Udara dingin bersama angin berhembus seketika membuat bulu kuduku berdiri. Rumah tua itu berjarak hanya beberapa meter dari rumahku.
Cahaya yang sedikit temaram membuatku begitu gelisah setiap malam, dan untuk kesekian kalinya aku terbangun di jam satu dini hari. Jam-jam dimana makhluk tak kasat mata menampakkan diri, aku sudah biasa dengan hal-hal seperti itu di rumah lamaku. Namun, semua berbeda ketika kami, aku dan ibuku pindah kesini. Di rumah peninggalan nenek yang berada jauh dari kota, terletak diantara hutan belantara dengan penduduk serta rumah yang hanya sedikit.
Aku memiliki kemampuan melihat mereka, mereka yang tak kasat mata. Entah bagaimana dengan mereka? kadang aku berfikir apa mereka yang tak kasat mata tahu aku bisa melihatnya?
"Dyra, kamu dimana?" Suara Ibu lembut memanggil, aku hafal itu memang suara Ibu.
"Iya, Bu! Dyra di kamar." Sahutku, namun enggan beranjak. Untuk apa ibu memanggil di waktu selarut ini, apa ibu belum tidur?
"Dyra... Dyra... Dyra...Kamu dimana?" Suara itu meninggi, Aku bangkit hendak pergi ke kamar ibu. Namun, langkahku terhenti oleh ketukan keras di Jendela. Seketika aku bergidik ngeri, teringat jendela kamarku tepat menghadap rumah tua itu.
"Tok.. Tok.. Tok.. Dyraa.... Kikikikikik."
Napasku tersengal, aku merosot karena lemas. Keringatku mengucur deras, Ya Tuhan! Tolong aku.
Tiba-tiba mataku menggelap, hitam tak terlihat apa-apa. Saat sadar, jam masih menunjukkan pukul dua. Dengan tubuh bergetar, aku memberanikan diri, mengintip lewat celah kecil ke arah rumah tua itu.
Aku terkejut bukan main, lampu menyala terang benderang dengan suara tawa terdengar nyaring. Bukankah rumah itu tak berpenghuni? Diriku semakin berfikir yang tidak-tidak, lantaran aku melihat perempuan dengan rambut panjang tergerai sedang menyapu halaman rumah tua itu.
Lama diri ini memperhatikan, bagaimana sesosok itu menyapu malam-malam begini.
"Dyra, hahahahaha." Wanita itu mendongkak, melihat ke arahku dengan mulut penuh darahnya. Tertawa dengan suara nyaring terdengar memekakkan telinga.
"Ibu......." Aku tersungkur, hingga akhirnya duniaku kembali gelap.
Esok harinya, kala terbangun. Beberapa orang mengerubungiku. Ada yang mengusap rambutku, ada yang mengoles minyak angin juga ibu yang terus menangis di hadapanku.
"Ibu..." lirihku.
"Dyra, kamu sudah sadar nak? Kenapa kamu pergi ke rumah tua itu, ibu kan sudah bilang jangan kesana." ucap Ibu, sembari menangis.
Aku bingung, kenapa aku bisa ada disana? bukankah aku hanya mengintip dari jendela kamar.
"Aku tidak tahu bu, aku tidak ingat."