ugh... dimana ini?
matku terbuka perlahan. aku terkejut, tubuhku tergantung didahan pohon yang tidak terlalu tinggi.
aku mengingat ingat apa yang terjadi padaku.
seingatku aku menaiki parasut, namun ditengah perjalanan tiba tiba alat kendali parasutku tidak bisa ku gerakkan. hingga akhirnya aku jatuh tak terkendali lalu aku tak ingat apapun.
parasut yang aku kenakan masih terpakai olehku, untungnya parasut itu nyangkut didahan pohon sehingga aku selamat. banyak luka ditubuhku, darahkupun banyak yang terkuras. tenaga terasa sudah habis, haus dan lapar menerpa tubuhku.
aku melepas pengaman parasut ditubuhku dan melompat ke tanah.
untunglah, aku membawa tas ranselku. aku mengambil botol air mineral didalamnya, lalu kuteguk air dari botol itu hingga dahagaku hilang.
tenaga ku mulai terisi, ku melihat hari mulai gelap.
ku ambil ranselku, dan pergi meninggalkan parasutku tergantung diatas pohon.
aku terus berjalan, keringatku bercucuran deras.
namun aku tak bisa berhenti, matahari yang mulai turun membuatku harus mencari tempat berteduh.
mataku terbelalak, melihat gubuk yang tak terlalu jauh dari tempatku berdiri saat ini. aku berlari menghampiri gubuk itu, berharap ada orang yang bisa menolongku.
ku ketuk pintu gubuk yang nampak sudah lapuk, namun tak ada jawaban. karna merasa lelah sejak tadi berjalan aku memasuki gubuk tua itu, lalu aku pun merebahkan tubuhku hingga aku tertidur.
namaku aldo hermawan, aku dan teman temanku mendatangi sebuah desa terpencil untuk mendaki gunung. sesampainya digunung aku berencana naik parasut dari atas gunung.
namun sebelum kami mulai mendaki ada seorang warga yang menceritakan sebuah cerita pada kami tentang sebuah gubuk tua didalam hutan, namun aku tak mendengarkan.
warga itu memberitahukan pantangan pantangan yang tidak boleh kami langgar, aku merasa itu hanyalah tahayul. sehingga aku menganggap enteng dan tak menghiraukan perkataan warga itu.
aku terbangun dari tidurku. rasa lapar mengahampiriku, gubuk yang aku masuki tadi nampak sangat gelap.
untunglah aku menemukan lentera minyak tanah, aku menghidupkannya dengan korek yang aku bawa untuk aku biasa merokok.
aku mengambil ranselku dan mengambil beberapa makanan dari dalamnya. aku memakannya hingga rasa laparku sedikit terobati.
selasai makan aku melihat lihat gubuk itu, kayu kayunya nampak renta dan lapuk. banyak jaring laba labar menghiasi setiap sudut. banyak pula daun daun berserakan yang sepertinya masuk lewat lubang lubang atap.
gubuk itu nampak sangat kosong, tak ada perabotan apapun disana. suara hewan hewan menghiasi sepinya malam, aku merinding mendengarnya.
namun aku masih ingin mengobati rasa penasaranku, lalu kulihat sebuah sumur tua dibelakang gubuk itu.
kuhampiri sumur itu, nampaknya sumur ini sudah lama tidak dipakai. karna banyak tanaman loar yang tumbuh hampir disetiap sisinya.
dinding dinding sumur tertutup oleh lumut.
aku menghampiri sumur itu, kulihat kedalam sumur itu. namun yang terlihat hanyalah kegelapan, aku meninggalkan sumur itu.
berjalan menyusuri tempat tempat yang tak jauh dari gubuk. hingga kutemukan sebuah pohon tinggi dengan dahan yang besar besar, terlihat sangat tua.
kulihat sebuah tali menggantung, lalu aku menghampirinya.
aku mencoba menarik tali itu, namun seberapa keraspun aku mencoba tali itu tetap tak mau berada ditanganku.
aku fikir tali itu tersangkut dahan pohon, dan aku berfikir untuk melepasnya.
saat ku hendak menengok diatas, ada sesuatu yang mengalir lewat tali itu ke tanganku. rasanya seperti air mengalir, aku mendekatkan lentera untuk memastikan air apa yang mengalir itu.
aku terkejut bukan kepalang, ternyata air yang mengalir itu adalah darah. aku menengok ke dahan pohon.
tiba tiba seorang menimpaku dari atas, aku berteriak "AAAAAAA" wajahnya yang pucat dan berlumuran darah, rambutnya yang tergerai nampak kusut.
tubuhnya menindihku, tangannya mencekikku.
aku benat benat sangat sulit bernapas, aku mendorong dia. lalu aku berlari kembali kegubuk itu.
tanpa sengaja saat aku bertemu wanita itu, aku menjatuhkan lentera yang aku temukan digubuk itu. lentera satu satunya.
aku terengah engah, nafasku tak beraturan, jantungku berdetak kencang.
aku membuka pintu gubuk itu, dan masuk kedalamnya tanpa menutup pintu terlebih dahulu.
tiba tiba pintu tertutup dengan kencang. aku terkejut bukan main, namun aku fikir itu hanyalah karena angin.
aku mengambil ranselku, dan memutuskan untuk meninggalkan gubuk itu malam ini jga. aku hendak membuka pintu, betapa terkejutnya aku tiba tiba muncul wanita yang menyerangku tadi.
dia menatapku, aku gemetar ketakutan. aku berfikir itu hanya halusinasiku, lalu aku berlari meninggalkan gubuk itu.
aku berjalan tak tau arah, semua suasana disana terlihat sama. pohon pohon yang tinggi nan rindang.
aku terkejut, ketika aku melihat gubuk yang tadi.
aku kembali ke gubuk ini, aku berlari sekencang kencangnya.
aku terjatuh karna tersandung ranting pohon, saat aku mencoba berdiri kulihat wanita yang menyerangku tadi.
dia mencekikku, mengangkat tubuhku dengan satu tangannya. lalu membawaku ke sumur tadi dan menjatuhkan tubuhku kesana.
samar sama aku ingat, apa yang diceritakan oleh warga saat aku didesa.
dia bilang ada sepasang suami istri yang tinggal disebuah gubuk didalam hutan. suaminya bekerja mebantu kepala desa dirumahnya.
hingga suatu hari saat istrinya sedang kepasar, dia berencana untuk membawakan makan siang untuk suaminya, karna pagi itu suaminya belum sempat sarapan.
betapa terkekutnya ia, saat memasuki rumah kepala desa dan mendengar suara.
dia mendekati pintu sebuah kamar, lalu membukanya.
dia terkejut melihat suaminya sedang berhubungan badan dengan putri kepala desa.
dengan emosi yang tak terkendali dia menarik rambut wanita yang tak mengenakan busana sedikitpun. lalu di dorongnya wanita itu, hingga kepalanya terpentok sudut meja hingga meninggal.
dia menarik suaminya yang telanjang tanpa apapun keluar rumah kepala desa, dia tak menghiraukan warga melihat mereka.
sesampainya digubuknya didalam hutan, dia mencekik suaminya hingga tiada. lalu dilemparkan olehnya jasat suaminya ke dalam sumur.
setelah itu karna merasa dikhianati dia menggantung dirinya disebuah pohon dekat gubuknya.
warga itu jga memberitahukan pantangan pantangan, seperti jangan pernah memasuki gubuk itu, jangan menyentuh tali yang tergantung diatas pohon, dan jangan pernah memasuki hutan itu saat malam karna bila sudah masuk tak akan bisa keluar sebelum pagi.
aku menyesal tak mendengarkan perkataan warga itu, namun apalah daya penyesalan selalu datang terakhir. mau seberala menyesalnha aku sekarang pun sudah tidak berguna lagi.
aku makin dalam jatuh ke sumur itu, hingga aku mencapai dasar dan hilang sudah nyawaku