'tik tik tik'
Suara dentingan jam ditengah malam membuat seorang gadis kecil menelungkup takut diatas kasurnya.
"pergi pergi, Ana benci kakak" teriakan khas anak kecilnya membuat sebuah bayangan putih melayang tiba-tiba menghilang.
Lampu kecil disamping tempat tidurnya terlihat berkedip hebat, ditambah angin yang berhembus dengan kencangnya.
"Ana sayang, ada apa nak" Sang ibu datang memeluk putrinya yang menggigil ketakutan.
"Bu, Ana benci kakak itu. Dia mau bawa Ana kesana" tunjuknya kedalam sebuah lemari tua diruangannya.
"Kakak siapa?" ibunya merasa ada yang tidak beres dengan putrinya itu.
"Kakak itu suka menarik kaki Ana bu, sakit. Ana takut gelap huhuhu" Ana memeluk ibunya erat dan menangis terisak.
"Kalo benci kakak itu, ikut tante aja" suara dingin wanita itu seketika berubah sebuah cekikikan menyeramkan.
Ana mendorong tubuh wanita itu dan bergegas lari dari kamarnya.
Derapan langkah kecilnya mengisi lorong rumah sakit, lorong itu terasa sangat panjang dan tak berujung.
"hihihihihi anak manis, ikut tante kerumah tante yukkk" tubuh melayang itu dengan cepat menggapai kaki kecil Ana dan membuatnya terjerembab.
Ana yang terlalu takut hanya bisa meronta sekuat tenaga dari cengkraman mahluk itu.
"Ana, kamu ngapain disini?" seorang perawat menghampiri Ana yang menangis dipintu lorong menuju Kamar mayat.
"huhuhu tante itu jahat, dia menarik kaki Ana" tangisan nya membuat sang perawat menggendong tubuh kecil Ana yang meringkuk ketakutan.
"Ayo, Kakak bawa kamu kekamar ya" dengan lembut diangkatnya tubuh Ana dan membaringkannya dikasur.
"tidur yang nyenyak sayang" dikecupnya dahi Ana lembut dan berlalu pergi.
"Mama, Ana takut" Tangisnya sesenggukan saat mengingat sang perawat yang tidak memiliki wajah.
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
"Na, darimana aja si. Ini busnya uda mau brangkat" suara bernada cemas itu membuat Ana terkekeh kecil.
"Maaf Tin, itu tadi dijalan macet. Yuk naik" Ana dan Tina kemudian masuk kedalam bus dan duduk sambil berbincang hangat.
"Na, sebenarnya kamu itu bisa liat 'mereka' sejak kapan?" Tina menatap Ana penasaran.
"Sejak kecil. Eh Tin, disamping kamu anak kecil ada tuh" Ana menunjuk kearah kanan Tina dengan dagunya.
"Gila ya, jangan nakutin bisa gak sih" Tina menatap Ana tajam dan berusaha untuk tidur.
Selama diperjalanan Ana tidak bisa tertidur karna mendengar betapa ributnya bus itu.
Ana dan Tina berencana berlibur kesebuah perkampungan disebuah kota, dan membutuhkan sehari diperjalanan.
Ana mencoba mengintip dibalik kacamata hitamnya, dan dengan jelas dapat dilihatnya banyak mahluk menyeramkan yang sedang melayang didekat Tina dan dirinya.
Segumpalan rambut panjang menutup wajah Ana hampir sepenuhnya.
"Putri tertidur" bisikan para roh itu membuat Ana merinding dan segera menutup matanya rapat.
Setelah sampai dipersimpangan jalan, Ana dan Tina turun dari bus.
"Tin, tempatnya ini?" tanya Ana memastikan.
"Iya, yuk jalan. Lewat jembatan trus tinggal jalan 5 menit lagi, dan sampai" Tina menenteng ransel nya dan menggandeng tangan Ana.
"Ehhh entah kenapa ya, mereka kok bisa makin banyak" Ana merinding ketakutan dan berusaha mengabaikan.
"Udah ih. Nahhhh itu rumah nenek aku" Tina segera berlari kecil menuju rumah kecil itu.
Seorang nenek renta terlihat keluar dari rumah itu, Tina yang baru sampai pun langsung memeluknya.
"Nek, Tina datang berkunjung. Kenalin ini Ana temen Tina dari kota" Tina menarik tangan Ana kearah neneknya.
"Halo nek" Ana berusaha tersenyum saat menatap wajah Nenek Tina yang menurutnya terlalu menakutkan.
Setelah berkenalan, mereka dibawa masuk kedalam dan dipersilahkan beristirahat.
" Na, kamu tidur dilantai bawah ya. Aku dilantai atas sama nenek, kasian dia" kemudian Tina beranjak sambil membawa tasnya menuju kamar atas.
Saat mencoba masuk kedalam kamar, sebuah bayangan terlihat sedang memantaunya dari ujung lorong.
Rumah nenek Tina terbilang termasuk lumayan mewah dibandingkan rumah penduduk lainnya.
Dengan pelan dilangkahkan kakinya masuk dan dengan pelan dihembuskan nafasnya berat.
Bau lapuk kayu bercampur dengan lampu temaram membuat suasana kamar menjadi remang-remang.
"Mandinya besok, skarang mau tidur. Capek" dengan lelah direbahkan tubuhnya dikasur yang terlihat baru diganti itu.
Baru saja matanya terpejam, tengkuknya seperti sedang ditiup seseorang.
Berusaha mengabaikan, dia menarik selimut hingga batas kepalanya.
Bayangan besar terlihat mengintainya dari balik jendela yang hanya ditutup dengan selembar tirai tipis.
Ana yang merasa sesuatu menindihnya pun terbangun dan langsung mencoba berteriak.
Diatas tubuhnya ada mahluk besar berbulu sedang menatapnya dengan lapar.
Berusaha melawan, Ana meraih sebuah gunting dari atas kepalanya. Namun dengan cepatnya gunting itu dilempar hingga terjatuh ke arah lemari.
Sekuat tenaga berusaha kabur, Ana menggerakkan tubuhnya kesana kemari agar terlepas, namun nihil.
Baju Ana dirobek dengan paksa, dan dimalam itulah Ana terpaksa harus melayani nafsu mengerikan mahluk itu.
Sebelum hilang kesadaran, Ana dapat mendengar kalimat terakhir untuknya.
"Maafkan aku, ini kulakuan demi kabaikanmu. Aku pergi, selamat malam Ana" diciumnya kening Ana lembut, mahluk itu juga memakaikan baju baru dan kemudian berlalu pergi.
...........................................................................
Tina berjalan masuk kedalam kamar dan membangunkan Ana yang tertidur dengan pulas.
"Na, bangun" digoyangkannya tubuh Ana pelan, dan berhasil membuatnya menggeliat.
"iya, aku mandi dulu" setelah Tina beranjak pergi, Ana meringis kesakitan dan berjalan tertatih kekamar mandi.
Karena merasa kesakitan, Ana jatuh terduduk dan menangis keras dibawah guyuran air dingin.
Tubuhnya dipenuhi ruam merah, semua tulangnya terasa remuk.
Sepasang tangan besar tiba-tiba mengangkatnya kearah bak mandi dan memandikannya dengan lembut.
Wajah Ana memucat, tangannya menggigil ketakutan. Bayangan malam itu kembali membuatnya nyaris pingsan.
Bahkan sepatah katapun tak bisa diucapkan dari bibirnya yang hanya bisa bergetar ketakutan.
Tubuhnya diputar kesana kemari, rambutnya dibasuh dengan bersih dan dipakaikan dengan baju baru yang entah darimana didapat mahluk itu.
"Sarapanlah yang baik, jaga kesehatan. Aku mengawasimu setiap saat, dan ingat setiap malam aku akan menemuimu, jangan mencoba bersembunyi atau menghindariku" direbahkannya tubuh ringkih Ana dengan lembut ditempat tidur.
'tok tok tok'
"Na, aku boleh masuk gak?, aku bawain makanan" Tina mengetuk pintu kamar Ana cemas.
"Letakin dipintu" Perintah Ana dingin tanpa membukakan pintu.
"Kamu gapapa kan Na, aku letakin makanannya disini. Kalo kamu ada masalah cerita sama aku" ucap Tina sambil berlalu.
Setelah Tina berjalan menjauh, pintu terbuka dan tertutup kembali setelah makanan ditarik kedalam.
"Cih ternyata wanita tua itu sudah tau" kekeh mahluk besar itu dingin.
"Makanlah" diserahkannya nampan besar itu kearah Ana.
Sedangkan Nana hanya menggeleng keras sambil terisak, tubuhnya mundur kesudut ruangan.
"pe-pergi" ucapnya terbata.
"Kau mau apa hah?" suaranya mengeras saat tubuh besar itu mendekatinya.
Bahkan kamarnya dipenuhi oleh hantu-hantu menyeramkan yang tersenyum kearahnya.
"Makan" perintah mahluk itu dingin, dengan lemah diambilnya nampan itu.
"Kau tau, aku sudah lama memperhatikanmu. Ini semua juga salahmu, aku tidak akan menyakitimu jika saja kau bisa melindungi dirimu sendiri" mahluk itu mengusap pipi tirus Ana dengan penuh perasaan.
"Namaku Rendi, aku adalah putra dari Raja bangsa Jin. Bentukku memang menyeramkan, tapi percayalah aku sangat menyayangimu" suara seraknya melembut diakhir kalimatnya.
Ana hanya diam tak merespon, setelah menghabiskan sarapannya dia segera berbaring dan menutup tubuhnya dengan selimut.
Air matanya tak kunjung mereda, tubuhnya bergetar sesenggukan.
...........................................................................
Sebulan semenjak hari itu, Ana merasa dirinya seperti berada dalam kubangan neraka.
Rendi selalu menyetubuhinya dengan kasar dan penuh nafsu.
Tubuhnya yang lemah seringkali tak sadarkan diri setelah mahluk itu menyelesaikan kebutuhannya.
Seperti hari ini, saat bangun pagi hal yang dilihatnya pasti wajah Rendi yang tertidur pulas memeluknya.
Ya , Ana terlalu trauma dengan bentuk tubuh Rendi yang pertama.
Jadi Rendi mengubah penampilannya menjadi bentuk manusia normal.
"Kau sudah bangun" Rendi mempererat pelukan dipinggang Ana tanpa membuka kedua mata merahnya.
"Aku ingin makan, pergilah. Aku takut Tina akan melihatmu" Ana mencoba melepaskan pelukan Rendi.
"Baiklah, tapi setelah kau sarapan" dengan malas dibalikkan tubuhnya memunggungi Ana.
"huek" Ana berlari kedalam kamar mandi dan memuntahkan isi perutnya.
Rendi segera menghampiri Ana yang lemas disudut toilet.
"Kau kenapa?" wajah tampannya memandang cemas sang pujaan hati.
Ana hanya menggeleng pelan dan berjalan keluar, Rendi mengusap pelan rambut Ana.
"Na, i-ini..." Rendi tersenyum cerah memandang Ana.
"kenapa" tanya Ana heran melihat senyum manis pria itu.
"Aku akan jadi ayah, kamu hamil" girangnya bersemangat.
'brak'
Pintu dibanting dengan kerasnya membuat Rendi dan Ana terkejut.
"Dasar jalang, kenapa kau merebut smua milikku hah?" Tina yang baru saja datang itu berteriak marah dan hampir menyerang Ana jika saja Rendi tidak menghalaunya.
"Tin, kamu kenapa?" Ana yang merasa bingung pun hanya memandang keduanya dengan wajah lugu.
"Ren, kamu belum cerita sama dia?" Tina meninggikan suaranya membuat Ana berjalan mendekat.
"Ren, ini ada apa?, kamu kenal Tina?" kepalanya dipenuhi dengan banyak pertanyaan.
"Rendi itu tunangan aku, dan dia itu cuma mau manfaatin kamu sebagai wadah pemberi benih calon penerus dia kelak. Jadi kamu jangan berharap bisa merebut Rendi" air mata mengalir dipipi Tina dengan derasnya.
"Kamu itu pemilik darah abadi suku Jin satu-satunya, itulah kenapa Rendi membutuhkan kamu, karna hanya kamu yang bisa" jelas Tina lagi.
Rendi hanya terdiam tak berkutik, sedangkan Ana hanya berdiri mematung.
"hiks hiks hiks, hahahahhaha" Ana tertawa keras akan takdir yang mempermainkannya, air matanya mengalir tanpa berhenti.
"Mari membuat perjanjian. Setelah anak ini lahir, aku ingin kalian membiarkan ku pergi dari sini, dan jangan pernah muncul dihadapanku lagi" Senyuman pahit Ana melambangkan kekecewaannya yang begitu dalam.
Ditipu sahabat sendiri, dimanfaatkan seorang jin, dan dirinya mendapat kenyataan bahwa ia sedari awal bukanlah manusia, melainkan jin berharga yang disembunyikan.
"Na" Rendi meraih tangan Nana lembut, dihatinya terasa sakit mendengar permintaan wanita yang sudah jadi candu baginya itu.
Ana hanya menggeleng keras, dan melepaskan tangan Rendi.
"Aku akan pindah ketempat yang lain, setelah anak ini lahir. Aku akan memberikannya, permisi" dengan kalimat terakhirnya Ana melangkah pergi membawa ransel bersama kepingan hatinya yang remuk.
"Na, kumohom jangan pergi. Aku membutuhkanmu" Rendi menahan tangan mungil itu erat.
"Ren, skarang juga pilih Ana atau aku" teriak Tina dari belakang.
"Na, jangan pergi" Rendi kukuh dengan pendiriannya tanpa mendengarkan teriakan Tina.
"Wadah itu hanya sekali pakai" jawab Ana tersenyum perih sambil melanjutkan langkahnya berlalu.
.............................................................................
Sepanjang hari Ana selalu menjaga kandungannya dengan penuh cinta.
Rendi dan Tina juga semakin sering bertengkar karna dirinya.
Sudah genap 8 bulan, dan hari lahirannya diprediksi akan dilakukan minggu depan.
"Kuharap setelah ini semuanya akan baik-baik saja, maafkan mama ya sayang" air matanya mengalir kala mengingat perjanjiannya dengan Rendi.
"Na, aku menyayangimu. Menikahlah denganku, kita akan membangun rumah yang indah tempat kita mengayam kisah untuk masa tua kita" Rendi memeluk Ana dari belakang dan mengelus perut buncit wanita itu.
"Pergilah, jika kau takut aku melanggar perjanjian. Kau bisa membunuhku saat itu" Senyum teduhnya perlahan memudar saat menatap wajah pria yang berhasil menghancurkan hatinya.
"Saat itu, mari saling menjaga jarak dan melupakan satu sama lain" Ana hanya terkekeh saat melihat reaksi pria itu.
"Ana" suara serak seseorang dari belakang membuat keduanya menoleh.
"Nenek?" Ana menghampiri seorang wanita tua bersama segerombolan mahluk besar dibelakangnya.
"Nak, jangan membohongi hatimu sendiri. Menikahlah dengan Rendi, soal Tina kau tidak perlu cemas. Tina adalah penghianat sedari dulu, dia mengancam kami semua jika berani menikahkan mu dengan Rendi. Tetapi ketahuilah, semenjak kau mengandung. Rendi dan kamu sudah terikat kontrak" Wajah keriput itu terisak pelan mengusap perut Ana lembut.
"Kau sudah melalui ujian hidup yang begitu sulit, kau tinggal dengan tidak layaknya dirumah sakit" semua mahluk disana ikut meraung dan terisak.
"Na, kami selalu berusaha melindungimu selama kau hidup didunia manusia" Rendi mendekat dan mendekap Ana hangat.
"Dan kejadian di Rumah sakit itu bukanlah suatu kebetulan, kami berusaha memantaumu dengan mengutus yang lainnya untuk membawamu pulang" Rendi terkekeh saat mengingat Ana kecil yang menangis saat pertama kali melihat hantu dilemari.
"Pernikahan akan digelar bulan depan, akhirnya aku dan Ana bisa melanjutkan keturunan Suku darah abadi" Rendi dan Ana pun berpelukan disertai riuh tepuk tangan dari jin lainnya.
"Ada saatnya matahari terbit untuk suatu waktu"
Maaf kalau sedikit tidak nyambung😅
Mari saling memberi masukan satu sama lain, trimakasihh😘