Suatu hari, sekelompok lima saudara peri datang ke istana untuk bertemu dengan Ratu Peri. Mereka mengatakan bahwa ingin menciptakan sihir dengan menghubungkan dunia di sekitar mereka. Sang ratu menyetujui apa yang ingin mereka lakukan dengan syarat bahwa masing-masing dari mereka harus membuat satu sihir dan total menjadi lima sihir. Para peri dan Ratu Peri setuju.
3 bulan kemudian. Kelima peri itu berhasil menciptakan sumber elemen sihir termasuk air, api, udara, dan tanah. Adik bungsu mereka belum menciptakan sihir dan terus menunggu adik bungsu mereka untuk membuat sumber elemen sihir lainnya. Karena, sang adik iri dengan kakaknya, ia berencana mencuri sumber elemen sihir itu.
Suatu hari, si bungsu mencuri sumber elemen sihir. Keempat kakaknya mengetahuinya dan mereka melawan si bungsu. Sumber elemen sihir berhasil kembali ke tuannya masing-masing. Namun, sebuah sihir hitam bernama Oskurio muncul dan mengincar kelima peri. Sayangnya, Oskurio melahap kelima peri, merubahnya menjadi sebuah pohon besar dan Dunia Peri tiba – tiba terpecah menjadi 4 bagian yang masing – masing diselimuti oleh air, api, udara, dan api.
Tiba-tiba, keajaiban datang, sumber elemen sihir bersinar menciptakan sihir yang kuat dan berhasil memusnahkan Oskurio. Sayangnya, itu tidak mengembalikan kelima peri serta sumber elemen sihir itu mati.
<<100 Tahun Lebih Kemudian>>
Dua pasangan peri dari Earthania – negeri yang penuh dengan tanah berbatu –, Edward dan Scarlett berjalan-jalan santai menikmati pemandangan indah di Pulau Doknow, salah satu pulau yang diperebutkan oleh empat negeri, Fireania, Waterania, Airania, dan Earthania. Oekk!! Oekk!! Tiba – tiba terdengar suara tangisan bayi di sekitar mereka. Edward dan Scarlett melihat sekeliling.
"Ed, kau dengar itu?" tanya Scarlett.
"Seperti bayi, ayo ikuti tangisannya!" ajak Edward.
"Suara itu datang dari dekat pohon besar itu!"
"Ayo!" Edward dan Scarlett berlari ke pohon besar tidak jauh dari mereka.
"Ed! Kau benar," kata Scarlett.
"Ambil dia, Scar!"
"Jenis kelamin bayi ini..." Scarlett membuka selimut bayi. "Laki-laki."
Tiba-tiba, sekelompok kucing besar dengan tanduk bercabang, gigi taring mereka menjulur ke tanah, dan bulunya yang coklat mendatangi mereka. Itu Deerat, mereka suka makan apa saja.
"Ed! Itu Deerat!" kata Scarlett ketakutan.
"Aku tahu. Bawa bayinya! Aku akan menghentikannya," perintah Edward.
"Kemarilah, kucing nakal!" Edward memberanikan diri. "Scar! Keluarkan sayapmu!"
"Baik. FAIRIA!!" Scarlett melebarkan tiga bagian sayapnya yang besar, megah, dan berwarna coklat-merah dan terbang jauh dari pulau itu.
"Ayo, kejar aku!!" Edward berlari secepat yang dia bisa. Para Deerat mengejarnya. “FAIRIA!!” Tanpa pikir panjang, Edward segera mengepakkan sayap elang besarnya yang berwarna coklat muda, dan terbang menjauh dari para Deerat dan pulau itu. Lalu, ia mendekati Scarlett. "Apakah kamu baik-baik saja?" tanyanya.
"Ya... Tapi..."
"Tapi apa?"
"Tapi sayap bayi ini berbeda dari yang lain."
"Ada apa?"
"Kadang-kadang, kita memiliki sayap berpola tidak beraturan dan berwarna coklat saat lahir. Tapi dia memiliki sayap yang berwarna-warni, dan berpola garis zig-zag beraturan."
"Hmmm... Pernahkah kamu melihat sayap peri dari tanah Fireania, Waterania, dan Airania?"
“Peri Fireania terkadang memiliki sayap berbentuk seperti tanduk rusa atau tanduk hewan lainnya dan berwarna merah. Peri Waterania terkadang berbentuk pipih, seperti sayap bulat, segitiga, bahkan persegi dan berwarna biru. Dan peri Airania terkadang memiliki sayap yang aneh dan berpola, cantik dan teratur, dan putih."
"Dia memiliki semua warna."
Scarlett terdiam. Dia tiba-tiba berpikir dan berkata, "Ed, apakah kamu ingat dongeng, Peri Terakhir dan Elemen Sihir?"
"Apa hubungannya dengan dongeng?" tanya Ed.
"Dia seperti peri terakhir itu."
"Itu hanya dongeng, Scar.”
"Benar… Lupakan, itu hanya dongeng."
"Kita juga tidak mengenal orang tua mereka dan nama dia,” ucap Edward.
"Sebut saja dia Reggie!"
“Hanya Reggie?”
“Reginald.”
"Reginald? Nama yang indah.”
<<16 Tahun Kemudian>>
Hari yang cerah di hari kerja. Edward berkerja. Sementara, Scarlett sedang memasak telur mata sapi favorit kedua anaknya, Reginald dan Rocky.
"Reggie!! Kemari, ayo makan!" teriak Scarlett.
"Tunggu, ibu!" jawab Reginald.
"Rocky! Bisakah kamu memanggil kakakmu?"
"Tentu, Bu. Aku akan kembali." Rocky kemudian mengeluarkan sayap kecilnya yang indah.
"A-a! Jangan gunakan sayap!" melarang Scarlett.
"Ibu, ayolah!"
"Gunakan sayapmu saat berada di luar!"
Reginald sedang melakukan sesuatu di kamarnya. Dia tampak sendirian. Dia sedang bermain dengan bayi Deerat yang dia temukan di luar. Ibu akan marah jika mengetahui ada Deerat di rumahnya. Oleh karena itu, ia membuatkan tempat persembunyian bagi bayi Deerat.
"Kakak? Apakah kamu di sini?" Rocky memasuki kamar Reginald.
"Oh, Rocky? Ada apa?" Reginald bertanya.
"Ibu memanggilmu."
"Aku akan turun."
"Tentu, tidak lama." Rocky menutup pintu dan kembali ke ruang makan.
"Tenang di sini, oke, aku akan kembali!" Reginald berkata kepada bayi Deerat.
Reginald turun dari kamarnya dan menghampiri ibu dan adiknya, Rocky. Rocky sudah mengambil dua butir telur di piringnya. 2 butir telur tersisa di piring. Reginald mengambil piringnya dan mengambil sebutir telur dan sepotong roti.
"Reggie, ambil dua potong roti! Apakah kamu sedang diet? Kamu bahkan tidak terlihat besar, ambillah!" kata Scarlett.
"Ughh..."
"Ayo, makan semuanya! Aku mau ambil piring sebentar."
Reginald memotong roti menjadi potongan-potongan kecil dan memakannya dengan telur. Sementara itu, Rocky seperti belum pernah makan selama 14 tahun hidupnya.
"Rocky!! Makanlah dengan tenang, jangan seperti itu! Umurmu sudah 14 tahun!" seru Scarlett.
"Ini enak, Bu."
"Ughhh..." Scarlett mengambil sisa telur dan mengambil dua potong roti. Dia lalu berkata, "Oh, Reggie."
"Iya?"
"Sudah saatnya kau masuk SMA."
"Apakah aku akan dikirim ke SMA Earthania?"
"Tidak, SMA Internasional Peri."
"Tunggu apa?"
"Internasional? Wow, kamu akan bertemu peri dari 4 negeri,” ucap Rocky.
"Tapi, Bu.”
“Tak apa, Reggie.”
"Ughh..."
"Sekarang, makanlah!”
Hari ini adalah hari yang spesial bagi Reginald. Meskipun, menurutnya hari ini adalah hari yang sangat tidak spesial baginya karena ia harus pergi dari negeri Earthania. Sekolah internasional itu bahkan tidak berada di Dunia Peri, melainkan di Dunia Fantasi –dunia yang penuh dengan hewan – hewan aneh serta pemandangan yang sangat tidak nyata—. Dunia Fantasi memiliki 8 sekolah internasional yang terkenal diantaranya yaitu sekolah peri, penyihir, duyung, goblin, vampir, hantu, troll, dan ahli ramuan.
Di Earthania, Reginald sudah bersiap di depan menunggu sebuah tumpangan canggih yang dapat mengantarnya langsung ke Dunia Fantasi. Edward dan Scarlett beserta Rocky ikut menunggu di luar. Reginald kemudian berdiri dan mendekati Scarlett.
“Ibu, kali ini aku bertanya yang terakhir kalinya.”
“Tentu, tanyakan saja.”
“Mengapa sayapku berbeda dengan sayap Rocky? Aku malu jika menunjukkan kepadanya, bahkan aku juga malu menunjukkannya kepada seluruh peri disini.”
“Reggie, itu adalah anugrah, sayang.”
“Tapi, itu berwarna – warni.”
“Reggie, sayap berwarna – warni sangat langka di Dunia Peri. Hanya ada 0,5% yang ada di dunia ini. Dan, kau adalah salah satunya,” ucap Edward.
“Benarkah?”
“Ya… Jangan malu – malu jika ada yang ingin melihat sayapmu.”
“Baiklah.”
Tumpangan itu datang ke rumah kelurga Arthinson. Seorang peri penjaga tumpangan itu datang dengan baju super duper mewah dengan balutan seragam berwarna biru-ungu serta tongkat emasnya yang merupakan senjatanya.
“Reginald Arthinson?” kata penjaga itu.
“Ya, itu aku,” ucap Reginald.
“Silahkan masuk!” Penjaga itu membuka jalan kepada Reginald. Reginald memeluk kedua orang tuanya serta Rocky. Ia berjalan masuk ke tumpangan itu sembari melambaikan tangannya kepada keluarganya. Tumpangan menuju ke Dunia Fantasi terbang dan berangkat.
-----
Reginald tertidur secara tiba – tiba. Penumpang yang awalnya hanya dirinya dan satu peri berubah menjadi lebih dari 20 peri. Reginald tertidur sangat lama hingga tak sadar disebelahnya ada satu peri perempuan yang sedang memperhatikan dirinya tertidur.
“Oh, kau sudah bangun rupanya,” ucap peri itu.
“H-ha, apa? I-iya,” ucap Reginald dengan mata yang sedikit sayu.
“Ngomong – ngomong, aku Daphne McArzue.”
“Kau peri Earthania?”
“Tentu saja. Di dalam kabin ini hanya berisikan peri dari Earthania.”
“Oh, begitu. Ngomong – ngomong, aku Reginald Arthinson.”
“Salam kenal.”
“Salam kenal juga.”
“Para peri! Kita sudah sampai!” teriak penjaga itu.
-----
SMA Internasional Peri, tempat edukasi, bermain, serta berlatih untuk para peri dari Dunia Peri. Sekolah itu bertempat di dekat lereng gunung besar. SMA Internasional Peri berbentuk seperti kastil istana berwarna abu – abu dan bercorak seperti bunga mawar. Terdapat bendera 4 warna yaitu biru, merah, putih, dan coklat, serta logo sayap di tengahnya yang berkibar di paling atas bangunan.
Reginald dan Daphne berjalan memasuki ke wilayah sekolah itu sembari melihat ke sekeliling tempat. Para peri dengan sayap besar dan indah terbang menunggu para murid tahun pertama.
“Siapa mereka?” tanya Reginald.
“Mereka adalah profesor yang akan mengajar kita,” jawab Daphne.
“Selamat datang para murid tahun pertama. Kami sangat senang dan bersyukur kalian masih mempercayai SMA Internasional Peri,” ucap salah satu peri dari jajaran para peri hebat yang ada di depan, “Izinkan aku memperkenalkan diriku dan para profesor yang lain. Dari negeri Waterania, 1 peri tampan dan 2 peri cantik, Profesor Walryuse, Profesor Teresa, dan Profesor Visianie. Dari negeri Fireania, 3 peri tampan, Profesor Flamix, Profesor Drackaollo, dan Profesor Nabu. Dari negeri Airania, 3 peri cantik, Profesor Haneullia, Profesor Ilverymoy, dan Profesor Wendy. Dan, dari negeri Earthania, 1 peri cantik dan 2 peri tampan, Profesor Nichol, Profesor Tigerio, dan aku kepala sekolah SMA Internasional Peri, Profesor Orqueda.” Seluruh murid bertepuk tangan
“Mereka semua pasti sangat hebat,” bisik Reginald.
“Ok, para murid tahun pertama, sebelum memasuki asrama kalian, silahkan lihat tempat kamar asrama yang berada di papan dekat taman bunga mawar. Kami akan kembali saat semuanya sudah menempati asrama.” Para profesor terbang meninggalkan tempat. Para murid pertama berbondong – bondong menghampiri papan itu.
“Halo!! Hey!! Adakah disini yang bernama Daphne McArzue!! Halo!!” teriak salah satu peri.
“Oh, itu aku!!” sahut Daphne menghampiri peri itu.
“Disini rupanya. Aku Zephirah Wyndey dari Airania, dan tetap berada di sampingku.”
“Oh, aku Daphne McArzue dari Earthania.”
“Uuu!! Negeri dengan banyak batu, aku suka batu. Tetap berada di sampingku oke.” Zephirah kembali berjalan di sekerumunan para peri dan memanggil satu persatu nama. “Selanjutnya, Azariel Galison!! Azariel!! Azariel!! Yuhuuu!!”
“Tunggu, peri wanita dan pria tidur di dalam satu asrama?”
“Tidak, peri batu. Lihat! Di kertas ini tertulis 5 nama dengan 2 warna yang berbeda, kau dan aku berwarna merah muda, dan 3 lainnya berwarna biru muda. Mungkin itu adalah warna gender. Kita berada di ruang 1F, dan di ruang 1F terdapat dua kamar yang sepertinya kita satu kamar, 1FA dan 3 yang lain, 1FB,” ucap Zephirah.
“Hey, apa kalian memanggilku? Aku Azariel Galison dari Waterania.”
“Uuu!! Wajahmu seperti seorang pangeran, aku suka pangeran.”
“Aku Zephirah Wyndey dari Airania, tetap disampingku.”
“Hai, aku Azariel, kau?” tanya Azariel ke Daphne.
“Aku Daphne McArzue dari Earthania.”
“Senang bertemu denganmu.
“Aku juga.”
“Ignace Ednuardo?! Ignace!! Kau disini!! Ignace!!” teriak Zephirah.
“Disini!! Aku dibelakangmu!!” teriak Ignace.
“Ohh, hai, aku Zephirah Wyndey dari Airania.”
“Kau pasti dari Fireania,” ucap Daphne.
“Tentu, aku Ignace Ednuardo dari Fireania.”
“Wow, bukankah ini suatu kebetulan 4 peri dari negeri yang berbeda bekumpul bersama disini,” ucap Azariel.
“Tunggu, kita punya 1 peri lagi. Reginald Arthinson,” ucap Zephirah.
“Oh, dia!” ucap Daphne.
“Hai… A-aku Reginald Arthinson dari Earthania.”
“Aku Zephirah Wyndey dari Airania.”
“Aku Azariel Galison dari Waterania.”
“Dan, aku Ignace Ednuardo dari Fireania.”
“Ok, semuanya sudah lengkap. Ayo, kita pergi ke ruangan kita!”
-----
Asrama. Ruang 1F. Ruangan itu berada di paling bawah diantara asrama yang lain. Namun, ruangan itu penuh dengan barang yang tertata rapi layaknya seperti rumah. Televisi, ruang berkumpul, dapur, tempat makan, serta benda – benda yang lain sudah tersedia di ruangan. Kamar 1FA berada dekat dengan dapur, sementara kamar 1FB berada dekat di pintu masuk. Masing – masing kamar memiliki kamar mandi di dalamnya.
“Jadi, dimana kamar 1FA?” tanya Daphne.
“Aku rasa itu berada dekat dapur,” tunjuk Azariel.
“Ayo, Daph!” ajak Zephirah.
“Dan, sekarang dimana kamar 1FB?” tanya Ignace.
“Aku rasa sebelah ini,” jawab Reginald.
“Ok para lelaki jantan, saatnya kita memasuki kamar kita!” ajak Ignace.
-----
Zephirah tiba tiba datang, ia melihat Daphne dan Reginald sedang berbicara satu sama lain. Sementara, Azariel dan Ignace berbicara di kamar miliknya. Ia mendekati Daphne dan Reginald. “Ada apa ini?” tanyanya.
“Kami hanya berbincang – bincang,” ucap Reginald.
“Ohh… Ngomong – ngomong, Daph, apa yang dilakukan dua bocah itu di kamar kita?”
“Tak tahu.”
“Sepertinya ada yang membicarakan tentang kami.” Azariel dan Ignace sudah ada di depan pintu secara tiba – tiba.
“Apa yang berdua lakukan di kamar wanita?! Awas, jika kalian melakukan yang aneh – aneh dengan barang – barangku!” ancam Zephirah.
“Tak ada, Zeph,” ucap Ignace.
“Hmmm… Ngomong – ngomong besok adalah kompetisi sayap, semua murid tahun pertama wajib mengikuti di hadapan para profesor dan para keempat pemimpin dari Dunia Peri. Jadi, siapkan sayap kalian dan diri kalian.”
Reginald membuka mulutnya, ia sangat gugup dan gelisah. Sementara, keempat temannya bergembira, Reginald hanya bisa diam memikirkan kompetisi sayap itu.
-----
Fairy-Dom. Tempat itu sangatlah besar seperti panggung arena. Tapi, lebih besar. Ukurannya arenanya bahkan bisa ditampung untuk 5 rumah. Balutan kain 4 warna biru, merah, putih, dan coklat menghiasi tempat itu. Tak lupa, tempat duduk melingkari arena. Ada tempat khusus di atas untuk para profesor dan tamu.
Seluruh profesor, peri, dan keempat pemimpin sudah hadir dan menempati tempat duduknya. Para murid tahun pertama duduk di paling bawah dekat arena.
“Selamat datang para murid SMA Internasional Peri!!” ucap Profesor Orqueda. Seluruh peri yang awalnya berbicara satu sama lain, terdiam. “Terima kasih. Hari ini, adalah hari kompetisi sayap. Sesuai tradisi, murid tahun pertama akan mengikuti kompetisi ini. Tamu hari ini sangatlah spesial, dimana para keempat pemimpin dari keempat negeri datang untuk menonton. Langsung saja, Profesor Flamix akan mengatur jalannya kompetisi ini!”
“Terima kasih, Profesor Orqueda. Ok, untuk murid tahun pertama, kalian cukup melewati 3 rintangan yang akan diberikan.” Para peri meletekkan rintangan itu di tengah arena. “Langsung saja, rintangan yang pertama adalah kalian cukup masuk ke dalam pip tabung itu dan ikuti jalannya. Rintangan yang kedua adalah setelah melewati tabung, kalian cukup memutari di bola itu sebanyak 5 kali. Dan, rintangan yang terakhir adalah lewati dan hindari dari sebuah palu.”
“Sepertinya itu cukup mudah,” bisik Ignace.
“Jangan sok jagoan, bisa saja di dalam tabung itu ada sesuatu,” sahut Zephirah.
“Kita lihat saja nanti.”
“Ok, langsung saja, kita mulai dari asrama ruang 1F! Ignace Ednuardo dari Fireania!”
“Ayo, Ignace!!” ujar Zephirah.
“Mengapa aku yang pertama? Mereka bahkan tidak memberiku aba – aba!”
"Semangat, Ignace!!” ucap Daphne.
“Kau bisa, Ig!” ucap Azariel.
“Semoga berhasil, Ig!” ucap Reginald.
"Ok! Ini dia,” ucap Ignace. Ignace berjalan memasuki arena. Seluruh peri menyorakinya. Terutama peri yang berasal dari negeri Fireania.
“Silahkan berdiri di garis kuning!” seru Profesor Flamix. Ignace mendekati garis itu. “Ok, sekarang keluarkan sayapmu!”
“FAIRIA!!” Api kecil keluar dari sayapnya hampir mengenai Profesor Flamix. Seluruh penonton bersorak lebih keras.
“Maaf, profesor,” ucap Ignace.
“Tak apa, peluit berbunyi, silahkan lewati rintangan itu!”
“Baik.”
“Satu… Dua…” Peluit berbunyi. Ignace dengan cepat terbang memasuki pipa itu. Pemimpin dari Fireania, Raja Lucxos tersenyum sembari memperhatikan Ignace.
-----
Selang beberapa menit, Ignace berhasil menyelesaikan rintangan. Ia tersenyum lebar. Penonton bertepuk tangan terutama Raja Lucxos, pemimpin negeri api.
“Selamat, Ignace!!” ujar Profesor Flamix. “Selanjutnya, Daphne McArzue dari Earthania.”
“Dia adik dari Daisy McArzue,” bisik Profesor Nabu.
"Benarkah?” ucap Profesor Orqueda.
“Dia pasti pandai seperti kakaknya.”
“Satu… Dua…” Peluit berbunyi. Daphne mengeluarkan sayapnya dan terbang dengan kecepatan tinggi. Seluruh penonton menyorakinya.
“Dia benar – benar hebat,” ucap Azariel.
Tak lama, Daphne juga berhasil menyelesaikan rintangan. Profesor Flamix memanggil Azariel, dan Zephirah satu per satu. Azariel juga berhasil melewati rintangan. Disusul, Zephirah yang juga berhasil melewati rintangan itu. Reginald sangat gugup. Ia belum dipanggil sama sekali.
-----
Sudah 10 menit, seluruh murid tahun pertama menyelesaikan rintangan itu. Tersisa, Reginald. Dan, ia semakin gugup
“Ok, murid terakhir, Reginald Arthinson dari Earthania!!” panggil Profesor Flamix.
"Kau pasti bisa, Reggie!”
"Baiklah.” Reginald menenangkan dirinya dan memasuki arena. Seluruh penonton bersorak ke arahnya.
"Kau bisa mengeluarkan sayapmu sekarang!” ujar Profesor Flamix. Reginald menutup matanya.
"Kau bisa, Reggie!” bisik Daphne.
“FAIRIA!!” Tak lama, sayap berwarna – warni tanpa corak keluar dari tubuh Reginald. Seluruh penonton, para profesor, dan keempat pemimpin peri terkejut dan terdiam.
“D-dia memiliki sayap berwarna – warni,” ucap Ratu Oxygetea, pemimpin Airania.
"Bukankah sayapnya sama dengan kelima peri dalam dongeng?” tanya Ratu Melissa, pemimpin Waterania.
“Profesor Nabu, panggil dia setelah kompetisi ini selesai! Aku akan keluar sebentar!” ujar Profesor Orqueda. Ia langsung meninggalkan tempatnya.
"S-satu… D-dua…” Peluit berbunyi. Reginald terbang dengan kecepatan tinggi. Tak lama, ia sampai di tengah pipa. Air, api, batu, dan angin keluar dari pipa itu. Reginald sedikit terkejut. Tetapi, ia tetap melewati rintangan itu. Seluruh peri terkejut karena pipa itu bergoyang dengan sangat cepat.
"Apa yang terjadi? Mengapa pipa itu bergoyang dengan kecepatan tinggi?” tanya Daphne.
"Air, api, batu, dan angin keluar dari dalam pipa itu. Itu sebabnya pipa itu bergoyang dengan sangat cepat,” ucap Azariel. Reginald sampai di lingkaran. Dengan cepat, ia memutari lingkaran itu. Tepat di putaran terakhir, air, api, batu, dan angin menerjang dirinya. Reginald bergegas keluar dari dalam lingkaran itu.
*Syukurlah dia berhasil,” ucap Zephirah. Rintangan terakhir, Reginald dengan luwes dan gesit melewati sembari menghindari palu – palu itu. Dan, ia berhasil. Penonton yang awalnya terdiam langsung bertepuk tangan dan bersorak.
"Dia berhasil!!” senang Daphne.
-----
Tok!! Tok!! Profesor Nabu mengetuk pintu.
"Masuk!” ujar Profesor Orqueda. Profesor Teresa dan Reginald masuk ke dalam ruangan Profesor Orqueda.
"Ini, Profesor!” ucap Profesor Nabu.
"Terima kasih, Profesor. Kau bisa kembali!” Profesor Nabu kembali meninggalkan mereka berdua bersama.
"Hai, Reginald.”
"H-halo, Profesor,” sahut Reginald.
“Kau berasal dari Earthania?”
“Y-ya…”
"Ngomong – ngomong, aku memanggilmu kemari karena aku memiliki sesuatu kepadamu.”
"Sesuatu?”
"Ini berhubungan dengan sayapmu.”
“Sayapku?”
"Ya. Kau ingat dengan dongeng Peri Terakhir dan Elemen Sihir?”
"Apakah sayapku ada hubungannya dengan dongeng itu?”
"Tahan! Akan ku ceritakan lebih lanjut tentang dongeng itu.”
"Baiklah.”
"Keluarga LeWings… Peri pencipta sihir api, Phoenielle LeWings. Peri pencipta sihir air, Christina LeWings. Peri pencipta sihir udara, Keithan LeWings. Peri pencipta sihir tanah, Alder LeWings. Dan, peri terakhir atau peri yang belum menciptakan sihir, Millabero LeWings. Kelima peri itu memiliki sayap berwarna – warni, tanpa corak, dan sangat indah. Sama seperti milikmu.”
"Tapi, Profesor. Itu tidak mungkin, dongeng itu bahkan sudah 100 tahun lebih yang lalu. Aku bahkan tidak percaya mereka benar – benar ada.”
"Sekarang perhatikan sekitar, apa kau menyadari mengapa Dunia Peri terbagi menjadi 4 bagian?”
“Tidak,” ujar Reginald.
"Dan coba sekarang lihat, mengapa kita memiliki 4 negeri yang masing – masing dikelilingi oleh air, api, tanah, dan udara? Bukankah suatu kebetulan itu sama dengan keempat peri pencipta sihir itu?”
Reginald terdiam. Ia bertanya, “Jadi, Profesor apa mereka benar ada?”
“Tentu. Profesor percaya. Tunggu… Sepertinya ada pengamat disini. Masuklah, Daphne, Zephirah, Azariel, dan Ignace!”
“Dia melihat kita!” bisik Zephirah.
“Kita masuk saja!” sahut Daphne. Mereka berempat masuk dan berdiri di belakang Reginald.
“Jadi, Reginald. Kau memang langka, aku dan profesor yang lain akan mendiskusikan tentang dirimu dan mencari lebih lanjut tentang dirimu. Sekarang, kalian boleh memasukkan sayap kalian dan pergi dari sini.”
-----
Di kamar, mereka sedang membicarakan tentang Reginald dan dongeng itu.
“Kau bahkan tidak menceritakannya kepada kami, Reggie,” ucap Azariel.
“Maaf, aku sangatlah malu jika aku mengeluarkan sayapku.”
“Tapi, bukankah itu indah jika sayap berwarna – warni?” ujar Ignace.
“Seperti tanduk unicorn,” ucap Zephirah.
“Reggie, apakah keluargamu juga memiliki sayap yang sama?” tanya Daphne.
“Tidak.”
“Ini sangat membingungkan.”
“Sudahlah, aku mau tidur, Dah!”
-----
Setelah 5 bulan lamanya, Reginald kembali di panggil oleh Profesor Orqueda di ruangannya di tengah malam. Ia bersama keempat temannya berdiri di hadapan Profesor Orqueda.
“Reginald, aku takut mengatakannya kepadamu,” ucapnya.
“Tak apa, Profesor, katakanlah!” ujar Reginald.
“Ada apa, Profesor?” tanya Daphne.
“Kau bukanlah peri dari Earthania.”
“Apa?! Tidak mungkin, orang tuaku berasal dari sana. Mereka adalah Edward Arthinson dan Scarlett Arthinson. Profesor mungkin salah.”
“Tidak, Reginald. Kami sudah mencarinya. Kau bukan keluarga dari Arthinson. Dan, kemungkinan besar dia adalah LeWings.”
“Profesor, bukankah itu dongeng?” tanya Azariel.
“Tidak, itu bukanlah dongeng. Kalian mau tahu buktinya?” Profesor Orqueda kemudian mengeluarkan alat proyektor dan menyalakannya. “Bukti pertama adalah, kita memiliki 4 negeri yang dikelilingi oleh air, api, tanah, dan udara. Bukti kedua adalah, Pulau Doknow, pulau persengketaan. Aku pernah menemui peri dengan sayap seprti Reginald disana. Bukti ketiga adalah, Reginald.” Profesor Orqueda kemudian mematikan proyektornya. “Apakah kalian sekarang percaya?”
“FAIRIA!!” Reginald mengeluarkan sayapnya dan terbang keluar dari ruangan.
“Reggie! Kau mau kemana?” tanya Ignace.
“Reginald!!” panggil Profesor Orqueda.
Reginald berhenti tepat di tengah halaman depan SMA Internasional Peri. Beruntung, keempat temannya datang di waktu yang tepat. Terkecuali, Ignace yang tiba – tiba menghilang.
“Reggie! Apa yang kau lakukan? Terbang begitu saja?” tanya Zephirah.
“Aku harus pergi ke Pulau Doknow itu!” ujar Reginald.
“Kau tidak bisa pergi ke Dunia Peri tanpa tumpangan, Reggie!”
“Aku rasa bisa!” Ignace muncul dengan kendaraan yang digunakan untuk menjemput para peri.
“Dia benar – benar biadab,” ucap Zephirah.
-----
Mereka berlima sampai di Pulau Doknow dengan selamat. Terkecuali, saat pendaratan. Ignace selalu ceroboh dalam melakukan hal apapun.
“Lain kali, jangan Ignace yang membawa kendaraan,” ujar Zephirah.
“Maaf,” ujar Ignace.
“Pulau Doknow,” ucap Reginald.
“Pulau ini penuh dengan rerumputan dan bebatuan,” ucap Daphne.
“Angin sejuk juga ada dimana – mana,” ucap Zephirah.
“Laut yang mengelilinginya juga bersih,” ucap Azariel.
“Lampu – lampu dari api juga bersinar dimana – mana,” ucap Ignace.
“Jadi… Reginald?” tanya Daphne.
“Kalian berpencarlah! Kita cari satu persatu di pulau ini!”
“Uh-oh!” ucap Ignace.
“Uh-oh apa?” tanya Zephirah.
“Sekelompok Deerat ada di samping!”
“Ayo, kita keluarkan sayap kita!” ajak Reginald.
“FAIRIA!!” teriak mereka berlima. Dengan cepat, mereka terbang dan memandangi Deerat itu.
“Ha!! Sekarang, mereka tidak bisa melawan kita,” ucap Ignace.
Sekelompok Deerat itu memandangi kelima peri itu dengan tatapan yang ganas, giginya semakin kebawah menandakan ia semakin marah. Namun, saat mereka melihat Reginald mereka semua takut dan pergi ke pohon besar itu.
“Tunggu, mereka pergi?” tanya Azariel.
“Mari kita turun!” ujar Reginald. Mereka kemudian turun.
“Ini aneh, mereka tidak menyerang kita,” ucap Daphne.
“Mereka berlari ke pohon besar itu. Kita lihat, apa yang terjadi!” Reginald dan keempat temannya berjalan menyusuri pohon besar itu.
“Aneh, Deerat itu menghilang,” ucap Zephirah.
“Pasti ada sesuatu dibalik pohon ini,” ucap Reginald. Reginald kemudian menyentuh pohon itu. Tiba – tiba, angin besar, api dari lampu itu padam, tanah bergoyang, gelombang air laut datang ke pulau. Pohon itu kemudian mengecil, dan 4 batu disekitarnya terangkat berubah menjadi sebuah bola api, air, tanah, dan udara yang kecil. Tiba – tiba, muncul keempat peri dari pohon itu dengan baju yang sangat kuno.
“Ahhh!!! Bebas!! Aku tidak percaya ini, kita bebas!!” ucap salah satu peri.
“Christina!! Kita bebas!!” ucap peri yang lain.
“Christina?” tanya Ignace. Keempat peri kemudian menyadari bahwa ada kelima peri yang ada di hadapannya.
“Oh, hai? Apakah kalian yang menyelamatkan kami?” tanya Christina.
“Christina LeWings?” tanya Daphne.
“Oh, ya… Dan mereka saudara – saudariku, Phoenielle, Alder, Keithan, dan… Dimana Millabero?”
“K-kalian kelima peri yang menciptakan keempat sihir?”
“Tentu… Ngomong – ngomong, mengapa sayap kalian hanya satu warna?”
“A-…”
“Christina! Millabero ada di lubang itu! Ayo, kita menolongnya!” ajak Alder.
“Tunggu, mengapa kalian menyelamatkan dia?” tanya Reginald.
“Dia saudari kami. Kami tidak tahu apa yang terjadi kepadanya setelah Oskurio bodoh itu melahap kami. Bukankah kau berasal dari lubang itu?”
“Bukankah dia yang telah mencuri semua elemen sihir itu?”
“Kata siapa? Kami justru membantu dia untuk menciptakan elemen sihir.”
“Huh?!” Mereka berlima kebingungan.
“Dengar! Kami berhasil menciptakan sumber elemen sihir termasuk air, api, udara, dan tanah. Adik bungsu kami belum menciptakan sihir dan terus menunggu adik bungsu mereka sembari membantunya untuk membuat sumber elemen sihir lainnya. Kemudian, di tengah malam Ratu Peri datang untuk mencuri seluruh sumber elemen sihir dan memakainya. Kami mengetahuinya dan melawannya. Syukurlah, sumber elemen sihir berhasil kembali ke kami berempat. Namun, Oskurio muncul disebabkan oleh keegoisan Ratu Peri. Oskurio mengincar kami serta Ratu Peri. Sayangnya, Oskurio melahap Ratu Peri dan mengubahnya ke pohon kecil yang ada di…” Pohon yang ditunjuk Christina itu juga ikut menghilang. “Uh-oh,” ucapnya.
Alder, Phoenielle, dan Keithan berhasil menyelamatkan adik mereka, Millabero. Ia terbaring lemah tanpa sayap.
“Mencariku peri bodoh? HAHAHAHA!!!” ucap Ratu Peri yang terbang.
“Ratu Peri?!” ujar Keithan.
“Ya… Aku kembali setelah tertidur yang sangat lama. Oh!! Kau bahkan membawa pasukan?”
“Pergilah dari sini, Ratu Peri!!” ujar Alder. Millabero kemudian bangun.
“Apa yang terjadi?” tanya Millabero.
“Sebelum kalian memberiku keempat elemen sihir itu.”
“Tidak akan pernah!!” Millabero tiba – tiba berjalan mendekat sembari menatap tajam Ratu Peri.
“Oh, lihat! Si bungsu yang tidak memiliki sihir.”
“Kau salah! Millabero FAIRIA!!!” Tak hanya mengeluarkan sayap, Millabero bertransformasi menjadi peri dengan balutan gaun mini tanpa lengan, sepatu bot pendek, dan sarung tangan yang memanjang dari siku. Masing – masing berwarna hijau berkilau.
“Kau berhasil menciptakan sihir, Milla!” ujar Keithan.
“Ya… Aku menciptakan sihir yang mempersatukan air, api, tanah, dan udara. Yaitu, alam.”
“Ugghh…” gerutu Ratu Peri.
“Sihir terakhir ada di dalam lubang, ambillah!” bisik Keithan ke Christina.
“Dongeng itu salah. Sekarang, apa yang akan kita lakukan?” tanya Daphne.
“Terima balasanku, Storm Energy!!!” Awan hitam disertai petir tiba – tiba datang mengincar Millabero.
“Leaf Vines!! YAAA!!” Dedaunan yang diciptakan Millabero menghentikan petir itu.
“Ayo, LeWings!” ajak Alder.
“FAIRIA!!” teriak keempat peri LeWings.
Christina bertransformasi menjadi peri dengan balutan crop-top tanpa lengan, rok mini, sepatu bot panjang, dan sarung tangan panjang menutupi seluruh tangannya. Masing – masing berwarna biru berkilau. Alder bertransformasi menjadi peri balutan tank-top, celana sepanjang lutut, sepatu bot pendek, dan sarung tangan. Masing – masing berwarna coklat berkilau. Keithan berubah menjadi peri balutan crop-top, celana pendek, sepatu bot panjang, dan sarung tangan panjang menutupi seluruh tangannya. Masing – masing berwarna putih berkilau. Phoenielle berubah menjadi peri balutan crop-top tank-top, rok mini belahan dengan celana pendek di dalamnya, sepatu bot pendek, dan sarung tangan yang memanjang dari siku. Masing – masing berwarna merah berkilau.
“Kalian, jagalah sumber elemen sihir ini. Pergilah ke lubang itu dan carilah sumber elemen sihir milik Millabero! Setelah itu, serahkan semua elemen itu ke keturunan kami! Jangan sampai terlihat oleh Ratu Peri!” ujar Christina dan langsung menyerang Ratu Peri. Daphne, Zephirah, Azariel, dan Ignace memegang sumber elemen sihir itu.
“T-tapi…”
“Dimana elemen itu!?” Ratu peri semakin marah.
Reginald bersembunyi di lubang bersama teman – temannya. Mereka kelelahan berlarian.
“Tempat ini sangat sunyi,” ucap Ignace.
“Kita harus cari apa yang dikatakan Christina,” ucap Reginald.
Tiba – tiba mereka terkejut melihat ada salah satu peri yang sayapnya sama dengan Reginald. Seluruh peri disana hanya memandangi mereka.
“K-kau, wajahmu mirip dengan Stefano LeWings,” ucap salah satu peri.
“Stefano?”
“Stefano!! Lucinda!! Kemarilah!!” teriak peri itu.
“Ada apa, Victoria? Mengapa kau berteriak?” tanya Stefano didampingi Lucinda.
“Kita kedatangan tamu!” Victoria membuka jalan. Stefano terkejut melihat wajah Reginald yang hampir mirip dengannya. Stefano menarik tangan kanan Reginald dan memperlihatkan sebuah tanda lahir di dekat jari kelingkingnya.
“I-itu tanda lahirku,” ucap Reginald.
“Callabero?” ucap Stefano.
“Maaf, apa?”
“Lucinda, ini anak kita! Callabero, kau pulang, nak!!” Stefano memeluk Reginald.
“Ohh… Putraku!!” Lucinda ikut memeluk. Reginald hanya diam dan bingung.
“Maaf sebelumnya. Tapi, apa yang terjadi?” tanya Reginald.
“Saat itu kami berdua tidak sadar meninggalkanmu di luar. Para Deerat kemudian memberitahu bahwa dua peri telah menculikmu. Kami mengeceknya dan itu benar.”
“Para Deerat?”
“Ya… Mereka penjaga kami. Karena kami dilarang keluar oleh Mama Millabero, kami percaya dan yakin suatu saat dia akan kembali. Para Deerat juga memberitahuku sebelumnya bahwa ada kelima peri di pulau ini.”
“Itu sebabnya para Deerat pergi begitu saja,” ucap Ignace.
“Reggie! Sihirnya!” bisik Daphne.
“Maaf, tapi kami benar – benar membutuhkan sumber elemen sihir milik Mama Millabero. Kakaknya menyuruhnya untuk mengambilnya,” ujar Reginald.
“Tentu.” Hanya dengan jentikan tangan, sumber elemen sihir itu berjalan ke arah Stefano.
“Wow, luar biasa,” ucap Ignace.
“Ini, sumber elemen sihir alam milik Mama Millabero.” Stefano memberikan elemen sihir itu ke Reginald.
“Peri Christina berkata bahwa memberikannya ke keturunannya. Kalian! Berikan elemen ini ke Reginald!” Mereka berempat menyerahkan keempat sihir itu kepada Reginald. Tiba – tiba cahaya putih dari kelima elemen itu mengeluarkan lingkaran cahaya putih dan menyebar ke seluruh Dunia Peri dan SMA Internasional Peri.
Reginald bertransformasi menjadi peri dengan balutan crop top, celana pendek, sepatu bot panjang, dan sarung tangan menutupi seluruh tangannya. Masing – masing berwarna hijau muda berkilau. Daphne bertransformasi menjadi peri dengan balutan gaun mini telanjang bahu, sepatu bot pendek, dan sarung tangan. Masing – masing berwarna coklat muda berkilau. Azariel bertransformasi menjadi peri dengan balutan tank-top, celana sepanjang lutut, sepatu bot pendek, dan sarung tangan. Masing – masing berwarna biru muda berkilau. Zephirah bertransformasi menjadi peri dengan balutan crop top telanjang bahu, rok mini, sepatu bot panjang, dan sarung tangan yang memanjang dari siku. Masing – masing berwarna putih. Ignace bertransformasi menjadi peri dengan balutan baju terusan celana sepanjang lutut, sepatu bot pendek, dan sarung tangan yang memanjang dari siku. Masing – masing berwarna merah vermilion.
Tak hanya, mereka berlima yang bertransformasi. Seluruh Dunia Peri dan para murid serta profesor di SMA Internasional Peri bertransformasi menjadi peri yang memiliki sihir.
“Kita berubah?!” ucap Zephirah.
“Dan, kita memiliki sihir!” ucap Ignace.
“Kostum mu sangat cocok dengan sayapmu, Daph!” ujar Azariel.
“Terima kasih.”
“Kerja bagus anakku. Kau membuat sejarah bagi Dunia Peri. Sekarang, Dunia Peri memiliki sihir. Tugas kelima peri bersaudara sudah selesai.”
“Tidak secepat itu!!” Ratu Peri datang memasuki ke dalam lubang.
“Itu Ratu Peri!” ujar Stefano.
“Reginald, aku tahu tentangmu, sekarang berikan sihir itu! Atau aku akan membinasakan seluruh keluargamu! YAAA!!” Ratu Peri menyerang singgasana Millabero.
“Earthquake Fire!!” Kombinasi sihir dari Phoenielle dan Alder membuat Ratu Peri jatuh. Kelima peri bersaudara datang di waktu yang tepat.
“Para LeWings!! Sekarang, keluar dari lubang ini!! Cepat, cepat!!” perintah Millabero. Seluruh peri di dalam lubang itu terbang dan keluar dari lubang. Kelima peri bersaudara beserta Reginald dan teman – temannya masih berada di dalam.
“Kalian berlima keluarlah!!” perintah Keithan.
“Kita harus menghancurkannya!” ucap Reginald. Tak lama, Ratu Peri bangkit dengan amarah yang sangat tinggi.
“BERIKAN SIHIR ITU SEKARANG!!!” teriak Ratu Peri.
“Tidak akan!!! YAAA!!!” Bola hijau muncul dari sihir Reginald dan menyerang Ratu Peri.
“Kau!! PLASMA UNIVERSE!!!” Sihir hitam muncul dari tangan Ratu Peri dan akan menyerang Reginald. Namun, itu meleset. Sihir itu mengarah sebaliknya dan membuat Ratu Peri binasa.
“Kita berhasil!” ujar Phoenielle.
“Tunggu, Phoe! Sesuatu terjadi!” ucap Millabero. Kepingan tubuh Ratu Peri mengeluarkan Oskurio satu per satu. “Oskurio!”
“Ayo, kita pergi dari sini!!” Mereka bersepuluh pergi meninggalkan lubang itu. Beruntung mereka berhasil keluar. Namun, Oskurio masih bisa mengejar dan mengincar kelima peri bersaudara.
“Kalian semua pergilah!! Kami akan mengatasi Oskurio ini!! YAA!!”
“Reggie, ayo!!” ajak Daphne.
“Tidak, aku tidak akan peristiwa itu terjadi!”
“Reggie, ayo kita pergi!!” Oskurio melihat kelima peri lain. Ia mengincar mereka. Namun, ia tiba – tiba menghindar karena melihat Reginald membawa sumber elemen sihir itu.
“Dia takut kepada sumber sihir ini,” ucap Reginald. Ia terbang dan mengangkat kelima sumber elemen sihir. Oskurio itu sangat takut dan semakin marah. Karena ketakukan dan kemarahannya, Oskurio itu membentuk lingkaran hitam dan menyebar ke seluruh Dunia Peri. Keempat temannya berlindung di belakang para peri bersaudara. Oskurio lenyap, kelima peri bersaudara selamat beserta teman – teman Reginald.
“Aku berhasil!” ucap Reginald dengan senang. Ia turun dan menghampiri mereka. “Aku berhasil! Aku tak percaya ini berhasil!”
“Berhasil? Kau malah membuat seluruh peri menyatu dengan alam,” ucap Alder.
“T-tapi… Kalian selamat.”
“Cahaya putih pelindung dari sumber elemen sihir itu melindungi kami bersembilan,” ucap Phoenielle.
“Callabero LeWings, sebagai nenek yang agung dari keturunanku. Aku benar – benar kecewa denganmu,” ucap Millabero.
“M-maafkan aku. Tapi aku tidak mengetahuinya.”
“Sudah terlambat, Dunia Peri berubah menjadi dunia yang tak berpenghuni,” ucap Keithan. Reginald menundukkan kepalanya, ia meletakkan sumber elemen sihir itu, dan berlari menuju ke kendaraan.
“Reggie!!” Keempat temannya ikut mengejarnya.
“Sekarang, apa yang akan kita lakukan?” tanya Christina.
Di dalam kendaraan, Reginald menyalakan mesin itu dan menjalankannya. Beruntung, keempat temannya berhasil masuk.
“Reggie!! Tolong jangan salahkan dirimu!!” ucap Daphne.
“Aku tidak tahu, Daph. Tapi, aku ingin kembali!”
“Reggie, dengarkan!!” Reginald menoleh ke Daphne. “Jangan salahkan dirimu, kau justru membalikkan kelima peri LeWings! Dan, kau menemukan keluargamu!”
“Aku tidak sempat berkenalan lebih lanjut kepada mereka.”
“Hey, bung! Kau juga membuat para peri memiliki sihir. Ingat?” tambah Azariel.
“Ya, kau membuat kami berkilauan,” tambah Ignace.
“Dan membuat kami bergaya,” tambah Zephirah.
“Dengar, semuanya akan baik – baik saja. Kita dan para peri LeWings akan membantumu untuk memulihkan kembali Dunia Peri. Janji?” ucap Daphne dan membuat janji kelingking.
Reginald tersenyum dan berkata, “Janji.”
Mereka berlima kembali ke Dunia Fantasi dan memberitahu seluruhnya apa yang terjadi di Dunia Peri semalam.
-----