seperti ini?
"Tidak apa! Lagi pula ini bukan penghapusku." ucap Suny sambil terenyum.
"Lalu milik siapa?"
"Bodoh sekali kamu ini Andi! Ternyata sang pemilik tidak tahu barang miliknya sendiri."
"Apa maksudmu?"
"Ini milikmu," ucap Suny.
Penghpusku pantas saat tadi aku membutuhkannya, penghapus itu tidak ada.
"Dasar kamu Suny!"teriak ku.
"Ma'af-ma'af tenang saja, hanya sekali ini saja oke." ucap Suny sambil tersenyum.
"Sudah minggir aku akan pergi saja!" ucapku.
Aku sangat kesal dengan tingkah laku Suny.
Setiap hari selalu saja menjahiliku, entah kapan dia akan berhenti mengganggu ku?
"Apa kamu yakin akan meninggalkan permainan ini?" tanya Suny.
Wajahnya teelihat sangat licik, bahkan aku yang sudah terbiasa di jahili olehnya merasa sangat meinding melihat wajah liciknya itu.
"Untuk apa aku bermain jika itu merugikan ku?"
"Padahal aku memberi kan hadian terbaik jika kamu menang!" jawab Suny.
"Apa itu?"
Aku memang sangat penasaran semoga saja menguntungkan untuk ku.
"Pertama, jika aku menang kamu harus mentraktirku makan setiap jam istirahat selama satu minggu!"
Hah? Minta lah pada Orang tua mu sana!
Apa aku ini Bapak mu?
"...dan jika kamu kalah?"tanya ku.
Semoga ini lebih baik!
"Aku akan berhenti mengganggu mu selama satu minggu, tetapi setiap kali aku bertemu dengan mu, aku akan selalu berkata AKU MENCINTAI MU, maka dari itu usahakan untuk tidak berpapasan dengan ku di jalan oke!"
Mana keuntungan bagiku? Mana?
di mana?
Tidak ada!
"Adakah pilihan serinya?"
"Jika permainan seri aku akan menghabiskan setiap waktu yang kupunya untuk mengganggu mu! Setuju?"
"Jika aku tidak ikut?"
"Bersiaplah!" ucap Suny dengan nada mengancam.
Seperti nya aku hanya bisa pasrah saja.
"Baiklah," ucapku.
Jika aku kalah aku rugi, jika seri aku lebih rugi, dan jika aku menang aku rugi pula, tetapi pilihan menang bukan lah hal yang buruk.
Jika aku menang aku harus bisa menjauh darinya sebisa mungkin hindari berpapasan, maka selama seminggu aku bisa terbebas dari iblis itu.
Hore!!!
Aku harus menang!
"Sebutkan cara mainnya!" ucapku dengan penuh semangat.
"Kita akan bermain lempar dadu, peraturan nya sederhana, lempar dadu sebanyak 3x nilai dadu paling banyak maka dia pemenangnya."
"Oke!"
"Aku duluan," ucap Suny.
Jantungku berdetak semakin cepat, setiap kali dia memainkan dadu di gelasnya, jatung ku seperti akan pecah.
Suny mengumpulkan skor 4+3+5 = 12
Skornya 12.
Aku harus lebih besar.
"Giliran ku! Apa kamu tidak curang?"tanya ku.
"Untuk apa aku mencurangi jika cara jujur seperti ini kamu akan kalah?"ucap Suny dengan nada merendahkan.
Sial dia menghina keberuntungan ku.
Baiklah lihat saja.
Aku mulai memainkan dadu di gelas dan berharap mendapat angka 6 dan...
Berhasil.
"Ehhh, hebat juga kamu," puji Suny.
Yang kedua aku mendapat kesialan, angka 1 yang muncul, harapan terakhirku, jika aku mendapat 4 kebawah aku sudah pasti kalah, jika 5 aku seri, pilihannya adalah 6, aku harap keluar lah 6.
"Kamu seperti sedang berjudi saja, ini permainan biasa loh," sindir Suny.
Permainan biasa? Jangan bercanda ini seperti permainan hidup mati.
Ayo keluar lah dan...
Akhirnya aku mendapatkannya.
1+6+6=13 skor ku 13.
"Apa kamu lihat itu, Suny!"
"Iya aku melihatnya, Selamat dengan kemenangan mu!"
"Apa kamu tidak merasa kalah?" tanyaku.
"Tidak justru sebaliknya, muhehe."
Apa maksudnya dan mengapa dia tertawa seperti itu?
Lupakan yang penting aku bebas.
hore... Bebas!
Seminggu berlalu.
Tetapi selama seminggu ini, apa yang di harapkan itu tidak pernah terjadi.
Satu minggu terasa seperti satu tahun.
Gadis sialan itu seperti sengaja bertemu dengan ku.
Betemu di kantin,"Yo! Andi aku mencintai mu."
Betemu di perpustakaan,"Andi aku cinta padamu."
Betemu di gerbang,"Aku mencintaimu."
di mana aku berada pasti selalu saja terdengar,"Andi aku mencintaimu."
Kata-kata itu membuat ku gila, perkataan itu memang tidak berpengaruh kepada fisik, tetapi sungguh karena hal kecil itu membuat beban mental bagiku.
Seorang gadis populer no 1 di sekolang berkata seperti itu kepadaku.
Demage bukan main, tetapi aku tidak boleh lengah atau tersipu karena hal itu.
Lagi pula dia hanya memeprmainkanku saja.
Kesokan harinya jam 8 pagi, pelajaran pertama telah dimulai.
"Anak-anak, ibu akan membagikan kertas formulir tujuan masa depan, isi dengan sebaik-baiknya," ucap Bu Guru BK.
Kertas formulir tujuan masa depan, aku masih belum jelas seperti apa kedepannya, apa aku akan melanjutkan ke Kuliah atau bekerja dan tentang cita-cita pada masa depan?
dahulu saat aku masuk sekolah dasar orang tua pernah bertanya,"Andi jika besar nanti kamu mau jadi apa?" dan aku menjawab, "jika Andi sudah besar! Andi ingin jadi polisi,Ibu!", entah dari mana keinginan seperti itu, lalu saat aku masuk SMP guru bertanya,"Apa cita-cita mu,Andi?" dan jawab ku,"Aku akan jadi seorang artis!", malu sekali saat mengingat kenangan seperti itu.
Apa aku boleh meminta waktu untuk memikirkan ini?
Aku angkat tangan ku dan saat itu pun guru merespon dengan cepat.
"Ada apa?" tanya Bu guru.
"Apa aku boleh meminta waktu untuk memikirkan ini semua?"
"Ibu rasa itu tidak perlu, lagi pula ini hanya sekadar materi konseling biasa dan bukan sesuatu yang akan menentukan kedepannya. Ibu hanya mensurvei ambisi kalian untuk menggapai masa depan saja, isi saja dengan apa yang tergambar di kepalamu," jawab Ibu Guru.
"Baiklah."
"...tetapi jika kamu kesuliatan biar Ibu bantu," ucap Ibu Guru.
Ibu guru menghapiriku dan saat ibu membaca kertasku.
Ibu guru terlihat menahan tawanya.
"Cita-cita mu mulia sekali, Andi," ucap Ibu guru.
"Aku belum mengisinya sama sekali, memang apa yang tertulis di situ?"jawabku.
"Di sini tertulis cita-citamu ingin menjadi seorang suami yang baik, memiliki 2 anak laki dan perempuan. Bekerja sepenuh hati untuk istri dan anak-anak, itulah yang tertulis."
Mendengar itu semua siswa di kelas ter tawa.
Itu sangat memalukan.
Sial mengapa aku lengah, sejak kapan Suny melakukan nya.
Tangan nya begitu cepat padahal, kertas ini tidak jauh dari ku.
"Andi cita-cita yang bagus!" ucap Suny dengan nada mengejek.
Awas kamu Suny!
"Ting-tong-ting-tong," bel sekolah waktu pulang.
Jam 3 sore jam pulang SMA 30.
Jika aku sampai dirumah, tubuh ini pasti akan terjatuh di atas kasur, mengunci pintu.
"Hei Andi!" panggil Suny.
"Apa? Aku ingin pulang," ucapku.
"Kalau begitu kita pulang bersama," jawab Suny.
"Memang nya kita satu jalur?"
"Yups kita sama!" ucap Suny.
"Baiklah."
Sial mengapa aku malah setuju!
Celaka, celaka!
Karena aku telah setuju kami berdua pun berjalan bersama dan saat di pertengahan jalan.
"Apa kamu benci kepada ku?" tanya Suny.
Aku tidak tahu alasan dia bertanya seperti itu, apa dia merasa bersalah?
"Aku tidak pernah membenci siapa pun, tetapi terkadang aku kesal dengan tingkah mu." jawab ku sambil tersenyum.
"Andi... apa kamu pernah jatuh cinta," tanya Suny.
"Belum," jawab ku.
Mendadak langkah Suny berhenti sejenak lalu melompat kedepan ku, mebelakangiku.
"Ada apa Suny?"
Dengan cepat Suny berbalik kearah ku wajah nya tersenyum penuh kehangatan lalu berkata, "... saat kamu jatuh cinta, apa yang ada di sekitarmu akan terasa indah. kamu akan selalu tersenyum saat orang yang kamu cintai juga tersenyum, bahkan terkadang diri mu akan membayangkan menikah dengan yang kamu cintai, memiliki anak dan menjalani masa tua bersama-sama."
Apa mata ku sedang bermasalah?
Suny yang ada di depan ku terasa indah, rambut yang terurai, mata yang berahaya, dan kulit yang bermandikan cahaya senja.
Semuanya terasa hangat dan lembut!
Hari keluluasan pun tiba! Sejak kejadian itu aku selalu memikirkan dan sadar.
Ternyata selama ini aku telah jatuh cinta, selama 3 tahun ini aku selalu saja memikirkan Suny, walaupun dalam artian lain bukan seperti orang lain yang di mabuk cinta, tetapi tetap saja aku selali memikirkannya.
di waktu masuk kelas di kepalaku Suny, waktu istirahat Suny, pulang pun Suny.
Ternyata benar ini yang di maksud dengan cinta.
Aku sadar selama ini aku sudah tidak merasa kesepian lagi, karena ada Suny.
"Oi! Andi selamat atas kelulusanmu," ucap Suny.
"Iya terima kasih."
"Andi aku punya permainan!" ucap Suny.
Celaka aku pasti akan di jahili, padahal sudah akan berpisah, masih saja mau mempermainkanku.
"Tidak aku tidak ingin bermain dengan mu,"teriak ku.
Aku menolaknya dengan keras. Namun, apa yang aku perbuat itu salah, untuk pertama kalinya aku melihat mata Suny yang berkaca-kaca.
"K... Kamu tidak ingin, iya aku rasa kita tidak perlu lagi benarkan," ucap Suny.
Wajah Suny memerah dan air matanya sudah tidak di tahan lagi.
"Suny...."
"Aduh mata ku kelilipan..., ma'af Andi aku harus kebelakang."
"Tunggu Suny!" ucap ku.
"Ke...mengapa?"
"Selama 3 tahun ini aku menahan hatiku, kamu tahu karena ulah mu yang selalu menjahiliku setiap hari membuat ku...."
"Ma'af, Andi," ucap Suny.
"Membuat hati...,jatuh cinta kepada mu! Jadilah pacarku."
Ah wajahku memerah semoga saja Suny tidak menyadarinya.
"Uhk... apa itu pernyataan cinta, padahal aku tadi hanya berakting loh," canda Suny.
Akting ah sial dia malah menjahiliku.
Ah bagaimana ini! Dia pasti akan mengejekku sampai tua nanti.
Gawat!!!
"Aku hargai itu, tetapi ma'af aku tidak ingin menjadi pacarmu," jawab Suny
Ini sudah telanjur.
"Aku sudah tahu jawabanya, lagi pula gadis populer seperti mu mana mungkin mau dengan ku," jawabku.
"Tidak, sebenarnya alasan ku menjahilimu karena aku menyukaimu" jawab Suny sambil tersenyum.
"Bukan nya kamu menolak?" tanyaku.
"Aku hanya menolak pacaran, tetapi kalau kamu mencintaiku lalu mengajak ku menikah aku tidak menolaknya."
"Benarkan?"
Ternyata aku ini bodoh ya.
"Bagaimana sekarang?" tanya Suny.
Aku mencintainya, akan selalu mencintainya.
"Suny aku cinta padamu, jadilah istriku!" teriak ku.
"Baiklah aku mau, tetapi carilah pekerjaan dahulu, lalu menikahlah dengan ku. Aku akan menunggu mu!"
"Baiklah," ucap ku.
"Oi calon suamiku! Bersiaplah karena nanti saat kita sudah menikah aku akan selalu menjahili mu," ucap Suny.
"Aku tunggu itu Calon istriku, aku tunggu candaan mu selanjutnya, aku tidak akan kalah lagi." ucapku sambil mengacungkan jempol.