Ella tidak lolos masuk ke universitas impiannya. Seketika, dia merasa dunianya hancur berkeping-keping.
Harapannya perlahan-lahan mulai pupus.
Ella punya anxiety.
Tingkat kecemasan akan masa depannya semakin bertambah, dan membuatnya makin gelisah akan hidupnya yang rapuh.
"Temanmu itu pintar, makanya dia bisa masuk universitas terkenal!" Bentak Mama Ella.
Ella hanya diam tak berkutik, menahan tangisnya dan menelan ludahnya dengan susah payah.
"Iya, aku memang gak pintar, Ma." Ucap Ella pelan.
Ella itu lemah, Ella itu penakut, Ella itu terlalu pendiam.
Setidaknya, Ella pernah menjadi kuat, pernah pemberani, dan pernah cakap dalam berbicara sebelum semua orang mengatainya demikian.
Kalau Ella bisa memutar waktu, dia mungkin akan lebih giat belajar agar bisa masuk universitas. Kalau Ella bisa memutar waktu, dia mungkin tidak akan mendengarkan pendapat bodoh orang-orang tentang hidupnya.
Seberapa kerasnya Ella memohon agar waktu bisa diputar kembali, itu tidak akan pernah terwujud. Karena waktu bahkan tidak mau memutar dirinya sendir untuk hidup Ella yang remeh.
"Harusnya, kamu usaha dua kali lipat kalau tau kamu gak pintar!" Bentak Mama Ella lagi.
Ella hampir tak sanggup lagi menahan tangisnya, air matanya menggenang dan akan siap jatuh kapan saja. Dadanya terasa makin sesak, kepalanya berputar-putar.
"Memang salahku Ma," rintih Ella.
Lalu, Ella tergesa-gesa menuju kamarnya. Mengabaikan teriakan Mamanya yang makin membuat hatinya sakit.
Ella menutup pintu kamarnya keras-keras, kemudian terduduk sambil menangis sejadi-jadinya. Mengeluarkan segala kesedihannya dengan tangisan, berharap besok akan berbeda dan menjadi lebih baik.
Biasanya, menangis adalah cara paling ampuh untuk melepaskan stress dan semua kesedihan yang merundung hidup Ella.
Tapi kini berbeda, meski matanya bengkak hingga air matanya kering, suasana hatinya malah makin buruk.
"Manusia itu menakutkan," rintih Ella sambil menangis.
Menepuk-nepuk dadanya yang terasa sangat sakit.
Di saat seperti ini, malah tiada satupun yang bisa memberikannya penghiburan. Setidaknya untuk mendengarkan ceritanya, atau mengerti perasaan Ella walau hanya sedikit.
Ella memang menyesal, tidak belajar dengan giat saat akan mengikuti ujian. Dia sungguh menyesal, tapi tak tahu harus berbuat apa lagi.
"Kamu gak akan bisa masuk jurusan psikologi, kamu 'kan sakit jiwa. Mendingan, sembuhin dulu dirimu sendiri." Kata Ran, teman sekelas Ella.
Baginya itu hanya sebuah kata yang remeh, tapi bagi Ella itu menusuk sampai ke bagian yang terdalam lubuk hatinya. Orang-orang di sekitar Ella bahkan tidak mau berusaha mengerti dirinya.
Hanya melihat dari luarnya, padahal mereka tidak menjalani kehidupan Ella, atau menjadi diri Ella.
"Kamu sakit jiwa!"
"Kamu 'kan emang gak pintar."
"Ella ayo bicara dong!"
"Temanmu lebih pintar daripada kamu!"
"Aku cuma ngomong gitu, kamu baperan!"
"Setidaknya belajar dua kali lipat!"
Suara semua orang terngiang-ngiang dalam kepalanya. Ella menutup kedua telinganya dengan tangan.
Air matanya menetes-netes, Ella sesenggukan dalam tangisnya, dia sulit bernapas dan makin sulit untuk berpikir jernih.
Ella hanya ingin dipeluk, Ella hanya ingin dimengerti, Ella hanya ingin seseorang mendengar ceritanya dan menyokongnya. Hanya itu, hanya itu yang Ella inginkan.
Ella masih menangis. Orang-orang dengan mudah berkata begitu, padahal bagi orang lain itu mungkin akan sangat menyakitkan, salah satunya bagi Ella yang rapuh.
Padahal, apa susahnya mendengarkan cerita orang lain daripada hanya terus mengkritik dan mengatai hidup orang lain hanya karena hidup yang mereka inginkan sudah terwujud.
Manusia memang yang paling menakutkan.
Ella merintih kesakitan. Daripada jatuh dari tangga, perkataan orang lain terhadapnya justru yang paling menyakitkan.
Ella mengusap air matanya yang mengalir lalu berkata, "Manusia itu menakutkan."