Alunan merdu tembang jawa. Disertai tabuhan gamelan yang mengiringinya. Leak-leok gemulai tarian di depan warga. Kebaya hijau yang dikenakan. Selendang gemerlap dengan hiasan. Jarit lorek sebagai bawahan. Tidak lupa sanggul di kepala dan pernak-pernik jepitannya.
Berbeda dengan meriahnya suasana. Berbeda dengan cantiknya riasan. Sang penari malah meneteskan air mata. Bila dilihat dari dekat, jentik jemarinya terlihat kaku. Tarian yang dari jauh begitu indah dilihat, saat diperhatikan lagi malah terkesan menyedihkan.
Kenapa demikian?
Lena melirik ke atas panggung yang dibuat seadanya dari menyatukan meja-meja, lalu ditutup karpet di atasnya. Di panggung itu ditata sebuah sofa dan meja kecil. Di atas meja terhidang buah-buahan, sebutir telur ayam putih, kembang tujuh rupa, rokok kretek, kopi hitam, dan segelas beras sebagai tatakan untuk menyalakan dupa merah.
Sementara di atas sofa, duduklah seorang wanita muda nan cantik rupawan seakan tidak berasal dari dunia ini. Berpenampilan seperti putri keraton dengan rambut panjang yang digelung dan pakaian kebaya lengkap. Disisinya ada dua orang laki-laki yang membawa kipas besar sebagai pengawal sekaligus pelayannya. Semua itu hanya bisa dilihat oleh Lena sebagai si penari.
“Saya sudah tidak kuat nyai, hiks...” rintih Lena meminta.
Namun wanita yang dipanggil nyai itu diam saja, malah ekspresinya menunjukkan bahwa dia masih belum puas pada tarian yang telah di bawakan Lena selama tiga hari tiga malam tanpa istirahat.
Lena masih menggerakkan tangan nya seakan dikendalikan. Tubuhnya dan jiwanya sudah lelah, namun dia tetap lanjut menari. Lalu Lena menoleh ke orang-orang yang mengelilinginya dari jauh, meminta pertolongan meskipun sia-sia saja. Sebab orang-orang itu tidak tahu yang sebenarnya sedang terjadi.
“Masih kesurupan pak, nak Lena nya?” Tanya seorang kuli pada lelaki yang terlihat seperti orang pintar alias dukun.
“Masih pak, sudah saya bacakan doa tapi tidak ngaruh.” Kata dukun itu, lalu menoleh ke panggung sejenak. Dukun itu geleng-geleng kepala, “Tidak bisa diajak komunikasi, pak haji juga sepertinya sudah menyerah pak.” Lanjutnya seraya menunjuk seorang haji yang sedang melipat sajadahnya di teras sebuah rumah.
Kuli itu menggeleng kepala, “Padahal sudah tiga hari nak Lena menari, ibunya juga sudah pingsan. Apalagi bapaknya dan warga yang selalu menunggui sudah merasa lelah juga pak. Jujur saja saya juga sudah tidak kuat.” Keluh kuli itu.
“Mau bagaimana lagi, inilah akibatnya kalau masuk rumah orang sembarangan. Si empunya rumah pastilah marah, tidak peduli mau manusia ataupun lelembut sama saja. Kalau rumahnya di usik ya tidak suka,” terang dukun itu.
“Iya ya pak,”
“Sudah. Kamu balik jaga saja. Disini biar bapak yang menunggu dengan pak haji.”
Kuli itu mengangguk lalu pamit berkumpul kembali dengan para warga disisi luar pembatas yang sengaja dibuat menggunakan tali rapia yang diikatkan pada batang kayu. Pak dukun melihat prihatin ke Lena.
“Sabar ya nak, ini konsekuensi atas tindakanmu. Harus kamu jalankan dengan ikhlas serta mintalah ampun ke si empunya rumah yaang sudah kamu usik.” Kata Dukun itu memberi nasihat.
Mendengar itu Lena semakin menangis.
Memang ini semua bermula dari Lena yang dengan sengaja melempar bekas pembalutnya ke sebuah batu cadas. Padahal sudah diperingatkan bahwa batu itu adalah pintu masuk dari sebuah kerajaan goib disana. Sebuah rumah bagi para lelembut yang di ketuai oleh seorang nyai. Siapa juga yang tidak akan marah bila ada orang yang membuang sesuatu yang kotor di depan rumah mereka.
Apalagi Lena hanyalah seorang pendatang yang sedang menjalankan kerja sukarela disana. Bukan penduduk asli, namun tingkahnya tidak menghormati mereka-mereka yang sudah lebih dulu menetap disana.
Perkara goib bukan sesuatu yang bisa disepelekan. Sekarang dia hanya bisa menerima nasib. Membayar ulah buruknya dengan menari untuk menghibur para penghuni goib yang rumahnya sudah dia usik.
“Hiks hiks,” Lena terus menangis.
Menari berhari-hari sampai penonton goibnya puas. Tanpa bisa istirahat ataupun memejam mata sejenak, bahkan tidak bisa pingsan kelelahan. Gemulai jemari, lenggak lenggok pinggul, alunan gamelan dan merdunya suara sinden yang hanya bisa dia dengar sendiri. Akan mengiringinya untuk tujuh hari kedepan.
Semua itu untuk membayar kesalahannya.
“Ampun nyai, hiks hiks.”
# # # #
Tamat.