Namaku Raina. Hari ini hari pertamaku di Sukabumi. Aku nggak tau mau ngapain disini, yang jelas si trio aneh yang tau.
“ Kita mau ngapain sih disini??” tanyaku kepada Rangga.
“Udah loh tenang aja. Ini rumah peninggalan kakek nenek gue”, “gue jarang banget kesini, mungkin tempatnya agak nggak keurus dan banyak debu. Masuk yuk!!”ucapnya memberikan penjelasan.
“Loh nggak macam-macam kan Rangga??”, “Rang? Rangga “ ucapku semakin mengeraskan suara.
“Apaan sih Rainaku sayanggggg?? Gue gak macem-macem, tapi cuman satu macam”ucap Rangga sambil mencubit pipiku gemas.
“Sayang-sayang pala loh peang. Sepatu nih loh bilang sayang.”
“Apaan sih loh?? Teriak-teriak aja teru sepanjang masa “ ucap Tio dan disambung Sinta sambil berlari “ iya masa. Masa lalu biarlah masa lalu.”
“Asem loh pada. Garing tau….” Ucapku terkekeh.
KEESOKAN HARINYA
“Sinta gece [ gerak cepat ] napa!” ucapku sedikit berteriak.
“Iya iya sabar “ ucap sinta yang super duper lelet.
Ketika kita berjalan aku tak sengaja bersenggolan dengan seseorang.
“ Ehh, maaf mang nggak sengaja,”ucapku meminta maaf.
“Iya nggak papa neng”jawabnya.
“Tunggu sebentar neng. Neng berdua ini tinggal di sana??”tanya tukang kebun tersebut.
“Iya mang. Memangnya ada apa ya??”tanyaku penasaran .
“Ohh, enggak papa. Baca do’a aja terus ya neng kalau kemana mana, permisi” ucapnya sembari membuatku penasaran.
“Ohh iya. Terima kasih mang.”
Setelah kami berjalan beberapa langkah.
“Ehh, emangnya ada apaan sih?? Ngak ngerti gue??”tanya Sinta penasaran.
“Ya mungkin bermaksud baik. Positif thinking aja kali Sin.”
Setelah kami berjalan jalan jalan tibalah kita di rumah.
“Ehh sinta!! Loh tau nggak?? Di depan rumah tuh ada hutan, tapi anehnya kenapa di pagarin ya?? “ ucapku bertanya tanya.
“Yaa, mungkin aja itu hutan tanahnya sebagian punya kakeknya si Rangga “ jawabnya.
“Iya kali ya.”
Malampun tiba, udara semakin dingin kian menyeruak kemana mana. Hujan turun dengan sangat lebat, suara hewan malam mulai terdengar kencang, genteng genteng yang bocor, bahkan banyak sekali tumbuhan tumbuhan liar di sekitar pekarangan yang tak terurus.
“Rangga!” panggilku “ loh gak ngerasa aneh apa disini??” tanyaku.
“Enggak ahh. Biasa aja tuh.“
“Ehh, bentar ya Rain. Gue masuk sebentar” ucap Rangga.
“Oky, lagian kan juga ada Tio disini“ jawabku.
“Tapikan dia tidur??” ucapnya.
“Udah tenang aja elah.“
Ketika aku sendirian aku melihat seorang gadis berambut panjang sedang menangis di bawah pohon. Aku mengamatinya, namun tiba-tiba ia menghilang begitu saja. Namun anehnya ternyata ia sudah berada di pekarangan rumah ini.
“Hai, nama kamu siapa? Lagi apa kamu di sana? Kok sendirian??” tanyaku kepada gadis itu.
Ia menggeleng lalu tersenyum dan mendekatiku, akupun di gandeng dirinya.
“Kamu mau bawa aku kemana??” ucapku tak di tanggapi dirinya.
Aku seakan akan sedang dihipnotis. Kaki dan tanganku seperti digerakkan oleh dirinya. Tiba-tiba Rangga memanggil dan menghampiri. Gadis itupun menghilang.
“Rania loh lagi ngapain di sana?” dan seketika akupun tersadar.
“ Rangga tolongin gue” ucapku memohon.
“ Astaga Rania loh kok bisa begini sih. Ayo kita masuk dulu ke rumah” ucapnya sembari memapah diriku.
Akupun menurutinya namun ada rasa sakit di bagian bawahku dan benar saja, kakiku terluka akibat tanaman berduri yang ku injak dan seperti ada cakaran di bagian kakiku yang amat banyak. Darah seakan tak berhenti mengalir di beberapa tempat. Suasana malam yang mencengkram, pohon pohon yang sudah tua , ranting-ranting pepohonan yang tiba-tiba patah dan hujan lebat yang tak kunjung reda seakan menambah ketakutan ku.
Ketika sudah berada di dalam rumah akupun menceritakan semuanya sambil terisak.
“Udah nggak usah dipikirin lah “ ucap Rangga menenangkan.
“Bener tuh Rain” ucap Tio dan Sinta bersamaan.
Saat aku sedang tertidur di kamar, akupun terbangun di sepertiga malam untuk mengambil air. Di saat aku sedang berjalan menuju kamar aku mendengar lagu tembang di nyanyikan. Lagi lagi gadis itu yang menghampiriku entah darimana asalnya dan ia menatapku dengan tatapan membunuh.
“Mau apa kamu!!” ucapku dengan intonasi yang tinggi.
“Jangan mendekat!! Aku bilang sekali lagi jangan mendekat!!” teriakku sembari gemetar ketakutan.
“Nyawaaaaaa” ucapnya dengan keras tepat di hadapanku, hinga aku terhempas kedinding. Ia tertawa dengan sangat megglegar tepat di sebelah telingaku.
Tiba-tiba tubuhnya berubah menjadi sangat menyeramkan, bau busuk yang menyeruak kemana mana, muka yang hancur, darah yang terus mengalir dari kepalanya, otak yang berceceran, kaki yang patah, perut yang bernanah dan mengeluarkan belatung seakan membuatku mual di dekatnya.
“Menjauh!! Mengapa kamu menginginkan nyawa??” ucapku sembari gemetar. Lagi-lagi ia tertawa.
“Semua ulah temanmu” jawabnya.
“Mengapa?” tanyaku memberanikan diri.
“Ia sudah berkata kasar dan m3ngencin9i makam anakku” ucapnya lirih dan langsung menyeringai.
“Aku minta maaf atas kesalahan temanku. Ayo kita berdamai” ucapku.
“Aku tidak mau”jawabnya.
Ia maju dengan cepat dan langsung mengcekiku. Aku membaca ayat kursi dengan susah payahnya dan iapun langsung menghilang.
Akupun langsung membereskan pakaian mereka semuanya dan langsung membangunkan mereka satu persatu.
"Rangga ayo kita cabut! Please Rangga!!” ucapku memohon kepadanya.
“kenapa??” tanyanya penasaran.
“Udah ayo! Pokonya gue mau sekarang juga. Barang semuanya udah gue taruh di bagasi.”
Aku memandang ke arah Tio dan Sinta dan bertanya“ Kalian berdua kenapa??”
“Ohh,nggak papa” jawab Sinta
Saat di jalan kami berpapasan dengan tukang kebun itu lagi.
“Neng mamang cuman bisa bantu ini. Tolong batu ini di genggam yang kuat. Jangan dilepas sampai keluar dari desa ini” ucap tukang kebun tersebut memberi peringatan.
“Makasih mang” ucapku.
“Halah cuman batu beginian doang aja “ ucap Sinta sepele dan langsung membuangnya.
Tiba tiba mobil yang kita kendarai mogok begitu saja.
“Tolong, jangan keluar” ucapku memperingati.
Namun ternyata Tio dan Sinta tetap ngeyel keluar dan benar saja Tio lupa membawa batu itu bersamanya.
“Rangga, loh jangan keluar ya. Please!” ucapku memohon dan di angguki dirinya.
“ Brakkkkk....”
Tak terdengar sedikitpun suara kendaraan namun tiba-tiba sebuah mobil menghantam mereka hingga meninggal di tempat. Entah dari mana tukang kebun tersebut juga muncul tepat di sana.
“Pergi dari sini!! Tinggalkan mereka, biar aku yang mengurus” perintah tukang kebun tesebut.
Mobil kami tiba-tiba menyala begitu saja dengan sendirinya. Kamipun menurutinya karena sudah tidak punya jalan pilihan lain lagi.
Pergi dari sini meninggalkan mereka berdua. Hanyalah kata maaf yang kami bisa ucapkan.
The and
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
Nah giman nih menurut kalian ceritanya??
Emang sih agak panjang. Hehheheheeee
Jelek ×
or
bagus ✓
sampaikan kritik dan saran kalian ya
Maacih yang udah mau baca.
Gpp, aku bakalan menerima semua kritik an sarannya kok. Buat belajar lagi apa yang masih salah.
Maaf akun ini dah nggak bisa nggak bisa, aku ganti akun ya....