Di dunia ini mungkin tidak banyak orang yang beruntung memiliki saudara kembar sepertiku. Sejak terlahir ke dunia, aku selalu merasa bahagia karena tidak harus sendirian menjalani hari. Rasanya aku tidak pernah tahu bagaimana rasanya saat takut tidak bisa mendapatkan teman. Karena saudara kembarku akan selalu ada untukku. Begitu pula denganku, aku tidak akan pernah mau meninggalkannya sampai kapan pun.
Namaku Malla, umurku tujuh tahun. Aku baru saja masuk ke Sekolah Dasar. Aku tidak mempunyai adik, karena aku hanya memiliki seorang kakak yang sebenarnya hanya terpaut beberapa menit saja umurnya denganku. Namanya Mella. Ya, kami berdua adalah sepasang saudara kembar yang selalu berhasil menarik perhatian semua orang. Karena rasanya kami memang selalu terlihat bersama.
Akan tetapi, akhir-akhir ini aku merasa sedih. Meskipun kembar, rasanya semua orang tidak memperlakukan aku dan Mella sama. Karena memang Mella memiliki sifat yang agak berbeda denganku. Aku selalu senang berbincang dengan banyak orang, bermain bersama, bercanda. Akan tetapi, Mella sendiri lebih suka jika tidak harus berada di tengah orang banyak. Dia sangat tertutup dan jarang sekali berbicara pada orang lain. Tentu saja tidak seperti itu jika sedang denganku.
Aku yakin semua itu terjadi karena meskipun kembar, tentu saja kami memiliki beberapa hal yang tidak sama. Salah satu yang menjadi permasalahan adalah karena aku lebih pandai di dalam urusan pelajaran. Padahal Mella sendiri sangat pandai dalam urusan kesenian. Tapi, hal itu tampaknya tidak berhasil membuat ayah dan ibu bangga. Hingga akhirnya Mella merasa sering terkucilkan bahkan terlupakan oleh orang-orang.
Pernah suatu saat aku merasa amat sangat sedih kala Mella berkata lebih baik dia tidak perlu terlahir. Ayah dan ibu akan lebih senang jika memiliki anak sepertiku saja. Tapi aku tidak berpikir seperti itu. Aku tidak akan pernah bisa hidup tanpa Mella, karena dia selalu ada untuk menyemangatiku. Jadi, sejak saat itu pula Mella hanya mau terbuka padaku. Dan kini jadi sangat pendiam. Tapi dia berkata tidak masalah selama aku ada di sisinya juga.
Hari-hari pun kembali berlalu seperti biasanya, meski Mella pun tetap tidak berubah. Tapi hari ini aku ingin mencoba membuatnya tertawa bahagia, selagi kami beserta ayah dan ibu mengajak sedang pergi menuju ke kebun binatang. Aku sudah memikirkan berbagai macam cara untuk menghibur Mella. Aku sangat yakin dia akan kembali memperlihatkan wajah bahagianya nanti.
Akan tetapi, hal yang tidak pernah kuduga terjadi. Aku tidak tahu kenapa, tapi mobil ayah tiba-tiba tergelincir dan terperosok ke bawah tebing. Aku tidak bisa mengingat apa-apa lagi setelah mendengar jeritan semua orang. Duniaku langsung menjadi gelap dan hening.
Saat tersadar, aku merasa sedang berada di sebuah ruangan yang hangat. Namun, aku sangat panik karena tidak bisa melihat apapun. Semua tampak gelap dan menyeramkan. Saat itu aku mendengar suara ibu dan suster yang mencoba menenangkanku. Aku benar-benar tidak bisa merasa tenang, apalagi saat dokter berkata bahwa aku mungkin tidak akan bisa melihat lagi. Dokter laki-laki itu menjelaskan dengan pelan dan halus sekali. Tapi tetap saja intinya adalah bahwa aku buta dan tidak ada yang tahu apa aku masih bisa melihat lagi atau tidak.
Seharian aku hanya bisa menangis dan diam. Aku tahu ibu menangis dan mencoba tetap menyemangatiku, tapi semua tidak berhasil. Sampai akhirnya Mella menggenggam tanganku dan mencoba menenangkanku. Hampir saja aku melupakan kehadirannya di sisiku. Hatiku mendadak jauh lebih tenang saat mendapat kabar bahwa Mella tidak cedera terlalu parah. Dia memang harus berjalan menggunakan tongkat, tapi setidaknya dia masih bisa melihat. Bahkan aku sama sekali tidak memedulikan keadaan ayah dan ibu. Beruntungnya Mella ada untuk menjelaskan kepadaku bahwa mereka baik-baik saja karena terselamatkan oleh sabuk pengaman.
"Tenang saja, aku akan terus di sisimu agar kamu tidak merasa kesepian," ucap Mella. Aku sangat bersyukur karena memilikinya. Kini aku sudah tidak merasa takut meski harus hidup di tengah kegelapan sekalipun.
Setelah beberapa hari berlalu, aku sudah diperbolehkan untuk pulang ke rumah. Sejak saat itu Mella selalu ada di sisiku, sebagai pengganti dari kedua mataku. Dia selalu setia memegang tanganku saat berjalan. Menjelaskan apapun yang kami temui sepanjang perjalanan. Rasanya aku sudah bisa melupakan rasa sakit dalam sekejap.
Hanya saja, setelah berlalu dua minggu, aku merasa agak kesal. Karena mataku yang cacat, kini ayah dan ibu mulai overprotective padaku. Mereka rasanya memperlakukanku seakan aku tidak berdaya. Bahkan aku khawatir mereka benar-benar akan melupakan kehadiran Mella. Aku menceritakan semua keluhanku pada saudara kembarku itu. Tapi dia hanya menjawab dengan lembut. "Tidak apa-apa. Aku senang mereka tetap memperhatikanmu. Karena memang aku tidak apa-apa. Sekarang aku sudah bisa berjalan tanpa tongkat," ucapnya.
"Kenapa kamu selalu sebaik ini, Mella? Apa kamu tidak merasa sedih?"
"Tidak, kok. Aku tidak pernah merasa sedih lagi karena masih ada kamu di sisiku."
"Justru harusnya aku yang berkata seperti itu. Kini kamu benar-benar tidak bisa menjauh karena kondisiku seperti ini."
"Tidak perlu khawatir. Karena memang kita terlahir bersama, bukan."
"Terima kasih, Mella. Jangan pernah menjauhiku ya."
"Tenang saja. Aku akan selalu ada di sisi Malla."
Kata-kata Mella benar-benar membuatku sangat lega.
Sejak mataku tidak memiliki harapan untuk bisa disembuhkan, ayah dan ibu mencari cara agar aku tetap bisa lanjut belajar. Mereka memutuskan untuk mengundang guru ke rumah. Mella pun berkata ingin belajar denganku saja di rumah meski dia takut sekali untuk mengutarakannya. Akhirnya akulah yang mewakilinya untuk berkata kepada ibu. Meski awalnya ibu terdengar ragu dan tidak setuju, tapi akhirnya dia hanya mengiyakan. Aku sedikit kesal karena ibu hanya menjawab dengan, "Ya sudah lah mau bagaimana lagi." Sepertinya dia sudah benar-benar tidak mempedulikan Mella.
Hingga akhirnya kekesalanku memuncak saat ayah dan ibu merayakan hari ulang tahunku yang ke delapan. Aku mendapatkan sebuah hadiah. Saat membukanya, aku bertanya pada Mella apa isinya. Dia bilang sebuah baju cantik berwarna biru muda! Lalu aku bertanya apa yang Mella dapatkan. Tapi, dia menjawab kalau ayah dan ibu tidak memberikan apapun. Jika Mella tidak diberi hadiah, kenapa aku harus mendapatkannya?
Aku yang tidak bisa menerima hal itu langsung kesal dan bermaksud untuk mengutarakannya kepada ayah dan ibu. Selama ini aku selalu memendam semua karena tidak berani dan Mella selalu berkata bahwa aku harus sabar. Tapi kali ini aku sudah tidak tahan.
"Kenapa sih ayah dan ibu sebegitu tidak pedulinya pada Mella?" tanyaku dengan nada tinggi.
"Apa maksudmu, Malla?" tanya ibu dengan nada seakan tidak bersalah.
"Aku dan Mella kan anak kembar. Tapi kenapa hanya aku yang dapat hadiah?" tidak ada tanggapan apapun yang kudapat. "Selama ini juga ayah dan ibu selalu saja pilih kasih dan seakan tidak menganggap Mella. Dia sedih tapi tidak berani mengatakannya!"
"Malla... dengar, Nak. Kami tidak bermaksud seperti itu. Tapi..."
"Tapi apa, bu? Aku tidak tahan jika saudaraku sendiri diperlakukan seperti itu!" tanpa sadar air mataku mulai meleleh. Aku merasakan tangan ibu mengusap halus pipiku.
"Maafkan ibu, Malla. Sebenarnya selama ini ayah dan ibu menyembunyikan sesuatu."
"Menyembunyikan apa?"
"Soal Mella..."
"Ada apa dengan Mella?"
"Sebenarnya Mella sudah meninggal, Nak."
Tidak pernah aku merasa seterkejut ini sebelumnya. Bagaimana tidak, karena beberapa saat lalu aku masih berbicara dengan Mella. Dan dia benar-benar ada di sisiku!
"Tidak mungkin! Mella ada di sini bersamaku, bu!" sanggahku segera. "Mella?" aku memanggil-manggil saudara kembarku yang tak kunjung menjawab.
"Tidak ada siapa-siapa selain kita bertiga di sini, Malla."
"Tidak mungkin! Jangan membohongiku, bu! Ibu bohong kan, yah?"
Kali ini giliran ayah yang mendekat ke arahku. Dia memegang sebelah tanganku. "Ibu tidak berbohong. Mella memang sudah tidak ada bersama kita. Mungkin kamu hanya sedang merindukannya saja, jadi tidak sengaja berkhayal bahwa dia ada bersamamu."
"Tapi..." Aku sama sekali tidak bisa membuktikan bahwa kata-kata barusan adalah bohong. Ditambah lagi aku tidak bisa merasakan kehadiran Mella di manapun. "Jadi... Mella meninggal saat kecelakaan?" tanyaku lirih.
Seperti sebelumnya, ayah dan ibu hening sejenak sebelum menjawab. Lalu ibu kembali berkata. "Mungkin kamu sulit untuk mempercayai ini. Tapi sebenarnya, Mella meninggal saat kalian baru saja dilahirkan, nak. Dia pergi saat masih bayi."
Kali ini aku terkejut untuk yang kedua kalinya. Hal yang lebih tidak masuk akal kembali terdengar oleh telingaku. Tapi aku tidak merasa ayah dan ibu sedang membohongiku. "Ma-mana mungkin..."
"Selama ini kami semua tidak pernah pilih kasih. Tidak pernah ada yang dikucilkan oleh semua orang. Karena memang Mella tidak pernah ada. Kami sudah lama tahu bahwa kamu selalu berkhayal masih memiliki seorang saudara kembar. Tapi sebenarnya orang yang selalu kamu pikir ada itu tidak pernah ada, nak. Maafkan ayah dan ibu. Kami selama ini tidak pernah berani memberitahumu dan berusaha membuat orang lain mengikuti khayalanmu. Agar kamu tidak bersedih."
Kini aku benar-benar kehilangan kata-kata. Tidak ada lagi yang bisa aku ucapkan. Entah apa yang terjadi selama ini, tapi aku masih sulit untuk mempercayainya. Namun di satu sisi perkataan ayah dan ibu terdengar sangat meyakinkan. Jika aku mengingat kembali kejanggalan selama ini, aku semakin yakin bahwa saudara kembarku mungkin memang hanya sekedar khayalan semata.
'Jadi... selama ini Mella tidak benar-benar ada? Dan selama ini pula aku selalu sendirian?' dibandingkan seram, aku lebih merasa sedih...
Namun, beberapa saat kemudian kurasakan bulu kudukku berdiri. Aku merasa ada tangan kecil yang memegang pundakku dari belakang. Angin dingin pun berembus lembut, mengiringi suara yang tiba-tiba saja muncul dari belakangku.
"Kamu tidak sendirian, Malla." Aku sangat yakin bahwa suara yang kudengar adalah suara Mella. Meski aku tidak bisa membuktikan apakah dia benar-benar ada, ataukah sudah... "Aku masih ada, dan akan selalu ada. Bukankah aku sudah berjanji bahwa akan selalu berada di sisimu selamanya?"