Aku berangkat untuk kerja bukan untuk menikah?! - Jessy Methane.
.
.
Jessy bangun lebih pagi dari biasanya untuk menyambut hari spesial. Hari dimana kini ia menjadi pekerja. Jessy Methane, gadis berusia 23 tahun yang sangat beruntung mendapatkan pekerjaan di percobaannya yang pertama. Tidak main-main, Jessy diterima menjadi sekretaris direktur perusahaan elektronik.
"Wah... Kau cantik banget!" Puji Helena, teman satu kamar Jessy. Gadis itu terlihat sangat berbeda dari biasanya, bajunya terlihat elegan dan sangat modis, juga riasannya sangat cantik.
"Aku akan tunjukkan dedikasiku untuk melayani atasan. Aku tidak sabar untuk bekerja?!"Teriak Jessy memikirkan hal yang menyenangkan bekerja di sebuah perusahaan.
"Calm down... Jangan terlalu bersemangat nanti malah ceroboh. Kamu harus sarapan agar siap berenergi, sekalian tolong masakan untukku. Nanti aku antar dengan mobilku" Jessy mengangguk setuju dan bergegas menuju dapur.
.
"Terimakasih tumpangannya, kapan-kapan aku traktir" Jessy melambaikan tangan ke Helena yang mulai menjauh.
Jessy melangkah penuh percaya diri menuju ruang kerja atasannya.
"Baguslah kau datang sekarang, aku cemas kau akan datang setelah Pak Dylan karena aku lupa mengatakannya. Pak Dylan sangat benci dengan tidak ada orang yang menyambutnya, jadi sekretaris nya harus berangkat lebih dulu daripada dia" jelas Barbara, si sekretaris Dylan. Jessy akan menggantikannya karena Barbara akan resign untuk menikah.
"Aku berpikir harus berangkat pagi untuk menyambut pak Dylan" ucap Jessy mendapatkan acungan jempol dari Barbara.
"Aku harus bertemu seseorang di lobi, kamu tetaplah disini dan kabari aku kalau Pak Dylan sudah datang" Jessy mengangguk membiarkan Barbara pergi.
Ia mengamati tempat kerjanya, kursi putar yang nyaman dan empuk juga ada komputer dan beberapa post it berisi pekerjaan yang harus segera diselesaikan.
.
.
Dylan Vinnie Arte, seorang pria berumur 38 tahun menatap jengah tingkah orang paruh baya didepannya.
"Cepat tunjukkan dimana istrimu" ucap wanita paruh baya yang Dylan sebut Mamah.
"Istri apaan sih. Mana ada istri di kantor. Mama sebaiknya pulang-"
"Tunjukkan mana istrimu atau kau akan aku usir kau sekarang juga!" Dylan menelan ludahnya kasar melihat tatapan tajam mamahnya.
"Kau itu sudah tua mana mungkin belum punya istri?! Kau pasti menyembunyikannya disini. Kau selalu menghabiskan waktumu di kantor jadi aku yakin istrimu pasti disini!"
"Bukan nya istri tapi berkas kerjaan mah. Ya kali nyembunyiin wanita disini!"
"Kau itu ya.... Sudah aku katakan cari istri bukannya sibuk bekerja! Aku tidak mau tahu... Waktu pencarian istrimu sudah habis. Kau harus membawa wanita yang akan kau nikahi temui aku sekarang!" Dylan bergidik ngeri mendengar ultimatum mamahnya.
"Dia calon istriku" tunjuk Dylan secara acak pada wanita yang berdiri di depan meja sekretaris nya.
Jessy mengedipkan matanya bingung saat Dylan asal menunjuk kearah dirinya.
"Dia?! Jangan asal menunjuk bodoh!!!" Mamah Dylan memukul putranya.
"Kau yang memaksaku memilih sembarangan, kenapa aku dipukuli?!"
"Salahku?! Itu semua salahmu! Kau sudah memilihnya maka kau harus tanggung jawab. Persiapkan dia jadi istrimu, Minggu depan kalian akan menikah" Dylan dan Jessy kompak melotot kearah wanita paruh baya itu.
.
.
"Maaf pak... Apapun yang anda tawarkan, saya menolak" ucap Jessy to the point.
"Kau tidak bisa membantah, kau itu sudah bekerja disini maka-"
"Saya akan keluar. Dengan senang hati saya akan meninggalkan kantor ini" ucap Jessy tegas memotong ucapan Dylan.
"Kau tidak bisa melakukannya! Kau tidak bisa lari dariku" Dylan memotong jarak diantara mereka, ia semakin emosi karena penolakan Jessy.
"Kenapa?! Anda tidak bisa melakukan pemaksaan begini?! Kau bisa di tangkap polisi karena ini" Jessy bukannya takut, ia malah mendongak ke atas menatap mata Dylan.
"Tak bisakah kau nurut saja?!" Dylan memohon dengan nada membentak.
"Tidak! Kenapa aku harus menikahi anda di hari pertamaku bekerja?!"
"Karena aku memilihmu jadi rekan hidupku. Kau terima saja" Jessy menggeram saat Dylan berucap dengan santai.
"Anda memilihku berarti aku juga punya hak menolaknya! Tidak mau! Aku tidak ingin jadi rekan hidupmu. Tidak mau!"
"Kau berani sekali menolakku. Banyak wanita yang mengantri untuk ku jadikan istri"
"Jadi seharusnya anda menunjuk wanita yang bersedia menjadi istri anda bukannya saya! Saya tidak jadi kerja disini. Permisi"
Dylan menatap tak percaya kepergian Jessy. Baru pertama kali ia merasa di remehkan.
"Siapa juga yang mau menunjuk mu wanita sialan!" Dylan tidak percaya ia membujuk wanita untuk jadi rekan hidupnya.
"Ah sial! Aku tidak mau berurusan dengan wanita itu"
.
"Aish sial! Aku sangat sial bertemu orang macam dia" Jessy melampiaskan kekesalannya dengan kaki memukul udara.
"Ah.... Aku harus mencari lowongan pekerjaan lagi" Jessy hampir menangis. Ia sangat kesal mencari pekerjaan karena itu menguras banyak energi otaknya.
.
.
Dua hari Jessy tidak berangkat kerja. Ia tidak akan pernah kembali ke perusahaan yang memiliki atasan aneh seperti itu. Jessy memang anak sebatang kara, tapi bukan berarti ia bisa melakukan apapun untuk uang. Orangtuanya meninggalkannya dengan fasilitas dan uang yang menurutnya cukup untuk hidup. Ia bahkan menerima uang setiap bulan dari para penyewa kamarnya.
"Hidupmu sangat mewah Jessy... Aku sangat iri" keluh Helena setelah mendengar cerita Jessy.
"Yak! Apa menurutmu aku akan terima?! Hanya orang gila yang mau menerima permintaan aneh itu!" Helena mengangguk sembari meminta Jessy tenang.
"Aku. Aku rasa akan menerimanya. Kau bilang dia pria tampan kan?! Aku yang jomblo ini pasti langsung ku terima. Dia tampan dan punya uang, apalagi yang kurang?! Aku akan langsung menerimanya" Jessy menatap datar kearah Helena yang seolah ia sudah membuang kesempatan emas.
"Kau itu jangan asal menikah dengan orang. Yak... Kau pikir dia tidak bermasalah?! Pria tampan nan kaya juga mapan. Kau pikir kenapa dia masih belum menikah sampai sekarang? Aku yakin karena dia-"
"Oh aku telat!!!!" Helena berlari keluar kamar secepat kilat.
"Oi Jessy!!! Ada orang yang menunggumu!" Teriakan Helena membuat Jessy keluar tanpa peduli penampilannya yang baru bangun tidur.
.
"Oh God!" Untung saja Jessy tidak mengumpat, ia akan malu seumur hidup kalau mengumpat didepan kamera. Dylan mengagetkannya dengan membawa beberapa kamera.
"Kau cantik meski bangun tidur sayang. Maaf mengejutkanmu, tapi... Maukah kau menikahiku?" Dylan berlutut dihadapannya membuat semua kamera menyoroti mereka.
"Kau ingin aku menolak mu didepan mereka?" Tanya Jessy yang ikut berlutut dihadapan Dylan.
"Kau pasti tidak punya nyali-"
"Aku meno-" Jessy yang akan berdiri ditarik cepat oleh Dylan kepelukannya.
"Aku akan membayar mu kalau kau mau menikahiku"
"Bukankah kalau kau jadi suami ku, kau wajib menafkahi ku?" Jessy tidak habis pikir kenapa pria itu terus memaksanya, padahal ia hanya asal memilih. Tinggal ganti kan gampang.
"Pasti, dan aku akan memberimu banyak" ucap Dylan yang masih memeluk Jessy.
"Aku lebih suka hidup biasa saja tuan. Tolong lepaskan aku" Jessy memberontak agar terlepas dari dekapan hangat Dylan.
.
Cup
.
Dylan menarik tangan Jessy sekali hentakan, ia mencium wanita itu membuat semua orang menutup mulutnya terkejut juga kamera merekam mereka.
"Aku anggap iya" ucap Dylan melepaskan tautan mereka.
Jessy hanya diam kaku, ia hanya diam saat Dylan membelai lembut rambutnya dan bahkan membawanya ke dalam rumah.
"Bagaimana rasanya dicium pria tampan? Aku bisa mencium mu setiap hari kalau kau jadi istriku" ucap Dylan keras agar membawa Jessy ke alam sadar.
"Yak!!! Sialan kau!!! Sialan!!! Kau itu siapa yang berani mencium mulut berharga ku!!!" Jessy langsung menghujani Dylan dengan pukulan sesaat setelah ia sadar.
"Aku telah membuat mulut berharga mu kotor ijinkan aku terus mengotorinya" Ucap Dylan sembari mengunci dua tangan Jessy, meski kecil tenaga wanita itu besar.
"Dasar sinting!" Jessy memukul pinggang Dylan dengan kakinya.
"Keluar kau pria aneh! Keluar!!!" Dylan didorong keluar dengan kasar oleh Jessy.
"Aku akan kembali sayang" ucap Dylan membuat dirinya sukses mendapatkan ciuman manis di dahi dari pintu rumah Jessy.
.
Jessy terus mencuci mulutnya sembari melampiaskan kekesalannya karena kejadian tadi. Ia juga kesal karena 5 menit setelah kejadian itu, foto mereka tersebar di dunia maya.
Ia tidak boleh pasrah gitu aja. Jessy memutar otaknya memikirkan cara membantah foto itu.
.
Ringtone 🎶
.
Ide limited Jessy harus luntur karena dering ponsel mengganggu.
"Hallo?" Jessy lembut pada nomor baru yang menelponnya.
"Kau benar Jessy? Kau bisa bersikap lembut?" Jessy langsung mematikan sambungan telpon nya. Sudah jelas itu Dylan.
"Dia sungguh ingin mengganggu hidupku?!"
.
"Kau mau jadi istriku?" Tanya Dylan langsung sesaat setelah Jessy tiba di tempat janjian mereka. Jessy mengajak Dylan bertemu di restoran dekat rumahnya sehari setelah foto ciuman mereka tersebar.
"Yang benar saja?! Apa untungnya aku menikah dengan pria sepertimu?!" Teriakan Jessy menarik perhatian semua pengunjung.
"Bisakah kau tenang? Tentu saja kau untung banyak... Banyak orang yang akan iri padamu memiliki suami sepertiku" Jessy memberikan tatapan datar pada Dylan. Dimana letak keuntungannya?
"Sepertinya kau tidak suka itu. Kau akan tinggal di rumah besar juga mendapatkan uang bulanan dariku" Dylan menatap Jessy mencoba menarik perhatian wanita itu.
"Tentu saja aku akan mendapatkan itu dengan siapapun yang akan aku nikahi kelak. Tidak ada yang spesial menikah denganmu, aku tidak mau" Jessy pikir pria dihadapannya akan memberikan kontrak nikah seperti pada novel yang sering ia baca, tapi sepertinya Dylan serius mengajaknya menikah bukan kontrak.
"Aku tidak suka ribet Jessy. Katakan apapun mau mu, tapi bukan perjanjian perceraian. Aku menikah bukan untuk bercerai" entah mengapa Jessy suka ucapan Dylan. Yang ia takutkan adalah tinggal bersama dengan seseorang dalam waktu lama dan tiba-tiba harus pergi.
"Apa tidak apa-apa aku jatuh cinta padamu?" Jessy ingin memastikan. Meski belum mencobanya ia yakin akan jatuh cinta pada pria akan tinggal bersamanya.
"Terserah, tapi jangan harap aku melakukan yang sama" Jessy tersenyum kecut. Meski sering membaca novel seperti situasi saat ini, tapi baru kali ini ia tahu rasanya seolah dipaksa mundur sebelum berperang.
"Aku akan membuatmu jatuh cinta" ucap Jessy yang tidak ingin terlihat pasrah. Ia tidak suka tatapan Dylan yang seolah meremehkannya.
"Lakukan sesukamu setelah kita menikah" Ucap Dylan menyeringai, ia mendapatkan tujuannya.
.
.
Pesta pernikahan diadakan secara mewah. Jessy sendiri terkejut pesta mewah ini dikerjakan hanya dengan waktu seminggu untuk persiapannya.
"Anda menikah karena warisan pak?" tanya Jessy pada Dylan setelah ia mendengar beberapa orangtua berbicara pada Dylan.
"Kau sudah mendengarnya tadi" Jessy menatap Dylan datar, ia sudah menebaknya akan seperti ini. Memangnya apalagi kalau bukan warisan, Dylan tidak mungkin mau asal menikahi wanita.
"Harusnya kau katakan jadinya aku bisa meminta pembagian warisan mu" Ucap Jessy mendapatkan tatapan tajam Dylan.
"Kau mendapatkan keuntungan banyak menikahiku"
"Kau sudah mendapatkan uang bulanan dariku"
"Itu memang kewajiban mu. Kau harus memberiku kompensasi karena sudah membantumu mendapatkan warisan"
"Mana ada yang-"
"Kalian merebutkan warisan di hari pernikahan?! Yang benar saja!" Mamah menyubit pinggang Dylan sampai pria itu memejamkan mata menahan kesakitan.
"Lepaskan dia... Kasian kesakitan gitu" Jessy tidak tega terlebih mamah tidak mau melepaskannya.
"Punya perhatian juga kamu pada pria asing ini" ucap Mamah sembari melepaskan cubitannya.
"Pria asing ini anakmu mah... Main asal disakiti saja" ucap Dylan tidak suka.
"Salah siapa kau asal menikahi orang asing. Setidaknya tunjuk ke sekretaris mu yang sudah aku kenal. Bukannya wanita asing yang baru kau temui" Jessy meringis mendengar ucapan mamah. Tentu saja orangtua tidak suka anaknya asal menikahi orang asing.
"Aku terjebak dengan pria asing ini" ucap Jessy entah mengapa menyesali keputusannya. Jika di novel yang ia baca orangtua laki-lakinya akan mendukungnya, tapi sepertinya Jessy harus tidak mendapatkan itu.
"Kau boleh ajukan cerai" ucap mamah mendengar gerutu Jessy.
"Aku tidak akan menceraikannya mah" ucap Dylan serius.
"Bukan kamu yang memutuskannya. Kau tidak boleh menyiksa orang dengan hidup denganmu" Jessy menatap bingung. Memangnya bagaimana rasanya tinggal dengan pria ini?
.
.
Jessy tahu pria didepannya itu kaya, tapi ia tetap saja terkejut melihat rumah yang akan ia tinggali.
"Kita akan tinggal disini?" Jessy kagum melihat rumah bak istana itu.
"Mamah memberikan ini untukmu sebagai hadiah pernikahan. Ayo masuk" Jessy menutup mulutnya kagum. Orang kaya kalau ngasih hadiah gak main-main ya.
"Selamat datang tuang nyonya" ucap serempak 24 orang menyambut mereka.
"oh God" Jessy merangkul tangan Dylan karena terkejut.
"Biarkan saya memperkenalkan diri nyonya. Saya Margaret, ketua pelayan yang siap melayani kalian" ucap seorang yang memakai baju berbeda.
"Kalian terlalu bersemangat menyambut kami" ucap Dylan sembari melepaskan tangan dari Jessy.
"Kalian hanya akan bekerja sampai jam makan malam" ucap Dylan langsung menentukan jam kerja pelayannya. Jessy mengangguk setuju tak masalah.
"Jadi kalian juga akan tinggal disini?" Jessy lebih bersemangat karena tidak hanya mereka berdua yang akan menepati rumah besar itu.
"Kami akan tinggal di paviliun belakang" Jessy mengangguk saja karena ia pikir masih dalam rumah.
.
.
"Kenapa sepi sekali?" Tanya Jessy keluar menemui Dylan diruang tamu.
"Tentu saja karena ini bukan jam kerja mereka"
"Dimana paviliun nya? apa lantai atas?" Jessy ingin kesana daripada bersama Dylan berdua.
"Untuk apa?"
"Bergabung bersama mereka"
"Paviliun terpisah dari rumah ini dan kau tidak bisa kesana"
"Kenapa?"
"Karena kau tuan dan mereka hanya pelayan. Meski kau menganggap tak ada kasta, mereka pasti merasa tertekan dengan kau disana" Jessy cemberut dan mengakui ucapan Dylan, lagi pula ia juga belum mengenal mereka.
.
"Aku akan tidur disini sendirian?" Tanya Jessy melihat kamar yang ukurannya 2 kali lipat dari rumahnya.
"Meski sudah menikah, aku tidak mau tidur denganmu. Aku punya kamar di lantai atas" Jessy melebarkan matanya saat sadar seolah ia sedang menggoda Dylan.
"Aku juga tidak mau tidur denganmu. Kau punya kamar lebih kecil? Aku tidak bisa tidur disini sendirian" Selain tempat itu asing baginya, ruangannya terlalu luas.
"Tidak ada. Gak usah terlalu manja, tidurlah saja" Jessy menatap datar Dylan yang pergi begitu saja. Ia sungguh merasa salah mengambil keputusan menikah.
.
.
Meski sudah menikah, Dylan jarang dirumah dan Jessy sibuk dengan pekerjaan barunya. Ia mendapatkan pekerjaan sebagai sekretaris perusahaan iklan. Ia selalu pulang malam dan hampir tidak bertemu Dylan selama seminggu.
"Saya gugup pak" ucap Jessy yang merasa jantungnya berhenti bekerja. Ia harus melakukan presentasi di depan clien penting perusahaan di hari ketiga nya bekerja.
"Aku yang akan bicara, kau hanya perlu terlihat tenang. Sudah menguasai isi proposal itu kan?" Robert tidak terlalu mengandalkan Jessy, harusnya ia mengajak sekretaris lamanya tapi wanita itu sibuk melakukan hal lain dan terpaksa membawa Jessy.
"Sudah pak, tapi bagaimana kalau saya mengacaukan rapat ini?" Jessy tidak bisa mengontrol kegugupannya.
"Tenang saja. Aku yang akan menghandle semuanya. Hembuskan napas mu perlahan" Robert menggenggam tangan Jessy lembut dan mengajak wanita itu untuk tenang.
"Maafkan aku bersikap seperti ini pak. Aku akan tenangkan diriku diluar sembari menunggu clien datang" Jessy segera pergi keluar, situasi tadi bukannya membuatnya tenang malah semakin membuat jantungnya meledak. Jessy memang wanita seaneh itu, dia jarang berdekatan dengan pria bahkan pegangan tangan. Mungkin pria terakhir yang memegang tangannya seorang anak laki-laki saat ia duduk di bangku SD.
"Wah gila tuh cowok. Yang ada aku mati karena tangannya yang lembut bukannya gugup" Jessy menggerutu sembari berjalan menjauh dari ruang VVIP restoran.
"Kau bekerja disini?" Pertanyaan seorang pria tak asing membuat Jessy langsung mengangkat kepalanya.
"Kau siapa?" Tanya Jessy sembari melihat keadaan sekitar. Bukannya ia tidak mengenal pria dihadapannya itu, ia tidak ingin semua orang tahu kalau ia sudah bersuami terlebih bosnya.
"Seminggu tidak bertemu, kau lupa denganku?" Jessy meringis mendengar ucapan Dylan. Mana bisa lupa kalau foto pernikahan mereka terpampang besar di ruang tengah.
"Pura-pura lah tidak mengenalku. Sana pergi" usir Jessy karena Dylan mulai menarik perhatian pengunjung.
"Tunjukkan aku dimana ruangan atas nama Pak Robert" ucap Dylan yang tidak peduli ucapan wanita itu.
"Aku bukan pekerja- Kau clien Pak Robert?" Anggukan kepala Dylan seperti petir bagi Jessy.
"Aku sekretaris baru pak Robert, aku mohon padamu jangan buat aku berhenti bekerja. Aku baru bekerja 3 hari ini" ucap Jessy sembari mengantar Dylan ke tempat Robert.
"Memangnya apa yang akan aku lakukan? Kau yang harusnya beri nasehat pada dirimu sendiri agar tidak mengacaukan rapat ini" ucap Dylan tepat di depan pintu VVIP.
"Tuan Dylan sudah datang" ucap Jessy dengan nada lembut sembari membuka pintu untuk Dylan masuk.
"Maaf aku tidak hadir ke pernikahan mu" ucap Robert ramah dan mempersilahkan duduk.
"Aku kira kau akan mengajak istrimu jadi ku siapkan hadiah" ucap Robert menunjuk ke bungkusan kotak yang tadi Jessy beli.
"Aku datang kesini untuk bekerja. Kau bisa titipkan hadiah itu pada sekretaris mu" ucap Dylan membuat Jessy langsung menatap tajam padanya.
"Kau mengenal istri Dylan?" Tanya Robert membuat Jessy meringis. Tidak mungkin mengatakan ia istrinya sedangkan saat mengisi CV ia menuliskan single.
"Saya akan mencari tahu alamat tinggal istri tuan Dylan" Jessy bersyukur Robert dan Dylan mengangguk saja dan mulai membahas pekerjaan.
.
Makanan khas Italia tersaji di atas meja sesuai pesanan Robert. Ia sengaja meminta Jessy memesan restoran ini karena tahu kesukaan Cliennya.
"Jangan makan itu" Ucap Dylan sebelum Jessy memasukkan potongan Lasagna Bianca ke mulutnya.
"Kau bisa mati memakan itu" ucap Dylan lagi saat Robert dan Jessy menatapnya bingung.
"Kau alergi jamur?" Tanya Robert diangguki Jessy. Ia tidak bisa memakan jamur Porchini.
"Bagaimana anda tahu?" Tanya Jessy yang sangat yakin tidak pernah memberitahukan itu pada Dylan.
"Aku pernah membaca di CV nya. Dia pernah mendaftar menjadi sekretaris ku" Dylan mencari alasan. Ia tidak mungkin mengatakan mencari tahu itu saat sedang meminta Jessy menikahinya.
"Anda sangat perhatian pada orang yang anda tolak" ucap Jessy mencibir.
"Sudahlah... Kamu makanlah ini dan silahkan Pak Dylan makan" Robert memberikan steak miliknya dan bertukar dengan Lasagna milik Jessy.
"Segera kami akan rapatkan sesuai permintaan anda. Kami tidak akan mengecewakan anda" Robert tersenyum senang bisa bekerja sama dengan Dylan.
"Semoga kerja sama ini berjalan lancar" Ucap Dylan menyambut uluran tangan Robert.
"Ayo pulang" ucap Dylan membuat Jessy dan Robert bingung. Jessy menolak pikirannya sendiri kalau Dylan mengajaknya pulang.
"Ayo pulang Jessy" ajak Dylan lagi. Robert pun menatap Jessy bingung begitupun dengan Jessy.
"Orang ini aku tolak jadi pegawai tapi aku jadikan istri" ucap Dylan menarik paksa Jessy kearahnya, hingga Jessy oleng dan bersandar di dada pria itu.
"Istri?" Robert menuntun jawaban dari Jessy.
"Hanya status tapi aku sungguh masih single. Aku bahkan bisa membuktikan kalau aku masih virg-" Dylan langsung menyekap mulut Jessy.
"Kami permisi dulu" Dengan cepat Dylan menyeret Jessy pergi dari sana.
.
.
"Kau membuatku dipecat besok!!!" Teriak Jessy kesal dengan Dylan yang asal membongkar kebohongannya.
"Kau yang tidak jujur dengan bos mu sejak awal. Dan kau harusnya filter mulutmu itu! Bagaimana bisa kau santai mengatakan virgin pada orang lain?! Kau minta di sentuh atau apa?!" Dylan kesal dan malu karena ulah Jessy tadi.
"Jangan pernah sentuh aku?! Jangan pernah ada niatan itu di otakmu!!!!" Jessy langsung heboh dan menatap horor Dylan.
"Aku pasti mabuk berat kalau mau menyentuh tubuhmu itu" Tatapan remeh Dylan entah mengapa membuat Jessy malah semakin kesal.
"Ayo kita bercerai saja biar aku bisa tetap bekerja disana" Ucapan Jessy sukses membuat Dylan membanting setir mobil nya.
"Kau ingin membunuhku?!" Kepala Jessy sukses mengenai dasboard mobil.
"Sudah aku katakan dari awal tidak ada perceraian di pernikahan ku"
"Aku sudah mengantongi izin dari mamahmu dan aku juga mendapatkan ini. Kejaksaan pasti akan mengabulkan permintaanku" ucap Jessy sembari memegang kepalanya yang sedikit benjol.
"Tidak akan pernah aku kabulkan. Lagian kau bercerai hanya karena pekerjaan?! Bekerjalah di tempatku saja kalau begitu"
"Ogah. Males banget ketemu kamu setiap hari" Jessy tidak lagi mengungkit perceraian karena sadar ia akan menjadi janda kalau itu terjadi.
"Bekerjalah ditempat lain. Cepat atau lambat Robert pasti akan tahu kau istriku makanya lebih baik dia tahu dari kita daripada dari orang lain" ucap Dylan sembari mengecek luka di kepala Jessy.
"Cepatlah pulang ke rumah. Aku akan kompres ini" Jessy mendorong Dylan menjauh darinya sebelum wajahnya memerah karena laju darah begitu cepat.
"Kita ke rumah sakit. Itu terlihat sakit sampai wajahmu merah" Jessy tidak membantah karena malu. Tidak mungkin ia bilang wajahnya merah karena kelakuan Dylan kan?
.
.
Jessy mengundurkan diri karena tidak enak dengan atasannya. Ia kini juga mengatakan pada Dylan kalau diterima wawancara sebuah perusahaan.
"Direktur nya bernama Gito, ia datang di pernikahan kita" Ucapan Dylan membuat Jessy harus menolak kesempatan itu.
"Dia juga datang ke pesta pernikahan" ucap Dylan saat Jessy mengajukan perusahaan lain.
"Dia Janson, kau harus menemaniku datang ke pesta kelahiran putranya Minggu depan" lagi-lagi Jessy kehilangan kesempatannya mendapatkan kan pekerjaaan.
"Kenapa semua direktur perusahaan mengenalmu sih?!" Kesal Jessy karena kehilangan 5 kesempatan kerja nya.
"Sangat aman bekerja di perusahaan ku atau lebih baik tidak usah bekerja saja" ucap Dylan santai.
"Terus aku ngapain?! Semua pelayan disini tidak mau bermain denganku. Aku bosan dan kesepian" ucap Jessy sembari memikirkan tawaran Dylan.
"Aku akan bekerja denganmu dan aku akan menyiksamu" ucap Jessy tersenyum devil. Jika Dylan membuatnya kesal karena kehilangan 5 kesempatan kerja, maka ia harus membalasnya.
"Kau yakin akan membalasku?" Ucap Dylan meremehkan.
"Tentu saja. Akan ku buat kau menderita" Ucap Jessy yang telah memikirkan banyak cara agar Dylan tersiksa.
.
.
"Selamat pagi pak bos" sapa Jessy pada Dylan yang datang setelahnya. Sebenarnya Jessy yang meminta Dylan berjalan telat agar ia bisa menjadi sekretaris yang menyambut atasannya.
"Panggil aku suami saat tidak ada orang" ucap Dylan sembari mengambil morning kiss nya. Ia tidak berpikir akan jadi korban malah ia akan jadi tersangka penderitaan Jessy dikantor.
.
.
End