Aku melihat sekeliling kelas sambil terdiam. Seperti biasanya tidak ada seorang pun yang peduli akan kehadiran ku, bahkan aku duduk sendiri di sudut kelas. Mereka selalu menganggap ku tidak ada di sini. Aku tidak punya teman sekelas yang mau mengajak ku berbicara. Mereka hanya akan berbicara pada ku jika memerlukan bantuan.
Teman teman sekelas kadang mengejekku seperti anak kecil karena selalu membawa boneka anak anak dengan dua rambut yang di kepang yang ku dudukkan di kursi yang berada di sebelah ku. Wajah boneka yang ku bawa selalu di anggap menyeramkan oleh mereka padahal bagiku dia sangat imut. Boneka itu pemberian ibuku yang sudah meninggal.
"Liona." panggil satu sosok yang duduk di sisiku.
Aku menoleh dan sudut bibir ku tertarik merasa senang akan kehadirannya. "Bella," seru ku dengan seulas senyum.
"Apa yang sedang kau pikirkan?" tanyanya karena sedari tadi aku hanya diam memandang sekeliling.
"Aku merasa bosan." jawab ku.
"Bagaimana jika sepulang sekolah kita bermain?" tanyanya dan aku mengangguk sebagai jawaban.
Selang beberapa saat seseorang mengganggu pembicaraan kita. Aku sangat marah karena dia Bella jadi pergi. Rasanya ingin ku bunuh dia saat ini juga.
"Apa kau liat liat." Dia berseru padaku dengan nada sinis. Dia adalah Irene, orang yang berpengaruh di sekolah ini.
Aku terdiam tidak tau harus menjawab apa? karena selama ini hanya itu yang bisa ku lakukan.
Tangan Irene Ter ulur untuk menampar pipiku pelan, "Aku dengar hari ini. Hari ulang tahun mu. Apa benar?"
Tidak ada jawaban aku hanya fokus pada boneka ku yang terlempar di bawah kursi karena ulah Irene barusan.
"Jawab bodoh, apa kau tuli." Irene menoyor kepala ku sampai terhuyung. Tak lama dia menarik rambut hitam sepinggang ku yang terurai.
Aku memekik kesakitan dengan suara samar. Memohon agar Irene melepaskan tarikannya pada rambut ku. Bukannya membantu orang orang di sana justru menertawakan ku. Sudut mata ku mengeluarkan butiran bening, terisak tanpa suara. Rasanya sangat sakit.
"IRENE APA YANG KAU LAKUKAN," suara seseorang di ambang pintu menarik perhatian sekelas.
Itu pak Alvin guru muda yang merupakan wali kelas di kelas ku. Kedatangan nya membuat tarikan di rambut ku terlepas.
"Ups," Irene menutup mulutnya dengan telapak tangan. "Aku hanya sedang mengobrol dengan Liona pak, iyakan Liona." gadis dengan perawakan seksi itu memeluk leherku dengan sedikit mencekik sebagai peringatan. Aku yang ketakutan hanya mengangguk.
Gadis itu bangkit dari duduknya dan aku langsung mengambil boneka yang sedari tadi terbaring di lantai.
Irene menghampiri pak Alvin dan memeluk tangannya posessive sambil sedikit mengusungkan dadanya yang besar serta sedikit menghimpit pak Alvin. Guru itu gelagapan berusaha menahan sesuatu.
"B-baik kita mulai mata pelajaran hari ini."
Guru itu melepaskan tangan Irene dan mulai membuka kelas.
***
"Kau tidak apa-apa kan?"tanya pak Alvin padaku.
Aku mengangguk sembari tersenyum, kemudian guru itu mengelus pucuk kepala ku dengan seulas senyum. Jujur aku nyaman tapi takut. Setelah nya guru itu beranjak pergi meninggalkan ku sendiri di kelas.
"Apa yang kau pikirkan. Jangan terlalu berharap." suara Bella membuat ku enggan untuk menoleh ke arahnya.
"Manusia itu munafik, dia pasti menginginkan sesuatu dari mu." ujar Bella membuat ku menoleh.
"Jangan sembarangan bicara Bella. Kau tidak tau apapun tentang nya." Bentak ku pada Bella malah membuat gadis itu tertawa sampai terbahak bahak.
"Apa maksudmu aku tidak tau apa apa? Bahkan aku tau lebih banyak dari semua orang yang ada di sini termasuk kau." kata Bella dengan sebuah senyum yang menyeramkan.
Aku terkesiap tidak tau harus bicara apa lagi, jujur Bella sangat menyeramkan jika sudah seperti ini. "Maaf," ucap ku lirih. Dia mengangguk sebagai jawaban.
"Ikuti aku. Akan ku perlihatkan sesuatu yang menyenangkan." titah Bella, aku mengikuti nya sambil berjalan di belakang.
Langkah gadis itu menuju sebuah gudang di belakang sekolah. Sebenarnya aku bingung kenapa Bella membawa ku ke sini tempat yang bahkan jarang di datangi orang orang yang berada di sini. Mata ku membelalak dan kaki ku yang melangkah terhenti seketika saat melihat dua orang di dalam gudang melakukan sesuatu yang tidak pantas.
Pak Alvin dan murid paling cerdas di kelas ku Anita sedang bercumbu di sana. Aku menoleh pada Bella yang sedang tersenyum ke arahku.
"Apa kau lihat itu?" tanya Bella. "Sudah ku bilang, aku tau tentang semua hal,"
Setelah nya aku bersembunyi di balik pintu saat melihat Anita yang kelabakan berjalan keluar gudang. Sementara pak Alvin sedang siap siap memakai bajunya kembali. Tidak tau ada dorongan dari mana aku berjalan masuk dan menghampiri pak Alvin yang hendak memakai celana nya kembali.
"L-liona" Pak Alvin kelabakan mungkin saja takut aku melihat semuanya. "A-apa kau melihat semuanya?" aku mengangguk.
"Puaskan aku," seru ku membuat mata pak Alvin membola karena untuk pertama kalinya aku berbicara.
"M-maksud mu?" tanya pak Alvin.
Aku menghampiri pak Alvin dan mencium bibir nya yang kemudian cumbuan kita merambat kemana mana. Sama seperti yang di lakukan pak Alvin dan Anita sebelumnya. Namun seseorang berjalan mengelilingi kita sembari tersenyum remeh.
"Dasar manusia manusia munafik. Hanya untuk kepuasan sesaat kalian rela mengorbankan segalanya," Bella berujar dengan tangan terlipat di depan dada. "Cepat!! setelah itu kita akan bermain dengan sesuatu yang menyenangkan."
Setelah itu aku berdiri dan membenahi pakaian ku yang compang camping karena ulah pak Alvin. Setelah itu aku menoleh pada Bella yang masih setia menunggu sambil menyender di tembok. Tak lama Bella maju berdiri di depan ku sembari memegang pena di tangan kirinya.
Duduk di atas tubuh pak Alvin dan menusuk leher guru itu secara brutal. Aku yang melihat hanya memekik tanpa suara sembari menutup mulut dengan dua telapak tangan ku.
"Dasar guru tidak berguna," celetuk Bella. "Kau memanfaatkan murid murid mu ha?"
"Bella apa yang kau lakukan?" seru ku saat melihat tubuh pak Alvin yang sudah tidak bernyawa.
"Berpura pura baik di depan semua orang, seolah-olah kau adalah manusia paling suci di sini." Bella meludahi Wajah pak Alvin yang terkena bercak darah. "Menjijikkan, kau pikir wanita serendah itu ha?" ujar Bella menarik rambut pak Alvin kemudian di benturkan ke lantai.
"Bella apa maksud mu?" tanya ku bingung akan ucapan Bella.
Bella menoleh sembari tertawa. Tawa yang membuat siapapun merinding. "Dia~ sudah terlalu banyak berbuat dosa Liona dan sekarang adalah saatnya untuk penebusan atas dosa dosanya. Setiap orang yang berdosa harus di hukum,"
Jujur aku benar benar takut, setelah itu aku berlari menuju pintu untuk pergi tapi sebelum itu aku berbalik dan mengambil boneka ku yang tergeletak di samping mayat pak Alvin yang mengenaskan. Aku bermaksud pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri dan boneka ku yang penuh akan bercak darah.
~Bersambung~
Wkwk gimana cerita pertama ku tentang psikopat bagus nggak? Sengaja ku gantung soalnya mau liat reaksi para pembaca. Kalo rame dan banyak yang komen ntar ada bagian 2 nya🥰