Nama ku Alifa, aku baru lulus SMA dikotaku, selamat ya lifa, kamu menjadi lulusan siswi terbaik di SMA kita, kata rendi seraya mengulurkan tangannya padaku, terima kasih ya rendi kataku tersipu malu, kerna cowok ini orang pernah aku suka.
lifaaaaaa.... teriak ketiga teman ku rani, dina dan rara, eh bisa ngga kamu tidak teriak2 aku tidak tuli, sungut ku.
ceye..ceye yang lagi sama gebetan marah ne ye..
kamu ingat kan lifa, kita akan berkunjung kerumah kakek kamu didesa, kita berangkatnya kapan neh, aku sudah tidak sabar melihat desa yang asri, bosan kan belajar aja, repres otak dong, dina merengek seperti anak kecil, iya..iya besok kita berangkat, jangan lupa bawa bekal yang banyak ya.. kataku pada dina, ok boss kata mereka kompak..
kalian mau kemana, ceritanya aku tidak diajak neh,
rendi pura-pura merajuk. sudah lama kami mau berkunjung kerumah kakek ku di desa, memangnya kamu mau ikut? kata ku.
kalau aku boleh ikut aku akan ajak putra dan adit denganku, bagaimana??.
iya deh terserah kalian aja, kataku
besok jam 8 pagi kita berangkat, aku jemput kamu dirumahmu, aku sekarang sudah punya sim, jadi kita pergi pakai mobilku aja bagaimana?
ok lah kalau begitu sampai jumpa besok ya.. dahhh.. kami pun berpisah di gerbang sekolah.
sampai dirumah aku langsung kedapur untuk makan siang, dirumah kami tinggal hanya bertiga, mama, abang arfa dan aku, mama dan abang arfa masih kerja jadi rumah sepi, selasai makan siang aku cuci piring dan sholat zuhur. kluntang bunyi hp tas berbunyi, rupanya dina menchat,, sudah kamu siapkan bekal kamu lifa.
iya gampang ko dina balas ku.
rendi dan teman-temannya mau ikut kita din, kataku.
wah bagus dong, kita jadi ada yang jagain, iya kan. balas dina. habis sholat magrib kami makan malam seada nya, aku hanya bisa masak ayam goreng dan tumis kangkung.
ma... bang arfa, seperti yang pernah lifa katakan dulu, setelah lulus sekolah lifa mau mengunjungi kakek, jadi besuk kami akan pergi kerumah kakek, boleh ya ma... boleh ya bang.. kataku, mama dan dan bang arfa saling pandang, iya sayang boleh, tapi lifa kan tahu kalau mama dan bang arfa lagi sibuk-sibuknya kerja, jadi mama dan bang arfa tidak bisa mengantarmu sayang,
tidak apa2 ma, bang arfa, lifa pergi sama2 teman-teman lifa, kataku lagi.
abang takut terjadi apa-apa denganmu lifa, kata abang arfa. eh bang arfa ini, lifa sudah besar lo sekarang bukan anak kecil lagi, kataku pada bang arfa. ya udah kamu pergi aja besok, hati-hati ya jangan lupa sholat, titah mama.
bang arfa hanya geleng- geleng kepala melihat tingkahku.
jam 8 pagi kami sudah ngumpul dirumah ku, kami bersiap-siap pergi. bagaimana bro sudah siap kata rendi, siap kata kami serempak.
jalan yang kami lalui cukup jauh, sekarang sudah keluar kota, tidak terasa sudah 8 jam kami diperjalanan. aku terbangun ketika rendi menghentikan kendaraannya. kenapa rendi kataku, teman- teman yang lain juga bertanya kenapa,
tunggu dulu ada bapak- bapak didepan. rendi pun turun. adik-adik ini mau kemana?, tanya bapakk itu, kami mau berkunjung kedesa bengkala, ke tempat kakeknya teman saya, jawab rendi.
oh maaf dik, jalan ini tidak bisa dilalui, kemaren kena longsor dan banyak pohon tumbang, adik memutar aja lewat jalan guntung manggis, kata bapak itu lagi, bagaimana lifa, kata rendi, ya udah kita mutar aja, udah tanggung nih, kataku.
kami pun memutar jalan melewati guntung manggis, kami masuk hutan dijalan guntung manggis, suasana seram pun terasa, semakin masuk hutan semakin hening, sekarang masih pukul 7 malam, tapi dihutan terasa amat mencekam, bunyi- bunyi hewan hutan bersahutan, rendi aku mau pipis neh, tolong hentikan mobil nya, dina merengek dibelakang. rara dina rani dan aku turun , suasana hening, aku takut ini, kata rara, eh aku juga kataku, cepatan pipis sana, aku duduk disini dulu, naik mobil penuh sesak membuat aku benar-benar lelah, aaaaaaaa... rara berteriak... aku benar- benar kaget mendengar teriakan itu. dina.... ranii... rara... aku memanggil mereka, namun tidak ada jawaban, berkali- kali aku memanggil mereka, namun mereka tidak kelihatan juga, mendengar aku berteriak, rendi adit dan putra mendekatiku, kenapa kamu lifa tanya rendi, dina rara dan rani kemana mereka huhuhu.... tangisku pecah, tenang- tenang kata rendi, bagaimana aku bisa tenang ren, kemana mereka huhuhu.... kita akan cari mereka ok.. kami berjalan mencari teman-temanku yang hilang, bunyi binatang malam saling bersahutan, kami terus memanggil nama teman teman kami, namun tidak ada respon, aku benar- benar takut, tak terasa kami semakin jauh masuk hutan. terdengar suara orang menangis, aku semakin erat berpegangan pada rendi.wuss angin menerpa wajahku, dan disaat itu lah putra teriak2. hei anak- anak, berani nya kalian masuk kehutan tempat tinggal kami, hahahahaa..... putra tertawa terbahak-bahak.. aku benar takut.. adit dan rendi memegang erat putra yang terus tertawa, mata nya liar memandangi kami, bagaimana ini rendi, tadi rara, rani, dan dina hilang, kini putra lagi kesurupan kataku. aku semakin panik, tenaga putra semakin kuat saja, tenaga rendi dan adit tidak mampu menahan kekuatannya, dengan mata menyala-nyala, putra mencekik leher adit dan rendi, aku yang ketakutan hanya bisa menangis dan berteriak, tolong... tolong..... huhuhu....ku lihat adit dan rendi kesusahan bernapas, aku hanya berteriak-teriak sambil menangis dan entah darimana datangnya seorang yang berpakaian serba hitam itu datang, dia langsung menyentuh kepala putra dari belakang, hei gendrowo, jangan ganggu bangsa kami, kata orang yang berpakaian serba hitam tadi. ha..ha..ha.. aku tidak suka mereka masuk hutan ini kau tahu, ketiga temannya yang perempuan juga telah menggangguku hahaha... kata putra.. maafkan mereka, mereka tidak mengerti apa2, kata nya.. tidak,,, kecuali dia mau mengabulkan permintaanku ha..ha..ha... kata putra dengan gelegar tawanya, aku benar-benar ciut, apalagi yang diminta gendrowo yang merasuki tubuh putra. ku lihat pria yang berbaju serba hitam memandangku, mungkin isyarat agar aku menjawab, sementara adit dan rendi terlihat pinsan, mungkin kerna habis dicekik putra, aaa..apa yang kamu mau, kami akan memberi yang kamu inginkan, asal teman-temanku kamu lepaskan, kataku dengan rasa ketakutan yang luar biasa, putra kembali tertawa terbahak-bahak dan seketika itu juga dia terjatuh ditanah, apa yang harus aku lakukan aki dan aki ini siapa?? kataku, panggil saja aku aki braja, kita tunggu sampai ketiga temanmu siuman dulu, setelah siuman kita bawa kerumah diujung hutan ini. aki braja pun membaca mantra yang aku sendiri tidak mengerti mantra apa itu, berangsur-angsur mereka terbangun. Ayo cepat kita pergi kerumah itu, ketiga temanmu dalam bahaya, tentunya teman yang dimaksud itu ada lah rara, rani dan dina. kami pun mengikuti aki pergi kerumah yang berada di ujung hutan, rumah ini lumayan besar, tapi tidak ada listrik disana, rumahnya hanya diterangi oleh obor-obor yang terbuat dari batang bambu, kesan seram pun terasa. kriiitt... aki membuka pintu rumahnya, tercium bau kemayan disana, aku benar- benar merinding dibuatnya.
silahkan masuk kekamar itu dan siapkan dirimu untuk memanuhi janjimu pada gendrowo tadi, silahkan kamu istirahat dulu, kata aki braja.. kami cepat-cepat membuka kamar yang dimaksud aki braja tadi, kulihat disana ketiga temanku, mereka menghembur memeluk ku. aku takut lifaaa... huhu... aku takut...huhuhu... aku ingin pulang lifa aku tidak mau disini, huhuhu... tangis mereka,,
hatiku bicara, aku lebih takut lagi, aku sudah berjanji pada gendrowo itu, aku akan mengabulkan permintaannya asal teman- temanku selamat. rendi adit dan putra hanya diam, mungkin berpikir bagaiman caranya bisa keluar dari hutan ini, aroma aneh dari kamar sebelah tercium sampai kamar yang kami tempati, aku benar-benar takut, kucoba memejamkan mata, menghilangkan gundah ini. tok..tok..tok.. pintu diketuk mungkin itu aki braja, benar saja dibalik pintu itu aki braja tersenyum aneh menetapku, mari sini kamu harus memenuhi janjimu cah ayu... kata aki braja.. jangan mau alifa jangan mau ikut dengan dia, dia pemuja iblis lifa, kata dina, iya lifa lebih baik kita mati bersama daripada kami harus mengorbankan kamu, teriak putra, langkahi dulu mayatku jika kamu ingin membawa lifa, rendi menimpali...
ha..ha..ha.... baik lah jika itu yang kalian mau mati bersama disini ha..ha..ha.. rendi maju ingin menyerang aki brojo, namun hanya dengan jentikan tangan, rendi terlempar kedinding. maju kalian semua ha..ha..ha... belum lagi mereka maju satu langkah mereka sudah terpental, seolah-olah ada kekuatan yang tidak terlihat mendorong mereka dengan kuat..rendi putra adit hu..hu..hu... tolong aku... huhuhu... tangis ku. jangan kan untuk menolongku hanya untuk bangun pun mereka tak kuasa.. hu..hu..hu.. mama..... abang...... hu..hu..hu... tangisku. berteriak lah cah ayu... tiada yang bisa menolongmu ha...ha..ha... tawa aki braja menggelegar,, sekuat apapun aku meronta takkan bisa lepas dari cengkramannya, kau masih perawan kan cah ayu... tanya aki braja,, aku ngeri sekaligus jijik mendengar perkataannya, kamu sempurna cah ayu, kamu cantik, putih, hidung mancung, mata tajam, kau begitu sempurna ha...ha..ha... aki brojo mengikatku diranjang, tangan dan kaki diikat disudut ranjang, sehingga tubuhku telantang dengan kaki tangan terantang.. hu...hu..hu... lepaskan aku aki... hu..huh..hu tangisku.. cah ayu tunggu sebentar aku akan memberimu kenikmatan dunia ha...ha...ha...
dia menyentuh tiap-tiap tubuhku, aku bergidik ngeri, kamu memang perawan, baru aku sentuh sedikit saja kamu sudah bereaksi ha...ha..ha.. tunggu cah ayu ...
aku benar- benar ketakutan dan pasrah.. aku lihat aki braja mengambil sesajen dengan satu perapin yang mengebulkan asap, ku dengar aki membaca mantra, aku menangis senggugukan, mama... abang arfa,, tolong alifa.... aku teringat dengan pesan mama, jangan lupakan sholat, tapi aku malah lupa kerna perjalann jauh ini, aku juga lupa bahwa ada Allah yang mempu menolongku, ya Allah bhatinku berkata kerna kelalaianku, maka engkau menghukumku, tolong ampuni aku ya Allah, linangan air mata kembali membasahi pipiku dan aku sempatkan berdo'a, Ya Allah kini aku aku tidak punya siapa- siapa lagi untuk minta tolong, maka tolong lah aku ya Allah. tiba- tiba dentuman keras berbunyi memekakkan telinga,,, aki braja tiba- menghentikan ritualnya dan mendekat padaku, berani-beraninya kau menganggu ritualku heh... aku akan membunuh mu jika kau masih berani manentangku heh, geram aki braja, memang benar tiada orang yang mampu menolongku, tapi aku punya Allah yang melindungiku entah kekuatan apa yang ada didiriku hingga berani menjawab seperti itu. aki braja benar- benar geram dengan kata-kataku, dia benar-benar mencekik leherku sehingga aku kesusahan untuk bernapas.
bersamaan itu, pintu kamar didobrak,
lepaskan adik ku dukun keperat, kau akan mati ditanganku kerna berani menyakiti adikku. abang arfa mengangakat tubuh aki braja dan menjatuhkannya kelantai dan dia memukuli aki braja bertubi-tubi. kulihat mama mendekatiku dan melepaskan ikatan tangan dan kakiku,sementara kakekku dengan seorang kiai sibuk dengan tasbih dan doanya, mungkin supaya penunggu rumah hantu ini pergi, setalah puas menghajar aki braja, abang arfa mendekat padaku, ayo kita pulang sayang, dia mengelus kepalaku yang masih memakai kerudung. tapi bang teman-teman lifa ada dikamar sebelah kataku, ayo kita jemput mereka kata kiai dan kakek ku, setalah dibuka kamar sebelah teman-temanku langsung berlarian keluar, ayo semuanya kita pulang ajak bang arfa, tidak usah kerumah kakek, toh kakek ada disini,, aku heran dan bertanya kepada mama, kenapa mama dan bang arfa tau kami ada disini. bang arfa menatap mama, kakek dan pa kiai secara bergantian, lalu menjawab, setalah kamu berangkat menuju desa kakek, tahu-tahunya kakek sudah sampai dirumah kita, kata kakek dia ingin mengenalkan adik kakek ini pada kita, sudah 12 tahun tidak bertemu, kerna beliau ini merantau ke kalimantan, kiai abidin ini adalah adiknya kakek kita, kerna kakek sudah disini kami langsung menyusul kalian, tapi kalian malah masuk hutan guntung manggis itu, memang abang sering mendengar ada dukun sakti dihutan itu dan sering memberikan tumbal kepada gendrowo piaraannya, untung saja adik ku ini tidak kenapa-napa, jelas bang arfa panjang lebar, ingat sayang apapun yang terjadi jangan sampai lupa dengan yang maha kuasa, dia yang akan selalu menolong kita, aku memeluk mama dan berkata, aku akan selalu ingat pesan mama.
TAMAT