Ini hari sabtu ternyata. Terlihat ia memakai celana pendek biru lautnya. Ia terlihat sangat bersemangat. Aku tak bisa tegar melihat semangat seperti itu. Mata yang bersinar, senyum mengembang, dan gerak yang penuh energi.
Sedang aku mati di tiap malamnya dan terlahir kembali di tiap subuhnya. Hanya itu. Berputar namun tak dapat merasakan apapun. Meski begitu, aku masih belum iri atau cemburu dengan segala kepositifan yang mengauli dan mengawininya itu.
Kini ia bergerak. Berjalan. Marla, nama itu kini memiliki arti baru. Keindahan Gerak. Seolah ia lahir dengan bawaan essensi gerak yang selaras. Dan aku akan menghabiskan separuh waktuku untuk mengapresiasinya.
Dan meski kami memang berjalan bersamaan, namun kami berjalan di jalur yang berbeda. Dengan tujuan yang tak pasti. Mungkin jalurnya akan bersinggungan, tapi tak akan pernah sejajar. Dan aku juga tak mencoba untuk itu.
“Kau sudah selesai dengan pekerjaanmu?” tanyanya dengan ringan dan ceria.
Ia adalah langit di musim panas. Sedang aku hanya Jauh si hujan rintik—engan-engan merintik. Ia hidup dalam kemewahan. Sedang aku tak mungkin dalam kemewahan. Karena bagiku kemewahan ialah kebebasan, dan itu hanya mimpi saat aku berada di hadapannya. Karena aku adalah seorang tawanan. Tawanan dari keindahaan.
“Kenapa tidak kau sudahi dulu saja pekerjaanmu itu. Ini weekend," ujarnya lagi.
Sanguinis popular, juga Plegmatis yang damai di saat yang bersamaan. Meluap-luap tapi kau masih tak akan bisa membaca emosinya.
Mendengar ia dapat bicara dengan begitu mempesona, namun juga seorang pendengar yang setia membuatku sadar bahwa kita terlahir tanpa bingkai. Dia telah menunjukan bahwa kita bisa menjadi apa saja yang kita mau. 'Tuhan menciptakan kita serupa gambaranNya.' Mungkin aku mulai bisa melihat maksudnya.
“Sudahlah, hentikan dulu." Kini ia menarikku dari depan laptop dan menghadapkan ke arahnya. Dan kembali matahari muncul dari wajahnya yang berseri. Memang sudah berapa lama kami bersama? Kenapa sampai sekarang aku masih saja terkagum-kagum oleh senyuman itu?
“Lihat, kau sudah mulai punya kantung mata."
“Aku harus selesaikan ini sebelum Date line-nya."
“Aku tau, tapi kau juga harus beristirahat. Lihat hari ini begitu cerah.” ia menarikku berdiri dan menuntunku paksa menuju ke jendela. “Bagaimana kalau kita pergi main? Liburan."
Ah, kata yang sudah lama tak kudengar. Liburan. Hanya dengan mendengarnya saja sudah membuatku begitu rileks. Kurasa aku memang membutuhkannya. Tapi tidak saat ini. Aku harus berjuang keras untuk segera melalui hal ini. Pekerjaan ini memberiku tekanan yang menyita segala yang bisa kunikmati. Aku harus segera menyudahinnya.
“Marla, aku tak bisa. Aku harus segera menyelesaikannya."
“Coba cium, kau bau. Sana mandi dulu.” Gadis itu menyanggahku dengan elegannya. Menarik tanganku dan mendorong ku ke kamar mandi. Selalu tak ada perlawanan untuknya. Ia melemparkan handuk ke wajahku.
Air mulai kembali membangunkan seluruh otot-ototku yang lama memar. Meringkuk tertidur. Mengejutkan tapi juga menyegarkan di saat yang bersamaan. Entah kenapa setiap aku berada dalam Badtub, aku merasa baru saja terbangun dari tidur lamaku. Dan kemudian mulai berfikir tentang sejak kapan aku mulai hidup dan untuk apa aku menjalaninya. Setelahnya aku selalu teringat Marla. Dan pertanyaan baru pun muncul : Siapa aku sekarang? Apa yang ku punya? Apa yang telah ku terima? Apa yang bisa ku bagikan?
Pakaianku telah siap saat aku keluar dari kamar mandi. Ia memilihkan Polo Shirt, kali ini berwarna hijau muda. Warna kehidupan. Dan celana krem. Perpaduan warna yang hidup dan menghangatkan. Aku suka cita rasanya dalam memilih paduan warna.
“Lihat kau tampak hidup kembali,” ucapnya begitu ia masuk. Ia bahkan sudah serupa malaikat dengan Croptop Pink dan Jeans Baggy nya.
“Kau benar-benar ingin kita pergi?”
“Mengapa tidak?”
Yah, mengapa tidak? Aku tak pernah siap untuk menjawab ketika setiap pertanyaanku ia balikan. Ia begitu sederhana menanggapi hidup ini. Ia tak akan repot memikirkan pertanyaan yang dirasa tak perlu dicari jawabannya.
Tapi, meski begitu ia adalah sumber dari segala karyaku berasal. Kesederhanaannya tentang segala hal itu membuatku terus berfikir. Ia seolah Google inspirasi pribadiku.
“Lalu kita akan pergi kemana?”
“Pantai? Kebun Binatang? Taman hiburan?”
“Bukankah tempat-tempat seperti itu akan sangat ramai pada akhir pekan seperti sekarang? Kau akan semakin stress begitu melihat sebegitu banyak orang hilir mudik tak ada habisnya.”
Dan ia pun hanya tersenyum seperti biasa.
Entah kenapa sampai hari ini aku tak habis pikir tentangnya. Kami bersama hampir tujuh tahun, lengkap dengan masa perkenalan kami.
Apa yang sebenarnya ia cari dariku? Seorang pengecut yang selalu mencoba lari dari segala hal yang mengikat. Penakut yang selalu mencoba menyangkali tangung jawab. Apa ini semacam cara Tuhan untuk memberi sebuah mukzijat pada hidupku? Atau ini memang sistem alam yang selalu berusaha menyeimbangkan segala sesuatunya dengan otomatis?
Mengapa ia bisa menjadi sebegitu ordinary nya dalam kehidupan sehari-hariku? Padahal ia berasal dari pecahan bumi yang lain. Di luar Bimasakti kehidupan sosialku. Planet lain yang tak pernah menyebutkan bahwa keberadaanku layak untuknya. Seperti kaum Israel di daratan Afrika.
Apa yang sebenarnya ia kejar dariku? Kesenangan? Kesamaan? Kenyamanan? Rasa aman? Atau hanya untuk membunuh waktu luangnya?
Dan akhirnya kami hanya berjalan-jalan di taman kecil di depan komplek. Cukup menenangkan. Cukup menyenangkan. Kami kemudian duduk dibangku taman menatap bentangan landscape di belakang gedung apartemen kami.
“Begini juga boleh,” ucapnya menatap pertemuan langit dan garis horizon dengan ekspresi puas.
Yah, kadang kepuasan kami memiliki level yang setingkat. Apakah ini tentang kesenangan? Atau kesamaan? Apapun boleh asal ia tak jauh dariku.
Aku masih merasa dibelenggu oleh beban pekerjaanku yang belum terselesaikan, saat tiba-tiba ia meletakan kepalanya menyandar di bahuku.
“Lama aku tak melihatmu melukis." Ia memejamkan matanya dan mulai meletakkan seluruh berat tubuhnya padaku. “Angin ini mengingatkan ku pada hari-hari kemarin," lanjutnya.
Harum shampoo yang dipakainya tak pernah berubah. Aroma yang selalu memenuhi ingatanku.
“Sudah berapa lama kita tidak melakukan hal seperti ini?”
Berapa lama? Aku bahkan baru saja ingat akan pertanyaan itu.
“Sekitar 3 tahunan yang lalu, kan?" ucapnya lagi seraya menghembuskan nafas panjang. "Masa-masa yang indah."
“Apanya yang 3 tahun? Kita baru saja berlibur 2 bulan yang lalu.”
“Maksudku bukan tentang berliburnya. Tapi yang seperti ini. Hanya menikmati alam tanpa melakukan apapun," jawabnya menggantung. "Kenapa kau tak mulai melukis lagi?”
“Kurasa aku tak punya waktu."
“Kau tak akan pernah punya waktu bila tidak menyisihkannya."
Menyisihkannya? Aku sudah terlalu banyak menyisihkannya untuk hal yang tak berguna. Kini biarkan aku mengejar semua yang terlewat di hari lalu.
“Aku lapar."
“Oh, aku lupa. Sudah setengah sembilan ya?” Dan kami pun beranjak.
Perlahan gadis itu mulai menakutkanku. Keiklhasannya sedikit demi sedikit menyugesti alam bawah sadarku untuk melakukan feed back padanya. Mengontrol kebebasanku, dan kemudian kembali aku seorang tawanan. Tawanan dari keindahan.
Entah apa yang ia nikmati dari duduk diam mengamati semua tindakanku dari meja makan. Menungguku mulai dari memasak hingga menghidangkannya di meja makan tanpa melakukan apapun. Benar-benar hanya menunggu.
Apakah ini tentang kenyamanan? Atau hanya untuk membunuh waktu luangnya?
“Kau harus lebih membatasi makanan kolesterol seperti ini. Apa lagi caffein seperti itu," ucapnya setelah kami berhadap-hadapan di meja makan.
Benar-benar jalur yang berbeda. Walau memang kadang bersinggungan, tapi tetap jauh dari kata sejajar dan berdampingan.
Melihatnya lahap seperti sekarang membuatku merasa berguna. Memang hanya dia yang bisa membuatku merasa menjadi orang yang bisa diandalkan. Mungkin kesederhanaannya lah yang seolah membuatku melihat mantra-mantra seperti itu.
Apakah ia merasa aman? Merasa terlindungi? Atau itu adalah tipuan pikiranku yang menginginkannya tampak seperti itu?
“Kapan-kapan coba bikin masakan yang berserat,” ujarnya lagi. “Ciak Cai, gimana? Bisakan?”
Aku hanya mengangguk saat ia menyuapkan Omelet terakhirnya itu ke dalam mulut. Kemudian ia berdiri dan mulai membereskan sisa-sisa piring kotor. Lalu bersiap untuk mencucinya.
Aku kembali ke singgasanaku. Terenyak nyaman di hadapan laptopku lagi. Mungkin bila aku jatuh cinta dengan pekerjaan ini, sekarang aku akan benar-benar menikmati akhir pekan.
Entah apa yang telah membuatku, seorang Ronin liar ini, menjadi bersusah payah mengingkari ego untuk sebuah kemapanan status. Marla? Mungkin nama itu juga berarti hipnotis atau semacam sihir nujum bagiku.
Norah Jones. Sunrise. Dan ia merebahkan tubuhnya di sofa sebelahku. Memejamkan mata menikmatinya.
Persamaan? Bagaimana ia bisa menikmati Jazz, sedang aku cukup dengan Alternative dan Britpop. Seolah membandingkan tokoh Hamlet dengan Lucy In The Sky. DVD horror dengan romance Bollywood. Dan akan kau temukan jedah panjang di antaranya.
Ah, setidaknya kami masih sama-sama suka mendengarkan musik, membaca, dan nonton.
Surprise. Surprise. Never something I could hide. When I see we make it trough anotherday. And I say…
Theme Song yang sempurna.
Kini ia sudah kembali dengan celana pendek dan tanktop sebelumnya. Memanjangkan tubuhnya di atas sofa.
Lihat apa yang salah dengan susunan gambaran seperti ini? Kami tak pernah terikat satu sama lain. Tapi kami tak pernah mencoba keluar dari kebiasaan ini.
“Apa malam ini kau ada rencana?” tanyanya kemudian dengan menengadahkan wajahnya kearahku.
Sunrise. Sunrise. Look like morning in your eyes.
“Malam ini aku tak ada rencana."
“Bagaimana kalau Candlelight Dinner?”
“Candlelight Dinner? Tapi kita belum booking tempat, kan? Apa akan kebagian meja?"
“Kita Candlelight dinner di rumah saja.”
Di rumah? Lalu apa bedanya dengan kita makan setiap malam? “Bukankah setiap hari kita makan di rumah?”
Dan kembali ia hanya tersenyum tanpa menjawab.
-o-
Pukul 16.21. Musik masih terdengar mengalun. Sudah ketiga kalinya gelas kopiku terisi ulang. Dan sudah 85% pekerjaanku beres.
Tampak kini wajahnya yang pulas di sebelahku. Lihat apa yang salah dengan susunan gambaran seperti ini? Memang masalah hati tak pernah bisa di akal kan. Biarkan ia tidur sebentar lagi.
Ku bereskan semua pekerjaanku, lalu menuju dapur dan membuat teh yang biasa untuk menemani kami berbincang di sore hari. Kali ini terdengar masih Norah Jones–Don’t Know Why, ketika aku kembali dengan se-poci teh dan dua gelas–bersiap membangunkannya.
Sinar emas matahari menembus celah-celah kelambu jendela. Membuat garis-garis jingga melintas ruangan. Seolah membingkai keberadaannya seperti Aurora dalam lelapnya. Aku terpaku melihat pemandangan di hadapanku yang entah kenapa begitu tampak indah. Gambaran yang membuatku begitu merindukannya.
Kuletakkan poci teh dan gelas di atas meja. Kemudian berlari menuju kamar untuk mengambil sketch book dan pensilku. Lalu menarik satu kursi dari meja makan dan kembali menuju ke ruang tamu.
Setelah mendapat posisi yang pas, segera ku tuangkan gambaran yang tampak di hadapanku ke dalam sketsa. Lama aku tak merasa seperti ini. Sungguh emosional. Lihatlah walau dengan tertidurpun ia masih sangat inspiratif.
Ia adalah padang bunga di musim semi, berdendangan riang. Sedang aku hanya sisa kerak es yang terlalu keras kepala untuk mengikuti musim dingin pergi. Dingin yang tak terlalu.
Marla bangun ketika aku sudah menyelesaikan sketsaku. Terlihat wajahnya mengingatkan betapa aku harus bersyukur pada Yang Maha Sempurna, yang telah mempertemukan ku dengannya.
Dia mengusap matannya sebelum kembali tersenyum saat melihatku. Dan keindahan senja tergusur oleh senyumnya.
“Apa aku tertidur?” Aku hanya menggangguk. “Wah, sudah sore. Kita harus buru-buru mempersiapkan makan malamnya,” ucapnya setelah ia sadar jam memperlihatkan setengah enam sudah.
“Kau masih mau kita Dinner di rumah?”
Terlihat gadis itu berlarian kecil menuju ke dapur. “Kenapa tidak?” Kembali aku tak siap dengan pantulan pertanyaan ini.
“Kita bisa Delivery Order.”
Gadis itu tak menjawab. Ia hanya mulai menuliskan sesuatu pada secarik kertas. “Ini list yang harus kau beli,” ucapnya memberikan secarik kertas itu seraya mengibaskan tangannya seolah mengusirku.
Ternyata daftar yang harus ku beli di Minimart depan komplek. Dan tanpa bertanya lagi, aku segera bergegas ke luar.
-o-
“Sekarang saatnya memasak,” ujarnya begitu aku tiba di pintu depan. Terlihat mempesona gadis itu menggunakan apron biru laut dengan centong dan spatula di kedua tangannya menyambutku. Begitu ceria, tulus, dan aku akan kembali merelakan sisa waktuku untuknya.
Aku hanya tersenyum saat dia menghambur dengan apron yang lain ke arahku. Memasangkan yang hijau padaku, setelah kuletakan belanjaanku di atas meja dapur.
“Kita mau masak apa?”
“Steak and Pasta, jelas.” jawabnya dengan ringan.
“Kau serius? Kita tidak akan selesai tepat waktu makan malam.”
Dan ia kembali tersenyum. “Tenang, kau akan dapat bantuan,” ujarnya dengan nada congkak yang ia sengaja, seraya mengarahkan jempol pada dirinya sendiri.
Dan akhirnya kami memulai memasak. Lihat apa yang salah dengan gambaran seperti ini? Semua orang pasti tak akan pernah mengerti. Mereka selalu mengagungkan ikatan yang kasat mata, tapi tidak dengan ikatan jiwa.
Meskipun ia seperti apel, dengan rasa masam dan manis yang serasi, dan aku ibarat kayu manis, yang hanya beraroma kuat tanpa rasa yang mengikuti, namun entah bagaimana kami bisa membaur menjadi sajian yang tepat. Jiwa memang adalah rahasia Tuhan.
Begitu bersemangat ia mencoba memasang alat panggangan. Seolah ia telah melupakan makalah-makalah J.D.Palmer, Gymnosperma, dan segala hal tentang ranting-ranting dan dedaunan itu darinya. Hal-hal yang sangat ia minati itu, dan menggantinya dengan memasak.
Tapi entah kenapa sosoknya begitu familiar dilingkungan ini sekarang. Gadis itu memang sungguh mengagumkan. Bersenandung riang, kegembiraan dan pesonanya menular pada jagat raya.
Musik mengalun pelan dari ruang tengah, suaranya sayup di antara retakan-retakan minyak di penggorengan. Melihatnya berjibaku dengan pisau dan segenggam wortel, membuatku tersenyum dan menyadari, betapa ia selalu serius melakukan segala hal dalam hidupnya. Tidak sepertiku yang hanya meledak-ledak dipermukaan saja. Sama seperti kembang api yang meledak dasyat dan meriah dalam waktu sekejap saja. Meninggalkan sekecap takjub dan lalu dilupakan.
“Kenapa kau tidak mencoba jadi Chef, saja?” Tanyanya tiba-tiba.
Tidakah kau tahu ego tak akan membuatmu kenyang? Dan kenapa aku tidak jadi pelukis sekalian? “Kurasa minatku bukan di sini." Ku jawab tanpa menatapnya.
“Kau berbakat memasak.”
Dan itu jelas bukan alasan kuat untuk merubah ku jadi seorang idialis. “Kurasa bakatku meramu, jadi mungkin aku tak akan sukses menjadi koki," jawabku masih sibuk dengan pasta di atas panci di hadapanku.
“Sayang sekali. Yah, setidaknya kau selalu memasak untuk aku.”
Dan apa lagi yang kau minta selain hal itu. Karena aku tak bisa melakukan hal-hal lain selain yang seperti ini untuk mu. Berhentilah membuatku sadar, bahwa aku adalah orang gagal. Kumohon.
Kemudian saat aku berbalik ke arahnya, wajahnya sudah beberapa inci dari wajahku. Tatapannya sejajar dengan mataku. Seolah ada tangan-tangan tak terlihat yang selalu menekan tombol Pause di tiap kali kutatap matanya.
“Kenapa?” tanyaku saat Marla hanya terdiam saja menatapku.
Kemudian masih dalam diam dengan wajah yang tak dapat dibaca maksud nya, ia menggerakan tangannya memintaku untuk merunduk. Kulihat ia sudah tampak berjinjit meski wajahnya masih hanya setinggi daguku.
Dan begitu aku menurunkan tinggiku sejajar dengannya, dengan cepat ia mengecup bibirku. Ia selalu melakukan serangan-serang yang berulang kali membunuhku di tempat dalam sekejap.
“Ucapan terima kasih,” ujarnya centil seraya kembali ke depan meja dapur mengeluarkan daging dari panci yang baru saja mendidih, sebelum aku sempat bertanya mengenai apa sebenarnya itu tadi.
“Terima kasih untuk apa?”
“Selalu memasak untuk ku.” Tampak ia mulai menyalakan api di panggangan. Enigma yang satu ini tak pernah habis aku pecahkan.
-o-
Masakan selesai terlalu jauh dari jam makan malam. Sembilan lima belas. Semua sajian sudah terhidang dengan cantik di atas meja. Dihias sedemikian rupa. Tak lupa sepasang lilin berdiri apik di tengah-tengahnya.
“Baiklah kalau begitu, sana mandi dulu,” ucap Marla seraya melepaskan apronku. “Hari ini kita ada kencan. Jadi jangan lupa pakai jas terbaikmu," tambahnya dengan nada paksaan yang dibuat-buat.
Absurd. Aku tak pernah dapat menandai pola pikirnya. Dan memang tidak berusaha untuk memahaminya. Malahan sejujurnya aku selalu menikmati saat dimana aku harus menebak-nebak reaksinya. Mystery is always attractive.
Aku menantinya di ruang makan setelah selesai mandi dan sudah ber tuxedo. Dan tak lama kemudian Marla muncul dari kamar dengan gaun maroon dari lima tahun yang lalu.
Melihatnya membuatku dipaksa kembali meraih ingatan masa lalu, saat aku menghadiahkan gaun itu untuk nya. Ia tak pernah berubah sejak saat itu, seolah waktu berhenti berdetik di dirinya.
Gadis itu bagaikan ledakan Stellar di ruang hampa. Memendarkan keindahan yang bertahan hingga jutaan tahun cahaya. Entah apa jadinya bila Sang Penulis Nasib tak pernah dengan sengaja menuliskannya bersamaku.
Gadis itu tampak berdiri dengan sebotol Champagne di tangannya. Entah kapan dia membelinya. Mungkin ketika aku masih dalam pengasingan pekerjaanku. Dia tersenyum seraya mengambil dua gelas mendekatiku.
“Kapan kau membelinya?”
Ia tertawa kecil. "Apa aku berhasil membuat kejutan untukmu?”
Iya, kau berhasil, selalu dan akan terus berhasil meski tiap hari kau lakukan. "Apa yang sedang kita rayakan?” tanyaku kemudian.
“Kau lupa?”
Aku selalu tidak pernah peduli dengan penandaan suatu moment pada hari dan perayaannya kembali. Tapi bukannya kau juga tak perduli dengan hal semacam ini?
“Happy Anniversary,” ucapnya kemudian. Dan senyumnya kembali menyibak langit malam.
Aku dipaksa terdiam mendengarnya. Apa ketidak pedulianku ini sudah keterlaluan? Aku benar-benar tak pernah mengingat hal ini.
Apa sekarang adalah hari dimana semuanya bermula? Awal dari kesepakatan jiwa kita untuk terus ada disisi masing-masing?
Satu tahun lagi terlewat tanpa kusadari. Mungkin karena tekanan kehidupan yang selalu membuatku berlarian mengejarnya, yang menyebabkan waktu terlewat dengan begitu saja. Kini seperti seseorang baru saja berteriak lantang tepat di telingaku, dan membuatku sadar betapa aku telah menyikan waktu ku.
Sekian lama aku disibukan untuk mencari alasan mengapa dia harus ada dihidupku, dan telah kilaf aku melupakan bahwa sebenarnya gadis itu sudah menjadi bagian dari ku sejak pada awalnya. Dan sekarang kenapa aku masih di sini?
Kuletakan botol Champagne di atas meja dan melangkah mendekatinya. Sebelum memohon padanya.
“Menikahlah dengan ku."
-o-