Hai semuanya... Ini cerpen pertama ku. semoga kalian suka.
Siang yang mencekam. Pak Ahmad kewalahan dalam menenangkan anaknya, Kanaya. Putri satu-satunya yang sedang bertingkah melewati batas kewajaran.
Rama dan Reyhan, keponakan pak Ahmad juga ikut membantunya. Sementara Bu Ani hanya bisa menangis, tidak tega melihat anaknya yang meraung-raung layaknya seekor binatang.
“Rama, pegang tangannya!” Ucap Reyhan pada adiknya. Tangan Rama terulur memegang dengan kuat tangan kanan Kanaya. Pak Ahmad juga membantu memegangi tangan kiri Kanaya.
“Hei manusia! Apa yang kau lakukan? Lepaskan aku! Lepaskan.” Seru Kanaya dengan suara serak dan besar menyerupai suara bapak-bapak perokok aktif.
“Siapa kau? Untuk apa kau mengganggu adikku?” tanya Reyhan. Jari telunjuk nya ia letakkan di tengah jidat Kanaya.
“Aku bilang lepaaasss...” sekali teriakkan dan memberontak, pegangan pak Ahmad dan Rama terlepas. Gadis yang biasanya lemah lembut itu, berubah menjadi kuat seperti seekor monster.
“Naya, sadar Nay! Ini bang Reyhan.”
“Ram, ambil Qur’an Ram! Bacakan di depannya.”
Rama segera mengambil wudhu dan membacakan ayat suci di depan Kanaya. Tubuh gadis itu gemetaran saat mendengar Rama mengucapkan bismillahirrahmanirrahim sebelum memulai membaca kitab suci.
“Jangan! Jangan! Pergi! Diaaaammm...! Hei manusia, ku bilang diam! Berhentiii...” teriak Kanaya.
Ia merasakan tubuhnya panas. Seperti sedang dibakar dalam lingkaran api besar. Perlahan-lahan ia melemah dan akhirnya jatuh pingsan.
Ketiga lelaki itu membopong tubuh Kanaya kedalam kamar. Lalu, bersama Bu Ani, mereka duduk menunggu Kanaya siuman.
Rama dan Rayhan menyarankan agar Kanaya di bawa ke seorang ustad untuk di rukyah. Dan mereka mengutarakan maksud mereka agar Kanaya di bawa ke sepupu mereka, anak dari adik kandung ibu mereka. Kebetulan dia seorang ustad muda yang baru saja selesai belajar dan mengajar di ponpes tempat ia belajar.
Pak Ahmad dan Bu Ani setuju dengan saran Reyhan dan Rama. Namun, mereka tidak bisa ikut sebab Bu Ani juga sedang kurang sehat. Keduanya menyerahkan semuanya pada Reyhan dan Rama dan juga ibu keduanya yang sedang mengunjungi kerabat mereka yang tak lain adalah keluarga ustad tersebut.
Keesokan harinya, Rama dan Reyhan berangkat bersama Kanaya. Wajah gadis itu kebingungan. Namun ia menurut saja atas kata-kata kedua abangnya.
Saat sampai di rumah sang ustad, Kanaya berkenalan dengan keluarga ustad dan juga si ustad. Ustad Alwi namanya. Kanaya mengulurkan tangannya, tapi ustad Alwi membalas dengan mengatupkan tangan. Hal itu membuat Kanaya merasa malu.
Malam harinya setelah pulang dari ceramah dan sholat isya' ustad Alwi menghampiri Kanaya yang duduk melamun sendiri. Tanpa menatap Kanaya, ustad Alwi menegurnya.
“jangan biarkan hati mu kosong. Sering melamun itu tidak baik.” Ucap ustad Alwi.
Kanaya segera tersadar dari lamunannya dan beralih menatap ustad Alwi. Wajahnya memerah dan jantungnya berdegup kencang. Merasa gugup, ia segera berjalan dan bergabung bersama bibinya, si ibu Reyhan dan kedua abangnya yang sedang mengobrol dengan keluarga ustad Alwi.
Tak lama kemudian, ustad Alwi turut bergabung. Kanaya merasa tubuhnya gemetaran. Tidak seperti tadi, yang ia rasakan saat ini berbeda. Seperti rasa takut, tapi ia tidak tahu apa yang ia takutkan.
Ustad Alwi memakai sarung tangan hitamnya dan mendekati Kanaya. Wajah gadis itu merah padam. Kali ini ia merasa takut dan benci terhadap ustad Alwi. Semakin ustad Alwi dekat semakin besar rasa takut dan bencinya. Saat ustad Alwi benar-benar dekat dengannya, akhirnya semuanya terlepas. Semua emosinya terlepas dan Kanaya sudah lupa akan dirinya. Ia sudah di kuasai oleh makhluk yang bahkan orang-orang yang ada di tempat itu tidak tahu, makhluk seperti apakah itu.
“Jangan mendekat! Berhenti! Aku bilang berhentiii!” teriak Kanaya sambil mudur.
“audzubillah himinasyaitonirrajim, bismillahirrahmanirrahim.” Kanya berteriak saat mendengar ustad Alwi membacakan kalimat ta'awudz dan bismillah.
“Diaam!! Berhentii!” teriak Kanya sambil menutup kedua telinganya.
Gadis itu sudah tidak tenang. Ia terus mondar mandir. Tubuhnya kepanasan. Sementara usdat Alwi terus mengikutinya.
Ustad Alwi meraih satu tangan Kanaya agar terlepas dari telinganya. Kanaya memberontak. Namun cekakan ustad Alwi terasa bergitu kuat. Berbeda dengan pegangan pak Ahmad dan Rama kemarin. Ustad Alwi sedikit mendekatkan wajahnya pada telinga kanannya. Kemudian ia melantunkan adzan.
Gadis itu semakin tidak bisa diam. Ia meloncat-loncat di tempat. Cekalan di tangan seakan mengikat kakinya sehingga ia tidak bisa bergerak selain meloncat.
“Panas. Panas. Hentikan! Diaaam! Kenapa kau membakar ku. Diaamm!” teriak Kanaya lagi.
Setelah melantunkan adzan, cekalan tangannya terlepas. Kanaya kembali bergerak kesana kemari. Ustad Alwi meminta Reyhan mengambil seember air. Kemudian ia membacakan ayat kursi dan ayat-ayat ruqyah lainnya. Kanaya semakin tidak tahan dengan panas yang ia rasakan. Ia memuntahkan sesuatu ke dalam ember yang Reyhan bawa. Dan jatuh pingsan ke dalam pelukan ustad Alwi.
Ustad Alwi yang sedikit kaget, menangkapnya dan meminta Rama dan Reyhan membara Kanaya ke kamar. Kemudian ustad Alwi menuju kamar mandi, membuka sarung tangannya dan berwudhu. Setelah itu ia keluar dan duduk bersama Reyhan, Rama dan keluarganya.
“Astaghfirullah. Ada apa ini? Kenapa jantungku berdetak seperti ini? Maafkan hamba ya Allah.” Batin ustad Alwi sambil mengusap wajahnya.
Setelah tiga hari di rumah ustad Alwi, Kanaya kembali bersama ibu Reyhan, Reyhan dan Rama. Ia merasa tubuhnya lebih segar dan ringan. Tidak ada lagi beban di tubuhnya yang ia rasakan seperti sebelumnya. Sedangkan ustad Alwi, ia menyiapkan keperluannya karena besok ia akan kembali ke ponpesnya.
Malam hari, Kanaya duduk di kamarnya sambil memandang luka di tangannya akibat perlakuannya saat tidak sadar. Ia teringat, saat ustad Alwi yang tiba-tiba datang dan memberikan betadine untuk mengobati lukanya. Seulas senyum terbit di wajahnya. Ia berharap semoga ustad Alwi sampai di pondok dengan selamat dan masih memiliki kesempatan untuk bertemu Ustad Alwi lagi.
Sudah tiga tahun berlalu. Kanaya sudah menyelesaikan pendidikannya di universitas. Selama itu juga, nama ustad alwi tidak pernah hilang dari ingatannya. Sekeras apa pun ia berusaha, tetap saja ada. Dan bahkan semakin melekat dalam ingatannya. Akhirnya ia sadar. Ia tidak mampu menghilangkan nama ustad Alwi. Ia sudah jatuh cinta pada sang perukyah. Orang yang sudah di takdirkan tuhan untuk membantunya terlepas dari penyakitnya. Dan setiap sujud dan do'a nya ia selipkan nama ustad Alwi sebagai imamnya kelak.
Kanaya melangkah memasuki rumah setelah pulang mengajar. Gadis berjilbab itu kaget melihat orang yang duduk di ruang tamu. Ia mendekat dan duduk di samping ibunya. Ia menunduk. Hatinya terasa bahagia karena do'a nya untuk bertemu dengan ustad Alwi terkabulkan. Orang yang ia harapkan berada di depannya saat ini.
“Nak, ustad Alwi datang untuk silaturahmi, dan sekalian melamar kamu sebagai istrinya,” mendengar perkataan ayahnya, Kanaya terkejut dan mengangkat wajahnya. Kemudian ia kembali menundukkan ya.
“Benar Naya. Saya datang untuk melamar kamu. Sejak saat kamu datang ke rumah, saya sudah merasakan sesuatu dalam hati saya. Dan juga, saya sudah memelukmu saat kamu pingsan. Selain saya mencintaimu, saya juga harus bertanggung jawab karena sudah memelukmu yang bukan mahram saya. Karena itu, saya secepat mungkin menyelesaikan tugas saya dan kembali untuk melamar kamu. Apa kamu bersedia menjadi istri saya?”
Kanaya yang menunduk meneteskan air mata. Ia begitu bahagia, ternyata Allah mengabulkan do'a nya. Dengan pelan ia mengangguk, mengiyakan pertanyaan ustad Alwi. Senyum lega dan ucapan hamdalah terucap dari mulut ustad Alwi. Begitupun orang tua Kanaya. Mereka turut bahagia dengan keputusan yang di ambil putri mereka.