Bunga-bunga jatuh satu persatu. Satu tangkai, dua tangkai, tiga tangkai…terus berjatuhan karena melayu. Melayu disentuh olehku. Kutukankah yang telah menghuni tangan ini? Kenapa tak satupun dari bunga-bunga itu yang tumbuh bersemi, semua mati.
Ah, berbeda dariku berbeda pula dengannya. Tiap bunga yang disentuhnya pastilah mekar dengan sangat indah. Bersemi meski dimusim dingin dan dikelilingi banyak kupu-kupu, bukah ulat seperti diriku.
Cemburu kadang merajai, namun kuyakinkan diriku bahwa dia memang pantas mendapatkannya. Dan memang diriku tak layak menyemikan bunga. Lantas berlarilah pilihanku…berlari dan berlari dari keadaan ini.
Bodohkan, ya…aku tak keberatan dianggap demikian. Aku telah terbiasa dianggap demikian, demikian buruk tuk dijadikan cerminanku. Hanya aku dan selalu aku. Ya, aku….
Bunga bunga yang mati.
####
Tamat.